Senin, 30 Desember 2019

2019 #39: Mahakura 1: Cakra Manggilingan
























Judul asli: Roll of the Dice
Penulis: Anand Neelakantan
Penerjemah: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Shalahuddin Gh
ISBN: 9786026799463
Halaman: 502
Cetakan: Pertama-2019
Penerbit; Javanica
Harga Rp120.000
Rating:

Gimana ya perasaan si Duryudana waktu batal jadi raja, padahal ia putra mahkota?
Sebuah pertanyaan muncul dalam benak saya saat selesai menamatkan komik Mahabharata dari R.A Kosasih. Saya yang masih seorang anak SD, memiliki rasa simpati pada tokoh Duryudana. Dijanjikan sesuatu lalu diberikan pada orang lain! Sebagai anak kecil, saya merasa sungguh sikap yang tidak adil. Pantas saja Duryudana dan saudaranya jadi nakal, kurang lebih begitu yang ada dalam benak saya.

Waktu berlalu, dan saya pastinya bukan seorang anak SD lagi. Namun rasa penasaran tak pupus. Rasa penasaran tersebut terjawab dengan munculnya buku ini, Mahakurawa.  Bisa disebut buku ini menjawab rasa penasaran saya yang terpendam sekian waktu.

Mahakurawa merupakan kisah yang sangat bertolak belakang dengan kisah Mahabharata yang selama ini beredar di tanah air.  Dikisahkan dari sudut pandang mereka yang  kalah perang Bharatayuda, dari sisi sosok yang selama ini dianggap jahat.

Bagi mereka yang sudah pernah membaca kisah Mahabharata versi tanah air atau menonton di televisi, saran penting sebelum menikmati buku ini adalah lupakan semua hal yang pernah diketahui selama ini.

Abaikan kisah tentang Bambang Ekalaya yang ditolak menjadi murid Dorna kemudian belajar sendiri, tentang Srikandi yang merupakan titisan Dewi Amba, juga tentang Duryudana yang selalu kejam pada orang lain.

Terdapat 27 bagian dalam buku ini ditambah dengan Pengantar, Purwaka, serta Catatan Akhir. Dari 27 bagian atau bab, kisah ini dimulai sejak Pandawa dan Kurawa masih kecil dan diakhiri dengan  kisah bermain dadu. Mulai dari kisah Pangeran Darah, Dorna, Srikandi, Kaum Naga, Ekalaya, Sayembara Dupadi, Rajasuya, hingga Putaran Dadu.

Bocoran sedikit,  misalnya tentang asal-usul sosok yang kelak membunuh Bisma. Dewi Ambi ternyata sudah hamil dari sang pacar, dan anak tersebut yang  kelak membunuh Bisma. Anak  yang terjadi wandu itu diangkat anak oleh Raja Drupala dari Pancala dan  diberi nama Srikandi.  Ia hidup dengan tujuan membalas sakit hati ibunya. Agak miripkan dengan versi yang dikenal di tanah air?

Lalu Sumbadra yang dalam versi yang beredar di Indonesia, serta yang muncul dalam bentuk tayangan televisi, merupakan istri Arjuna. Namun dalam buku ini, sebelumnya ia adalah kekasih Suyudana. 

Dalam buku ini, Duryudana  disebut dengan nama Suyudana. Perubahan awalan nama dari "Su"  yang bermakna baik menjadi "Dur" yang bermakna buruk, diberikan oleh mereka yang tidak suka akan sikapnya yang sering melanggar aturan kasta demi menolong mereka yang membutuhkan. 

Bagian yang paling membuat saya melotot adalah ketika menemukan sosok Abimanyu sebagai keponakan yang sangat dekat dengan Suyudana. Mungkin karena ibunya, Sumbadra dahulu adalah kekasih Suyudana. Dan.., ah sudah ya silakan baca dan terkejut sendiri he he he.

Saya merasa perlu memberikan semua jempol bagi penulis. Ia mampu membuat pembaca lepas dari sosok Pandawa dan Kurawa yang selama ini mereka kenal. Membaca buku ini membuat saya merasa membenci sosok Pandawa. 

Mereka sering melakukan banyak pembenaran atas tindakan keji mereka, dengan mengatasnamakan Dharma! Misalnya dalam kisah ini, menjebak sebuah keluarga kasta rendah dengan iming-iming makanan. Makanan tersebut ternyata sudah diberi obat hingga mereka tertidur,  lalu Pandawa  mengunci pintu dan membakar istana tempat mereka berada. Sudah dharma  mereka mengorbankan diri bagi Pandala dan Kunti. Demikian juga penjaga yang bertugas menjaga mereka. Adalah dharma mereka mengorban nyawa bagi junjungannya.

Penulis  juga memperkenalkan kita mengenai kehidupan masyarakat yang menganut kasta. Agak rumit memang namun begitulah adanya. Para tokoh kita berada dalam tatanan masyarakat yang mengharuskan mereka mengikuti aturan yang berlaku. Beberapa memang sepertinya tak masuk akal, tapi begitulah adanya.

Ketika membaca uraian  di halaman 497, saya makin perlu memberikan bintang banyak bagi penulis. Disebutkan bahwa kisah Mahabharata mengandung banyak simbolis. Kurawa yang sering dianggap sebagai sisi jahat digambarkan dengan jumlah 100 orang sebenarnya adalah simbolis dari makna banyak. Sementara Pandawa, mewakili 5 pancaindra. Masih  banyak hal lain yang sebaiknya dibaca sendiri. Sungguh menyentuh.

Dan, jawaban rasa penasaran saya terjawab pada halaman 42, "Mana mungkin Yudhistira menjadi raja Hastinapura berikutnya? Akulah putra sulung raja yang bertakhta, Destarata, pikirannya. Paman Pandu memerintah atas nama ayahku karena kebutaannya. Bukan berarti anak Pandu menjadi pemimpin Hastinapura berikutnya bila saatnya tiba."

Siap-siap membaca buku selanjutnya.

Kamis, 26 Desember 2019

2019 #37:Ingin Bahagia? Copot Dulu Kepalamu

Judul asli:  Cara Berbahagia Tanpa Kepala
Penulis: Triskaidekaman
Penyunting: Teguh  Afandi
ISBN: 9786020629933
Halaman: 300
Cetakan: Pertama-2019
Penerbit: PT Gramedia Pustaka
Harga: Rp 78.000
Rating: 3.75/5

        "Itulah kehebatan program kami. Tadi sore kan Tuan menjalani prosedur pencadangan. Pokoknya kandar kilas merah itu jangan sampai hilang. Selama kandar kilas merah itu masih  berfungsi, Tuan masih bisa lihat, dengar, bicara, berpikir."
         "Berpikir juga? Yang di dengkul dan selangkangan itu, apa?"
         "Itu cadangan kalau Tuan kehilangan segalanya."
         "Tahan berapa-"
         "Cuma dua belas jam."
         "Jadi dalam dua belas jam saya harus...."
         "Menemukan kembali kepala Tuan. Kalau tidak, fungsi otak di selangkangan dan dengkul itu akan hilang, maka Tuan akan...."

~Cara Berbahagia Tanpa Kepala, halaman 31~

Satu lagi karya anak bangsa yang layak diperhitungkan. Setelah keseruan dengan Buku Panduan Matematika Terapan, Triskaidekaman muncul dengan ide nyeleneh tentang pencopotan kepala. Oh ya,  komentar sederhana tentang Buku Panduan Matematika Terapan  bisa dintip  di  sini.

Ingat salah satu bagian kisah dalam Harry Potter? Ketika Pak Kepala Sekolah Dumbledore menempelkan tongkat sihir ke kening lalu semacam ingatan ditarik keluar dan dipindahkan ke tempat lain? Bagian tersebut langsung muncul dalam memori saya ketika membaca judul buku ini.

Buku ini berkisah tentang seorang pria bernama Sempati, yang merasa mencopot kepala adalah solusi terbaik guna menyelesaikan semua masalah rumit yang ia hadapi. Mulai dari atasan yang semena-mena,  ibu yang  memiliki selingkuhan dan meninggalka ia sebatang kara,  ayah yang memiliki profesi membetulkan jam, hingga ketidakjelasan masa depan.  Agar hidup lebih ringan, ia merasa mencopot kepalanya walau sesaat, akan membuatnya mampu menjalani hidup  lebih mudah. 

Menurutnya begitu, ternyata. kenyataannya tidak demikian. Proses pencopotan kepalanya saja membutuhkan prosedur yang lumayan banyak, belum resiko kepala tak bisa dipasang lagi atau hilang, bisa juga  alat menyimpan cadangan memori mendadak rusak.

Ternyata meski ada brosur yang memberikan informasi tentang prosedur pencopotan kepala,   ternyata hal tersebut dianggap legal. Tak heran jika Simpati mendapat instruksi tegas jangan sampai  bertemu polisi ketika berkeliaran dengan badan tanpa kepala. Wduh!

Tapi siapa yang tak tergoda jika diiming-imingi kebahagian? Mencopot kepala berarti memutus hubungan antara badan dengan otak, memutus memori dan pikiran  yang bisa membuat hidup menjadi rumit dan tak membahagiakan. Jika dengan mencopot kepala sama dengan menghilangkan sesaat keruwetan otak dan membuat bahagia, layak dicoba.

Lalu bagaimana nasib Sempati selanjutnya? Dari blurd jelas ia sudah mengikuti proses pencopotan kepala, lalu selanjutnya apa? Kisah bagaimana kehidupan  Sempati ketika kepalanya copot dan apa yang menyebabkan ia begitu ingin melakukannya akan mengajak pembaca menyelami imajinasi liar penulis.

Kisah tentang Sempati dan kepalanya terdiri dari 5 bagian.  Mulai dari Hilang, Buang, Kenang, Datang, dan terakhir Pulang.  Sebuah keluarga yang tak bisa, menjalani hidup dengan cara yang luar bisa, menghasilkan kisah  spektakuler dengan banyak permainan kata-kata. Untuk menikmati kisah yang (agak) tak biasa ini, pembaca harus melepaskan dirinya dari pakem kisah standar yang selama ini pernah dibaca.

Jika kita perhatikan pada bagian awal buku, penulis memberikan rekomendasi cara menikmati kisah. Bisa dikatakan ini merupakan salah  satu dari keunikan yang ditawarkan oleh penulis. Jika ingin cara standar alias konvesional, bisa membaca dengan urutan I-II-III-IV-V. Maksudnya dibaca berurutan dari bab  pertama hingga akhir. 

Namun jika ingin menikmati dengan cara lain juga bisa. Buat mereka  yang ingin bereksperimen, silakan membaca dengan urutan bab I-II-V-III-V, cara Eksperimental namanya.  Terdapat 5 cara yang bisa dipilih sesuai  gaya  dan ketersediaan waktu membaca.  Tak perlu khawatir! Meski dibaca dengan berbagai cara, tak akan mengubah inti kisah yang ingin disampaikan.  

Sekedar iseng, saya mencoba membaca dengan dua cara. Pertama cara konvesional, tentunya untuk keperluan membuat semacam komentar pada blog. Selanjutnya sekedar untuk memuaskan rasa penasaran, saya coba membaca dengan metode cepat. Namanya juga Cepat, maka yang dibaca hanya bab III dan IV saja.

Jika ditelaah lebih lanjut, membeli buku ini berarti bisa mendapatkan 5 buah kisah sekaligus. Cukup efisiensi dibandingkan dengan harga yang dibandrol. Bayangkan jika Anda harus membeli 5 buah buku untuk mendapatkan 5 kisah, selain kumpulan cerpen tentunya. Selamat! Anda telah mengambil sebuah langkah bijak dalam membelanjakan uang!

Bagian yang mengisahkan bagaimana Sempati dituduh sebagai penyebab anak kandung pacar ibunya kehilangan tangan, mengingatkan saya pada kepercayaan yang diyakini masyarakat. Ada masyarakat yang percaya  bahwa ibu yang sedang hamil rentan mengalami gangguan metafisis.  Orang,  kecuali keluarga terdekat dilarang menyentuh perut sang ibu. Apa lagi orang tak dikenal! Karena bisa berakibat sang bayi mengalami hal buruk.

Sempati yang bukan siapa-siapa dianggap lancang memegang perut istri dari selingkuhan ibunya (rumit ya). Ia dianggap menjadi penyebab anak tersebut kehilangan  satu tangan sejak lahir.  Pacar sang ibu tak terima anaknya lahir dengan kondisi demikian. Apalagi sang ibu kandung! Keduanya butuh sosok untuk disalahkan, siapa  lagi  calon tunggal jika bukan Sempati. 

Sebenarnya, pembaca juga akan menemukan banyak sentilan-sentilan terkait kehidupan.  Misalnya yang tertera di halaman 27, "Bagaimana rasanya tahu kapan tanggal kematian sendiri? Apakah dia merasa cemas, merasa takut, merasa dikejar, atau justru lebih bahagia?" Sindiran bagi mereka yang merasa putus asa hidup dan  memutuskan ingin segera mengakhiri kehidupannya pada tanggal yang ia tentukan sendiri.

Tata letak yang bisa dikatakan unik juga menjadi  daya tarik lain untuk membaca buku ini. Emosi pembaca seakan ikut diaduk-aduk ketika membaca kalimat yang dicetak  dengan gaya  tidak standar. Penasaran? Lihat saja tata letak yang ada di halaman 87,89, 108, 134,  dan 286 untuk contoh. 

Selain menyajikan  hiburan melalui kisah ini, penulis juga melakukan sosialisasi penggunaan bahasa Indonesia. Misalnya dalam penggunaan kata kandar kilas. Mungkin banyak yang belum memahami apa yang dimaksud dengan  kandar kilas. Pembaca yang kurang paham, akan merasa kebingungan ketika membaca istilah tersebut pada beberapa halaman, hingga penulis mencantumkan penjelasannya  pada halaman 78.

     "Saya baik-baik saja, Jar. Saya cuma minta kandar kilas saya dibetulkan."
     "Apa itu kandar kilas?"
     "flashdisk."

Lumayan dapat tambahan pengetahuan lagi bukan? Salah satu manfaat membaca karya penulis yang bermutu he he he.

Kecintaan penulis pada buku dan perpustakaan, maski tak perlu diragukan lagi,  tercermin di halaman 141.

      "Oke, lanjut. Kita juga sudah punya lima  belas petak toilet, lima warung, tiga restoran, dua kedai kopi, dua supermarket, dua warnet, satu salon, satu tempat pemandian umum, setengah perpustakaan, dan setengah toko buku."
      "Setengah?"
      "Kepala-kepala putus itu tak pernah banyak-banyak membaca. Penuh-penuhin kepala mereka saja. Makin tahu makin lupa. Buat apa?"

Secara garis besar, kisah ini cocok dibaca untuk kalangan. Meski demikian, agar khawatir juga sebenarnya saya  ketika menemukan batas aman membaca buku ini, 18+ alias 18 tahun keatas. Sepertinya saya yang terlalu memandang rendah nalar remaja saat ini. Mungkinkan usia 18 tahun Sudah mampu menyerap dan memisahkan mana fiksi dan kenyataan dalam kisah ini.

Seperti umumnya buku lain, saya jugo punya kata favorit dari buku ini. Kalimat tersebut ada di halaman 275,"Tidak semua hal di dunia ini punya alasan, kan? Beberapa hal  terjadi begitu saja. Dengan atau tanpa alasan, hal itu terjadi."

Tak sabar menikmati kisah selanjutnya.

Sumber gambar:
1. FB Penulis
2. Buku Cara Berbahagia Tanpa Kepala





Selasa, 03 Desember 2019

2019 #36: Mengenal Wastra Nusantara


















Judul asli: Pesona Padu Padan Wastra Indonesia
Penyusun: Perkumpulan Wastra Indonesia
ISBN: 9786020635873
Halaman:160
Cetakan: Pertama-2019
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 150.000
Rating: 4/5

Malu!
Perasaan itu yang saya rasakan ketika menghadiri peluncuran buku ini. Betapa tidak, dibandingkan beliau-beliau, warisan batik tulis dan  kain yang saya terima tak adalah artinya. Apalagi untuk urusan ilmu, seperti  jarak antara bintang dan bumi, jauh sekali.

Tak hanya itu, setiap individu yang hadir sepertinya sangat paham dengan kain yang mereka pakai. Misalnya memakai kain dari daerah Z, pemakai akan tahu makna simbol dari motif kain yang dipakai, apa filosofi yang terkandung. Lalu pewarnaan apa yang digunakan,  siapa saja yang bisa mempergunakannya, dan banyak hal lainnya. 

Walau berkesan sepela, kita perlu tahu kain apa yang kita kenakan. Minimal tahu apakah peruntukannya tepat. Kain tersebut untuk laki-laki atau perempuan misalnya. Jangan sampai  salah kostum, kain untuk acara kematian malah dipakai pesta!

Saya? Saya hanya tahu memakai,  serta paham seujung kuku cara merawat, tak lebih. Namun kesempatan ini bisa dimanfaatkan untuk belajar sambil bersenang-senang. Bagaimana tidak, pengetahuan dibagikan dengan cara yang menyenangkan. Para pembicara juga tak pelit ilmu. Setiap perta

Buku ini membuka mata saya lebih lebar  mengenai filosofi kain-disebut juga wastra,  yang ada di tanah air.  Masih banyak wastra   indah selain kain batik.

Secara garis besar, buku ini mengupas tuntas mengenai wastra tanah air. Mulai dari perihal mengenal aneka kain nusantara seperti kain Gerising, Tapis Lampung, dan Tenun Ikat Iban. Lalu ada cara merawat kain, hingga gaya menggunakan kain.

Kain Tapis Lampung sebagai contoh, selama ini saya hanya sering  melihat satu jenis  saja. Ternyata masih banyak jenis lainnya yang saya tidak tahu. Ada Tapis Jung Sarat yang dipergunakan wanita pada saat menghadiri upacara adat serta untuk mempelai wanita. Bentuknya berupa tapis yang diberi hiasan emas penuh dengan motif tajuk bersarung, iluk keris, dan sasab mata kibau.

Sementara Tapis Inuh merupakan tapis yang dibuat oleh masyarakat Lampung pesisir dengan ciri khas hiasa sulaman benang sutra putih. Masih ada lagi Tapis LimarSekebar, Tapis Balak, serta Tapis Raja Medal. 

Pembaca juga akan tahu bagaimana cara merawat kain yang benar melalui buku ini . Tiap kain memiliki keunikannya masing-masing, sehingga cara merawatnya tidak bisa sama persis.

Selama ini saya selalu  menyimpan songket  dengan cara menggulung, kemudian saya masukkan dalam kantong kain disertai semacam serap lembab (itu yang biasa ditemukan saat beli sepatu), baru diletakkan dalam lemari dengan posisi tidur. 

Ternyata cara itu belum 100 % benar. Saya harus meletakkan bagian yang bagus ke dalam saat digulung. Panjang pipa paralon/ karton untuk gulungan, harus lebih panjang dibandingkan dengan kain.  Lalu juga ada  kertas bebas asam untuk melapisi. 

Mungkin sekilas  perawatan  berkesan rumit, tapi coba bayangkan proses pembuatannya, lebih rumit lagi. Dari benang hingga menjadi
selembar kain tentunya butuh keahlian dan proses yang tak singkat. Waktu yang dihabiskan tergantung kerumitan motif dan warna. 

Padahal. jika merawat dengan benar, kain bisa awet hingga lama. Selain kita telah berpartisipasi menjaga warisan budaya secara langsung, kain tersebut juga bisa menjadi investasi. Tengok harga kain antik, menakjubkan bukan?

Ketika membaca bagian perihal wiron, secara pribadi, saya jadi ingat kenangan saat kecil. Saya sering melihat almarhumah eyang putri dan bude saya membuat wiron di kain yang baru dicuc. Saya agak bingung saat itu, kenapa ada kain yang dibuatkan wiru (kami biasa menyebutnya begitu, maaf jika salah) sisi dalam dan sisi luar.

Pernah saya bertanya, jawabannya beliau hanya senyum dan berkata, "Nanti kalau gede juga tahu kenapa." Sekian lama menjadi "gede" belum juga tahu maknanya. Baru saat peluncuran  buku ini saya paham kenapa demikian.

Termasuk juga menjawab rasa heran saya kenapa ada  saudara yang mempergunakan kain dengan menampakkan bagian pikiran yang berwarna putih-disebut sered, sementara yang lain menyembunyikannya.  Ternyata ini dikarenakan perbedaan asal si pemakai kain.

Meski sama-sama berada di Jawa Tengah, cara menggunakan kain dengan menunjukkan sered merupakan ciri dari Yogyakarta. Sementara Surakarta atau Solo justru menyembunyikannya. Duh, untung ada buku ini jadi saya bisa mendapat jawabannya.


Dimanjakan dengan banyak gambar kain, saya sempat agak bingung ketika ada beberapa gambar yang tak ada informasinya. Misalnya gambar kain di halaman 9, 25, 66, serta 152. Hanya dipasang  gambar kain saja.  Semula saya mengira bakalan ada semacam daftar foto, ternyata tidak ada. Tinggal saya yang menebak-nembak dari mana asal motif tersebut.

Selain pengetahuan tentang kain.  Bagian yang menguraikan tentang bagaimana padu padan menggunakan kain, bisa menjadi inspirasi bagi  penggunaan kain nusantara. Tidak hanya dipakai dengan cara konfesional, ternyata banyak cara yang bisa dipakai namun tetap menonjolkan keindahan kain.

Para remaja tentunya akan menyukai penggunaan kain dengan cara yang lebih beragam sesuai dengan kepribadian mereka.   Tak ada alasan lagi untuk tidak mempergunakan kain. Hal ini akan membuat keberadaan kain nusantara semakin eksis. 

Pada bagian akhir buku, terdapat informasi mengenai Perkumpulan wastra Indonesia. Sayangnya informasi yang ada masih sangat sedikit, padahal untuk sumbangsih pengetahuan dan pelestaraian budaya sebesar ini, layak kiranya diberikan informasi lebih banyak mengenai perkumpulan tersebut. Misalnya tentang bagaimana bergabung menjadi anggota.

Ah, saya menemukan ada semacam, iklan dalam buku ini. walau dikemas dengan menyebutkan sebagai  kontributor serta informasi seputar produk batik di halaman belakang. Tak ada yang melarang, hanya menurut pandangan saya, akan lebih cantik jika bagian ini diletakkan di belakang, setelah informasi mengenai perkumpulan. Posisi  halaman yang memuat tentang mereka ditukar. 

Plus, ada baiknya dibuat semacam indeks agar makin memudahkan pemanfaatan buku ini. Atau sekalian dibuatkan semacam Daftar Istilah sehingga mereka yang awam tentang kain bisa lebih memahami lagi.

Secara keseluruhan buku ini sangat perlu dimiliki oleh mereka yang ingin mengetahui tentang budaya bangsa. Perpustakaan sekolah, perguruan tinggi, dan umum sebaiknya juga memasukkan buku ini dalam koleksi mengingat manfaat besar yang tersimpan di dalamnya.

Karena mempergunakan dua bahasa, maka buku ini sangat layak jika diberikan sebagai souvenir. Mereka yang menerima jadi bisa mengetahui tentang keindahan kain nusantara. Beruntungnya saya mendapat  beberapa buku ini dari Mbak Nana, editor sekaligus anggota Perkumpulan Wastra Indonesia. Akan saya simpan untuk dijadikan souvenir bagi penulis asing yang saya temui.

Eh, baru sadar. Kebaya yang dipakai model pada halaman 57   motif dan bahan (sepertinya)   sangat mirip dengan kebaya eyang. Sayangnya karena faktor ukuran, kebaya-kebaya cantik itu tak bisa saya simpan. Tapi saya tahu, banyak sahabat pencinta kain dan kebaya yang bakalan bersedia menampung ^-^.

Sumber gambar:
1. Pesona Padu Padan Wastra Indonesia
2. Koleksi pribadi