Minggu, 15 September 2013

Enigma, Cinta yang Tak Terjelaskan


Penulis: Yudhi Herwibowo
Editor: Anin Patrajuangga
Kover: Rio
Penata isi: Gun
ISBN:  978-602-251-192-2
Halaman: 233
Penerbit: Grasindo
Harga: Rp 49.000


English to English
noun
1. something that baffles understanding and cannot be explained 
2. a difficult problem 
3. A dark, obscure, or inexplicable saying; a riddle; a statement, the hidden meaning of which is to be discovered or guessed. 
Indonesian to Indonesian
4. teka-teki; tidak jelas (tt ucapan); misterius: pernyataannya menimbulkan -- bagi masyarakat
(http://www.artikata.com/arti-59937-enigma.html)

Tak terhitung persahabatan yang berakhir dengan terpautnya dua hati. Tapi sangat sedikit terpisahnya dua hati yang berakhir dengan persahabatan


Ada  hal yang tidak bisa dijabarkan dengan logika, bahkan untuk hal kecil sekalipun.  Urusan cinta misalnya. Lima sahabat, enam sebenarnya setelah yang satu memutuskan untuk membuka lembaran baru di kota lain, juga mengalami hal serupa. Ada rasa  yang terpendam, ada cinta yang tak seindah kelihatannya,  tak ketinggalan hati yang terluka.

Mereka dipertemukan oleh  meja besar di bawah pohon besar yang ada di sebuah warung lotek di dekat kanisius, Yogyakarta. Mereka rela menunggu hingga tempat favorit itu khusus sekedar untuk bisa bersendau gurau. Perkenalan saat orientasi membawa mereka kedalam sebuah lingkaran persahabatan unik dengan bumbu cinta.

Diawal kisah, penulis memberikan pengenalan karakter masing-masing tokoh.  Hasha sang penulis, Patta lelaki idaman wanita, Chang yang hidup di bawah  bayang masa lalu, Goza si bedabah sejati dan Isra yang takut akan kelebihannya. Kelima tokoh utama dan satu tokoh pembantu digambarkan sedang merenungi jalan kehidupan masing-masing.

Selanjutnya kita akan dimanjakan dengan bagaimana kelima tokoh utama dalam kisah ini Hasha, Isara, Patta, Chang dan Goza menjalani kehidupannya. Hati-hati! Jangan mengambil kesimpulan jika menemukan suatu hal karena apa yang disajikan belum tentu hal yang akan terus berlangsung sampai akhir cerita. 

Dalam kisah ini, Isara dan Hasha   merupakan sepasang kekasih yang serasi.  Satunya suka menulis puisi, yang lain menikmati puisi itu. Sungguh sepadan. Tanpa mereka sadari ,seorang gadis manis, Kurani terpaksa menahan rasa.  Namun akhir kisah justru Isara menikah dengan Patta. Tunggu…., akhirnya juga tidak seperti itu

Ternyata tanpa mereka sadari, kehidupan yang satu mempengaruhi kehidupan yang lain. Mereka berlima menjalani peranannya masing-masing hingga suatu saat suka atau tidak, disengaja maupun tidak,  apa yang mereka lakukan ternyata membawa dampak bagi yang lain. Hubungan sebab akibat sangat jelas dalam kisah ini. Tapi tak ada jalan untuk menghindar, mereka harus menjalankan perannya dalam kehidupan yang lain.

Walau ada lima tokoh dalam buku ini, namun penulis mampu menciptakan karakter yang kuat bagi masing-masing tokoh. Tak ada yang lebih dominan. Semuanya memiliki porsi yang sama dalam kisah ini. Sebuah peristiwa diungkap dari beberapa sudut pandang tokohnya.

Hanya saja bagian  gambaran kehidupan para tokoh kurang diekpos lebih lanjut. Secara kepribadian kita sudah sangat paham bagaimana karakter kelima tokoh utama dalam kisah ini, tapi perihal bagaimana cara menjalani kehidupan masih minim info.

Bicara mengenai sosok Patta misalnya. Patta digambarkan pintar, menarik dan berotak cemerlang. Tapi seberapa pintar, menarik dan cemerlangnya ia? Kariernya dianggap baik melalui ulasan yang terkait dengan staf di Senayan. Tapi seperti apa? Apakah hanya cukup dengan "Membantu" di sana-sini lalu bisa dikatakan cemerlang? Penulis sebaiknya memberikan controh kongkrit seperti menjadi Wakil Ketua Fraksi XXX, karena menyinggung soal Senayan. Atau menyebutkan pujian atas keberhasilannya merekayasa kejadian Z. Apapun itu sebagai bukti pendukung betapa cemerlangnya seorang patta.

Goza yang konon merupakan seorang pembunuh bayaran tersamar dalam tingkah laku kocaknya. Guyonannya selalu mampu menghangatkan suasana. Baginya perempuan hanya untuk menghangatkan tempat tidur, tidak lebih. Mungkin ia lupa jika ia lahir dari rahim seorang perempuan.

Walau digambarkan sebagai seorang bajingan, tapi saya kurang kuat menangkap kesan itu. Goza sangat tahu kelebihannya terhadap perempuan, tapi seperti apa kelebihan itu sepertinya kurang dijabarkan. Memang disebut tampan, tapi setampan apa? Misalnya dengan wajah setampan aktor XX dan suara lembut dan tubuh aduhai, sejenisnyalah. 

Penulis juga terlalu santun mengungkapkan unsur "Bedebah" Goza. Kesan B***n**n kurang terurai selain dari kata-kata yang harus diterima pembaca bahwa Goza dengan segala kelebihannya adalah seorang bedebah, titik.

Akan lebih dramatis jika saat akhir Goza ternyata ada ditangan salah satu korbannya, sosok yang tak disangka-sangka. Penjaga warung, pembantu kost siapa saja. Sehingga efek seorang bedebah yang layak dihabisi tercapai dengan indah. 

Andai sosok Goza juga dibuat seperti Pietro Maxx alias Jolyon Wagg Agen asuransi ala Tintin akan meninggalkan efek dramatis. Tidak ada yang mengira dibalik sosok kocak dan tengilnya ternyata dia. seorang bedebah. Sekalian mengungkap kecintaan penulis pada kisah Tintin he he he.

Kesan takut, kesepian, galau terasa dengan kental. Kesan muram di beberapa bagian tersampaikan dengan sukses. Di bagian lain, kita juga dibuat tersenyum membaca asal muasal nama panggilan Chang, Nama aslinya adalah Indiray. Chang merupakan nama pemberian para sahabat karena mengingatkan mereka pada Chang, tokoh dalam Tintin.

Dibandingkan buku yang lain (plus draf novel-novel yang akan segera lahir) bisa dibilang buku ini memainkan emosi pembacanya ala roller coaster. Saat sedang prihatin betapa kesepiannya Isara, pembaca segera diajak merasakan kegalauan Chang, kemudian meloncat ke Goza yang sedang bersemangat men gatur strategi mesum, selanjutnya mencoba memahami kegalauan hati Patta.

Beberapa gambaran dalam buku walau tersamar  membuat kita teringat pada kejadian belum lama berselang terjadi. Saat menguraikan tentang Chang, saya langsung teringat pada salah satu aliran yang dilarang di tanah air. 

Sang ketua yang digambarkan selalu berpakaian putih-putih secara otomatis mengarahkan pembaca pada apa yang dimaksud penulis dengan cepat. Gempa di Yogya yang menjadi andil bertemunya beberapa dari mereka mengusik rasa empati kita pada para korban gempa di sana. Kegagalan Goza melakukan tugasnya mengingatkan pada kasus pembunuhan salah seorang kuli tinta.

Secara keseluruhan buku ini menawan. Hanya saya merasa penulis tidak membebaskan dirinya untuk mengeksplor para tokoh. Ia seperti  tidak berkreasi secara maksimal, Seakan ada hal-hal yang ditahannya. Ada unsur greget yang hilang dari gaya penulisan seorang Yudhi. Ada semacam keberanian yang ditahan. Entah karena beberapa tokoh terkait dengan urusan yang sempat menjadi hal sensitif, atau khawatir akan memicu hal-hal yang tidak diinginkan.Enigma, ada hal-hal yang tak bisa dijelaskan di sini.

Kover yang tak biasa membuat buku ini memiliki penafsiran yang mendalam. Enigma berasal dari bahasa Yunani kuno : αἴνιγμα (ainigma). Secara harafiah maknanya adalah teka-teki, ketidakjelasan. Enigma merupakan  salah satu jenis dari teka-teki  yang biasanya disajikan dalam bahasa metaforis atau alegoris yang membutuhkan kecerdikan dan  kehati-hatian berpikir untuk memecahkannya. Seorang insinyur Jerman bernama Arthur Scherbius menciptakan Mesin Enigma, mesin penyandi yang digunakan untuk mengenkripsikan dan mendekripsikan sebuah pesan rahasia.

Gerigi pada mesin Enigma yang dijadikan sebagai kover menandakan bahwa kehidupan para tokoh dalam kisah ini saling berkaitan. Roda kehidupan mereka otomatis berputar bersama tanpa bisa dipisahkan. Satu saja gerigi berhenti berputar, maka makna kehidupan yang lain juga tak akan berputar. Bersama-sama atau tidak sama sekali.  

Keterkaitan satu dengan yang lain terjadi tanpa disengaja. Beberapa kejadian memang menjadi bumbu, untuk itu sayang jika tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin.  Patta sangat membenci Goza yang dianggap berkhianat pada persahabatan mereka, kelak ternyata Patta terpaksa memanfaatkan jasa Goza dengan sepenuhnya menyadari jika gagal maka habislah Goza. Sekali jalan dua tujuan tercapai. Unsur seperti ini bisa dibuat lebih dramatis lagi sehingga pembaca bisa merasakan betapa sakit hatinya Patta dan rasa sakit hati  Goza karena dijadikan biduk mainan.

Pilihan kover yang pas menurut saya. Walau saya penasaran kenapa memilih warna coklat yah, kenapa tidak warna cerah sehingga berkesan eksrim. Sebagai pembaca saya penasaran akan isi buku ini menilik kovernya bukan mengandalkan gambar sepasang kekasih, kalimat menye-menye atau siluet yang menandakan kisah cinta. 

Saya memang bukan penggemar kisah cinta apa lagi ala menye-menye, tapi bisa dipastikan kover unik dengan cutting yang tak biasa ini akan menggoda mata saya. Di pojok kiri atas ada tulisan PSA apakah yang artinya? *penasaran*

Saya juga sangat penasaran dengan makanan yang sering  dipesan mereka bersama, Lotek. Apa bedanya denga gado-gado? Karena gambaran yang saya dapat keduanya nyaris sama persis. Aneka Komen dari sahabat di media sosial membuatku makin penasaran. 

Mulai bertanya pada sahabat yang suka memasak, berselancar di dunia maya, hingga duduk memesan seporsi saat pulang kemarin lalu menemukan tulisan di sebuah warung di pinggir jalan, "Sedia Lotek." 

Hasil pengamatan singkat saat icip-icip, keduanya memang mirip. Sama-sama menggunakan bahan dasar berupa rebusan (namun ada juga yang mentah-katanya)  sayur-mayur segar.Lotek  menggunakan kencur dan kentang yang dihaluskan sebagai bumbu kadang ditambah jeruk nipis. Soal isi lotek tidak memasukan telur dalam jajaran bahan, sementara gado-gado ada yang memasukan ada yang tidak.  Soal rasa, saya masih terbuai dengan  gado-gado dengan brand b***o *opini pribadi lho*

Jika ada yang tertarik untuk membuat Lotek, silahkan simak 
http://travel.kapanlagi.com/yogyakarta/kuliner/depot-pujasera/37003-lotek-sagan.html

http://yukariosima.blogspot.com/2011/11/resep-masakan-khas-jawa-lotek-jogja.html


http://travel.kapanlagi.com/yogyakarta/kuliner/depot-pujasera/37003-lotek-sagan.html

Penulis berbakat ini, mengaku bahwa tokoh yang ada dalam kisah ini hanya fiktif semata guna membuat  kisah menjadi menarik. Namun jika hendak dicarikan padanannya, maka sosok Hasha merupakan sosok yang paling mendekati dirinya.

Hemmm, apa iya sih? sosok Goza jelas bukan, hal ini terlihat gambaran Goza sang  bedebah yang kurang dramatis. Mengingat sosok beliau (menurut para sahabat) cukup santun maka hal ini bisa dimaklumi.

Patta? Sepertinya bukan mengingat kita belum pernah dikenalkan dengan "calon" beliau. Mungkin lain kali saat saya soan beliau berkenan mengisahkan dari mana inspirasi para tokoh dalam kisah ini
 
Pada halaman depan, sang penulis menyebutkan bahwa semua  lirik berbahasa Inggris merupakan lirik lagu dari Group Enigma asal Jerman, tak ada salahnya sesekali kita menikmati lagu yangsempat terkenal di tanah air.

 "Return To Innocence"

That's not the beginning of the end
That's the return to yourself
The return to innocence
Love - Devotion
Feeling - Emotion
Love - Devotion
Feeling - Emotion
Don't be afraid to be weak
Don't be too proud to be strong
Just look into your heart my friend
That will be the return to yourself
The return to innocence
If you want, then start to laugh
If you must, then start to cry
Be yourself don't hide
Just believe in destiny

Hayuh diintip yang ini
http://youtu.be/Rk_sAHh9s08
http://youtu.be/2rALVgdoMHk
Hemmm jadi apa yah hubungan antara Enigma kisah dalam buku ini dengan Group Enigma? Apakah ada kaitannya dengan sosok yang menjadi inspirasi? Tak terjelaskan sampai ada pengakuan sang penulis


------------------------------
------------------------------
Saat kini dini hari
Ketika sebuah nomer menerima panggilan
"Kangmas kulo mimpi"
"Den ayu, monggo ngendikan mimpi menopo?"
"Kang mas kulo mresani......."
Hening sesaat
"Hemmmmm ngih pun. Den ayu sampun mengertos tho menawi...."

Wanita itu seumur hidupnya berjuang untuk menolak kelebihan yang dimilikinya. Ia sering bermimpi bertemu dengan seorang lelaki yang tak dikenalnya. Wujudnya sering berbeda. Sebuah tandalah yang menunjukan itu sosok yang sama.

Lelaki itu sering diminta membimbing karena kelebihannya, tapi dalam perjalanannya ia sering melihat siluet  sosok wanita. Tak ada kerabat atau kenalannya yang serupa. Kadang siluet  itu hadir dalam sosok nyaris lengkap, kadang sangat  samar. Ciri yang melekat yang membuatnya tahu ia berhadapan dengan sosok yang sama
.

Suatu saat, keduanya bertemu di kehidupan nyata.
Tak butuh lama untuk  saling menyadari 
Bahwa mereka berhadapan dengan sosok yang selama ini sering hadir
Yang satu berkompromi dengan kelebihan yang selama ini dipungkiri
Yang  lain mendampingi dan mendapatkan banyak hal untuk ditelaah
Dalam kehidupan ini, banyak hal yang tak bisa dijelaskan,
Enigma

------------------>
*Kisah di balik review buku ini

Kemarin sore saat pulang mengurus sebuah proyek
Me: Stopppppppp! Cintaku berhenti di warung itu
C: Hah? Warung yang mana? *celingukan*
Me: Itu yang ada tulisan sedia Lotek
C: Oh udah kelewat dikit nih? Kalo gitu kudu puter balik. Besok aja yah mampirnya *setelah  sukses cari lokasi buat berhenti sebentar*
Me: Enggak ah mau sekarang
C: Tapi baliknya bakalan macet nih, secara malam minggu di sini kan padat. Besok aja yukk nyobainnya *ngerayu lapis 7*
Me: Repot yah musti muter
C: Iya, kalo besok bisa dari jauh udah siap-siap minggir *bersiap mau jalan lagi*
Me: Oh ya sudah kl gitu aku turun sini aja, ntar pulang naik ojek jg bs kl angkot ngak ada jd cintaku ngak ribet *siap-siap*
C: WHATS!!!!!!!!!! Aduhhhh kenapa sih ngeyel musti nyobain Lotek sekarang? Aneh. Kemarin-kemarin ngak tergoda padahal sering kan lewat sini *wajah sesangar singa*
Me: Butuh riset buat review bukunya Mas Yudhi Herwibowo yang terbaru
C: *Tarik napas puanjanggggg* Ya sud tapi kalo balik macet jangan rewel yah *pasang wajah termanyun sejagat*
Me: Ngak akan! Profesionalisme dalam mereview butuh pengorbanan. Thx yahh cintaku *kasih senyum termanis*
C: Hem *siap-siap puter balik*
C: Eh puja jiwaku, Mas Yudhi  lg bikin buku lagi kan?
Me: he eh kenapa?
C: Enggak sekedar siaga 1 jk mendadak kamu pingin pergi ke lokasi yg ditulis di buku itu demi profesionalisme review. *nada datar tapi dongkol*
Me: Ohh gt, ntar aku tanya yah setting lokasinya dimana *pura2 ngak tahu ada yg be te

Gambar:
http://ekanadashofa.staff.uns.ac.id/tag/yudhi-herwibowo/
http://travel.kapanlagi.com/yogyakarta/kuliner/depot-pujasera/37003-lotek-sagan.html





Jumat, 13 September 2013

Kisah Tak Sampai Seorang Samurai

 
Penulis: Mitsugu Saotome
Penerjemah: Istiani Prajoko
Penyunting: Fenty Nadia Lubis
Pemeriksa Aksara: Diksi Dik
Pewajah Isi: Eri Ambardi
ISBN: 978-979-024-405-4
Halaman: 596
Penerbit: Serambi
Harga: Rp 77.000


Sering kali, cinta membuat kehidupan seseorang berubah. Cinta tak sampai seorang Okei, serta demi keamanan diri membuatnya terdampar di Amerika.

Okei, berusia belia  untuk ukuran anak sekarang. Tapi perjalanan kehidupannya sungguh luar biasa. Ia berani berangkat sendiri untuk menemui sahabatnya, Matsuno,  yang baru tertimpa kemalangan ditinggal suaminya. Sebenarnya bukan kemalangan, mereka yang dianggap meninggal sebagai pahlawan akan membuat keluarga mendapat sanjungan dan pujian. Dengan bermodal nekat dan selembar peta, Okei berangkat menuju Gensuke-cho di Shibaguchi  dari kampung halamannya Zaimokumachi di Aizu-Wakamatsu.

Sosok Okei dalam buku ini tidak terlalu diungkap kecuali ia adalah anak seorang pengerajin gentong kayu. Saat perang, ayahnya ketiban rejeki membuat gentong sebagai wadah bubuk mesiu.  Okei memiliki seorang adik laki-laki yang sangat ingin bergabung menjadi samurai. Karena keluarga mereka bukanlah termasuk keluarga dari kalangan atas, maka sang adik harus dijadikan anak angkat salah satu keluarga samurai. Suatu kehormatan memang bagi keluarga Okei, walau diam-dian Okei harus menahan pilu setiap melihat sosok yang menjadi kakak angkat adiknya.

Betapa tidak, nama wanita itu yang disebut  pujaan hatinya saat mereka akan memadu kasih. Wanita mana yang tidak merasakan perih. Semula Okei merasa ia salah dengar apalagi  Kingo pujaannya sedang dalam keadaan mabuk. Belakangan ia sadar, Kingo bukan melihat   dirinya tapi bayang Yukiko.

Membaca buku ini saya justru kurang menikmati kisah percintaan Okei. Saya yang kurang begitu memahami perihal samurai justru mengalami sedikit kebingungan. Beberapa bagian mengisahkan para samurai yang meredam kasih pada pujaan hati. Demikian juga dengan Okei. Tapi Okei bukanlah seorang samurai. Atau dia menjadi samurai karena seuatu hal yang terlewatkan oleh saya? Lalu kenapa judulnya menjadi kasih Tak Sampai Seorang Samurai? Memang ada seorang samurai yang begitu membara cintanya kepada Okei, tapi mereka  bukan tokoh utamanya sehingga tidak pas jika bagian itu dijadikan judul. Kenapa judulnya tidak menjadi kasih Tak Sampai  Untuk Sang Samurai, atau apalah yang menunjukan buku ini mengisahkan tentang seorang gadis yang mendambakan cita seorang samurai. Mungkin juga karena mengisahkan tentang 

Untuk saya, buku ini lebih memberikan banyak informasi tentang kehidupan masyarakat Jepang saat itu serta bagaimana saat demam emas melanda California.Misalnya saja mengenai sosok Yukiko janda Jinbo Shuri. sebagai janda seorang yang memiliki kedudukan terpandang, ia harus memegang teguh nama keluarga suaminya. Saat suaminya dinyatakan tewas, ia dilarang keras melakukan seppuku. Ia harus hidup sebagai sosok yang dihormati atas pengorbanan sang suami. Kecuali saat perang terjadi hal-hal yang bisa menistakan dirinya, maka ia wajib membela martabatnya dengan cara seppuku atau meminta kerabatnya memenggal kepalanya.

Saat tentara musuh mulai berdatangan, sang ayah memenggal kepala adik dan ibunya sebelum melakukan seppuku Sementara ia harus meninggalkan rumah orang tuanya menuju rumah keluarga suaminya.  Walau seluruh keluarga suaminya telah melakukan seppuku ia wajib berada di rumah keluarga Jinbo, bahkan jika hendak melakukan seppuku. Bagi   wanita Jepang, setelah menikah maka ia harus mendahulukan keluarga suaminya, keluarga barunya. Harga diri lebih penting dari pada nyawa bagi mereka. 

Seppuku merupakan salah satu adat para samurai pada zaman bakufu. Seppuku pertama menurut catatan dilakukan oleh Minamoto no Yorimasa pada saat tahun 1180. Seppuku akhirnya menjadi bagian dari bushido, kode etik prajurit samurai. Seppuku digunakan untuk menghindari penyerahan diri ke tangan musuh guna mengantisipasi adanya penyiksaan  dan menebus rasa malu

Kisah tentang Matsuko juga tak kalah menawannya. Walau bersahabat, mereka berasal dari kelas sosial yang berbeda sehingga kadang tanpa sadar Matsuko memperlakukan Okei layaknya pelayan. Saat suami Matsuko meninggal dan ia dalam masa berkabung memang Okei telah membantunya. Bahkan tanda sengaja telah menjadi matcomblang bagi Matsuko dan suaminya, seorang pria asing.  Perkawinan keduanya merupakan hal yang luar biasa saat itu, janda samurai menikah dengan sorang asing saat suaminya belum lama meninggal. Banyak yang mempertanyakan tujuan mulia sang pria asing. Tapi kelak justru ialah yang menjadi perantara keberadaan Okei di luar negeri.

Menikahi seorang samurai dan membuat seorang wanita juga dituntut untuk lebih tegar. Jika pernah menonton film Last Samurai pada tahun 2003, tentunya akan melihat bagaimana Taka,  istri  Hirotaro, samurai yang yang dikalahkan oleh sang kapten Nathan Algren (diperankan oleh Tom Cruise) harus bersedia menampung dan merawat  orang yang menyebabkan kematian suaminya.  Ia tak kuasa melawan apa lagi perintah itu diberikan oleh sang pimpinan besar.

Beberapa urusan arus bawah diuraikan di sini. Misalnya kisah perselingkuhan sesaat antara Yukiko dan Kingo atau antara  Matsuko dengan seorang pemuda asing. Entah kenapa saya menangkap kesan hal itu merupakan hal yang biasa saja. Sex dianggap kebutuhan dasar mereka hingga jika dilakukan merupakan hal yang biasa saja, masalahnya melakukannya bukan dengan pasangan syah. Hemmm pandangan setiap individu soal urusan esek-esek memang tidak pernah ada yang sama.

Mitsugu Saotome merupakan nama pena yang digunakan oleh Kanegae Hdeyoshi (1 jan 1926-23 Des 2008) seorang penulis fiksi-sejarah berkebangsaan  Jepang.  Ia dianugerahi Penghargaan Yoshikawa Eiji Literatary pada tahun 1988

Bagi pengemar sejarah dan kisah bernuansa Jepang, buku ini layak dibaca dan dikoleksi.

Oh ya satu-satunya samurai yang saya kenal hanya Hikozza, Sang Samurai Cahaya dari Solo *kedip-kedip*
Gambar
 http://chillinaris.blogspot.com/2012/10/nilai-kebajikan-dalam-bushido-seorang.html

Kamis, 12 September 2013

Curhat Sama Nabi Yuk






Sudut Bumi 200XZ

Hari Lebaran memang sudah berlalu, namun nuasan keagamaan kian terasa dibanyak sisi kehidupan. Banyak yang terus menjalankan ibadah yang dimulai sejak bulan puasa. Rumah nyaman di pojok jalan itu misalnya.

Sejak bulan puasa berakhir, warga setempat sepakat untuk bergilir membuat acara ramah-tamah dengan anak-anak yatim piatu dari yayasan terpilih. Setiap keluarga yang sepakat mengikuti kegiatan tersebut akan mendapat giliran dengan cara diundi.

Bulan ini, giliran rumah nyaman di pojok jalan yang mendapat kehormatan untuk menjadi menggelar acara. Waktu telah ditetapkan, persiapan sudah berlangsung. Beberapa orang petugas katering terlihat hilir mudik membawa peralatan ke teras tempat makanan akan disajikan. Di  dalam rumah terlihat sejumlah anak remaja masjid dengan sukarela membantu persiapan. Semuanya terlihat bersemangat.

Sepasang mata mengawasi persiapan itu dari kejauhan. Grandnie, begitu biasa beliau disapa memang tidak terlibat langsung dengan segala persiapan yang dilakukan. Ia lebih suka menjadi pengamat sambil sesekali memberikan masukan jika diminta. Bukan tidak mau berpartisipasi,tapi ia ingin agar acara tersebut diadakan sesuai dengan keinginan pemangku kegiatan, bukan dibuat sesuai atas keinginannya atas nama menghormati yang sepuh.

Sambil duduk di kursi yang ada di depan perpustakaan, ia bisa mengawasi persiapan dengan bebas  Setelah puas mengawasi, wanita paruh baya itu melangkah masuk ke dalam perpustakaan pribadinya.

“Grand,  sudah beres buku yang mau dijadikan hadiah?” Baru beberapa langkah ia berjalan terdengar suara cucu kesayangannya dari balik punggung.

“Sudah, semua ada dalam  box di  atas meja. Jumlahnya sengaja dilebihkan, supaya bisa dibawa ke tempat anak-anak itu.” Sahut wanita paruh baya sambil menunjuk sebuah box yang terletak di tas meja.

Sang cucu kesayangan menghampiri box yang dimaksud dan dengan penuh rasa ingin tahu melihat-lihat aneka buku yang akan dijadikan hadiah bagi anak-anak yatim piatu. Ada kisah tentang nabi, cara berwudhu, cara sholat dan masih banyak lagi. Semuanya dicetak dalam wujud buku bergambar yang pasti disukai anak-anak.

“Buku-buku yang menarik Grand, pasti mereka bisa lebih memahami tentang banyak hal tanpa berkesan digurui. Dapat hiburan dapat ilmu. Sayang tidak ada buku yang seperti ini untuk usiaku.” Kata sang cucu

“Hushh siapa bilang. Grandnie malah sudah punya buku yang cocok untuk anak seusiamu sejak tahun 2013. Konon buku itu sudah mengalami sekian kali revisi dan cetak ulang. Penulisnya sudah menjadi pemuka agama yang terpandang.” Sahut wanita paruh baya itu sambil tertawa lepas.


“Buku yang mana Grand?” Tanya cucu kesayangannya dengan heran. 

“Memang ada buku agama yang dibuat dengan gaya ABG? Kalau ada aku boleh pinjam?” Lanjutnya penasaran.


“Buku ini  merupakan buku non fiksi Islami. Ada tiga bab utama di dalamnya. Bab pertama berisi Ajakan untuk Mengenal Hadis, bab kedua memberikan Resep jadi Remaja yang Gaul dari Nabi, bab ketiga  berisikan tentang  Hadis-Hadis tentang Akhlak. Sangat boleh kamu pinjam” Papar wanita paruh baya itu sambil menyerahkan buku itu kepada cucu kesayangannya.


“Berat yah Grand?” Wajah sang cucu menunjukan rasa khawatir. Beberapa buku agama yang ada di raknya ditulis dengan bahasa yang membutuhkan konsentrasi dan proses pemahaman yang tidak cepat. Biasanya ia tak merasa kesukaran membaca buku apapun, hanya saja saat ini ia sedang ingin membaca yang mudah dipahami. Diterimanya buku itu dengan rasa enggan.



“Jelas tidak! Buku ini memberikan banyak pengetahuan dengan cara yang unik dan tak berkesan menggurui. Bahkan memudahkan pembacanya untuk mengingat suatu hal dengan cepat dengan cara memberikan latar belakang hijau pada kalimat yang dianggap penting. Pembaca tidak perlu membuat tanda atau coretan karena sudah tercetak otomatis.Itu merupakan keunikan dari buku ini “Jawab wanita paruh baya itu

"Gaya bahasa yang dipergunakan juga mengalir dengan pemilihan kata yang mudah dipahami oleh kaum muda. Untuk beberapa hal yang dianggap sangat penting malah diberikan layout berbeda dengan nuansa hijau.  Bagan yang ada dibuat untuk makin memudahkan pembaca memahami hal yang sedang diulas. Karikatur yang ada juga menghibur. Jika sudah begitu banyak meudahan, masih mau menganggap buku ini susah untuk dicerna?" Papar wanita paruh baya itu. 

Sang cucu yang sibuk membolak-balikan halaman hanya tersenyum. Mendadak ia berseru gembira.

“Oh… jadi itu bedanya. Hadis sama dengan laporan sementara sunah adalah isi laporan. Wah ternyata sekian lama baru melalui buku ini aku mengerti perbedaannya. Lalu ciri aneka hadis dijabarkan dengan gamblang juga.” Katanya. Sementara wanita paruh baya itu hanya tersenyum melihat kelakuan cucu kesayangannya.

“Coba dengar ini Grand, di halaman 146 ditulis bahwa dalam Al-Quran, kita diperintahkan untuk bersabar dalam beberapa hal. Di sini tertulis apa saja hal tersebut juga tercantum dimana. Misalnya Usaha memperoleh apa-apa yang dibutuhkan terdapat dalam  QS Al-Baqaroh [2]:177). Semua hal yang ditulis disebutkan acuannya dengan terinci namun dijabarkan dengan bahasa yang mudah dipahami kaum muda” Kata sang cucu kesayangan. Ia terlihat bersemangat membalik-balikan halaman, sudah berbeda dengan sikapnya beberapa saat yang lalu.

“Aku suka kalimat  di halaman 195. Setiap perbuatan dosa adalah kesalahan, tetapi ngak setiap kesalahan adalah dosa. Penjelasannya juga mudah dimengerti” Lanjutnya sambil kian bersemangat membalik-balikan halaman.

Wanita paruh baya itu hanya tersenyum saja. Sejak pertama ia mendapat buku itu, ia sudah mendapat banyak informasi yang baginya  dulu susah dimengerti. Buku itu mengajak pembacanya belajar dengan cara yang tidak biasa. Tapi justru cara itu membuat pembaca lebih mudah memahami banyak hal.

“Puja jiwaku, hayuh sudah jam segini maem yah.” Suara pria terdengar dari pintu masuk perpustakaan. Wanita paruh baya dan cucu kesayangannya melihat sosok pria dengan wajah keras namun memancarkan kelembutan sedang membawa sebuah baki. Bergegas wanita paruh baya itu berdiri untuk membantunya.

“Ih Eyang mesra amat, sampai maemnya Grand dibawain segala”Canda sang cucu sambil tertawa. Pria yang dipanggil Eyang itu ternyata membawa makan siang dengan menu lengkap untuk dua orang. 

“Seperti tidak tahu Grand saja. Jika sudah berada di perpustakaan bisa lupa waktu. Kalau sakit bisa repot Eyang.  Mau cari dimana lagi yang seperti ini” Jawab pria itu sambil tertawa.

“Tapi Eyang, sepertinya aku jarang melihat Grand dan Eyang makan sendiri. Seringnya makan bersama. Mesra ala ABG deh” Ujar cucu kesayangan mereka.

“Memang begitu nak. Grandnie tidak akan makan jika Eyang  belum pulang. Itu sebabnya Eyang selalu berusaha berada di rumah saat makan. Jika terpaksa pulang terlambat maka Eyang akan memberitahu Grand untuk makan duluan, tapi kamu tahu khan Grandnie tetap saja tidak akan makan.Kalau pun makan hanya sesuap. Kadang walau Eyang sudah makan sampai di rumah ya makan lagi demi menghormati Grandnie yang menunggu. ”Papar pria itu sambil tersenyum kearah wanita paruh baya itu.

“Kok begitu?” Tanya sang cucu

“Istri harus menghormati suami. Salah satu wujud penghormatan Grand adalah seperti itu. Grandnie tidak merasa dijajah atau ditindas seperti ungkapan anak-anak sekarang jika harus menunggu suami pulang untuk makan. Seharian ia bekerja mencari nafkah untuk keluarga, apa artinya dibandingkan Grand yang hanya menunggunya untuk makan. Hal itu membuat kita justru sering bersama dan berbagi banyak cerita.”Terang wanita paruh baya itu.

“Kelak jika sudah waktumu, akan Grandnie ceritakan banyak hal tentang filosopi berumah tangga” Lanjutnya.

“Ok deh Grand. Ak pamit dulu yah mau membawa buku-buku ini ke rumah” Kata sang cucu sambil bersiap-siap membawa box berisi buku-buku hadiah.

“Puja jiwaku tidak cerita kedekatanmu dengan sang penulis buku ini?”Tanya pria itu sambil tertawa lepas.

“Eh….ada cerita apa Eyang?” Sang cucu yang sudah berdiri di depan pintu membalikan badan penasaran.

“Hushh kangmas ini bisa saja.”Jawab wanita paruh baya itu sambil tertawa.

“Ayo Grand, ada cerita apa sih?” Rengek sang cucu.

“Seperti kata Grand tadi, penulis buku ini sekarang sudah menjadi pemuka agama yang terkenal. Jemaahnya terbilang banyak. Dulu Grandnie selalu meminta dukungan doa dari beliau saat menghadapi sesuatu, seperti ujian. Hal ini dikarenakan beliau  tahu adat berdoa yang benar sehingga Alhamdullilah berulang kali doa beliau dijawab Allah SWT.  Saat pendekatan Eyangmu pernah bertanya apa Grandnie juga sempat meminta didoakan enteng jodoh sebelum ketemu eyang. Jika pernah artinya dialah jodoh Grandnie. Jawaban atas doa.Tahulah Eyangmu kadang over percaya diri. Saking kesal Grandnie menjawab jelas tidak.Jangan-jangan justru kamu yang minta diberikan jodoh perempuan yang kacamatanya sedang rusak sehingga tidak bisa melihat dengan jelas ”Papar wanita paruh baya itu sambil tertawa.

“Kalau soal percaya diri sih Eyang memang jagonya.” Kata cucu kesayangannya sambil tertawa dan berlalu dengan riang.

 "Atau apakah kamu tahu Grand tidak pernah pergi keluar rumah tanpa ijin Eyang? Ini sesuai dengan salah satu hal yang dibahas dalam buku itu" Kata Pria itu.

"Iya Eyang, setiap mau pergi pasti Grand berusaha menghubungi Eyang" Jawab cucu kesayangannya.


"Sudah sana bawa box itu dulu. Nanti jika sudah tiba waktumu, Grandnie dan Eyang akan memberikan banyak kisah filosopi tentang berumah tangga terkait" Ucap wanita paruh baya itu.

"Pamit yah Grand, Eyang." Sang cucu kesayanga bergegas keluar sambil membawa box berisi buku hadiah dan buku pinjaman. 

Kedua sosok paruh baya yang ditinggal di perpustakaan mulai menyantap makanan yang dibawa pria itu. Keduanya terlihat menikmati hidangan yang ada.

Beep…beep. Tanda sebuah pesan masuk ke alat komunikasi pria itu.

“Eyang, mau dung nomer telpon Ustad yang mengarang buku ini. Kalau Grandnie sering minta didoakan aku juga mau minta didoakan supaya lulus ujian besok.” Pesan dari cucu kesayangan

“Lihat saja di halaman belakang buku.  Beliau tidak pernah mengganti nomer. Atau lihat di https://www.facebook.com/radenkholiq. Siapa saja yang mengirim pesan pasti dibalas walau tidak bisa secepat kilat. Apalagi jika tahu kamu cucu Grandnie.Jangan lupa bertanya bagaimana adat berdoa yang baik dan benar ya”Balas pria itu

“Suwun Eyang.” Sebuah pesan kembali muncul

Pria itu tersenyum lalu kembali melanjutkan makan.

“Siapa kangmas?”Tanya wanita paruh baya itu

“Siapa lagi yang kelakuannya mirip den ayu.Kalau ada maunya langsung saja bertindak”Jawab pria itu sambil tertawa.

“Percaya dirinya nyontek Eyangnya”Kata wanita paruh baya itu sambil ikut tertawa.

Kehidupan kadang berjalan dengan cara yang unik. Siapa yang mengira saat banyak yang memboikot media sosial F, justru wanita paruh baya dan penulis  buku tersebut berkenalan dan menjalin persahabatan di sana.

Hidup, memang tergantung bagaimana kita memandang dan mengisinya.  



--------------------------------
<----  Terinspirasi dari buku ini
         Penulis: Abdul Kholiq
         Penyunting: Ammar Machmud 
         Desain Sampul: Fahmi Ilmansyah
         Ilustrasi Isi: M. Robby Sanjay
         Pemeriksa Aksara: Tristanti & Titis A.K
         Penata Aksara: Afandi
         ISBN: 978-602-7888-2   
         Halaman: 246
         Penerbit: Bunyan

Para sesepuh berkata, ucapan adalah doa. Semoga  ucapan yang tertulis di sini adalah doa bagi sang penulis. Kelak ia menjadi pemuka agama dengan gayanya yang khas dan memiliki banyak jamaah. Aamiin.