Penulis: Titie Said
Cetakan:
Pertama-2000
Halaman:
238
Penerbit:
Balai Pustaka
Rating:
3/5
-hal 162-
Sebenarnya mereka bedua kerap bertemu tanpa sengaja di suatu kedai kopi di hotel bintang 5 (sepertinya saya tahu hotel mana yang dimaksud). Interaksi keduanya terjadi ketika orang yang ditunggu keduanya ternyata membatalkan janji. Jenderal yang digambarkan ramah, mengajak Maharani untuk menikmati hidangan yang ia pesan.
Jangan harap ada kisah romantis sejak awal Maharani yang memiliki trauma masa lalu, bersikap dingin. Ia bahkan mengabaikan aneka bunga mahal yang dikirimkan untuknya.
Nyaris saja Maharani membuat perusahaan rugi karena mengira tawaran bisnis yang disampaikan Jenderal Dudi sekedar gurauan, mengingat adanya larangan bagi tentara dan polisi untuk berbisnis.
Pembaca mungkin mengira kisah antara keduanya berakhir dengan manis, keduanya hidup dalam bahagia. Tak semudah itu. Sang penulis menghadirkan sosok lain dalan kehidupan Maharani. Kali ini segalanya berlawannya sang jenderal.
Bagaimana Maharani seorang wanita karier cemerlang memutuskan ke mana hatinya akan berlabuh, menjadi hal yang menarik untuk disimak. Apalagi ketika sebagai aktifis perempuan ia mengetahui bahwa dirinya menjadi korban permainan cinta. Apakah benar begitu? Atau sekedar salah paham semata?
Sang penulis, Titie Said (1935–2011) merupakan seorang penulis dan jurnalis asal Indonesia yang dikenal melalui berbagai karya novel dan cerpen. Nama Titie Said sendiri sebenarnya merupakan nama pena dari namanya Sitti Raya Kusumowardani.
Buku ini saya temukan eh jastip dari ajang pameran buku internasional beberapa waktu lalu. Harga yang tertera sangat murah membuat tak perlu berpikir panjang untung jastip. Belakangan, saya baru sadar betapa beruntungnya saya mengingat nama penulis, penerbit dan kelangkaan buku berdasarkan tahun terbit.
Cocok dibaca oleh mereka yang menyukai karya penulis. Bagaimana cara beliau mengusik rasa penasaran dan mengaduk emosi pembaca, sangat menawan.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar