Khusus berisi ulasan seputar buku, tak lain dari yang berkaitan dengan buku, didedikasikan untuk para pekerja dunia buku. Sebagai ucapan terima kasih kepada para Peri Buku dan bukti eksistensi diri sebagai anggota Ordo Buntelan
Judul asli: Leafie: Ayam Buruk Rupa dan Itik Kesayangannya
Penulis: Hwang Sun Mi
Penerjemah: Dwita Rizki Nientyas
Penyunting: Esti A. Budihabsari
Ilustrasi: Kim Hwan Young
ISBN: 9786029225754
Halaman: 224
Cetakan: Pertama-2013
Penerbit: Qanita
Rating: 4/5
"Dedauanan adalah ibu para bunga. Bernapas sampai bertahan hidup walau dihempas angin. Menyimpan cahaya matahari dan membesarkan bunga putih yang menyilaukan mata. Jika bukan karena dedaunan, pohon pasti tidak dapat hidup. Dedaunan benar-benar hebat."
-hal 85-
Sering kali saya sering enggan membaca buku yang diberi lebel semacam motivasi diri, kearifan, dan sejenisnya. Dengan tidak mengurangi hormat bagi para pembaca buku sejenis, beberapa buku yang saya baca seperti kurang tepat untuk saya, sehingga sering saya tidak berhasil menamatkan buku tersebut.
Melihat buku ini sebenarnya juga sudah merasa enggan, hingga sejak diterima belum juga dibaca hingga sekarang, tertimbun di rak. Namun ketika tanpa sadar melihat sampul plastik pembungkus terkoyak, lalu melihat isinya yang dipenuhi ilustrasi cantik, jadi tergoda membaca. Plus, kovernya berwarna biru.
https://www.goodreads.com/ book/show/23441811
Sangat menarik!
Menyesal tidak membaca sejak awal, tapi lebih baik terlambat dari pada tidak ^_^. Seperti yang tercantum pada kover depan, buku ini mengisahkan tentang kehidupan seekor ayam yang dianggap buruk rupa bernama Leafie, serta seekor itik kesayangannya yang diberi nama Greenie. Leafie adalah seekor ayam petelur. Jika sudah sampai pada masa ia sudah tidak produktif lagi, maka nasibnya akan segera berpindah menjadi ayam potong.
Meski setiap saat ia merasa sakit hati ketika majikan mengambil telurnya, namun rasanya tak sesakit ketika telur yang dihasilkannya dianggap buruk lalu dibuang hingga menjadi santapan anjing. Sesungguhnya Leafile sangat ingin mengerami telurnya sendiri. Ia merasa iri melihat keluarga bebek yang bebas berlarian di halaman, ayam betina yang sibuk mencari makan dengan cepat hingga bisa segera kembali mengerami telurnya.
Dengan tekat dan kemampuan keras, Leafie berhasil keluar dari kurungan untuk ayam yang dianggap sudah tidak berguna. Ia memang bebas, tapi bukan berarti ia selamat. masih banyak bahaya yang mengancamnya, ada musang yang mencari makan untuk anaknya, bahkan dari sesama penghuni halaman yang menganggap dirinya adalah pengacau. Untunglah ia bertemu dengan seekor bebek liar yang menjad temannya.
Bagian ini, yang mengisahkan para binatang berkumpul untuk membahas bagaimana sikap mereka pada Leafie, entah kenapa membuat saya teringat buku Animal Farm. Leafile tak mengira ternyata kehidupan di halaman tak seindah yang ia bayangkan selama ini.
Keinginan Leafie sebenarnya sederhana, namun bisa dkatakan rumit untuk ayam petelur. Bagaimana ia bisa bertelur lagi? Dan jika tidak bisa bertelur, bagaimana ia bisa mengerami telurnya? Hatinya berasa sangat sedih, hidup terasa hampa. Begitulah yang dirasakan oleh Leafile. Ia sangat ingin bisa mengerami telurnya, sehingga begitu menemukan sebutir telur, tanpa pikir panjang segera ia erami tanpa sadar bahwa itu bukan telur ayam.
Maafkan saya yang mendadak jadi berpikir, bagaimana jika ternyata yang dierami Leafie adalah telur ular? Bukan tak mungkin. Seandainya penulis membuat suatu bagian yang menyebutkan bahwa hal tersebut tidak terjadi karena sesuatu hal, tentu lebih baik.
Buku ini mengajarkan kita bahwa tak ada salahnya memiliki mimpi, punya angan-angan. Karena hal tersebutlah yang akan menjadi kekuatan kita untuk bangkit ketika sedang terjatuh. Begitulah yang dirasakan Leafie. Ia sangat ingin bisa mengerami telurnya hingga menetas, sehingga ia mampu bertahan dari segala bahaya dengan tekat melindungi telurnya.
Maafkan jika tanpa sadar saya mengulang perihal bagaimana Leafie ingin mengerami telurnya. Karena hal tersebut tersampaikan dengan kuat dalam kisah ini. Penulis dengan piawai mengolah kata, membuat hal tersebut begitu terekam dalam ingat saya. Jika menginginkan sesuatu, berjuanglah secara maksimal.
Kita juga diajarkan untuk tidak selalu mendengarkan perkataan orang lain, karena kitalah yang paling tahu tentang diri sendiri. Mendengarkan saran memang dianjurkan, tapi bagaimana sikap kita akan saran itu adalah keputusan kita sendiri. Jika kita rasa saran itu adalah baik maka ikuti, tak perlu mengikuti saran sekedar menyenangkan orang.
Bebek dan ayam adalah dua hewan yang berbeda. Maka meski dirawat oleh Leafie, Greenie tetaplah seekor bebek. Ia akan kembali pada habitatnya. Semula ia memang takut bertemu bebek lain, takut mencoba untuk berenang. Pada akhirnya, ia menemukan kaumnya. Leafie meski sedih, harus merelakan hal tersebut. Toh keinginannya untuk bisa mengerami telur dan merawat anak sudah tercapai.
Peran bebek liar alias Pengelana dalam kisah ini tidak bisa dianggap sepele. Ia mengajarkan banyak hal pada Leafie yang sebelumnya tak tahu bagaimana kehidupan di luar kandangnya, termasuk bagaimana menjaga diri dari musang. Kadang, kita mendapat dukungan dari sosok yang tak pernah kita duga.
Bisa saja hal tersebut merupakan buah dari perbuatan baik yang selama ini kita lakukan. Seperti kebaikan Leafie memberikan telurnya. Jangan pernah lupa bersyukur untuk segala kebaikan dan kemudahan yang kita terima.
Bahkan musang yang menjadi tokoh antagonis juga memiliki peranan dalam kehidupan Leafie. Ia menjadi ibu yang kuat demi melindungi anak. Bagaimana juga, hukum alam membuat akhir yang menyedihkan. Tapi, kali ini Leafie mampu melihatnya dari sudut pandang berbeda. Pengorbanannya bisa menyelamatkan nyawa lain.
Kita mungkin tak selalu beruntung. Tapi, siapa yang bisa mengetahui bahwa mungkin dibalik ketidak beruntungan tersebut, menanti kesuksesan yang tertunda. Bisa saja ketidak beruntungan kita justru membawa kebaikan bagi orang lain.
Misalnya, kita berebut menaiki kereta api dan tak terangkut. Mungkin salah satu penumpang adalah seorang pencari kerja yang akan menjalani test. Karena berhasil naik kereta api lebih cepat, ia bisa mempersiapkan diri lebih baik dan lolos tes.
Sementara Anda atau saya yang tak terbawa, tentunya harus menunggu kereta api yang lain. Tak disangka bertemu teman lawas. Percakapan singkat berujung bertukaran nomor telepon genggam. Sering waktu malah menjadi rekan bisnis. Jangan sebut saya menghayal! Karena tak ada yang tak mungkin dalam kehidupan ini. Seperti juga Leafie, dari seekor ayam petelur bisa menjadi ibu.
Buku yang konon sudah terjual lebih dari 1 juta ekemplar, dan diterjemahkan dalam 10 negara saat diterbitkan oleh Qanita, memiliki judul asli 마당을 나온 암탉, diterjemahkan dalam bahasa Inggris menjadi The Hen Who Dreamed she Could Fly, beda jauh dengan terjemahan versi Qanita.
Sun-mi Hwang sang penulis, patut berbangga hati, karena buku ini telah diadaptasi menjadi film animasi dan mendapat sambutan hangat di festival Cannes, serta menjadi Best Family Film 2011 di Sitgas Festival Spanyol.
Ah! Pantas ada tulisan dari kritikus sastra anak dari Korea pada bagian akhir buku ini. Sangat disarankan untuk dibaca oleh siapa saja, mulai dari anak-anak hingga orang dewasa. Meski secara pribadi, saya agak keberatan dengan kata "Ayam Buruk Rupa" dipakai dalam bacaan anak-anak.
Judul asli: Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu
Penulis: Norman Erikson Pasaribu
Editor: Mirna Yulistianti ISBN13: 9786020336053
ISBN10: 6020336050)
Halaman: 188
Cetakan: Kedua-2016
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Rating:4/5
Kamu harus berada di sini, Cintaku, agar aku bisa bertahan hidup
- Hanya Kamu yang Tahu Berapa Lama Lagi Aku Harus Menunggu, halaman 65-
Dua puluh cerita pendek menjadi isi dari buku ini. Tidak hanya dari judul kisah yang unik seperti judul buku, namun juga dari tokoh, serta seting kisah. Kisah yang ada antara lain Tentang Mengganti Seprai dan sarung Bantal; Hal-hal Penting yang Terjadi Selama Kau Tak ada; Garpu; Guru Ramuan; Fatamorgana di Meja Makan; Tulang Rusuk yang Hilang; Buku Puisi di Kamar Mandi; Aku Rasa Aku Akan Pergi ke Suatu Tempat untuk Waktu yang Teramat Lama; serta Pengantar Tidurmu yang Panjang.
Pembaca akan bertemu dengan kisah Tentang Mengganti Seprai dan Sarung Bantal, pada bagian awal. Sebuah judul cerpen yang lumayan panjang dan unik, layak jadikan judul buku. Meski sepertinya judul ini memberikan informasi tentang kegiatan yang sederhana, tapi percayalah isi cerpen tersebut tidaklah sesederhana itu.
Setelah membaca kisah tersebut, sebagai penggila buku wajar jika kisah pertama yang kubaca setelahnya adalah Novelis Terkutuk di halaman 123. Mengisahkan tentang seorang penulis bernama Ruhut Manihuruk. Bermula dari keinginannya untuk beres-beres kamar dengan kapur barus agar tak ada lagi kecoa dan kroninya, berujung hal tak terduga.
Hem..., apakah penulis terinspirasi dari karya Kafka yang mengubah tokoh utama menjadi kecoa? Setelah Gregor Samsa dalam Metamorfosisberubah menjadi kecoa (walau dalam versi asli disebutkan sebagai Dung-Beetle atau kumbang kotoran), sekarang giliran Ruhut.
Ah! Nama serupa tersebut muncul Dalam Tulang Rusuk yang Hilang di halaman 143, yang mengisahkan tentang kehidupan Ruhut Manuhuruk-penulis cinta. Mungkin penulis sengaja bermain dengan nama tokoh yang serupa. Jika pembaca tidak teliti, bisa tertukar nama.
...buku itu adalah sebuah kota yang bisa kamu jelajahi dengan sepedamu. Dan kota ini sepenuhnya adalah milikmu sehingga kamu boleh memulai perjalananmu dari gang mana pun, menyusuri sendiri rute yang kamu akan tempuh, memutuskan untuk melintasi aku, melewati aku, berhenti padaku, berhenti tidak padaku.”
-halaman 5-
Satu kisah lagi terkait penulis adalahBuku Puisi di Kamar Mandi. Meski mengusung tema terkait penulis puisi, namun sudut pandang yang diambil penulis adalah sisi keluarga penulis, istri dan anak. Bagaimana sang istri harus memutar otak untuk mengatur keuangan yang seberapa.
Hatinya tersayat ketika mengetahui kenyataan bahwa orang yang diharapkan membeli buku puisi suaminya hanya sekedar bercanda! Pedih! Entah siapa yang lebih merasa pedih. Suami yang terpaksa menjual buku karyanya dalam bentuk kertas kiloan, atau seorang istri yang harus hidup kekurangan dan melihat anaknya sakit.
Pernah jatuh cinta dengan orang tak dikenal? Rasanya beragam, begitulah yang disampaikan oleh tokoh dalam kisah Pria Murakami. Jika ada yang menyebutkan tentang cinta pada pandangan pertama, maka itulah yang dirasakan sang tokoh. Sayangnya, kisah cinta itu harus berhenti sebelum sempat dimulai.
Seperti disebutkan di atas, buku yang menjadi Finalis Kusala Sastra Khatulistiwa Tahun 2014 ini mengusung aneka tema. Kesepian, jatuh cinta, menunggu, dan pastinya kesedihan. Meski kita bisa menemukan tema L***T dalam beberapa kisah, namun disampaikan dengan gaya yang santun.
Bantal biru itu ibarat laut biru ke mana semua rasa sedih dan jenuhmu selama ini bermuara, dan ia telah berkata kepada mereka: "Tempat kalian bukanlah di mimpinya."
-halaman 3-
Saya memang selalu kalah dengan warna biru. Ketika buku dengan kover yang mengusung nuansa biru berada ditumpukan buku sumbangan, langsung menukarnya dengan buku lain. Mau bagaimana lagi, biru adalah kelemahanku he he he. Kebetulan lagi, buku ini pernah menjadi incaran beberapa tahun lalu, sayang kondisi keuangan (alasan klise) membuatnya harus mengalah dengan buku lain.
Baiklah, selain warna biru, tulisan panjang di kover juga merupakan daya tarik tersendiri bagi saya. Sejauh ini, sangat jarang atau bahkan sepertinya baru buku ini yang meletakkan begitu banyak kalimat di kover. Karena tak tahu bahwa ini ada adalah cetakan kedua, sempat bingung mana judulnya. Namun jika dicermati dengan seksama, ternyata dua baris bawah dengan warna yang berbeda adalah judul.
Sayangnya, kesibukan membuat buku ini tidak bisa langsung dibaca tuntas, sehingga sering dibawa ke kantor, ke kasur, untungnya tidak ke kamar mandi. Kover yang semula mulus bak wajah para artis, berubah menjadi ada tekukan, warna biru mulai memudar. Biarlah, yang penting isi aman.
Bagi mereka yang sedang membutuhkan bacaan saat me time, buku ini bisa dijadikan pilihan. Tapi, berdasarkan pengalaman, tidak cocok untuk dibaca dalam suasana hati yang kurang baik. Bisa ikutan melow dan sedih berkepanjangan. Tapi itu saya, mungkin berbeda dengan Anda.
Jadi penasaran, ada buku bersampul biru apa lagi di timbunan saya.
... dan terakhir yang kuingat, sebelum akhirnya terlelap oleh lelah dan buai bualannya, dia janjikan kepadaku sebuah bungalo yang lebih besar dan megah daripada yang kami tempati sekarang ini, akan dia hiasi dengan bunga-bunga, buku-buku, anggur, dan burung-burung yang pandai berkicau setiap hari.
-Karavansara, hal 22-
Begitu mengetahui buku ini masuk dalam nominasi buku sastra pilihan Tempo, langsung berburu. Sempat curiga melihat harganya, ternyata karena ini adalah novella dengan ketebalan hanya 46 halaman sehingga bisa dijual dengan harga lebih murah. Padahal, jika huruf lebih dperbesar sedikit sehingga lebih nyaman untuk mata (duh selalu itu alasan saya), halamannya bisa bertambah beberapa lembar.
Shirin 16 tahun dan Surin 14 tahun adalah sepasang kakak beradik yatim piatu di Shiraz. Suatu hari mereka tak sengaja bertemu dengan seorang saudagar kaya bernama Tuan Babak. Mengetahui kondisi keduanya yang mengenaskan, Tuan Babak mengajak mereka untuk ikut bersamanya, mereka bahkan dijanjikan akan diurus dengan baik. Sebagai ganti, keduanya bisa membantu pekerjaan Tuan Babak.
Ternyata, perjalanan menuju rumah baru mereka membawa pengaruh dalam kehidupan Surin. Ia melihat sisi lain dari Tuan Babak serta Shazad-tangan kanan Tuan Babak. Dari perjalanan singkat itu, dia mengetahui bahwa sesuatu tidaklah selalu hitam dan putih.
Penasaran mendengar suara-suara dari tenda Tuan Babak ketika berjaga, membuatnya nekat mengintip. Surin terkejut! Sebelum tidur ia mendengar sendiri bagaimana Tuan Babak menolak keinginan Shirin tidur di tendanya dengan alasan ia adalah seorang pria beristri. Tapi ia melihat adegan yang terjadi antara Tuan Babak dan Shazad, ia menjadi bingung. Tak perlu dijabarkan adegan apakah itu ^_^.
Sebagai seorang saudagar kaya, Tuan Babak sering mengadakan perjalanan jauh menempuh padang pasir untuk berniaga. Nyaris setiap perjalanan ia mengajak kedua bersaudara Shirin dan Surin. Pada salah satu kesempatan, Shirin mengisahkan betapa antusias penghuni harem milik kenalan Tuan Babak bertanya tentang perjalanan jauh yang ia lakukan.
Berbagai hal ditanyakan, seperti mengapa ia tak tinggal di harem sebagaimana perempuan lain serta menunggu cinta dan sayang dari pria yang dihormati. Baik Tuan Babak, Shazad, serta Surin tidak menanggapi, hingga Shirin menyinggung usianya yang nyaris 17 tahun.
"Dan kau mau memukar kebebasan langka yang kuberikan padamu untuk sebuah kehidupan harem, anakku?" tanya Tuan Babak.
"Setidaknya aku setuju tentang cinta dan belas kasih," Shirin berkata lirih.
Sering waktu, aneka peristiwa terjadi atas diri keempat tokoh dalam kisah ini. Shirin yang semula begitu menggebu-gebu mencari cinta sejati, mendadak berubah setelah pernikahannya. Dipikir-pikir, bukan tak mungkin pernikahannya sekedar kedok untuk membuat Surin tak pergi jauh. Sementara Surin sendiri..., begitulah. Baca dalam buku ini saja.
Meski demikian, saya dibuat penasaran bagaimana nasib tokoh, karena pada akhir kisah penulis seakan membuat kisah ini belum tuntas. Bisa saja terjadi sesuatu pada diri Shirin dan Surin, bahkan pada Shazad.
Pembaca seakan dibiarkan berimajinasi, memiliki khayalan masing-masing tentang pada tokoh. Misal, Shirin bertemu dengan kekasih hatinya yang ternyata meninggalkan keluarga dan mencarinya. Atau bisa saja ia menemukan kebahagian baru dari seorang pemuda biasa-biasa saja. Sementara Surin meninggalkan Shirin dan keluarganya, untuk menghabiskan waktu guna berdagang.
Begitulah, karena tidak puas membaca, maka saya hanya memberikan bintang 3,5 bukan 4. Pembaca yang merasakan kenikmatan membaca terganggu alias belum puas membaca secara maksimal, beberapa memberikan rating nanggung (pengalaman curhat beberapa sahabat). Tapi silakan berikan rating sesuka Anda.
Sejak halaman pertama, sudah terasa bahwa ini Kisah 1001 Malam versi Rio, sebuah hikayat yang dikisahkan ulang dengan mengusung sudut pandang kisah yang berbeda. Jika pembaca cermat, pada pojok kanan bawah di sampul belakang, tulisan 21+ bisa menjadi bocoran mengenai kisah ini.
Sekedar mengingatkan, Kisah 1001 malam, merupakan karya sastra dari Timur Tengah yang lahir pada Abad Pertengahan. Dikisahkan seorang ratu bernama Syahrazad dari Wangsa Sasan yang setiap malam mengisahkan berbagai kisah selama 1001 malam kepada suaminya, Raja Syahriar sehingga hukuman mati atas dirinya tertentu.
Kisah yang disampaikan beragam. Tiap malam, Syahrazad mengakhiri kisahnya dengan akhir yang menegangkan, hingga sang raja pun selalu menangguhkan perintah hukuman mati supaya dapat mendengar kelanjutan kisah yang diceritakan Syahrazad.
Hem..., kenapa banyak sekali nama dengan huruf "S" yang terlibat dalam buku ini? Sepasang kakak-adik Shirin dan Surin, kota Shiraz asal keduanya, Shazad sang tangan kanan Tuan Babak, lalu ada Ratu Syahrazad dari Wangsa Sasan dan Raja Syahriar yang kejam dari Kisah 1001 Malam.
Membaca judul buku ini membuat teringat lagu berjudul Caravan dari Richard Page.
Hasil berselancar di dunia maya, saya menemukan tentang Karavanserai atau Karavansari, yaitu penginapan di tepi jalur perdagangan tempat para musafir (biasanya kafilah dagang) dapat beristirahat dan memulihkan tenaga dari perjalanan panjang yang telah mereka tempuh.
Di sana juga disediakan makanan dan minuman untuk pengunjung beserta hewan-hewan mereka. Tentunya juga tersedia tempat untuk mencuci dan ritual penyucian seperti wudhu. Beberapa juga menyediakan pemandian dan terdapat toko yang menyediakan barang dari kafilah dagang yang datang.
Seperti buku Rio yang terakhir saya baca, untuk urusan ilustrasi yang ada dalam buku ini, sangat layak dapat jempol. Aneka detail membuat ilustrasi semakin menarik. Benar-benar memanjakan mata. Andai dicetak berwarna, tentu lebih indah lagi. Sang ilustrator, ternyata juga ikut meramaikan buku Rio yang lainnya, Ibu Susu.
Di situs Goodreads, tertera versi lain dari buku ini. Menarik!
"Kita terjebak dalam masalah ini karena melihat kesempatan ini untuk mengejar mimpi, mimpi yang tak sanggup kita bayar. Kita tak seharusnya belajar di sekolah hukum dan sekarang tenggelam. Kita tidak cocok bagi karier yang menggiurkan itu. Ini dampak propaganda pemasaran dan janji pekerjaan. Pekerjaan bagus dengan gaji besar. Tapi kenyataannya, pekerjaan itu tidak ada. "
- The Rooster Bar, hal 43-
Setiap orang (setidaknya yang saya kenal) selalu berangan-angan memiliki kehidupan yang lebih baik dibandingkan dengan apa yang mereka rasakan ketika remaja. Jika dulu hanya tinggal di rumah dengan 2 kamar tidur, harapan mereka setidaknya memiliki rumah dengan 2 kamar tidur yang ukurannya lebih besar. Syukur jika bisa mendapatkan rumah dengan kamar sebanyak dua, tiga, bahkan lebih.
Demikian juga dengan Mark, Todd, Gordy dan Zola. Mereka tercatat sebagai mahasiswa hukum di Foggy Bottom Law School (FBLS) demi mencapai impian menjadi pengacara sukses dengan bayaran yang fantastis, sehingga kehidupan mereka lebih baik dari dulu. Agar dapat membiayai kuliah, mereka mengajukan pinjaman mahasiswa yang harus segera dibayarkan begitu mereka lulus.
Persahabatan keempat mahasiswa tersebut bisa dikatakan cukup unik. Todd bekerja sebagai bartender, Mark bisa dikatakan sahabat baiknya, demikian juga dengan Gordy. Sementara Zola, adalah seorang gadis yang menjadi kekasih Gordy, padahal Gordy sudah memiliki tunangan dan sedang mempersiapkan pesta pernikahan. Cinta memang misteri terbesar sepanjang masa.
Entah setan apa yang mendorong Gordy bertingkah aneh. Ia seakan terobsesi melakukan penyelidikan terkait pemilik sekolah mereka yang ternyata adalah pengelola hedge fund-konsep pengumpulan dana yang dilakukan oleh manajer investasi,dan juga memiliki bank dengan spesialisasi pinjaman untuk mahasiswa. Gordy ingin membuktikan mereka sengaja dijebloskan untuk meminjam uang.
Ia mengabaikan sahabat, kekasih, juga tunangannya yang sibuk mengurus pernikahan. Tekanan pernikahan juga kewajiban harus mengembalikan pinjaman mahasiswa bisa disebut sebagai pemicu polah anehnya. Plus ternyata ia penderita bipolar dan berhenti minum obat, hal yang tak diketahui para sahabatnya.
Mark dan Todd berusaha membantu Gordy untuk kembali "ke rel", demikian juga dengan Zola. Usaha mereka seakan sia-sia. Gordy melakukan tindakan nekat. Membuat Mark dan Todd merasa tak berguna dan bersalah menjadi sahabat. Ditambah dengan tuduhan keluarga Gordy bahwa mereka ikut bertanggung jawab dengan apa yang menimpa Gordy. Sementara Zola, selalu menganggap drinya sangat berperan dalam kenekatan yang dilakukan Gordy.
Efek kepergian Gordy ternyata berdampak besar bagi Mark dan Todd. Keduanya memutuskan untuk berpetualang, melupakan kesedihan dan keresahan ditagih pinjaman mahasiswa yang akan segera jatuh tempo, kekurangan uang, serta kelelahan mencari lowongan pekerjaan di biro hukum.
Mark dan Todd melakukan beberapa hal nekat yang cenderung melawan hukum, demi uang yang selama ini tak pernah mereka miliki. Semula hanya Mark dan Todd yang membangun biro hukum abal-abal di atas The Rooster Bar, tempat Todd bekerja sebagai bartender.
Seiring waktu, mereka mengajak Zola, ketiganya seakan sudah menjadi satu paket. Zola yang sedang kebingungan karena keluarganya mengalami ancaman deportasi akhirnya bersedia bergabung.
Sepak terbang Mark dan Todd yang melakukan kegiatan ilegal menjadi bagian yang menarik dan menegangkan. Bagaimana mereka berburu dan berebut klien, hingga nyaris tertangkap, menjadi bagian yang lacak dibaca. Detil dan rumit.
Puncak kenekatan mereka adalah balas dendam pada pihak yang dianggap menjerat mereka untuk mendapatkan pinjaman guna membiayai kuliah di kampus yang ternyata mutunya sangat jelek. Tak heran jika para lulusannya jarang ada yang lolos ujian profesi pengacara. Sehingga sulit bagi mereka untuk mendapatkan pekerjaan bagus.
"Tak ada jalan keluar. Kita sudah dibohongi, disesatkan, ditipu, dan dijebak ke tempat yang sangat buruk ini. Tak ada jalan keluar," ujar Gordy. Berbekal dengan hasil penyelidikan yang dilakukan Gordy, mereka melakukan hal yang tak pernah dipikirkan oleh peminjam dana mahasiswa lainnya.
Keberadaan mereka diburu banyak pihak. Hidup selalu dalam kondisi siaga sekaligus was-was. Selain berpacu dengan pihak yang terkait dengan pengelola hedge fund, duet eh trio mantan mahasiswa hukum ini juga harus juga main kucing-kucingan dengan FBI, sungguh sangat seru!
Aku menyesali hari ketika aku mendatangi sekolah hukum. Aku menyesal meminjam semua uang itu. Aku menyesali apa yang terjadi pada Gordy.... (Mark, hal 384)
Membaca buku ini, membuat saya teringat beberapa karya penulis yang lain. Bagian yang mengisahkan bagaimana Zola mencari klien di rumah sakit, lumayan mirip dengan penggalan The Rainmaker (Sang Pembawa Mukjizat). Sementara perihal pinjaman mahasiswa banyak dikisahkan dalam berbagai buku. Misalnya dalam buku The Firm. Mitch yang baru menerima tawaran biro hukum di Memphis mendapat kejutan pelunasan semua pinjaman mahasiswanya.
https://www.goodreads.com/ book/show/42965376
Tak melulu soal Mark dan Todd, kehidupan Zola juga menjadi bagian menarik dari buku ini. Bagaimana ia harus berkompromi dengan dirinya setelah peristiwa yang menimpa Gordy, khawatir nasib keluarganya yang dianggap imigran gelap hingga harus dideportasi ke Senegal, dan tentunya tagihan pinjaman mahasiswanya.
Penulis mampu memancing emosi pembaca melalui keresahan yang dialami oleh Mark, Todd, serta Gordy. Tapi kejadian yang dialami oleh Zola, paling menyentuh. Mengharukan melihat sebuah keluarga berjuang demi kehidupan lebih baik. Kesal dan marah melihat bagaimana mereka diperlakukan di Senegal, negara yang dikenal dengan korupsinya (menurut buku ini).
Jadi kepikiran, andai ada pinjaman untuk kuliah di tanah air seperti yang sering dsebutkan dalam karya penulis, bakalan banyak pemuda yang memiliki potensi namun terkendala dana bisa tertolong. Tentunya pinjaman murni bukan ala kisah ini.
Semula sempat bingung, kenapa judul kisah ini The Rooster Bar? Rooster jika diterjemahkan adalah ayam jantan. Apa hubungannya dengan para tokoh seperti yang disebutkan pada blurd? Jika menilik kover, hanya bisa ditarik kesimpulan ketiga tokoh suka berkumpul di sana.
Ternyata ketiga tokoh utama dalam kisah ini begitu mencintai bar tempat awal persahabatan mereka, hingga membangun biro hukum abal-abal di atas bar tersebut. Sampai kapan jua, nama itu selalu menjadi pengikat mereka. Terbukti pada akhir kisah ^_^.
https://www.goodreads.com/ book/show/42481948
Sebelum lanjut, izinkan saya memberikan jempol pada tukang desain dan ilustrasi sampul, Martin Dima. Karyanya membuat kisah versi Indonesia ini menjadi unik diantara edisi lainnya. Mengusung unsur penting dalam kisah-The Rooster Bar dengan apik.
Para mahasiswa hukum, serta pratisi perlu membaca buku ini. Selain sebagai hiburan, tentunya menambah wawasan bahwa kegiatan ilegal sekalipun bisa terjadi di pengadilan dengan cara-cara yang tak terbayangkan.
Semula saya ragu membeli buku ini. Maklum belakangan karya penulis satu ini membuat saya (agak) kecewa. Keseruan belakangan makin berkurang. Memang masih ada adu kecerdikan yang tak kalah menarik, tapi bagian yang memicu adrenalin bisa membuat kisah makin menarik.
Untuk kisah kali ini, lumayan menarik dibanding buku yang saya baca sebelumnya. Mungkin karena banyak menyentuh unsur manusiawi dalam kisah. Bisa jadi karena buku ke-25 ini terinspirasi setelah membaca artikel berjudul The Law-School Scam yang muncul di majalah The Atlantic pada tahun 2014.
Tak menyesal menjadikan buku ini sebagai wishlist untuk acara Secret Santa yang digagas teman-teman BBI JoGloseMar lalu. Padahal buku ini dipilih karena bingung, buku apa yang menarik he he he.
Sebagai penutup tahun 2022, saya memutuskan untuk membaca buku yang dibeli saat ke BBW beberapa waktu lalu. Kenapa buku ini? Rasanya layak menutup tahun dengan sesuatu yang membuat diri merasa bahagia, dan buku adalah sumber kebahagian saya. Tentunya disamping dana untuk membeli buku he he he.
Bisa dikatakan buku ini semacam kumpulan daftar 10 buku berdasarkan kriteria tertentu. Sepertinya tidak ada ketentuan tertentu untuk menyusun daftar tersebut, subyektif penulis. Jadi, bisa saja setelah membaca buku ini, saya membuat Top 10 versi saya ^_^.
Secara garis besar, buku ini dibagi menjadi 6 bagian besar ditambah dengan introduction serta acknowledgements/ Bagian-bagian tersebut adalah Compeling Charakter; Imagine That; Out of This World; Relativity; World of Books; serta Page Turners. Dimana tiap bagi terbagi menjadi beberapa sub bagian lagi yang sangat menarik.
Misalnya pada Compelling Character, terdapat Top 10 Harry Potter Creatures. Mulai dari Neraly-Headless Nick (house ghost), Nagini (snake), Griphook (goblin), Professor Firenze (centaur), Kreacher (house elf), Peeves (poltergeist), Dobby (house elf), Crookshanks (kneazie-cat hybrid), Hedwing (snowy owl), dan nomor 1 adalah Fawkes (phonix).
Ada juga Top 10 Tolkien Characters di halaman 44. Dari Beren (Hero & Adventuner), Boromir (Steward of Gondor), Gollum (Ring Holder), Melkor/Morgoth (Dark Lord), Legolas (Elf of Gondolin), Samwise Gamgee (Hobbit of The Shire), Aragon II (Chieftain of The Dunedain), Sauron (Lord of The Ring), Bilbo Baggins ( Hobbit At Large), dan paling atas ditempati oleh Gandalf (Wizard).
Senang juga melihat ada Little women masuk dalam Top 10 Victorian Favorites di bagian Imagine That. Little Women berada diurutan kelima, diatasnya ada The Adventures of Huckleberry Fin (Mark Twain), Kidnapped (Robert Louis Stevenson), The Tale of Peter Rabit (Beatrix Potter), Black Beauty (Anna Sewell), dan The Adventures of Sherlock Holmes (Arthur Conan Doyle) sebagai si nomor 1.
Di bagian ini ada juga Top Ten Fantasy Favourites dengan urutan pertama adalah The Hobbit (JRR Tolkien), Roald Dahl Books, Serial Winners, Good Laughs, serta lainnya. Dan ada Top 10 Children's Books yang bisa diisi sendiri oleh para pembaca. Top 10 seperti ini juga terdapat pada bagian yang lain
Pada bagian Out of This World, saya menemukan Alice's Adventures in Wonderland diurutan ketiga dalam Top 10 Fantasy Worlds. Di atasnya ada A Game of Throne, dan The Lord of The Rings. Sementara The Time Machine dari h.G Wells menempati urutan pertama Top 10 Time Travellers.
Untuk Top 10 Horror Shows terdapat Draculla dari Bram Stoker diurutan atas. Sementara Frankenstein (Mary Shelley) yang juga merupakan kisah klasik seperti Dracula, menduduki urutan pertama Top 10 Mighty Monsters. Sementara di Top 10 Vampire Tales, Twilight Series (Stephanie Meyer) berada diperingkat kedua, diatas Interview With Vampire (Anne Rice) yang berada diurutan keenam.
Bagian keempat dari buku ini-Relativity juga tak kalah seru. Ada The Hunchback of Notre Dame (Vicktor Hugo) diurutan pertama. Karya Harper Lee, To Kill A Mackingbird juga berada dirutan pertama dalam Top 10 Happy Ending. Beberapa buku klasik menempati berbagai urutan Top 10 dalam buku ini.
Disamping urutan Top 10, pembaca juga akan diberikan informasi singkat mengenai buku-buku yang berada dalam daftar tersebut. Tidak terlalu panjang memang, namun cukup untuk menjadi gambaran tentang apa isi buku itu dan kenapa layak berada dalam Top 10.
Buku ini perlu dibaca oleh para penulis sebagai inspirasi untuk membuat sebuah novel. Jika ingin menulis novel horor maka sebaiknya membaca buku yang ada dalam daftar Top 10 kisah horor, sebagai contoh. Bagi pustakawan dan pengelola TBM, sebagai referensi jika ingin membeli atau membaca buku.
Sedangkan bagi penggila buku, menjadi tambahan informasi menarik terkait buku. Namun perlu diingat, Top 10 tersebut tidaklah harus diikuti dan disetujui secara mutlak. Setiap individu tentunya memiliki kriteria masing-masing.
Bagi saya, buku ini selain menjadi referensi buku mana yang perlu saya baca dan rekomendasikan ke perpustakaan kantor, juga menjadi catatan betapa masih banyak buku bagus yang belum pernah saya baca, bahkan malah ada yang belum pernah saya dengar jika mengacu pada Top 10 dari buku ini.
Lumayan juga jumlah buku klasik yang masuk dalam Top 10, demikian juga para penulis "senior". Karya-karya tersebut telah melampaui batas waktu. Pembaca baru akan selalu bermunculan disetiap saat.
Korporasi Hayati percaya bahwa ilmu pengetahuan dan peradaban tak bisa lepas dari kemanusiaan, dengan demikian Korporasi Hayati bergerak beriringan dengan kemanusiaan, dan sebisa mungkin karya-karya yang kami hasilkan adalah karya-karya yang bisa menjunjung nilai kemanusiaan
- Rekayasa Buah, hal 76-
Penah membaca cerita atau menonton kisah Tintin dan Jeruk Biru (dalam bahasa Prancis judulnya adalah Tintin et les Oranges Bleues)? Dikisahkan Profesor Cuthbert Calculus (atau dikenal juga sebagai Profesor Lionel Lakmus) menerima sebuah paket berisi sebuah jeruk berwarna biru dari Profesor Antenor Zalamea. Ia menemukan jeruk yang dapat ditanam pada tanah jenis apapun bahkan di gurun pasir.
Diharapkan jeruk tersebut dapat membantu mengatasi kelaparan di dunia. Sayangnya penelitian tersebut belum sempurna, karena jeruk yang dihasilkan rasanya pahit dan asin. Tentunya penjahat yang berusaha mendapatkan penemuan itu tidak mengetahuinya. Untung ada Tintin dan Kapten Haddock yang membereskan segala kekacauan.
Serupa namun tak sama dengan kisah Tintin dan Jeruk Biru, tersebutlah Korporasi Hayati yang menaungi para insinyur untuk membuat aneka rekayasa buah sehingga memberikan berbagai manfaat yang tak pernah terbayangkan. Korporasi Hayati juga sebagai benang merah dari seluruh kisah dalam buku ini.
Terdapat 10 kisah dalam buku ini. Mulai dari Selit-Belit Buah Prombon, Beri-beri Berlipat Ganda, Misteri Visiceri, Pesta Buah-buahan, Farmapomokologi, hingga Salam Hangat dari Korporasi Hayati. Kisah yang ada bisa dibaca secara acak karena berdiri sendiri. Semuanya berkisah tentang buah. Tokohnya berbeda-beda di setiap cerita dan tak berhubungan satu sama lain tapi semuanya seperti yang disebutkan sebelumnya, berkaitan dengan satu hal, Korporasi Hayati
Kisah Buah untuk Diktator Terakhir di Muka Bumi, seakan menjadi sindiran bagi penguasa kejam yang keinginannya harus selalu terpenuhi. Tugas insinyur Korporasi Hayati kali ini adalah menciptakan buah spesial untuk diberikan pada calon istri ke-150 sang penguasa sebagai pelengkap pinangan, sesuai dengan adat setempat.
Ternyata "calon istri" sang penguasa tak hanya sampai pada angka 150! Pusing kepala para insinyur karena angka terus bertambah. Masalah besar justru muncul ketika sang diktaktor ditemukan tewas. Dugaan awal ia dibunuh. Korporasi Hayati dituduh ikut berperan!.
Sebuah kisah yang membuat buah tak sekedar sebagai makanan pencuci mulut semata. Namun naik level melibatkan intrik politik, perebutan kekuasaan, mata-mata, percintaan, dan masih banyak hal lain. Bahkan dunia bersatu untuk menghadapi buah yang ternyata memakan korban lebih dari 6.000 jiwa, dimana 25% membutuhkan perawatan intensif dan meninggal.
Ada juga kisah tentang dua orang insinyur yang berlomba menarik hati seorang wanita. Keduanya saling beradu membuat rekayasa buah yang paling unik, disertai kisah yang menjadi alasan kenapa buah itu bisa muncul. Sayangnya, kedua ternyata hanya dijadikan alat permainan mata-mata perusahaan lain. Urusan buah sudah sampai pada tahap "dewa" dalam buku ini.
Sebenarnya tak hanya seputar buah, ternyata hal memberi nama pada buah yang dihasilkan dari rekayasa juga membutuhkan seni tersendiri. Beberapa nama memberi kesan unik. Meski demikian, para insinyur juga harus mempertimbangkan keamanan dan keselamatan lidah saat memberikan nama, sehingga lidah tidak tergigit akibat nama yang rumit diucapkan.
Dalam kisah Perihal Penamaan Buah-buahan, disebutkan ada dua orang insinyur yang memiliki trik dan taktik untuk memberikan nama buah hasil rekayasa mereka. Ada insinyur Poli Patho dan Insinyur Seires Stiles. Bayangkan jika keduanya bekeja sama, nama buah makin menjadi susah disebutkan dengan penamaan yang mereka gunakan berdasarkan metode yang rumit. Kerja sama keduanya bisa dianggap gagal total. Salah satunya, malah berujung menerbit puisi buah, bukan lagi mencari nama unik bagi buah karyanya.
Selain dimanjakan dengan aneka macam buah-buahan dengan segudang manfaat, pembaca juga menikmati aneka ilustrasi menarik karya Martin Demonchaux, seorang arsitek rekan Rio. Ilustrai yang dibuat dengan versi berwarna, makin terlihat mewah.
Sejak mengikuti bincang buku ini yang diadakan oleh teman-teman di Solo secara daring, saya sudah tertarik untuk membacanya. Apalagi setelah tahu buku ini masuk ke 10 besar Kusala Sastra Khatulistiwa (KSK) 2021. Hanya keterbatasan waktu yang membuat buku ini duduk manis sekian lama di rak buku ^_^.
Untuk bisa menikmati kisah-kisah dalam buku ini, diharapkan pembaca membuka pikiran seluas mungkin, karena beberapa buah hasil rekayasa sungguh diluar nalar. Tapi bukannya tidak mungkin pada masa mendatang akan ada buah-buahan seperti itu.
Misalnya, ada buah yang sekaligus bermanfaat untuk membersihkan dan memutihkan gigi. Membuat anak kecil untuk rajin menggosok gigi, merupakan tugas yang lumayan berat, demikian juga dengan membuat anak menyukai memakan buah.
Dengan buah yang digambarkan memiliki bentuk dan rasa lezat ini, dua hal bisa dikerjakan secara bersamaan bukan? Membuat anak mau makan buah, serta mendapatkan manfaat untuk gigi secara langsung. Hem... kalau ada zaman sekarang, saya juga tergoda mencicipinya.
Rio Johan adalah sastrawan kelahiran Baturaja, Sumatera Selatan pada 1990 ini terpilih sebagai salah satu Tokoh Sastra Pilihan Tempo pada 2014 untuk kumpulan cerita pendek Aksara Amananunna. Novelnya, Ibu Susu, meraih Kusala Sastra 2018 untuk kategori karya pertama dan kedua. Dia juga diundang sebagai pembicara tamu pada Ubud Reader’s & Writer’s festival pada 2015.
Semua sudah digariskan takdir. Senang dan bahagia tidak bisa dihindari atau hampiri. Semua ada waktu yang tepat. Tidak terlalu cepat dan tidak pernah terlambat.
-Kereta Semar Lembu, halaman 138-
Meski sudah berulang kali mendengar, bahkan mengucapkan saran agar jangan menilai sesuai hanya dari "sampulnya", tetaplah membeli buku ini karena sampul. Pertama karena covernya berwarna biru cerah, tahu dong betapa lemahnya saya terhadap warna biru. Kemudian stempel Pemenang Sayembara Novel DKJ 2021, makin membuat hati tergerak untuk membeli.
Membaca buku ini tidak membutuhkan banyak waktu, walau dibaca putus-sambung disela-sela tugas kantor. Ketika menyelesaikan halaman terakhir, saya sangat sepakat dengan para juri bahwa ini adalah buku yang sangat layak meraih juara pertama. Sejauh ini, buku ini adalah fiksi sejarah terbaik yang pernah saya baca.
Kisah dalam buku ini dimulai dengan sosok Lembu yang sedang menikmati "tidur" di bawah rel kereta. Sang kekasih, Kunti berusaha membangunkan dan mengingatkan bahwa upacara perpisahannya akan diadakan malam nanti.
Mereka yang meninggal namun tidak dikuburkan dengan baik jenazahnya, dalam buku ini digambarkan akan bergentanyangan hingga ada yang menemukan dan menguburkan dengan layak.
Temukan tubuhku! Beri nama pada nisanku
Lembu memiliki sepasang paku di kedua dahinya, ulah salah satu pengeroyoknya. Selama 50 tahun menjadi arwah, berulang kali Lembu berusaha melepas paku itu, selalu gagal. Hingga suatu hari mendadak kedua paku itu lenyap begitu saja dari dahinya.
Terkejut dan senang menjadi satu. Copotnya paku pertanda tubuhnya telah ditemukan dan dikuburkan dengan layak. Maka, tak lama lagi ia akan dijemput kereta kencana menuju alam lain yang tak seorang jua tahu.
Tapi Lembu juga merasa sedih, karena harus berpisah dengan Kunti serta arwah-arwah lain yang selama ini menemaninya. Sesuai tradisi, Lembu akan mengadakan perpisahan, dimana ia akan mengisahkan tentang perjalanan hidupnya, sejak lahir hingga ia menjadi arwah gentayangan.
Buku ini, bercerita seputar sejarah kehidupan Lembu selaku tokoh utama selama 100 tahun, dari lahir hingga ia meninggal. Serta 50 tahun kehidupannya di dunia arwah. Jika dicermati, sebenarnya pembaca bukan menikmati kisah perjalanan hidup Lembu, namun membaca kisah fiksi sejarah, dimana Lembu menjadi bagian, ralat tokoh utama dari kisah itu.
Aneka peristiwa sejarah dikisahkan penulis terjadi dalam kehidupan Lembu. Mulai dari pembuatan rel kereta api pertama, kedatangan Jepang, tumbuhnya pergerakan perjuangan kemerdekaan, hingga masa awal republik berdiri.
Tak hanya seputar sejarah, namun ditambah dengan bumbu-bumbu budaya Jawa yang dikembangkan sesuai dengan imajinasi penulis. Suatu hal yang membuat saya sebagai pembaca yang memilik darah Jawa menjadi merasa ada kedekatan emosi dengan Lembu. Dan tentunya sedikit politik sebagai bumbu cerita.
Dari seluruh kisah, saya paling menikmati ketika ada adengan para punakawan muncul. Kemampuan Lembu melihat Mbah Semar, membuat ia dipanggil Semar Lembu. Kemunculan para punakawan seakan menjadi tanda babak baru dalam kisah ini. Dari suatu keseruan menuju keseruan yang lain.
Bagian awal yang mengisahkan 50 tahun kehidupan Lembu sebagai arwah menjadi pembuka kisah yang menarik. Pembaca diajak mengenal dunia lain, dunia dimana orang meninggal berada. Tidak ada kesan menyeramkan yang disajikan, namun keunikan. Contohnya arwah perempuan dan laki-laki yang menjad pasangan di alam sana, sesungguhnya adalah sepasang musuh di dunia fana.
Beberapa hal yang sempat mengusik penasaran saya, menguap begitu saja begitu selesai membaca buku. Sebagai pembaca, saya seakan menerima begitu saja apa yang dituliskan oleh pengarang. Padahal saya penasaran bagaimana bisa Lembu memegang kerincingan kecil dari perak ketika lahir. Bagaimana kerincingan itu bisa berada di tangan seorang bayi yang baru lahir?
Lalu, seberapa jauh kaki jarak yang bisa dilalui Lembu dengan rel kereta? Apakah 100 meter, 300 meter, atau berapa? Disebutkankan Lembu memiliki banyak anak yang tersebar, apakah anak-anak Lembu memiliki firasat saling mengenali? Mungkin seperti Mbok Min yang memiliki firasat jika seorang anak Lembu lahir.
Meski tak terhubung langsung dengan kisah, hal ini perlu disebut guna menghindari terjadi pernikahan antar saudara, juga menambah keunikan Lembu. Seperti yang sudah disebutkan, muncul perasaan, beberapa hal dalam kisah ini memang sebaiknya diterima begitu saja.
Membuat komentar buku ini tak semudah menikmati bukunya. Pertama, dari sudut pandang saya sebagai pembaca, semuanya sudah memuaskan. Alur kisah, cara bercerita, aneka"bumbu" bahkan urusan mistik yang diusung semuanya pas.
Kedua, mencoba mengangkat satu bagian, misalnya tentang perkenalan dengan Kusno, seorang pemuda yang selalu berbicara tentang kemerdekaan dengan semangat (pembaca pasti tahu siapa sosok yang dimaksud), mustahil rasanya tanpa menyinggung bagian lain. Hal ini bisa menimbulkan spoiler, suatu hal yang tak akan menyenangkan bagi calon pembaca buku ini.
Seperti yang sudah disebutkan oleh Dewan juri sayembara yang diwakilkan oleh Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie di sebuah laman, novel ini memiliki gagasan unik yang berhasil dikembangkan menjadi cerita yang padu. Ceritanya dinilai menarik karena menghimpun berbagai kejadian dari alam gaib dan nyata, mitos dan sejarah, hal rasional dan irasional, latar waktu yang berbeda-beda, serta tokoh yang beragam.
Selanjutnya disebutkan juga bahwa novel ini menunjukkan paradoks, ambivalensi, dan kontradiksi yang ada dalam dunia penghayatan masyarakat Indonesia. Maka dengan segala keunikan tersebut, novel ini berhasil mengungguli 324 naskah novel lainnya.
Bagi para penikmat kisah sejarah, sangat direkomendasikan untuk membaca dan memiliki buku ini. Demikian juga dengan para mahasiswa Program Studi Sejarah dan Sastra Jawa, buku ini bisa menjadi buku pengayaan.
Dari menikmati fisik sejarah, siapa tahu pembaca akan mulai tertarik menikmati genre sejarah.