Senin, 25 Juni 2018

2018#13: Srimulat, Akan Selalu Dikenang

Judul asli: Srimulatism, Selamatkan Indonesia dengan Tawa
Penulis: Thrio Haryanto
Penyunting: Dyota Lakhsmi, Novikasari Eka S
Ilustrasi:Pinot dan Hari prast
ISBN: 9786023854011
Halaman: 188
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 49.000
Rating:3/5

Untung ada saya!

Kalimat tersebut cukup akrab dengan kita. Bahkan mereka yang sering disebut dengan kidz zaman now juga sering mengucapkan kalimat tersebut dengan gaya kekinian, "Untung ada gue!" Mungkin hanya sedikit yang ingat asal muasal kalimat legendaris tersebut. Kalimat yang berasal dari dialog salah seorang anggota Srimulat, Gepeng. Kalau saya tidak salah ingat, itu juga judul film Gapeng bersama Jujuk. Jika tertarik mendengarkan versi siaran radio ada  di sini.

Buku tipis tapi kaya nostalgia ini berisikan mengenai perjalanan Srimulat. Dari Srimulat sebagai nama  sosok seorang seniwati yang terkenal, hingga menjadi nama sebuah grup. Pembaca akan menemukan banyak hal yang mampu membuka ingatan pada masa kejayaan group ini. Plus terdapat beberapa lawakan dan naskah (entah sebaiknya disebut apa-tapi saya anggap saja naskah) yang pernah dipentaskan.
Sri Mulat dan Teguh

Raden Ayu Sri Mulat sejak kecil sudah menyukai aneka kesenian. Ia bahkan piawai menari dan nyinden. Bersama suaminya, Teguh Slamet Rahardjo, pada tahun 1951 mereka mendirikan kelompok kesenian keliling dengan nama Gema Malam Srimulat. 

Meski bisa dikatakan sudah meraih kesuksesan, Teguh selalu  berusha melalukan inovasi agar bisa menampilkan sesuatu yang membuat penonton ingin selalu kembali melihat pertunjukan  mereka. Maka tak heran jika sosoknya juga kerap terlihat duduk di bangku penonton untuk mendapatkan bahan evaluasi.  Perlahan, Teguh mulai melirik unsur komedi dengan pertimbangan setiap orang pelepas ketegangan, dan cara yang paling mudah adalah dengan tertawa. 

Perenungannya cukup mendalam, seperti yang tertera di halaman 101.  "Pertanyaannya adalah: apa yang membuat sesuatu itu lucu?  Mengapa orang terdorong untuk tertawa ketika mengalami-melihat, mendengar, merasakan sesuatu?" Aneka observasi dilakulan Teguh terhadap aneka.hiburan yang mengusung tema humor.Dari dagelan Mataram, Ludruk, punakawan dalam wayang, hingga menonton film Charlie Chaplin. 

Setiap pemain Srimulat harus memiliki ciri khusus untuk mendukung pementasan. Ciri tersebut bisa berupa gerakan tubuh atau kalimat lucu. Kalimat, "Hil yang Mustahal!"  sering diucapkan oleh Asmuni ketika berada di atas panggung Srimulat. Entah kenapa, jika yang mengucapkan pemain lain sepertinya kurang greget, tapi begitu Asmuni menucapkan kalimat tersebut langsung penonton tertawa. Seakan kalimat tersebut hanya cocok diucapkan oleh Asmuni. Padahal bukan Asmuni yang menciptakan kalimat tersebut. Kalimat tersebut bisa dikatakan sebagai ciri khas seorang Asmuni. 

Salah satu produsen obat tradisional sampai menjadikan Basuki dan kalimat Wes-ewes-ewes sebagai bagian dari promosi mereka. Kalimat Basuki yang terkenal tersebut diubah menjadi Wes-ewes-ewes  babalas angine. Kalimat langsung membuat pendengarnya teringat jamu tradisional yang dibuat ala moderen dengan manfaat untuk mengusir masuk angin.
 Ciri khas tersebut ternyata juga bisa menyebabkan bencana bagi sosok Tessy alias Kabul. Ketika televisi mengeluarkan kebijakan untuk melarang penampilan laki-laki dengan gaya kewanitaan, maka bisa dikatakan karier Kabul sebagai Tessy tamat sudah. Kejayaannya sebagai jago pengocok perut langsung pudar. Hingga sempat membuat sebuah kasus yang cukup ramai dibicarakan masyarakat. 

Saya ingat betul, setelah nyaris setengah pementasan berjalan, primadona Srimulat yaitu Jjujuk akan muncul dengan dandanan khasnya. Sanggul lebar dengan sasak tinggi, menggunakan kain dan kebaya yang bisa dikategorikan super singset. Kesan yang saya peroleh saat itu, betapa sulitnya ia.bernapas dan berjalan. Tapi itulah ciri khas Jujuk, tampil dengan bling-bling. Sering waktu, saya jadi paham jika Jujuk muncul maka sebentar lagi pertunjukan akan selesai. 

Perpaduan antara pertunjukan musik dan lawak, serta bumbu  keunikaan dari tiap anggotanya kemudian menjadi ciri khas bagi  kelompok ini. Penulis menyebutnya sebagai Srimulatism.  Ciri yang susah untuk ditiru. Meski beberapa pelawan mencoba meniru tetap saja efek yang disampaikan akan berbeda dengan yang dihasilkan oleh anggota Srimulat. 

Belakangan, kelompok ini berubah menjadi pertunjukan Aneka Ria Srimulat. Bisa dikatakan Ciri khas Aneka Ria Srimulat adalah adanya  pemain yang berperan  sebagai  pembantu rumah tangga dengan lap disampirkan pada bahu sebagai pembuka. Pemain tersebut akan memberikan semacam pengenalan mengenai siapa dirinya, dan kepada siapa ia bekerja. Kadang ada dua sosok yang menjadi pembuka. 

Lalu ciri lain adanya dua pintu di panggung. Satu untuk keluar-masuk mereka yang dianggap tinggal di sana,  misalnya tuan rumah, nyonya rumah dan lainnya. Sedangkan pintu satu lagi untuk keluar-masuk pemain yang bukan tinggal di sana. Jadi panggung diumpamakan sebuah ruang dalam rumah.

Satu hal yang bisa dianggap istimewa adalah para anggota Srimulat selalu bermain dengan improvisasi. Teguh selaku sutradara hanya memberikan pakem cerita. Butuh kreativitas tingkat tinggi untuk dapat  menciptakan kelucuan yang aneh dan keanehan yang lucu, yang mengalir secara spontan tentunya. 

Dan pastinya jiwa besar untuk berbagi panggung. Tak ada pemaian yang mendominasi panggung. Mereka sangat kompak. Jika ada yang sedang beradu lelucon, maka yang lain harus sabar menunggu waktu yang tepat untuk ikutan mengeluaran banyolan. Memotong lemparan humor yang sedang dilakukan oleh pemain lain pantang hukumnya. 

Oh ya, walau diberikan kebebasan tapi para pemain memiliki aturan  yang tetap harus dituruti. Mereka harus memegang prinsip Mikul Dhuwur, Mendhem Jero. Lalu harus menghormati dan memelihara akar, sadar diri, dan menghormati pemain wanita dengan tidak melakukan tindakan yang tak terpuji. Terpenting, mereka harus ingat bahwa puncak humor adalah menertawakan diri sendiri. 

Saya lupa sekitar tahun berapa, saat itu Srimulat muncul seminggu sekali di latar kaca. Guna mendongkrak rating, mereka menampilkan bintang tamu dari kalangan selebriti. Biasanya nama tokoh juga sama dengan nama asli bintang tamu. Dan sepertinya para selebriti tersebut menikmati peran yang mereka mainkan. Menjadi bintang tamu di panggung Srimulat seakan menaikkan "kelas keahlian" mereka. 

Ternyata belum lama ini salah satu televisi swasta mengangkat tema Srimulat dalam acara Q & A - Srimulat, Riwayatmu Kini? Jika tertarik, siaran yang dipecah menjadi 6 bagian  tersebut bisa diintip melalui tautan bagian 1bagian 2bagian 3bagian 4, bagian 5bagian 6.
Hampir semua pencinta Srimulat sangat hafal lagu pembuka. Biasanya lagu diputar bersama dengan nama pemain. Pastinya selain saya, banyak yang mengira bahwa lagu itu khusus diciptakan untuk kelompok Srimulat.


Kelak saya tahu bahwa  lagu tersebut sebenarnya berjudul  "Whiskey And Soda" dibawakan oleh Roberto Delgado and His Orchestra yang sangat kental dengan irama Musik Rasta.

Walau  bisa dikatakan sebagai pelipur lara kenangan masa lalu, namun.banyak juga yang tidak diungkapkan dalam buku ini. Misalnya bagaimana Teguh menentukan siapa menjadi apa dalam tiap pementasan. Pembagian peran diantara mereka seperti apa, bagaimana pemilihan kisah, bahkan kenapa lagu "Whiskey And Soda" yang dipilih.

Pemilihan judul buku ini membuat saya tercenung. Apakah yang menyebabkan sampa penulis mencantumkan kalimat bahwa negara kita perlu diselamatkan? Tapi saya teringat salah satu bagian dari buku ini yang menyatakan bahwa aneh itu lucu, lucu itu aneh. Jadi.... ^_^ begitulah pahami sendiri ya.
 
Tapi lumayanlah untuk hiburan. Sepertinya tak ada kelompok yang mampu menyangi ketenaran Srimulat. Bahkan ketika kelompok tersebut sudah bubar, anggotanya masih bisa dikatakan eksis dalam dunia hiburan.  Sungguh tepat jika mengatakan membicarakan tentang dunia lawak kita maka tak akan lepas dari membicarakan Srimulat.

Sekedar iseng, mari kita renungkan kalimat Teguh Srimulat dalam buku ini. Tepatnya ada di halaman 166, "Segala sesuatu dapat dikomedikan. Masalahnya adalah tega atau tidak, tepat atau tidak."

Sumber gambar:
Buku Srimulatism, Selamatkan Indonesia dengan Tawa




Kamis, 24 Mei 2018

2018#11: Kisah Sang Raja Ketek Dari Kudus


















Penulis: Iksana Banu
Editor: Pax Benedanto
Ide kreatif & ilustrasi isi+ sampul: Handoko Hendroyono
ISBN: 9786024243319
Halaman: 383
Cetakan: Pertama-2017
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Harga: Rp 80.000
Rating: 3.25/5

Aroma tembakau dan kemenyan bisa membuat bulu kuduk berdiri.
~hal 44~

Bicara tentang kretek, tak akan pernah ada habisnya. Selain urusan pro dan kontra mengenai keberadaan pabrik rokok dengan begitu banyak pekerja, serta bahayanya bagi kesehatan, kisah dibalik selinting rokok  kretek selalu menarik untuk diulas. Salah satunya mengenai Sang Raja Kretek dari Kudus Nitisemito.

Dalam buku Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya karangan Rudy Badil, disebutkan bahwa salah satu perusahaan rokok kretek di Kudus yang tangguh dan mampu lolos dari krisis adalah N.V Bal Tiga milik Nitisemito.  Salah satu hal yang membuat Bal Tiga mampu bertahan adalah karena promosi dan jalur distribusi yang luar biasa.

Cara promosinya bisa dibilang paling maju saat itu. Mulai dengan menukarkan sejumlah bungkus rokok dengan aneka hadiah yang menggoda, dari gelas hingga perlengkapan minum teh. Lalu ada juga undian sepeda. Tidak hanya sampai disitu. N.V Bal Tiga sudah merekrut para seniman untuk mempromosikan rokok mereka saat manggung. Seiring berkembangannya usaha, mulai muncul bioskop dan radio dibawah naungan N.V Bal Tiga. Belum lagi armada dagang yang siap dikirim ke berbagai daerah untuk urusan promosi. Maka tak heran jika rokok ini mampu menguasai pasaran saat itu. 

Bagaimana Nitisemito bersama  N.V Bal Tiga berkembang serta bertahan melalui banyak rintangan, merupakan hal yang diuraikan dengan manis dalam kisah ini.  Bahkan saking terkenalnya seorang Nitisemito, Bung Karno pernah menyebutkan namanya dalam pidato Sidang Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) pada 1 Juni 1945. 

Kisah ini dimulai dengan adengan pemakaman Sang Raja Kretek Nitisemito, dimana seorang wartawan terlihat sedang berburu berita. Nalurinya mengarah pada dua orang yang dianggap paling mengetahui sosok Nitisemito. Dengan segala upaya ia berusaha mengorek cerita yang tak banyak diketahui masyarakat umum mengenai sosok Nitisemito.

Diceritakan dari sudut pandang dua orang yang memiliki latar belakang sangat berbeda. Goenawan Wirosoeseno seorang Jawa tulen, anak seorang  Mantri ulu-ulu dan seorang Belanda tulen yang menghabiskan masa kecil di Batavia, Filipus Rechterhand.   Secara bergantian, keduanya mengisahkan awal mula mereka bergabung dalam kerajaan bisnis Nitisemito hingga sang pemilik berpulang.

Karena kondisi keuangan keluarga yang bisa dikatakan morat-marit,  Filipus akhirnya menerima tawaran adik kelas papanya untuk membantu bagian pembukuan pada sebuah perusahaan rokok di kudus.  Semula ia ragu-ragu mengingat latar belakang sang pemilik. Tapi bagaimana lagi, kondisi sudah sangat mendesak. Ia butuh dana.

Beda lagi dengan Wirosoeseno, meski sudah lulus sekolah dagang yang bisa dikatakan lumayan tinggi saat itu, ia tak bekerja pada gupermen-pemerintahan namun ia justru tergoda untuk mengajukan lamaran ke perusahaan rokok di kudus. Awalnya karena ia terpikat pada ajang promosi yang digelar Bal Tiga pada sebuah lapangan. Siapa mengira saat itu ternyata ia sedang memandang masa depannya.

Filipus bergabung pada bagian pembukuan, sementara Wirosoeseno akhirnya menemukan posisi yang tepat bagi dirinya di bagian pemasaran dan promosi. Meski memiliki latar belakang sosial yang sangat berbeda, demikian juga dengan berbedaan alasan bergabung pada perusahaan Bal Tiga, keduanya ternyata  menjadi sahabat karib.

Terbagi dalam  empat bagian besar, Cengkeh dan Tembakau; Saus; papier; serta Api, pmbaca akan diajak mengikuti perkembangan Bal Tiga dari sudut pandang Filipus dan Wirosoeseno. Dengan cara yang unik, keduanya ikut berperan dalam perkembangan usaha kretek Bal Tiga. Aneka pasang surut mereka lalui bersama hingga  kondisi yang membuat perusahaan itu mencapai masa kejayaannya. Sayang, karena beberapa hal perusahaan tersebut tidak bisa mempertahankan masa kejayaannya.


Brangkas milik  Nitisemito
Meski merupakan novel, buku ini banyak memberikan pengetahuan mengenai proses pembuatan rokok. Tak sesederhana seperti yang sering kita lihat pada company profile perusahaan rokok. Ada banyak tahapan yang harus dilalui sebelum akhirnya rokok siap dijual. 

Proses pemilihan bahan dasar berupa tembakau sebagai contoh.   Untuk urusan memetiknya saja tidaklah sesederhana yang dilihat orang. Daun tembakau dipetik dari yang paling bawah lalu naik ke atas. Bagian pucuk adalah yang paling mahal. Oleh kerananya pemetikan tidak bisa dilakukan bersamaan. 

Pembaca juga bisa menemukan berbagai hal terkait kehidupan bermasyarakat saat itu. Cukup unik mengingat umumnya mereka yang merupakan golongan kulit putih alias wong londo adalah atasan alias bos di perkebunan, kantor, toko atau apapun budang usaha yang ada. Dalam kisah ini, justru pemilik dan penguasa perusahaan adalah  seorang bumiputra. Tak hanya mampu memperkerjakan beberapa orang Belanda, keberadaan dan partisipasinya cukup besar dalam perkembangan perekonomian di Kudus.

Meski sudah begitu besar dan berjasa, tetap saja Nitisemito harus duduk di lantai dan memberikan sembah ketika sedang mengurus sesuatu dengan pihak Belanda. Menggelikan bukan! Ketika sang pemilik pabrik harus memberikan hormat dan duduk di lantai, sementara karyawannya yang wong londo malah dipersilahkan duduk di kursi. Ironi sekali. Belakangan dengan usaha yang lumayan alot, ia termasuk dalam jajaran orang yang dianggap layak duduk sejajar dengan wong londo.

Tentang pernikahan antara  Filipus dengan gadis bumiputera bernama Walini  juga sungguh mengharukan. Tak hanya mereka harus mampu bertahan menghadapi tekanan dari kalangan Belanda dan bumiputera, saat Jepang datang  mereka mengalami ujian yang memilukan bagi cinta keduanya. Bahkan hingga meminta korban. 

Cara penulis bercerita membuat saya tak ingin meletakkan buku sebelum selesai. Meski dikisahkan dari sudut pandang dua orang yang berbeda, namun benang merah keduanya tersa sangat kental tanpa ada kesan pengulangan kisah yang bisa membuat jemu pembaca. Kisahnya mengalir santai tapi mampu menghanyutkan emosi pembaca.

Dari buku ini,  sebenarnya pembaca juga diajak memahami cara berdagang. Untuk dikenal memang dibutuhkan suatu promosi dan unik. Bal Tiga  sudah sangat paham dan melakukannya dengan cara yang terbilang unik pada saat itu, seperti menukarkan bungkus rokok dengan berbagai barang promosi hingga menebarkan brosur melalui pesawat udara. Ini persis yang saya tulis di atas.

Saingan memang akan selalu menjadi bayang-bayang, tapi bukan tak mungkin ditaklukan. Meski banyak bermunculan pabrik rokok, toh nyatanya Bal Tiga sempat merajai industri rokok. Namun ternyata, menjaga kelangsungan sebuah usaha lebih sulit lagi. 

Selain urusan distribusi, hal lain yang beberapa kali ditekankan oleh Nitisemito adalah tidak ada kenaikan harga serta penurunan mutu. Biaya promosi dan lainnya boleh terus merangkak naik, tapi mutu dan harga harus tetap sama. Bukan hal yang mudah bagi para pengelola menyiasati pengeluaran agar bisa sebanding dengan harga jual.

Oh ya, ilustrasi dalam buku ini keren-keren.  Sayang jumlahnya tidak banyak serta tidak merata pada tiap bab. Pada bagian yang mengisahkan ketika Jepang menduduki Indonesia terbilang agak banyak dibandingkan bagian yang lain.

Sebuah hadiah ulang tahun yang berkesan.

Sumber Gambar:
Gambar brangkas: Djamburi, Penemu Kretek oleh Edy Supratno.
Gambar logo Bal Tiga: Kretek Jawa, Gaya Hidup Lintas Budaya oleh Rudy Badil
Gambar : Sang Raja