Minggu, 09 Oktober 2016

2016 #111: Para Penghuni Rumah Miss Peregrine

Judul asli: Miss Peregrine's Home For Peculiar Children
Penulis: Ransom Riggs
Alih bahasa: Tanti Lesmana
Desain sampul: Eduard Iwan Mangopang
ISBN: 9786020333885
Halaman: 544
Cetakan: Pertama-2016
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 122.000
Rating:4.25/5


"Tidak ada waktu lagi," bisiknya. Lalu dia mengangkat kepala dari tanah, gemetar mengerahkan tenaga, dan tersenggal ke telingaku, "Temukan burung itu. Di keluk. Di sisi seberang kuburan si lelaki tua. Tiga September 1940." Aku mengangguk, tapi dia menyadari aku tak mengerti. Dengan sisa tenaga terakhir dia menambahkan, "Emerson-suratnya. Beritahu mereka apa yang terjadi, Yakob."

Keluk, kuburan dan surat.

Sejak kecil Jacob senang mendengar kakek
Abraham Portman mendongeng. Terutama mengenai para penghuni sebuah rumah yang berada di pulau yang tak tedapat di peta. Mereka bukan penghuni biasa, mereka adalah anak-anak dengan kondisi tidak biasa, maksudnya teramat sangat tidak biasa. Sang kekek juga memperlihatkan foto anak-anak tersebut. Ada anak yang sedang melayang, membawa batu besar, anak tanpa kepala dan sebagainya.

Banyak yang mengatakan bahwa yang diceritakan kakeknya adalah sekedar dongeng pengantar tidur. Tapi Jacob percaya itu bukan sekedar dongeng. Ketika ia bercerita pada teman-temannya, Jacob malah dianggap berbohong. Ia mulai meragukan kisah itu hingga sebuah peristiwa mengubah hidupnya.

Sang kakek dtemukan meninggal di rumahnya. Beberapa saat sebelumnya, sang kakek masih sempat menghubunginya dan menceritakan tentang aneka monster yang memburunya. Andai ia percaya pada cerita sang kakek mungkin saja kakeknya masih hidup. Jacob merasa menyesal meragukan sang kakek.

Sumber: Goodreads
Tak ada yang percaya bahwa Jacob melihat monster yang membunuh sang kakek. Polisi yang bertugas menerima laporannya menganggap ia sinting. Apalagi ketika ia menggambarkan wujud yang ia lihat berada di dekat lokasi peristiwa.  Kedua orang tuanya mengirim ia ke psikiater. Tidak ada yang percaya pada dirinya, kali ini untuk alasan yang berbeda.

Guna menyingkirkan trauma yang dialami Jacob, serta atas saran psikiater  keluarga, maka ia dengan sang ayah pergi mengunjungi pulau dimana dahulu sang kakek pernah tinggal di sebuah panti asuhan. Jacob mencoba mengetahui banyak hal mengenai sang kekek, sementara bagi ayahnya ini kesempatan untuk membuat buku tentang burung.

Berbekal rasa ingin tahu yang besar, ingatan akan kisah sang kakek, serta warisan buku yang dipersiapkan untuk hadiah ulang tahunnya, Jacob merusaha menemukan rumah yang diceritakan sang kakek di pulau itu. Banyak yang menganggapnya aneh karena mengunjungi rumah tua yang nyaris hancur. Tapi ia tetap berusaha mencari, memuaskan rasa penasarannya.

Ternyata, apa yang dikisahkan sang kakek bukanlah sekedar dongeng. Jacob berhasil bertemu dengan mereka. Ada yang bisa mengeluarkan api dari tangan, anak yang mempunyai mulut di bagian belakang kepala, memiliki kemampuan untuk menumbuhkan tanaman dan masih banyak lagi. Ia mengalami petualangan seru bersama mereka. Juga mengalami cinta seperti sang kakek.

Dikisahkan dari sisi Jacob, buku ini menawarkan banyak petualangan seru. Betapa hidup bisa menjadi indah dalam keterbatasan dn perbedaan. Cerita-cerita Kakek Portman menunjukkan bahwa bukan mustahil menjalani kehidupan yang berbeda dengan yang umum dengan bahagia.

Saya tidak mau bercerita panjang, takut nanti spoiler he he he. Pastinya saya menikmati tiap lembar yang ada. Sempat merasa agak pesimis melihat nama tukang alih bahasa.  Biasanya menikmati hasil karya beberapa sahabat saat membaca buku yang ciamik. Ternyata hasil alih bahasa buku ini sangat nyaman dibaca. Kalimat mengalir lancar dan mudah memahami kisah yang ada. Pilihan kata-katanya juga tepat sasaran.

Pertama melihat harga jual buku ini cukup bisa membuat kedua alis bertemu. Kenapa semahal ini ya, apa istimewanya. Penasaran, saya coba lihat sisi samping, terlihat lumayan banyak halaman yang berbeda. Biasanya ini menunjukan halaman dengan ilustrasi. Mungkinkan mahal karena banyak ilustrasi? Begitu buku saya buka, hilanglah rasa heran akan harga yang lumayan. Setelah membaca sampai habis, semakin terasa harga itu sebanding dengan apa yang kita peroleh.

Selain hiburan, banyak pesan moral yang bisa kita ambil dari kisah ini. Percaya pada orang lain walau kadang terlihat aneh merupakan dukungan yang sangat berarti. Jacob mungkin tidak percaya lagi pada kisah yang diceritakan sang kakek, tapi dengan tetap mendukungnya ia membuat sang kakek merasa bahagia dan nyaman berada di dekatnya. 

Juga mengajarkan bahwa persahabatan merupakan hal yang berharga dalam kehidupan ini. Tak ada yang tidak bisa dilakukan, tidak ada hal yang sulit jika ada seorang bahkan beberapa sahabat di dekat kita. Tak peduli seberapa anehnya sahabat, jika memang ia sahabat kita maka sudah seharusnya kita berada di sisinya setiap saat.
Bahasa Portugis

Keluarga, bukan selalu bermakna orang yang memiliki hubungan darah. Tapi dengan siapa kita menghabiskan kehidupan, saling berbagi dan selalu ada untuk yang lain merupakan hal yang membuat kita berada ditengah keluarga. Demikian juga anak-anak yang tinggal dibawah pengawasan Miss Peregrine. Merekalah keluarga, bukan orang yang meninggalkan dan memusuhi meski memiliki hubungan darah.

Selain hiburan, pembaca juga mendapat tambahan ilmu mengenai banyak hal. Misalnya mengenai apa yang dimaksud dengan topiari-seni memangkas pohon/tanaman menjadi sebuah bentuk, bagaimana sejarah saat perang dunia, kehidupan nelayan dan banyak hal lain.

Agak penasaran juga dengan kelanjutan kisah ini. Menurut cerita, jika anak-anak itu keluar dari keluk dalam waktu agak lama mereka akan menua. Lalu bagaimana nasib mereka ketika rumah tinggal mereka hancur akibat terkena bom, lalu mereka harus menuju keluk lain untuk memulai hidup baru.

Pada bagian awal sempat merasa bingung, nama tokoh ini Yakob atau Jacob? Sang kakek menyebutnya dengan Yakob. Sementara kedua orang tua dan psikiaternya menyebut namanya Jacob. Mungkin karena sang kakek memiliki pelafalan yang berbeda saja.

Akhir kalimat pada buku ini membuat saya makin penasaran, "Sepuluh anak peculiar dan satu burung peculiar berdesak-desakan di tiga perahu dayung yang kokoh; banyak barang telah dikeluarkan dari perahu dan ditinggalkan di dermaga." Jadi keseruan seperti apa lagi yang akan kita temui dalam buku selanjutnya.

Untuk urusan kover, agak serba salah saya. Menilik gambar seorang gadis kecil yang sedang melayang, jelas saya tergoda untuk membeli buku ini. Namun gambar tersebut harus dilihat dengan agak seksama untuk mengetahui bahwa si gadis sedang melayang. Jika berada dengan buku-buku lain, warna seperti ini tak akan mampu menggoda mata saya untuk melirik. Saat akan membeli, saya agak kesulitan mencari buku ini di antara yang lain. Mbak SPG yang membantu saya mencari juga mengalami hal yang sama. Warna ternyata lumayan memegang peranan. 

Namun dalam situs Goodreads, ternyata sebagian besar kover buku ini mempergunakan ilustrasi yang sama, sosok anak perempuan yang mengambang di udara. Beberapa hanya memberikan warna latar yang berbeda. Ada yang menerbitkan dengan mempergunakan versi poster film. Versi yang lumayan berbeda adalah yang mempergunakan bahasa Portugis.

Masih dari situs Goodreads, disebutkan bahwa buku ini merupakan buku pertama dari seri yang terdiri dari tiga buku. Buku kedua berjudul Hollow City, link buku tersebut bisa diklik di sini.  Sedangkan untuk buku ketiga dengan judul Library of Souls bisa diklik pada link berikut. Untuk rata-rata bintang juga lumayan tinggi. Jelas, tidak hanya saya yang menganggap buku ini memukau.        
  
Seperti yang saya sebut di atas, buku ini memanjakan pembaca dengan banyak foto penawan terkait kisah dalam buku ini. Menurut penulis, foto-foto yang ada merupakan koleksinya serta koleksi beberapa sahabat. Unik memang, tapi jadi membuat saya bertanya-tanya. Jadi mungkinkah ada anak-anak seperti yang berada dalam pengawasan Miss Peregrine di sekitar kita?

Mungkin saja, apa sih yang tidak mungkin dalam kehidupan ini he he he.
 
























Kamis, 06 Oktober 2016

2016 #110: Tiga Dunia

Penulis: Rama Nugraha
Desain & Layout: Letterplatters
Halaman: 202
Cetakan: Pertama-2016
Rating:3/5

Kejahatan  itu relatif
Keseimbangan itu dibutuhkan
Kami Persaudaraan Royan

Satu lagi buku yang berjodoh dengan cara yang unik. Awalnya saya hanya ikut meramaikan suasana di booth BBI saat IIBF 2016 yang lalu. Sekedar iseng, saya sliweran ke tetangga, sesama booth komunitas. Tak terduga, bertemu dengan penulis buku ini. Sekedar bertegur sapa hingga menjadi pembicaraan serius dan diakhiri dengan buntelan nan menawan ini.

Pertama, sebelum membuat ulasan, saya harus memberikan acungan jempol pada sang penulis. Bukan! Bukan karena saya mendapat buntelan buku ini, lebih karena sikapnya yang mau menerima kritik sepedas apa pun. Kritik yang diberikan tentunya dengan beralasan bukan sekedar menjatuhkan. Tetap saja agak jarang penulis yang rela dan iklas diberikan komen pedas. Semoga sikap rendah hati dan ingin terus belajar ini bisa memberikan hasil yang menggembirakan.

Mari kita mulai.....

Kisah dalam buku ini adalah mengenai sosok seorang anak laki-laki, Datan Woudward. Ia merupakan sosok yang unik karena merupakan seorang Ingra, campuran dari orang Haedin dan Marra. Sehari-hari Datan tinggal bersama ayahnya di rumah kecil nomor 21 di jalan Paling Ujung yang terletak di luar perbatasan negeri Tomera. 

Sebentar, mendadak saya lupa kenapa ia hanya tinggal dengan ayah dan bibi yang berkunjung. Apakah ada bagian yang menyebutkan tentang mengapa si ibu tidak bisa tinggal bersama mereka ya? Duh lupa saya. 

Khusus untuk buku ini saya mereview dengan cara agak berbeda. Membaca satu kali tanpa memberi tanda pada bagian yang penting, langsung membuat coretan singkat ini. Kecuali untuk kata pembuka di bagian paling atas. Maklumlah jika ada hal yang terlewat.

Kehidupan berjalan dengan baik hingga suatu saat Dastan mengetahui bahwa ayahnya adalah seorang pencuri. Tidak hanya itu, ia juga bertemu dengan salah seorang pencuri yang memiliki ilmu hebat hingga mampu menyelamatkan ia dan ayahnya dari kemarahan orang di pasar malam. Datan yang merasa tingkah polah wanita tersebut hebat, jadi memiliki keinginan untuk bergabung dengan Persaudaraan Royan, persaudaraan bagi kaum pencuri.

Pembaca akan dibawa mengikuti upaya Datan untuk memenuhi impiannya. Sang ayah yang semula melarang bahkan menolak memberi tahu tentang Persaudaraan Royan  belakangan justru menjadi pendukung utama. Ternyata meski sudah mendapat dukungan ayah, untuk melatih diri agar bisa bergabung dengan persaudaraan bukan hal yang mudah. Banyak hal yang harus dilakukan oleh Datan untuk mewujudkan impiannya.

Secara garis besar, buku ini berpotensi menjadi kisah yang menarik. Ide kisah serta cara penyampaian lumayan berbeda. Memang masih harus dibenahi pada alur, mengingat ada beberapa bagian yang kurang pas. Dukungan seorang editor terasa sekali diperlukan jika ingin mendapatkan karya yang lebih baik. 

Saat awal membaca, saya harus beberapa kali mengulang bagian awal agar mendapat dasar yang kuat. Sebagai contoh disebutkan bahwa orang Marra merupakan penguasa air. Sedangkan Haedin merupakan perenung. Lalu disebutkan mengenai Urgut tanpa disebutkan apakah itu Urgut. Baru di belakang dijelaskan. Begitu juga tentang Tomera, apa pula itu?

Akan lebih membantu pembaca menikmati kisah ini jika pada bagian awal sudah diberikan penjelasan mengenai hal-hal yang menjadi setting kisah. Misalnya menjelaskan bahwa Tomera adalah sebuah negara dan seterusnya.

Proses Datan untuk mendaftar menjadi anggota Royan sepertinya terlalu mudah. Meski cara yang ia lakukan untuk mendaftar atas saran sang ayah sudah tidak dipergunakan lagi, namun bagi perkumpulan yang eksekutif seperti itu harusnya tak mudah bagi tim panitia penerima anggota baru untuk percaya akan sosok seorang pemuda yang ingin mendaftar. Kurang greget menurut saya.

Bagian awal yang mengisahkan bagaimana si pemimpin dikhianati oleh orang kepercayaannya, membuat saya langsung teringat pada salah satu kisah Dan Brown. Kadang kita memang tidak bisa percaya pada orang terdekat sekali pun.

Sinopsis yang ada di bagian belakang teramat singkat. Memang mengusik urat penasaran, tapi tidak bisa memberikan gambaran apa isi buku ini. Bagi saya yang sering mengikuti insting, buku ini justru akan berada dalam tas belanjaan saya karena unsur sinopsis yang membuat rasa penasaran plus kover yang tidak biasa. Tapi bagi pembaca yang tidak ingin coba-coba, hal ini bisa menjadi penyebab batal membeli buku.

Tulisan 01 Si Pencuri  pada kover bisa membuat saya mengurungkan niat membeli. Mungkin juga  calon pembaca lainnya merasa ragu untuk membaca, mengingat belakangan  sering kali sebuah kisah serial terbit tidak tuntas. Jika memang sudah diniatkan untuk menjadi kisah bersambung, ada baiknya memberikan semacam kisikan mengenai buku selanjutnya. Dengan membocorkan beberapa halaman buku kedua, atau memperlihatkan kover buku bisa dijadikan bahan pertimbangan.

Beberapa kata pergaulan seperti sumpek, ngerumpi kegatelan bisa ditemukan dalam buku ini. Ada baiknya penulis mempertimbangkan bahasa baku tapi tidak berkesan kaku saat menulis kisah. Bahasa pergaulan memang enak diucapkan tapi kadang menjadi agak kurang pas jika diubah menjadi tulisan.

Saya menemukan ada beberapa lembar halaman kosong antara hal 127- 128 sebanyak 6 halaman. Semula saya mengira ini sengaja dibuat seperti buku Host karangan Stephenie Meyer yang terbit sekitar tahun 2008.  Dalam buku ini,beberapa lembar kosong dipergunakan untuk menimbulkan kesan lamanya waktu berjalan. Tapi sepertinya pada buku ini ada kesalahan tata letak. 

Meski ini buku yang diterbitkan secara indi, bukan berarti mutu harus kurang. Sepertinya penulis masih harus lebih memperluas pergaulan guna mendapat informasi mengenai tempat cetak yang menawarkan harga bersahabat namun kualitas prima. Buku ini sungguh menyedihkan urusan tintanya. Beberapa bagian sering tidak jelas. 

Saran terakhir, bacalah banyak buku agar bisa mendapat referensi yang beragam. Dari sisi alur, gaya bercerita, pemilihan kata hingga cara mengugah emosi pembaca. Semuanya bisa diperoleh dengan banyak latihan dan banyak membaca. Diskusi dengan beberapa sahabat mengenai karya pribadi sangat dianjurkan. Asalkan tidak menuntut untuk selalu mendapatkan gula, kadang cabai malah lebih bagus bagi kesuksesan.

Jika ada yang ingin berdiskusi dengan penulis bisa melalui email rama.snugraha@yandex.com atau berkicau ke @rama_snugraha.  Segala kritik dan saran membangun tentunya akan diterima dengan lapang hati. Atau tertarik ingin memiliki buku ini? Bisa juga langsung menghubungi penulis.

Selalulah berusaha meraih mimpi, karena dengan begitu hidup menjadi lebih bermakna ^_^

Rabu, 05 Oktober 2016

2016 #109: Mengenal Pasola


Penulis: Drs Munanjar Widyatmika
             Prof. dr. Hudiono
Editor: Semiarto A. Purwanto
ISBN: 9786021749739
Halaman: 182
Cetakan: Pertama-2013
Penerbit: Direktorat Sejarah dan Nilai Budaya
              Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan
Rating: 3/5

Satu lagi buku dari Perpustakaan Aldo Zirkov. Kali ini saya mendapat buku tentang Pasola. Sebetulnya buku ini sudah agak lama tersimpan eh tertimbun di rak. Ketika di IIBF kemarin ada buku serupa dibagikan untuk umum, baru saya ingat akan keberadaan buku ini. Begitulah kesalahan seorang penimbun, baru sadar akan keberadaan sebuah buku ketika melihat buku serupa.

Pasola merupakan rangkaian upacara tradisi khas orang Sumba di Propinsi Nusa Tenggara Timur untuk meminta berkah kesuburan lahan pertanian pada para leluhur atau marapu. Tepatnya di Sumba bagian barat yang dilangsungkan di wilayah Kodi, Gaura, Lamboya pada bulan Februari dan di Wanokaka pada bulan Maret setiap tahun.

Kata Pasola berasal dari kata "sola" atau "hola" bermakna lembing kayu yang dipakai untuk saling melempar dari atas kuda yang sedang dipacu kencang oleh dua kelompok yang berlawanan. 

Secara keseluruhan nilai-nilai dalam pasola bukan bersifat tunggal tetapi berkaitan dengan nilai yang lain. Mengingat rangkaian serta waktu upacara yang lumayan panjang, bisa dikatakan ini merupakan pesta rakyat. 

Seiring dengan perkembangan zaman,  nilai-nilai
Sudah mulai luntur. Banyak yang tidak menjalankan sesuai dengan aturan. Agar upacara ini tetap bertahan, perlu dibuat semacam standarisasi pelaksanaan Pasola dari segala sisi. Sehingga remaja dan kaum muda masih bisa melaksanakan dengan baik sesuai dengan 

Beberapa hal yang mungkin dianggap sepele tapi mengurangi ketepatan Pasola antara lain tempat penyelenggaraan dipergunakan untuk temoat latihan kuda, banyak yang memakai baju dan kain berwarna merah padahal selama ini hal tersebut tidak dilakukan,  kuda yang dipergunakan dalam arena kadang tidak diberi hiasan juga pelana, jenisnya juga bukan kuda pacu tetapi juga kuda betina, kayu tongkat tidak lagi berwarna-warni hiasannya.

Penulisan buku ini diharapkan mampu menjadi salah satu mata rantai penanaman nilai-nilai pada generasi muda yang mulai melemah akibat masuknya budaya dari luar. Oleh karenanya perlu disikapi  dengan arif dan bijaksana  dalam upaya meningkatkan kecintaan generasi muda terhadap  nilai kearifan lokal melalui proses pembinaan berkelanjutan.

Mesti terdapat lumayan typo dalam bentuk salah ketik maupun tata bahasa, hal tersebut tidak mengurangi isi buku yang sangat bermanfaat. Bisa dipahami, para penulis adalah peneliti bukan pakar bahasa Indonesia atau editor.

Seandainya setiap kebudayaan lokal dibuatkan buku seperti ini, sungguh luar biasa. Bakalan tidak cukup lemari buku saya. Tapi dengan begitu makna buku adalah jendela dunia benar adanya. Saya bisa tahu sekelumit tentang Pasola tanpa harus pergi ke Sumba.

2016 #108:Sang Pewaris Kesenian

Judul: Sang pewaris : Tokoh-tokoh Kesenian Tradisi Madura dan Minangkabau
Penulis: Hanefi & Eko Wahyuni
Editor: Ester L. Siagian & Jabatin Bangun
Kontributor tulisan: Aekanu Hariyono & Hajizar Koto
ISBN: 9786021749746
Halaman:312
Penerbit:Direktorat Sejarah & Nilai Budaya
             Kementrian Pendidikan & Kebudayaan
Cetakan: Pertama-2013
Rating: 3/5

Saya harus berterima kasih kepada Perpustakaan Aldo Zirkov yang memberikan buku jenis ini kepada saya. Jelas buku seperti ini tidak dijual umum. Keberuntungan yang membawa saya bertemu dengan buku ini.

Sebagai penghargaan pada mereka yang mempertahankan dan menjaga kelestarian budaya, terutama dari Madura dan Minangkabau, maka dibuatkah sebuah buku sebagai dokumentasi sepak terjang mereka. Sang Pewaris, mereka disebut.

Buku ini menyajikan beberapa tokoh seniman tradisi terpilih dari Madura dan Minangkabau dalam berbagai bidang masing-masing. Dipilih mereka yang dianggap setia dan berkomitmen mempertahakankan keberlanjutan tradisinya di tengah arus perubahan sosial, eonomi, budaya maupun teknologi. Konsisten.

Kisah peran aktif para pewaris budaya inilah yang disampaikan dalam buku ini. Dimaksudkan agar melalui upaya preservasi,  seni tradisi diteruskan pada generasi selanjutnya. Para pewaris tradisi itu menghadapi berbagai tantangan yang besar dalam arus perubahan kebudayaan mereka. Pastinya terdapat juga infomasi mengenai kesenian dimana para pewaris merupakan penggiatnya. 

Dari Madura terdapat lima orang yang dipilih. Bukan hal mudah memilih kelimanya, namun semoga dapat mewakili para pejuang kesenian.  Terdapat H. Samsul tokoh Mamaca, Ki Darus  penggiat Topeng Dhalang Sumenep yang membaharu, Mohamad Saleh pemahat Topeng Madura, Basiriansyah  tokoh seni Kriya Keris Kontemporer serta Sutris penggiat Musik Saronean yang mumpuni.

Mamaca merupakan kesenian membaca kitab dengan dinyanyikan secara vokal. Kesenian ini mirip dengan kesenian mocopat. Ciri utamanya ada pada kegiatan membaca atau melagukan tembangnya dengan dilambat-lambat berkepanjangan. Seakan-akan tidak ada putus-putusnya antara bagian kalimat satu dengan lainnya. Perlu diingat, dalam Mamaca teknik melagukan lebih menonjol dari isi lagunya.

Sementara Saronen adalah nama sejenis alat tiup sekaligus nama ensambel. Bisa dikatakan mirip pegelaran musik saat ini. Ada  instrumen yang dimainkan bersama dengan Saronen. Terdiri dari: 1 saronen, 1 gong besar, 1 kempul, 1 satu kenong besar, 1 kenong tengahan, 1 kenong kecil, 1 korca, 1 gendang besar, 1 gendang dik-gudik (gendang kecil).

Hal yang menarik dan menjadi jiwa dari musik ini satu alat tiup berbentuk kerucut, terbuat dari kayu jati dengan enam lobang berderet di depan dan satu lubang di belakang. Sebuah gelang kecil dari kuningan mengaitkan bagian bawah dengan bagian atas ujungnya terbuat dari daun siwalan . Pada pangkal atas musik itu ditambah sebuah sayap dari tempurung menyerupai kumis, supaya terlihat gagah he he he.

Untuk bagian dari Minang  agak berbeda, dimulai dengan pendahuluan terlebih dahulu baru menguraikan mengenai para pahlawan seni. Terdapat sosok  Rinaldi Datuak Bandaro Mudo maestro kesenian silat, Islamidar maestro kesenian Talempong, Asrul Datuak Kodoh Maestro kesenian Si Jobang, Abdul Rahman Datuak Bungsu maestro kesenian Luambek,  Sawir Sutan Mudo maestro kesenian Saluang Dendang

Agak aneh juga saya membaca bagian ini. Kenapa pada bagian ini disebut sebagai maestro? Apakah ada kriteria tertentu? Atau mungkin bagian ini ditulis oleh orang yang berbeda mengingat ada dua nama penulis?

Sijobang merupakan seni tutur yang dilagukan (sung-narrative) dengan iringan sebuah kotak korek api (Sijobang Api-api) yang dapat menimbulkan efek bunyi guncang (rattle) atau dengan iringan alat musik kecapi (sijobang Kecapi) yang bersifat melodis.

Seni tutur ini membawakan cerita rakyat/naskah kaba yang dituturkan anggun nan tungga, Anggun Nan Tungga Magek Jabang. Secara garis besarnya kaba ini memiliki tujuh episode cerita, dan setiap episode disajikan Tukang Sijobang selama satu malam.

Luambek secara etimoligis berasal dari kata "lalu" yang berarti lewat, jalan atau maju, serta kata "ambek"  berarti hambat atau menggalangi. Secara filosofi  bermakna bahwa tidak boleh sesuka hati memasuki suatu nagari di daerah  Pariaman karena dijaga secara adat. Makna ini yang menyemangati pelaku dan masyarakat pendukungnya sewaktu Luambek dipertunjukan.

Dengan membawa buku ini, para generasi buku bisa makin memahami mengenai berbagai kesenian daerah warisan nenek moyang. Terutama dari Madura dan Minangkabau.  Rasa kebanggaan menjadi anak bangsa makin terpupuk terutama untuk melestarikan kebudayaan daerah.  Kaum muda juga makin menghormati dan menghargai upaya pejuang kesenian mempertahankan budaya. Salut untuk mereka. Bukan hal mudah saat ini untuk tetap konsisten pada bidang yang mereka geluti selama ini. Hanya bisa berharap apa yang mereka lakukan mendapat perhatian dari pihak terkait dan  menjadi amal ibadah.

Semoga buku ini bisa lebih disebarluaskan sehingga makin banyak yang membacanya. Tidak menutup kemungkinan dibuat dalam bahasa asing sehingga bisa dijadikan sarana promosi budaya.

Selasa, 04 Oktober 2016

2016 #107: Kisah Tentang Ma dan Jack

Judul asli: Room
Penulis: Emma Donoghue
Penerjemah: Rina Wulandari
Penyunting: Jia Effendi
ISBN: 9786023851362
Halaman: 420
Cetakan: Pertama-Agustus 2016
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 79.000
Rating4.5/5


Sebenarnya  tempat ini awalnya adalah rumah kebun. Hanya ruang baja dua belas kali dua belas ditutup dengan plastik. Tapi dia menambah Jendela Langit kedap suara dan banyak banyak busa yang menutupi dindingnya, ditambah selapis timah, karena timah bisa mematikan semua suara. Oh, dan pintu dengan kode pengaman. Dia menyombongkan diri tentang betapa rapinya hasil kerjanya.

Bip bip....

Tanda di pintu berbunyi. Itu tanda Nick tua datang. Jack harus sudah berada dalam lemari dan Ma tidak boleh muncul sebelum pintu ditutup. 

Jack merupakan anak laki-laki berusia lima tahun berambut panjang yang tinggal bersama ibunya, dipanggil Ma, dalam sebuah kamar berukuran tiga kali tiga meter. Ia sangat menyukai Dora, baginya kehidupan yang ada ia lihat di televisi tidaklah nyata. Kehidupan nyata adalah sebatas tempat ia dan Ma tinggal saja. Bisa dimaklumi karena sejak lahir, ia sama sekali tidak pernah meninggalkan ruangan itu.

Ma diculik ketika masih belia. Si penculik dipanggil dengan nama Nick Tua. Ma sempat melahirkan seorang anak namun meninggal sebelum akhirnya ia memiliki Jack. Bisa dikatakan  Jack jarang bertemu dengan Nick Tua.  Ia sengaja disembunyikan dalam lemari oleh Ma karena takut dilukai. Setiap kali Nick Tua datang dan menderitkan tempat tidur, Jack menghitung berapa banyak deritan yang ia timbulkan. Terbayangkan bagaimana perkembangan psikologisnya.

Semula Ma sudah putus asa, menerima kondisinya sebagai "tahanan" hingga suatu ketika  Nick tua menyebutkan bahwa ia sudah tidak bekerja alias dirumahkan selama enam bulan. Ia bahkan pernah mematikan aliran listrik selama beberapa hari. Ma menjadi khawatir, ia harus segera berusaha mencari jalan keluar guna menyelamatkan diri bersama Jack atau menghadapi resiko suatu ketika ada yang menemukan mayat mereka berdua.

Sebuah rencana pelarian disusun. Jack merupakan kunci utama keberhasilan pelarian mereka. Adegan menegangkan saat Jack berusaha melarikan diri dan mencari pertolongan guna menyelamatkan Ma hanya terdiri dari beberapa lembar saja. Namun sangat menegangkan dan mengharukan. 

Bagi anak berusia lima tahun yang hanya hidup dalam ruangan sempit, mendadak harus berada di lingkungan luas tentunya agak menakutkan. Bisa dikatakan ia mengalami disorientasi. Berkat tekat kuat menyelamatkan sang ibu serta keberuntungan dipihak mereka,  akhirnya Jack bisa mampu bertahan dan mencari pertolongan.  Mereka berhasil diselamatkan oleh pihak berwenang dan mendapat pertolongan secara medis dan psikologis.

Salut juga akan kerja polisi yang sangat baik sehingga bisa cepat menemukan tempat di mana Ma berada. Dengan mengandalkan keterangan Jack yang minim informasi mereka berhasil menemukan Ma. Juga para pekerja di bidang medis yang merawat dan menjaga mereka selama masa pemulihan.

Saya langsung teringat beberapa kasus penculikan serupa yang ada di luar negeri. Entah apa yang ada dalam benak para penculik sehingga nekat melakukan hal tersebut. Termasuk mengintimidasi para korban untuk tidak melarikan diri. Kasihan. 

Selanjutnya sisa buku ini mengisahkan mengenai bagaimana ibu dan anak berjuang menyesuaikan kehidupan di luar kamar yang selama ini mengurung mereka. Bagi  Joy Newsome, nama asli Ma, ia hanya perlu menyesuaikan diri. Tapi bagi  Jack  ini merupakan hal baru dalam kehidupannya. Beberapa hal yang ia lihat melalui televisi ternyata tidak semuanya sama. Sikap orang tua Ma yang mengakui Jack sebagai cucu tanpa memikirkan siapa bapaknya juga turut membuat haru. Mereka dengan sabar mengajarkan Jack tentang banyak hal.


Kisah yang disampaikan melalui sudut pandang Jack sangat menggugah rasa kemanusiaan pembaca. Unsur psikologis memegang peranan yang lumayan besar dalam buku ini. Bagaimana Ma bersikap terhadap rasa ingin tahu Jack, lalu kreativitas Jack dalam mengisi hari-harinya dengan berkhayal berbagai rupa. Termasuk sikap melindungi Ma pada Jack.

Buku ini menunjukan bahwa untuk membuat sebuah kisah yang menarik, tidak perlu mempergunakan aneka kata-kata yang jelimet. Ide cerita yang sudah menarik membuat penulis tak perlu susah untuk bercerita.  Jika buku lain memiliki lumayan banyak bab, buku ini hanya terbagi menjadi  5 bab saja. Dari Kini, Bongkar Kebohongan, Sekarat, Kemudian, dan diakhiri dengan Hidup. Tapi hal tersebut tidak mengurangi keseruan kisah. Semuanya mengalir dengan indah.

Pembaca akan merasa bersyukur akan kebebasan yang dimiliki selama ini. Juga makin menghargai lingkungan sekitar. Setiap hari kita bisa melihat pohon, merasakan hembusan angin, dan tanah di kaki. Bayangkan betapa terkejutnya Jack saat pertama kali merasakan semua hal itu. Ia memang bisa melihat awan tapi hanya itu yang ia bisa tahu.

Saya agak penasaran dengan beberapa kata yang ditulis dengan huruf besar pada awal kata, misalnya Tempat Tidur. Lengkapnya mengenai Nick tua yang menderitkan Tempat Tidur. Adakah makna khusus? Setiap orang dewasa sudah bisa menduga apa yang dimaksud dengan kalimat tersebut.

Kata mimik juga sempat membuat saya berdiskusi dengan tukang alih bahasa. Apakah maksudnya ia sedang minum asi? Tapi untuk anak berusia lima tahun apakah mungkin? Baru di belakang, rasa penasaran saya terjawab. Apa lagi yang bisa mereka kerjakan dalam ruangan sekecil itu?

Berbagai pengakuan terhadap buku ini sudah lumayan banyak. Ada Man Booker Prize Nominee (2010), Orange Prize Nominee for Fiction Shortlist (2011), Pennsylvania Young Readers' Choice Award Nominee for Young Adults (2013), ALA Alex Award (2011), Indies Choice Book Award for Fiction (2011), Bord Gáis Energy Irish Book Award for Hughes & Hughes Irish Novel of the Year (2010), Canadian Booksellers Association Libris Award for Fiction Book (2011), Abraham Lincoln Award Nominee (2014), Galaxy National Book Award for WHSmith Paperback of the Year (2011), Commonwealth Writers' Prize for Best Book in Caribbean and Canada (2011), Trillium Book Award Nominee for English-language (2011), UC Book of the Year (2014), Eason Novel of the Year (2010), Rogers Writers' Trust Fiction Prize (2010), Ontario Library Association Evergreen Award (2011), Goodreads Choice Award for Fiction, Nominee for Favorite Heroine (2010).


Kisah ini juga sudah menjadi film drama independen Kanada-Irlandia  pada tahun 2015 dengan disutradarai oleh Lenny Abrahamson dan diproduseri oleh Ed Guiney dan David Gross. Naskah film ini ditulis oleh Emma Donoghue  sendiri. Film ini dibintangi Brie Larson, Jacob Tremblay, Joan Allen, Sean Bridgers dan William H. Macy. Film Room ditayangkan secara perdana di Festival Film Telluride pada tanggal 4 September 2015 dan dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 16 Oktober 2015 secara terbatas dan 22 Januari 2016 secara luas.

Sekedar saran, awasi anak dengan bijaksana, karena kita tak pernah tahu bahaya apa yang mengancam. 

Sumber gambar: 
https://www.goodreads.com