Jumat, 19 Mei 2023

2023 #13: Misteri Toko Buku Berhantu

Judul asli: The Haunted Bookshop
Penulis: Christopher Morley
Penerjemah: Naila Fauzia
Penyunting: Muthia Esfand, F.J. Ismarianto
Halaman: 309
Cetakan: Pertama-Maret 2023
Penerbit: Bukuditeras
Harga; Rp 110.000 (SC)
Rating: 3.75/5

Di antara kami, tidak ada yang namanya istilah, secara abstrak, seperti, 'buku bagus'. Sebuah buku akan menjadi bagus hanya jika ia memenuhi rasa lapar manusia atau menyangkal beberapa kesalahan manusia. Buku yang kuanggap bagus bisa jadi hanya sampah buatmu.
-The Haunted Bookshop, hal 9-

Baiklah. Apa yang ada dalam benak Anda, selaku penggila buku, ketika menemukan sebuah buku dengan judul  The Haunted Bookshop-Toko Buku Berhantu? Apakah membayangkan sebuah toko buku, dimana setiap malam setelah toko tutup, para Tante Kunti, Om Pocong, Kakek Dracula, siapa saja yang beda alam  sibuk bersliweran mencari bacaan? 

Mungkin juga membayangkan para tokoh yang ada dalam buku, keluar dan asyik mengobrol dengan sesama. Misalnya Harry Potter bercakap-cakap dengan Percy Jackson, Ali Baba dan Legolas. Atau malah para penulis buku yang sudah "berpulang", berkumpul dan  membagi kisah dengan sesama. Ada Mark Twain, Hans Christian Andersen, Enid Blyton, dan lainnya yang ramai bercengkrama.  

Saya? Hem...., saya membayangkan pengunjung toko buku ini beragam. Siapa saja bisa menjadi pengunjung. Ada sosok yang mirip dalam kisah The Evil Librarian, Tante Kunti yang butuh bacaan kocak untuk bahan iseng ke orang.  Para  penulis yang berbagi kisah perjuangan penerbitkan karya pertama, atau tokoh dalam buku yang ribut protes pada penciptanya.

Bahkan bisa juga buku-buku yang mendadak datang dan pergi sesuka hati. Buku yang merasa diabaikan pemiliknya, kemudian meninggalkan pemilik lama, memilih pergi ke toko buku itu. Sementara, ada juga buku yang mendadak hilang secara misterius dari rak,  pergi di suatu tempat, di mana ada seseorang yang begini menginginkannya.
https://www.goodreads.com/book/
show/35629971-la-llibreria-encantada

Namanya juga khayalan ^_^. Hal tersebut yang muncul dalam benak saya ketika melihat promosi buku baru dari Bukuditeras.  Ditambah dengan kover yang sedikit menyeramkan, jadi terbayang ada sesuatu atau malah buku yang melayang-layang di antara lorong.

Setelah membaca, ternyata isinya tak berhubungan dengan makhluk alam lain, saya saja yang terlalu tinggi mengkhayal. Kisahnya lebih kompleks dari sekedar seseorang  yang berkeliaran malam hari dan terluka, buku yang hilang, dan tentunya ada bumbu kisah cinta.

Lalu, kenapa tokoh buku tersebut diberi nama The Haunted Bookshop? Sungguh bijak alasan pemiliknya, tak terduga. Maka beli dan baca buku ini supaya tahu he he he, dijamin tidak akan merasa kecewa. 

Oh, ya sebelum menikmati kisah dalam buku ini, harap diingat bahwa kisah ini diterbitkan pertama kali pada tahun 1919. Beberapa hal mungkin sudah tidak sesuai dengan kondisi dan situasi saat ini, tapi mari kita nikmati saja.

Suatu hari, Roger Mifflin  seorang pemilik toko buku bekas-The Haunted Bookshop di sudut Brooklyn, kedatangan seorang penjaja alias marketing iklan bernama  Aubrey Gilbert. Ia berusaha membujuk Mifflin untuk memasang iklan tentang toko bukunya. Walau upayanya gagal, namun ia menjalin pertemanan sehingga mendapat ajakan makan malam sambil mendiskusikan tentang seluk-beluk dunia buku.
https://www.goodreads.com/book/
show/29972626-the-haunted-bookshop

Kejutan! Pembicaraan malam ini memberikan informasi bagi Gilbert, bahwa salah satu klien potensialnya-Mr Chapman, adalah sahabat Mifflin. Bukan hanya sahabat, Mr Chapman bahkan berharap dapat mengirim anak gadisnya yang bernama Titania untuk bekerja di sana, supaya bisa memahami perihal dunia buku, tentunya diam-diam sang ayah yang akan membayar gajinya. Konspirasi yang unik.

Gilbert yang jatuh hati pada Titania, langsung bertindak cepat dengan menyewa tempat  di seberang toko buku demi bisa mengawasi dan menemui Titania setiap saat, padahal ia sudah memiliki tempat tinggal sendiri. Cinta memang luar biasa. 

Misteri mulai muncul ketika Mifflin tidak bisa menemukan buku yang akan dijual, padahal ia yakin sekali buku itu ada dalam toko. Tak Lama, buku yang semula hilang, mendadak muncul.  Seorang  asisten koki mengembalikan buku yang hilang dengan alasan membawanya tanpa sengaja ketika berkunjung ke toko. 

Hal tersebut mungkin merupakan hal yang biasa dilakukan seseorang, namun menjadi aneh, karena sempat ada iklan dari seorang asisten koki  yang mencari keberadaan sebuah buku. Dan buku yang dicari adalah buku yang hilang tersebut. Jadi, bagaimana sesungguhnya? asisten koki memang tak sengaja membawaya, atau sengaja membawa dan menghilangkan sehingga memasang iklan, atau ada hal lain?

Misteri makin berkembang, tak hanya soal buku yang raib, tapi juga terkait dengan keselamatan banyak jiwa. Gilbert merasa khawatir dengan keselamatan Titania, ia mengira Mifflin memiliki niat jahat padanya. Dugaannya semakin kuat, ketika melihat apoteker tetangga bisa dengan leluasa masuk ke toko.

Ternyata bukan hanya keselamatan Titania yang harus dikhawatirkan Gilbert, bahkan nyawanya dan keluarga Mifflin juga dalam bahaya. Apalagi ketika ia diserang orang tak dikenal di jalan, dan ada yang menyusup ke apartemennya pada malam hari.
Edisi pertama
https://en.wikipedia.org/wiki/
The_Haunted_Bookshop

Entah karena begitu besar rasa cintanya pada Titania, atau Gilbert begitu bersemangat memecahkan misteri ala detektif, ia melakukan beberapa penyelidikan yang hasilnya mengarah pada urusan  yang tak kaleng-kaleng, keamanan nasional. 

Dan mereka yang selama ini selalu mengira buku adalah hal yang tak berbahaya, benda remeh,  semoga mengubah pendapatnya setelah membaca kisah ini. Karena ternyata, buku bisa menjadi sarana untuk melakukan pembunuhan dan menimbulkan peperangan! 

Oh, ya, buku yang menjadi  biang keributan adalah  Thomas Carlyle 's Letters and Speeches of Oliver Cromwell (bisa diintip di sini).  Selain buku tersebut, penulis juga banyak menyinggung buku-buku lain dalam kisah ini. Misalnya The Nigger of the Narcissus karya Joseph Conrad, The House of Cobwebs dari George Gissing, The Jungle Book  dari Rudyard Kipling yang dikenal banyak orang,  dan  Helen's  Babies karya John  Habberton,  Senang juga menemukan ada buku Louisa May Alcott disebut dalam buku ini, Jo's Boys (diterjemahkan menjadi Anak-anak Lelaki Jo, oleh penerjemah buku). 

Dasar iseng, saya melakukan pengecekan satu per satu setiap buku atau tokoh yang disebutkan dalam buku ini. Misalnya, disebutkan tentang sosok bernama George Ridpath,  apakah betul ia  seorang sebuah jurnalis Skotlandia yang meninggal tahun 1726. Buku puisi Paradise Last karya John Milton. Secara tak langsung, membaca buku ini menambah pengetahuan saya, terutama tentang dunia buku.

Penulis juga menyebutkan tentang kebiasaan membaca di tempat tidur, librocubicularis  di halaman 206. Ternyata hal ini sudah dilakukan oleh penggila buku sejak dahulu kala. Menarik juga. Saya jadi teringat koleksi buku Little Women yang ada di rak. Ukurannya lumayan besar dan tebal. Entah bagaimana caranya bisa membaca dengan nikmat di tempat tidur jika bukunya seperti itu. 
https://www.goodreads.com/book/
show/39803567-the-haunted-bookshop
 
Secara umum, mereka yang mengaku sebagai penggila buku, seharusnya memiliki buku ini di rak buku mereka. Jika tidak memiliki versi cetak, minimal ada versi digital dalam gawai. Apalagi karya ini merupakan sudah domain publik, lebih mudah untuk mendapatkannya.   Bisa dicek di sini. Tentunya lebih bagus jika ada kedua versi tersebut. 

Meski membaca dengan memanfaatkan koleksi di perpustakaan atau meminjam milik teman tidak dilarang. Tapi dengan membeli, merupakan bukti dukungan pada sesama penggila buku. Apalagi tersedia dua pilihan, softcover dan hardcover yang bisa disesuaikan dengan anggaran.  

Para mahasiswa sastra disarankan dengan membaca buku ini, dengan demikian akan mendapat tambahan wawasan mengenai  karya  sastra awal abad ke-19. Juga bagaimana menerjemahkan buku ke dalam bahasa Indonesia dengan menarik walau ada beberapa hal yang mungkin tidak sesuai lagi dengan kondisi saat ini.

Ada dua kalimat yang menggelitik. Pertama di halaman 185, "Sekarang ada sesuatu yang ingin kutanyakan kepada Anda-mengapa ada begitu banyak patung untuk jenderal, laksamana, pendeta, dokter, negarawan, ilmuwan, seniman, dan penulis, tetapi tidak ada patung untuk penjual buku?" 

Penjual buku bisa dianggap  ujung tombak penerbit, membuat buku laku dibeli sehingga perputaran uang terjadi. Dengan demikian penerbit tetap beroperasi. Keluarga para pekerja dunia buku bisa mendapat kehidupan layak, anak-anak bisa sekolah hingga tinggi, dan banyak buku menarik lagi yang bisa diterbitkan.
https://www.goodreads.com/
book/show/60501132

Selain itu, penjual buku-sering disebut marcom pada beberapa penerbit,  menjadi jembatan antara penulis-penerbit-pembaca. Tanpa ada penjual buku, tak ada buku yang bisa sampai ke pembaca dengan mudah. Tak ada kegiatan promosi buku yang diadakan. Penjualan, mungkin saja hanya mempergunakan cara konvesional, dipajang di toko dan iklan. Baik tercetak atau informasi dari mulut ke mulut.

Selanjutnya kalimat yang ada di halaman 121, "Keindahan menjadi penjual buku adalah kau tidak harus menjadi kritikus sastra; yang harus kau lakukan untuk buku adalah menikmatinya." Setuju! 

Penjual buku memang sebaiknya juga memiliki hobi membaca, sehingga ia bisa tahu secara mendalam buku yang dijualnya.  Ketika berhadapan dengan pembeli, ia bisa merekomendasikan buku apa yang sesuai dengan selera pembeli. Minimal, mau meluangkan waktu untuk membaca informasi terkait buku yang dijual. Kisahnya tentang apa, siapa pengarangnya mungkin juga penghargaan apa yang diraih. Sebenarnya tak hanya penjual buku, pustakawan juga begitu. 

Ah, saya jadi teringat seorang Bapak penjual buku di RSAB  Harapan Kita. Beliau yang merekomendasikan Little Women, padahal saya mencarinya kisah ala Trio Detektif, Pasukan Mau Tahu dan sejenisnya. Bagus juga untuk dibaca, begitu kata beliau. Terima kasih Pak! Buku tersebut memang bagus, makanya saya sampai punya 200 buku lebih!

Hem..., komentar buku ke-13, angka yang sering dianggap identik dengan supranatural.  Buku yang menarik. Karena Anda tak akan pernah menduga apa yang sebenarnya terjadi ketika membaca kisah ini, hingga mendekati tamat. 

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com
https://en.wikipedia.org




Tidak ada komentar:

Posting Komentar