Jumat, 15 Oktober 2021

2021 #33: Ketika Sang Informan Beraksi

Judul asli: The whistler-Sang Informan
Penulis: Jhon Grisham
Penerjemah: Ariyanti E. Tarman
Editor: Jimmy Simanungkalit
ISBN: 9786020635880
Halaman:460
Cetakan: Pertama-2020
Harga: Rp 115.000
Rating: 3/5

"Tak ada yang namanya kepercayaan sepenuhnya, Ibu  Hakim. Dan seringnya, orang yang paling kau percayai adalah orang yang akan menggorok lehermu jika mendapat harga yang sesuai."

~Sang Informan, hal 349~

Seorang wanita  kulit putih bernama Lacy Stoltz   serta seorang pria kulit hitam, Hugo Hatch ditemukan dalam kondisi mengenaskan akibat ditabrak pikap yang melewati  garis pembatas di wilayah  suku Tappacola di Brunswick Country lewat tengah malam.

Apa yang mereka lakukan di sana? Berbagai spekulasi muncul. Terutama sekali karena selama ini pekerjaan keduanya di Dewan Kode Etik Yudisial-DKEY Florida bisa dikatakan jauh dari bahaya.

Menyelidiki hakim yang diduga melakukan kecurangan semestinya tak berbahaya, setidaknya begitu menurut Lacy hingga sebuah kecelakaan  menimpa  Hugo dan dirinya. Kecelakaan itu mengakibatkan dirinya luka parah. Suatu keajaiban ia berhasil sembuh.

Segalanya bermula dari  seseorang yang menghubunginya dan mengaku memiliki bukti-bukti perihal penerimaan suap yang dilakukan oleh seorang hakim di Florida. Jumlahnya fantastis hingga bisa dianggap sebagai korupsi terbesar dalam sejarah. 

Orang yang menghubungi Lacy,  Greg Myers adalah mantan pengacara yang mengaku mendapat informasi dari seorang  informan yang ingin namanya tetap anonim.  Mengingat siapa musuh yang dihadapi, sang informan merasa hal itu sangat perlu dilakukan.

Siapa pun harus waspada jika berurusan dengan organisasi  yang dikenal sebagai Mafia Pantai, pemilik kasino besar yang berada di tanah milik Penduduk Asli Amerika. Mereka tak segan berbuat kasar guna memastikan kasino tetap beroperasi dengan lancar.

Suka atau tidak, kasino itu memberikan pemasukan yang tak sedikit. Penduduk Asli mendapatkan bagian dari operasionalnya. Belum lagi pihak-pihak yang memanfaatkan kasino dengan cara "merekayasa pembukuan". 

Meski enggan, pihak Lacy harus bekerja sama dengan FIB guna menyelesaikan kasus tersebut. Karena ternyata ada kasus pembunuhan yang terkait dengan sang hakim dan kasino.

Bahaya tidak saja mengancam  sang informan, Lacy serta seluruh pengacara yang tergabung dalam DKEY, namun juga para pelaku kejahatan bagian dari Mafia Pantai.  Tiap orang yang terlibat, juga menjadi ancaman bagi yang lainnya. 

Ada peraturan mendasar yang berlaku di sana. Misalnya mereka harus melakukan apa yang diperintahkan, selalu tutup mulut, hanya percaya pada orang yang berada dalam jajaran atas, dan terutama jangan coba-coba untuk berkhianat. Dampaknya  tak hanya pada diri sendiri tapi juga pada keluarga. Pelik!

Jadi bayangkan bagaimana upaya yang harus  FBI lakukan untuk bisa memaksa anggota mafia buka mulut. Ada yang dengan suka rela "bernyanyi" demi keringanan hukuman dan kehidupan baru melalu programperlindungan saksi. Ada yang memilih  tetap bungkam.

Bagian yang  mengisahkan bagaimana sang hakim terduga tindak  korupsi  mengamankan uangnya lumayan cerdik. Ia menutupi jejak dengan membelanjakan uang yang ia terima untuk  aneka perhiasan,  novel-novel terkenal edisi pertama yang menjadi langka seiring waktu, kristal kuno, serta lukisan kontemporer.

Hem... saya jadi berhayal. Jika ini kisah nyata, sang hakim bisa jadi membeli versi pertama buku Little Women yang menyentuh angka sekian puluh juta Rupiah di salah satu situs dagang daring.

Ia juga pandai bersikap. Jika berada diantara rekan kerja, maka ia akan mempergunakan busana yang bisa saja. Tapi ada kalanya ia tergoda untuk memamerkan koleksi pakaian dan perhiasan indahnya.

Guna menghindari kecurigaan, sang hakim membatasi hubungan dengan staf.  Setiap 18 bulan, ia akan mengganti sekretarisnya. Hanya satu orang yang bisa dikatakan bekerja cukup lama dengannya. Dan nyawa orang tersebut juga berada dalam bahaya.

Menghubungi informan yang anonim butuh kesabaran. Lacy  sangat menghargai waktu karena ia adalah seorang pengacara. Dilain sisi, ia juga belajar bersabar dalam tugas penyelidikan. 

Meski sekedar bumbu, tokoh kita, Lacy mendapat bagian porsi romantis walau tak banyak. Cukup  untuk membuat kisah menjadi lebih hidup saja. walau bagaimana juga, Lacy merupakan sosok wanita muda yang menarik.

Sebenarnya saya sudah lama ingin membeli buku ini, selain memang menyukai karya penulis yang satu ini, tukang ngeditnya adalah salah satu sahabat saya dalam dunia literasi.  jadi kangen saat siaran berdua beberapa waktu lalu.

Namun, setelah membaca hingga 100-an halaman, saya merasa kehilangan semangat untuk menuntaskan membaca buku ini. Pastinya buku ini tidak seperti harapan saya, yang menduga  bakalan banyak adegan  pertemuan rahasia antara Lacy dengan  si informan.

Kemudian pertemuan itu banyak menimbulkan kejadian menegangkan. Tidak hanya soal kecelakaan Lacy, pembobolan rumah, serta upaya pembunuhan. Tapi juga ada hal-hal menegangkan lainnya, meski tak perlu seseru ala Don Brown.

Intinya, saya merindukan unsur dramatis serta cara bercerita yang tak bertele-tele. Bagi saya, cara penulisan John Grisham telah mengalami perubahan sejak awal saya membaca kisahnya dulu.

Peran Lacy juga seakan sebagai pembuka langkah pengungkapan kasus semata. Setelah itu, biarkan urusan ditangani oleh pihak lain, walau harus diakui lebih kompeten. Dalam hal ini FBI.

Keluarga Hugo yang digambarkan sebagai keluarga besar  dengan anak bayi yang sering menangis tak terkendalikan, agak mengganggu saya. Apalagi sampai meminta bantuan  Lacy untuk ikut menjaga bayi ditengah malam. 

Mulailah cocoklogi berdasarkan hal yang diyakini oleh masyarakat kita.  Biasanya akan ada sesuatu dengan orang tua, begitu yang sering saya dengar. Saya sok tahu dengan menerka bakalan terjadi pada dengan Hugo atau istrinya.

Walau rasanya lucu juga, mana mungkin seorang  John Grisham yang tinggal di Amerika juga percaya hal tersebut. Dan saya menemukan jawabannya di halaman 140-an. Ternyata begitu maknanya. Baca ya biar tahu he he he.

Saya bingung membaca kalimat di halaman 345,  "Ia dan  Phyllis bisa berkeliling dunia daam perjalanan yang mewah sambil menertawakan orang-orang Indian itu." Apakah masudnya, "Ia  dan  Phyllis bisa berkeliling dunia dalam perjalanan yang mewah sambil menertawakan orang-orang Indian itu." 

Oh ya, saya jadi penasaran dengan yang disebut dengan UU RICO dalam kisah ini. Dalam https://www.greelane.com, disebutkan, "Sebagai bagian penting dari Undang-Undang Pengendalian Kejahatan Terorganisir , yang ditandatangani menjadi undang-undang oleh Presiden Richard Nixon pada tanggal 15 Oktober 1970, Undang-Undang RICO memungkinkan jaksa untuk menuntut hukuman pidana dan perdata yang lebih berat untuk tindakan yang dilakukan atas nama organisasi kriminal yang sedang berlangsung — the raket. Meskipun digunakan terutama selama tahun 1970-an untuk menuntut anggota Mafia, hukuman RICO sekarang lebih banyak dijatuhkan."

Disebutkan juga, "Akhirnya, orang-orang yang dihukum karena kejahatan RICO Act harus menyerahkan kepada pemerintah setiap dan semua hasil atau properti yang diperoleh sebagai akibat dari kejahatan tersebut, serta kepentingan atau properti yang mungkin mereka miliki dalam perusahaan kriminal." 

Saya jadi memikirkan bagaimana nasib buku-buku edisi pertama yang selama ini dimiliki si hakim. Apakah dijadikan barang sitaan dan disimpan sebagai barang bukti saja. Atau apakah dimanfaatkan disumbangkan ke perpustakaan. Informasi lengkapnya bisa dibaca di sini

Lumayan dapat tambahan ilmu. Walau hanya bintang 3, setidaknya saya sudah membaca karya penulis favorit saya ini he he he.

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com


Tidak ada komentar:

Posting Komentar