Senin, 27 April 2020

2020 #19: Jakarta Ketika Saat Itu


Judul: Djakarta Dewasa Ini
Halaman: 295
Tahun Terbit: 1957
Penerbit: Djawatan Penerangan Kota Praja Djakarta Raya
Rating:3/5

Indonesia sedang berjuang melawan Covid-19. Banyak yang bisa kita lakukan untuk membantu. Cara yang paling  adalah dengan diam di rumah. 

Dengan diam di rumah maka Anda membatasi interaksi dengan orang lain, hal ini akan memutus mata rantai penyebaran virus. Mudah bukan? Hanya diam di rumah saja saja telah berbuat sesuatu bagi bangsa tercinta.

Kita harus pandai mensiasati keadaan hingga tidak merasa jenuh di rumah. Bagi saya penggila buku, cara yang paling budah adalah membereskan rak buku dan membabat habis timbunan yang selama ini hanya dipandang saja he he he.

Maklum, sebagai penganut Hukum Kekekalan Timbunan, yang utama adalah timbun dulu, baca kemudin. Saat ini menjadi waktu  yang tepat untuk mulai babat timbunan. Sekaligus  menatanya dalam rak.Tak sengaja, saya menemukan ini. Sepertinya menggoda, mari kita baca.

Saya agak ragu, ini majalah atau buku? Melihat isinya yang banyak memuat aneka iklan, layak disebut majalah. Namun melihat artikel yang ada lalu melihat tulisan  Isi Buku, bisa jadi ini adalah buku.

Sementara kita anggap saja ini adalah buku yang dicetak dengan mengandalkan banyak iklan untuk menutupi biaya cetak. Bukankah sekarang saja banyak buku seperti itu? Kita sebut buku saja kalau begitu.

Ternyata pada Kata Pengantar, penasaran saya terjawab. "....Dan achirnya kepada para pemasang iklan tidak lupa pula kami haturkan terima kasih." Pantas, banyak sekali iklan yang ada. Iklan yang ada begitu beragam, ada iklan tentang kantor lelang, pabrik roti, bank, pabrik kapal,  hotel, perusahan import-export, dan banyak lagi. Ukurannya juga beragam dari satu halaman penuh hingga 1/4 halaman.

Secara garis besar, buku ini berisi tentang aneka informasi mengenai  Jakarta sebagai Ibukota negara. Disajikan dalam bentuk  8 artikel utama yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris. Upaya melakukan alih bahasa artikel merupakan hal yang patut diacungi jempol. Hal ini bermanfaat guna mengenalkan keberadaan Jakarta bagi warga asing.

Tata letak yang kurang tepat membuat saya mengira tak semua artikel diterjemahkan. Susunannya semua artikel dalam bahasa Indonesia dahulu, baru terjemahan dalam bahasa Inggris. Namun ternyata setelah artikel Sedjarah Ringkas,  langsung diletakkan artilel versi bahasa Inggrisnya, History.

Upaya melakukan alih bahasa artikel merupakan hal yang patut diacungi jempol. Hal ini bermanfaat guna mengenalkan keberadaan Jakarta bagi warga asing, apalagi ketika buku ini terbit pada tahun 1957, situasi Indonesia belum seperti saat ini. Sayangnya, ilustrasi berupa foto yang ada dalam artikel bahasa Indonesia tidak ditemukan dalam versi alih bahasanya. Demikian juga sebaliknya.


Pada   bagian buku, terdapat  informasi alamat-alamat  yang dianggap perlu diketahui oleh masyarakat luas. Misalnya alamat Menteri Kabinet XVIII, Kelurahan, Perwakilan Luar Negeri, Organisasi Pedjuang Daerah, Bank, hingga Toko Keriting  Rambut dan Perusahaan Bunga, dan masih banyak lagi. Bahkan ada nama, alamat dan serta nomor telepon wartawan perwakilan kantor berita asing.

Pada artikel pendidikan, diuraikan mengenai jumlah sekolah yang ada di Jakarta saat itu. Sekolah rakyat (baik negeri atau swasta-disebut partikelur dalam buku ini) jumlahnya bertambah dengan signifikan, naik nyaris  3 kali lipat sejak zaman  penjajahan Belanda.

Disebutkan juga mengenai minat yang tinggi untuk memasuki perguruan tinggi. Hal ini membuat bermunculan berbagai perguruan tinggi dan akademi swasta yang diakui oleh pemerintah.  Demikian juga kementrian yang mengadakan akademi, jumlahnya lumayan banyak.

Sedangkan pada bagian Sedjarah Singkat, pembaca akan diingatkan  mengenai asal mula kota Jakarta. Dimulai dari nama Sunda Kelapa aebagai pelabuhan Kerajaan Padjajaran, Djajakarta,  kedatangan Jan Pieterzoon Coen,  diadakannya trem asap pada tahun 1818, pembentukan Sekolah Tinggi Kehakiman tahun 1924, Stovia pada tahun 1927, hingga  pembacaan proklamasi tahun 1945.

Dimulai dengan tiga  iklan satu  penuh, lalu gambar pohon kelapa di pinggir pantai, pembaca akan diajak menyelusuri Jakarta dalam arti yang berbeda dengan kondisi saat ini. Bagi mereka yang lahir sesudah tahun 1957, ini bisa menjadi informasi yang berguna. 

Bahkan jika kita perhatikan iklan yang ada secara seksama, kita bisa mendapat gambaran mengenai kondisi sosial pada saat itu. Apa usaha yang sedang berjalan, kebutuhan masyarakat, hingga  bagaimana iklan yang menarik saat itu.


Harap dimaklumi, karena buku ini dicetak dengan dana dari pemasangan iklan, maka sangatlah wajar jika lebih banyak iklan dari pada artikel yang ada dalam buku ini. 

Oh ya, saya juga menemukan beberapa gambar sebagai pemantas. Misalnya gambar Kampus FKUI di Salemba, Danau Lembang, kebun nanas dan jeruk di Pasar Minggu, serba beberapa foto menarik lagi.

Melihat tulisan Perpustakaan Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya pada kover, saya merasa agak heran kenapa buku ini bisa berada dalam timbunan saya. Sebenarnya berada dalam timbunan hasil IRF yang diselenggarakan oleh Goodreads Indonesia beberapa tahun lalu. 

Dugaan saya, buku ini dianggap majalah lalu tak ada yang ingin mengadopsinya. Akhirnya buku ini terdampar ditimbunan buku yang saya bawa pulang. Pada akhir kegiatan, buku-buku yang tersisa di meja bookswap memang disumbangkan pada beberapa taman bacaan. Entah  bagaimana ini bisa berada dalam timbunan saya.

Anggap sajalah memang jodohnya  buku ini ada pada saya.












Tidak ada komentar:

Posting Komentar