Senin, 18 Desember 2017

2017#57: Jenang Bukan Dodol Ala Djoeroe Masak

Judul asli:Djoeroe Masak:Jenang Bukan Dodol #1
Penulis: Dyah Prameswarie
Editor: Ferrial Pondrafi
Desain sampul dan isi: Dian Nurwendah
Ilustrasi cover: Enrica Rinintya
ISBN: 9786029251388
Halaman: 148
Cetakan: Pertama-Juni 2017
Penerbit: Metamind
Harga: Rp 47.000
Rating: 3.5/5

Sering kali saya katakan bahwa sebuah buku kadang  berjodoh dengan pembacanya dengan cara yang unik. Salah satunya buku ini. Semula saya hanya ingin mencari sebuah buku tipis guna mengatasi kejenuhan membaca. Mungkin  berkesan aneh tapi begitulah adanya. Hiburan saya adalah membaca, namun ada kalanya rasa jenuh menghampiri, terutama jika buku yang bisa dibaca mengusung tema sejenis.

Daya tarik buku ini selain halamannya yang sedikit, ada pada kalimat "Jenang bukan dodol." Sebagai seseorang yang kurang paham (baiklah, tidak paham sama sekali) perihal masak-memasak, merupakan hal baru mengetahui keduanya merupakan jenis panganan yang berbeda. Kalimat tersebut membuat saya merasa mendapat sebuah pengetahuan baru, sebuah manfaat dari membaca.

Membaca blurb, saya menemukan kata "Fiksi Kuliner" Sebuah jenis kisah yang agak jarang ada. Makin membuat rasa penasaran. Mari kita coba "nikmati" racikan kata-kata dalam buku ini, apakah seindah tampilannya.

Begitu membuka halaman pertama, pembaca sudah disuguhi dengan gambar aneka alat memasak dengan latar belakang halaman serupa dengan kover. Sepertinya ini ada di setiap buku. Ilustrasi ini seakan menguatkan bahwa buku yang sedang dibaca berkisah seputar kuliner.

Makin terasa aura kuliner ketika memandang bagian yang memuat nomor halaman. Pada satu halaman diberi hiasan cantik berupa sendok, sementara pada  halaman lainnya diberi ilustrasi garpu. Keduanya diletakkan secara bergantian.

Secara garis besar, ceritanya bisa dikatakan biasa saja, ala kisah FTV (maksudnya para tokoh dibuat jatuh cinta dalam waktu dekat, sedikit konflik, diakhiri dengan bahagia). Tapi yang menarik adalah bagaimana penulis menjalinnya menjadi sebuah untaian kalimat yang enak dibaca. Plus membuat pembaca mendapat manfaat dari membaca kisah ini.

Seorang chef muda bernama Aidan mendapat pukulan keras dari para kritikus makanan karena gagal menyajikan jajanan tradisional saat pembukaan restorannya. Disaat  malu dan putus asa, Aidan menemukan cara membuat jajan tradisional di pasar  Yogyakarta. Semula ia hanya tertarik melihat aneka jenang yang ada di lapak Ibuk dan Sedayu.

Bahan-bahan Nagasari Versi Buku Ini
Aidan untuk pertama kalinya tahu bahwa candil juga termasuk jenang, Dan jenang berbeda dengan dodol (saya juga baru tahu!). Bagian selanjutnya yang menurut saya membuat kisah ini menjadi ala FTV. Ibuk, sang pemilik lapak jenang langsung setuju mengajari Aidan membuat aneka jenang atas dasar kasihan mendengar kisahnya.  

Ibuk bahkan menutup lapaknya hari itu khusus untuk bisa memberikan pelajaran memasak bagi Aidan. Padahal sekian lama berjualan, ibuk jarang tidak berjualan. Mau tak mau saya jadi merasa begitu istimewanya sosok Aidan bagi Ibuk. Walau memang masyarakat Yogyakarta dikenal suka menolong.

Selama proses belajar, Aidan menjadi dekat dengan Sedayu. Dalam waku satu minggu benih cinta mulai tumbuh diantara keduanya. Cinta memang begitu bukan? Datang dan pergi tanpa ada yang mengundang dan mampu menghindari. Urusan belajar memasak makin membuat Aidan bersemangat.

Ditengah kisah, konflik mulai muncul. Aidan mendadak meninggalkan Yogyakarta, meninggalkan Sedayu dan Ibuk begitu mendapat telepon dari seorang gadis bernama Alisha. Dalam pengamatan Sedayu, sepertinya tak pernah Aidan menolak telepon dari Alisha, kapan saja ia menelepon Aidan pasti akan menyambut dengan gembira. Sedayu diam-diam penasaran dengan sosok Alisha. Percik-percik cemburu mulai muncul.

Konflik utama muncul pada bagian akhir kisah. Aidan menemukan orang yang berada dibalik kekacauan pembukaan restorannya. Ternyata musuh utama bisa saja orang yang berada paling dekat dan paling kita percayai. Aidan mengajukan tantangan untuk adu memasak. Harga dirinya dipertaruhkan!
Bagian ini mengingatkan saya pada beberapa program memasak yang ditayangkan di televisi, misalnya Iron Chef. Untungnya sosok yang menjadi juri digambarkan melakukan penilaian dengan cukup adil. Tak dibuat ia begitu memuji Aidan, ada  masakan yang juga mendapat kritik. Pas rasanya.

Akhir kisah bisa ditebak, Aidan menang, Sedayu bersedia menjadi kekasihnya, sang ayah yang sempat kecewa berbalik mendukung dan  mengakui kehebatan Aidan dalam memasak. Pihak yang semula bertindak jahat mengakui kekalahannya. Akhir yang berbahagia bukan? Eh belum tentu, nanti kisahnya tamat dong ^_^.

Sempat juga merasa harusnya konflik dibuat lebih sedikit panjang sehingga lebih terasa unsur roman. Tapi kalau terlalu panjang bisa batal saya membeli buku he he he.  Hanya sepertinya porsi yang berisi resep masakan (diberi judul Menu dalam buku ini)  lumayan banyak juga, dari halaman 102-141. Sementara untuk bagian yang berisi kisah mendapat porsi sisanya. Paham maksud saya? Harusnya porsi yang berisi resep bisa dikurangi karena ini adalah novel bukan buku masakan.
Cara Membuat Nagasari Dalam Buku ini
Bagian awal yang diberi judul "Sepincuk Jenang Dari Penulis" justru lebih menarik bagi saya. Selain isinya menguraikan tentang proses kreatif penulisan buku ini, mulai dari awal ide muncul, pemilihan menu hingga ilustrator yang dipilih guna mensukseskan buku ini. Pilihan yang tepat! Penulis juga terbuka menceritakan bagaimana ia mendapatkan ide kisah.

Tapi buku ini memang banyak memberikan pengetahuan seputar kuliner bagi saya. Misanya bagaimana cara memasak santan yang benar, bagaimana membuat bumbu untuk mie godok. Saya yang tak bisa memasak jadi merasa tergugah untuk mencoba membuatnya. Buku ini mampu membuat pembaca merasa memasak adalah hal yang mudah.  Apa lagi aneka resep yang ada dibuat ala infografis, makin menambah nilai menarik.

Suasana pasar dimana Sedayu dan Aidan berbelanja, juga dapur dimana Ibuk menemani mereka belajar memasak digambarkan dengan sangat manis. Saya seakan menjadi orang ketiga diantara mereka. Ikut berbelanja ke pasar, dan menikmati saat menunggu pesanan.

Oh ya, saya juga mendapat jawaban rasa penasaran saya akan kalimat "Jenang bukan dodol." Bedanya memang sedikit, jenang lebih lembek, basah dan berminyak dibandingkan dodol. Dodol memang lebih keras dan kesat sehingga bisa dibungkus dengan kertas roti atau plastik.

Kalimat yang layak dikutip dalam buku ini adalah, " Fiksi kuliner adalah soal kisah di balik itu semua. Memadukan rasa dan tulisan menjadi sesuatu yang nyaman dibaca adalah tugas berat."

Lanjut borong buku selanjutnya ah....

Sumber Gambar:
Buku Djoeroe Masak:Jenang Bukan Dodol #1







Tidak ada komentar:

Posting Komentar