Rabu, 19 Februari 2014

Review 2014 #10: Beyonders #2 Seeds of Rebellion


Penulis: Brandon Mull

Penerjemah: Reni Indardini
Penyunting: Tendy Yulianes
Penyelaras Aksara: Fakhri Fauzi
Penata Aksara: Axin Makruf
Desain Kover: V Indra Suriantoso
ISBN: 978-979-433-741-7
Halaman: 676
Penerbit: Mizan Fantasi
Harga: Rp 79.000


Dua misi. Galloran harus mengagitasi Trensicourt. Kaum Amar Kabal harus turut menyertainya, begitu pula para drinling. Bersama-sama. rakyat merdeka di sepenjuru Lyrian harus melakukan mars menuju Felrook musim semi mendatang. Pasukan yang kalian kerahkan masih belum cukup, tapi Felrook harus ditumbangkan. 


Jason Walker harus ....

Jason memang telah kembali ke dunianya. Setelah dianggap hilang selama empat bulan, mendadak ia menghubungi orang tuanya dari sebuah peternakan di   Iowa. Dengan suka cita keduanya bergegas menjemput Jason. Dengan asuransi kesehatan lengkap yang dimiliki sang ayah aneka test dijalankan guna mengetahui kondisi jason. Gegar otak hingga tidak ingat apa-apa merupakan alasan yang dipergunakan Jason guna menutupi "hilangnya" selama ini.


Meski sudah berada tempat asalnya, Jason masih teringat akan sahabatnya sesama "Orang Luar" di Lyrian Rachel. Satu-satunya bukti tentang Lyrian adalah pergelangan tangan milik Feerin yang tepenggal. Melalui pergelangan tangan itu Jason berhubungan dengan Ferrin yang berada di Lyrian. Lelet tapi bermanfaat.


Setia kawan mungkin kata yang pas untuk menggambarkan bagaimana perasaan Jason terhadap Rachel. Alih-alih menikmati kehidupan di dunianya, Jason sibuk mencari cara untuk bisa kembali ke Lyrian dan membawa Rachel kembali ke keluarganya. Sebuah cita-cita mulia ala super hero. Plus menepati janjinya untuk tidak meninggalkan Rachel sendirian di sana. Jason seakan terobsesi mencari jalan kembali ke Lyrian. Sungguh ironi, saat berada di Lyrian Jason justru sangat bersemangat mencari jalan kembali ke dunianya.


Petualangan Jason di Lyrian kali ini lebih menegangkan dari sebelumnya. Bersama Rachel, Galloran dan yang lainnya mereka terus berusaha untuk mencari sekutu guna mengalahkan musuh utama mereka. Tempat yang harus mereka datangi bukanlah tempat yang menarik. 


Rachel misalnya, ia akan menyebut Negeri Terbenam sebagai tempat yang tidak ingin dikunjunginya lagi.  Hanya makhluk beracun, penyakitan, menjijikan, dan berbahaya yang bermukim di keremangan tempat itu. Termasuk lendir predator, serangga besar, ular gesit dan katak raksasa.


Seiring waktu, banyak hal mengejutkan yang terjadi. Jason yang kian mahir memainkan pedang, bantuan dari pihak yang tak terduga, Rachel yang ternyata memiliki bakat terpendam hingga penemuan sumber kekuatan yang bisa membantu meraih kemenangan. Seru dan menegangkan.


Dibandingkan kisah pada buku pertama jelas kisah dalam buku kedua ini lebih seru. Seperti pada umumnya kisah yang terdiri dari beberapa bagian, bagian awal biasanya meninggalkan tanda tanya dalam benak pembacanya. Banyak hal yang belum jelas bagaimana seharusnya terjadi atau apakah betul begitu kejadiannya. 


Karakter Jason dan Rachel sebagai tokoh utama terlihat mendapat porsi yang lumayan besar dibandingkan yang lain. Keduanya juga digambarkan mengalami perkembangan kemampuan dan kepribadian yang cukup signifikan dalam upaya menggulingkan penguasa yang kejam, Maldor. Urusan hati diantara keduanya juga sedikit disinggung oleh penulis. Tapi apakah kelak Jason akan menambatkan kasihnya pada Rachel ataukah kedekatan keduanya karena sama-sama merasa senasib dari dunia lain, masih terlalu dini untuk ditebak. Tapi bisa disebutkan bahwa kedekatan Jason dengan putri si Galloran sedikit mengganggu perasaan Rachel walau ia sendiri bersahabat dengan Corinner.


Selain itu, beberapa kisah diciptakan Brandon Mull mirip dengan kondisi di dunia kita. Misalnya kisah tentang  Cacing Goma. Cacing Goma khusus menyerang manusia, terutama mengisap darah manusia sebagai santapan utama, walau darah segar hewan juga bisa dijadikan sebagai nutrisi. Cacing tersebut akan beranak pinak dan menghabiskan darah inangnya dalam dua hari. Saat seluruh darah habis maka cacing itu akan menguasai tubuh inangnya dan menularkan hasrat pada darah. Itu yang menyebabkan banyak mayat hidup di Kerajaan Terlaknat. Masalahnya  tak semua orang bisa menguasai hasrat haus akan darah manusia. hal itu yang menyebabkan  penyakit tersebut cepat menular. 


Kisah tersebut sekilas mirip tentang suatu virus atau bot terbang pemakan daging manusia. Informasi lebih lengkap bisa dilihat di http://www.tempo.co/read/news/2013/01/11/121453663/Daging-Pasangan-Ini-Digerogoti-Parasit-Amazon atau http://www.tempo.co/read/news/2012/03/06/116388362/Wajah-Lelaki-Ini-Dimakan-Parasit. 


Dari sekian banyak yang mengikuti petualangan Jason dan Rachel saya paling suka  sosok Manusia Benih. Mereka bisa hidup kembali jika Amar mereka tidak rusak dan ditanam di tanah yang subur. Amar tersebut letaknya di tengkuk biasanya dirurupi oleh rambut demi keamanan. Jika amar mereka tidak tumbuh sempurna maka kehidupan yang akan berlangsung merupakan kehidupan terakhir mereka. Sayangnya tidak dijelaskan bagaimana mereka berkembang, tentunya kian menjadi kisah yang seru. Atau ingatan saya yang mulai berkurang kisah tentang bagaimana mereka bisa hidup dan berkembang ada di buku pertama. 

 
Secara umum kisah dalam buku ini memang menawan. Pada beberapa bagian saya merasa kurang mengerti kalimat yang dimaksud oleh si penerjemah. Agak membingungkan hingga perlu dikaji ulang maknanya. Misalnya kalimat, "Lilin-lilin yang setengah meleleh menerangi aneka ukiran kuno sebagian." Saya memang sangat awam soal penerjemahan tapi bukankah kalimat tersebut akan lebih enak jika menjadi, "Lilin-lilin yang setengah meleleh menerangi sebagian aneka ukiran kuno." Sekedar saran dari sisi pembaca.
Tapi saya juga menikmati alih bahasa mengenai aneka macam makluk dan tempat yang berada di Lyrian. 

Untuk kover, penerbit sepertinya sengaja membuat berbeda dengan kover aslinya. Kover yang sekarang seakan bercerita bahwa buku ini mengisahkan bagian dimana para tokoh sedang bersiap-siap menghadapi pertempuran besar. Warna cerah yang mendominasi buku ini membuat yang nelihat makin tergoda membacanya.


Biasanya penerbit juga memberikan alih bahasa seputar judul buku, Namun kali ini judul tetap ditulis apa adanya. Padahal jika diterjemahkan secara harafiah  Seeds of Rebellion bisa bermakna semangat pemberontakan.Judul yang cukup seru.


Saya sedikit penasaran pada kalimat di halaman 462. Disebutkan tentang Kel Jerud, penyihir yang bereputasi jelek. Ia membangun menaranya di sana dan disebut Benara Hitam. Sekedar penasaran saja, biasanya jika menamakan sebuah menara maka akan disebut Menara Hitam. Agak janggal saja Benara Hitam.  Apakah kesalahan ketik atau memang penamaannya adalah Benara Hitam bukannya Menara Hitam. 

Konon buku ini diperuntukan untuk anak-anak berusia delapan tahun lebih dengan bimbingan orang tua mengingat ada beberapa adegan kekerasan. Tentunya tidak ada larangan jika ada orang dewasa yang ikut membaca. Betapa beruntungnya anak-anak yang mendapat kesempatan menikmati seri ini. Imajinasi mereka berkembang seiring dengan perkembangan kisah ini.


Sumber gambar:
http://ramblingsofawannabescribe.blogspot.com/2012/02/marvelous-middle-grade-monday-seeds-of.html

Minggu, 16 Februari 2014

Review 2014 #9: Jalan-jalan ke Lombok-Sumbawa Yuk!!!!!

Judul Asli: Uniquely Lombok-Sumbawa
Pengarang:  Gagas Ulung
ISBN:  9789792287264
Halaman: 270
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 98.000 


Sudah berapa negara yang anda kunjungi?
Semua bisa menyebutkan dengan mudah dan dengan rasa bangga karena sudah beberapa kali ke luar negeri. Tapi jika ditanya sudah berapa provinsi, kota atau pulau di tanah air yang sudah dikunjungi? Tidak semua orang bisa menjawab dengan cepat.

 Begitulah bangsa kita. Mewujudkan cinta tanah air sepertinya masih jauh dari harapan. Apa lagi jika kita menilik harga tiket pesawat. Harga tiket pesawat ke Singapore pergi pulang tidak sampai Rp 1.000.000 per orang sementara tiket ke Padang pergi pulang lebih dari Rp 1.000.0000 per orang. Ironi bukan, padahal di tanah air sendiri banyak lokasi yang menawan untuk dikunjungi.

Salah satu pulau yang layak kita kunjungi adalah Pulau Lombok dan Sumba. Pulau Lombok adalah sebuah pulau di kepulauan Nusa Tenggara yang terpisahkan oleh Selat Lombok dan Selat Alas. Pulau berbentuk yang menduduki peringkat 108 dalam daftar pulau berdasarkan luas memiliki bentuk seperti ekor dengan panjang kurang dari 70 km dengan luas 5.435 km2. Bahasa yang dipergunakan oleh penduduk setempat adalah Bahasa Sasak, selain bahasa nasional.

Pulau Sumbawa merupakan pulau yang terletak di provinsi Nusa Tenggara Barat dengan luas 14.386 km2.  Pulau ini dibatasi oleh Selat Alas yang memisahkan dengan Pulau Lombok serta Selat Sape Kota terbesarnya adalah Bima yang berada di bagian timur pulau ini.

Buku ini memuat sekitar 125 tujuan wisata berupa alam, kerajinan, kuliner serta informasi mengenai penginapan di kedua lokasi tersebut. Perlu diingat, harga yang tertera adalah harga yang berlaku sekitar tahun 2012. Perlu disiapkan dana lebih mengantisipasi kenaikan harga saat ini.

Di Pulau lombok ada sebuah minuman yang cukup digemari  terutama oleh turis asing. Namanya Bloody Sexy. Konon cerita dari yang sudah pernah mencicipi, ia melihat orang lain seperti binatang dan lingkungan sekitar seakan berubah dimensinya. Efeknya seakan melihat dunia lain. Minuman seharga Rp 100.000 per gelas ini hanya bisa ditemui di 3 Gili. Dibuat dari jamur kotoran sapi yang dihaluskan lalu dicampur dengan minuman lain seperti sprite atau krating daeng dan diberi buah. Bisa juga ditaburkan dalam makanan. OK saya jelas menolak mencoba minuman ini! Terutama sekali karena terbuat dari jamur kotoran sapi yekkkk.

Toko oleh-oleh Phoenix merupakan toko termurah yang menjajakan dodol rumput laut dengan aneka rasa,  Walau juga menjajakan panganan lainnya, tapi toko Phonix yang terletak di jalan Pejanggrik no 48C merupakan pusat dodol rumput laut, Jika ingin dikemas dalam dus, pembeli hanya perlu menambah Rp 3.000 per dus.

Bingung mau menginap dimana? Hotel Viktor 1& 2 di jalan Abimanyu No 1 Cakranegara milik Wayan Sidemen bisa dijadikan piihan. Lokasinya tidak sulit dijangkau hanya 15 menit dari bandara serta 5 menit dari Mal Mataram. Tarif yang dibedakan antara turis lokal dan asing juga sangat terjangkau. Untuk VIP bagi turis lokal hanya Rp 150.000/malam, standart AC sebesar Rp 100.000/malam sedangkan fan hanyaRp 80.000/malam. Harga termasuk sarapan pagi.

Jika hotel itu penuh, silahkan coba Hotel Arca di Jalan Garuda 4 Jeruk Manis Cakranegara milik Gusti Bagus Hari Sudana. Hotel dengan arsitektur gaya Bali ini hanya 10 menit dari Mal Mataram. Sebaiknya bergegas mengingat jumlah kamar yang tak terlalu banyak dan harga yang relatif murah. Untuk kamar dengan fasilitas AC hanya Rp 80.000/malam sedangkan dengan fan hanya Rp 60.000/malam plus sarapan. 


Desa Bayan berada sekitar 75 km dari Mataram. Butuh antara 3-4 jam dengan menyewa kendaraan  sekitar Rp 250.000/hari atau naik bus dari Terminal Mandalika menuju Desa Senaru dan dilanjutkan jalan kaki . Tak perlu takut lelah, pemandangan alam di kaki Gunng Rinjani yang dilalui menuju desa sangat membuai mata.

Kita bisa menemui rumah-rumah adat yang disebut bale. Bale dibangun dengan bahan dasar campuran kayu dan bambu. Lantainya tanah, dindingnya anyaman bambu dan atapnya alang-alang. Dalam rumah juga terbagi dalam beberpa bagian. Misalnya ada Inan Bale atau rumah induk yang berguna sebagai tempat menyimpan barang-barang pribadi dan juga merupakan wilayah khusus.

Sebagai desa dengan sebagai penduduknya memeluk Agama Islam, maka kita pastinya akan menemukan mesjid. Di sana terdapat Mesjid Bayan yang sudah ada sejak abad 17. Kita bisa membawa pulang miniature mesjid dengan harga Rp 250.000-Rp 500.000 per unit di Kios Petung Bayan.  Jika tertarik pada kain, maka kita bisa membeli kain tenun bermotif kotak-kotak. Alat tenun yang dipergunakan berupa kayu yang dioperasikan secara manual dengan tangan. Sepotong kain membutuhkan waktu sekitar satu minggu pekerjaan

Jangan sampai tidak mampir ke Situs Ai Renung. Di sana kita bsia menemukan sejumlah Sarkofagus. Sarkofagus  adalah salah satu peninggalan jaman megalithikum yang berfungsi sebagai keranda dari batu besar berbentuk lesung atau palung dengan tutup di atasnya. Fungsi sarkofagus pada jamannya adalah sebagai kubur batu atau dolmen.


Situs Ai Renung adalah situs pertama yang ditemukan di Kabupaten Sumbawa. Adalah Dinullah Rayes (Kabid Kebudayaan Kabupaten Sumbawa) dan Drs. Made Purusa (Balai Arkeologi Denpasar) yang berhasil menemukannya melalui penelitian pada tahun 1971. Pada penelitian pertama mereka hanya menemukan 3 buah sarkofagus atau kubur batu. Sedangkan pada penelitian selanjutnya ditemukan jenis yang sama hingga akhirnya kini terkumpul total 7 sarkofagus.(lombok.panduanwisata.com)

Buku ini memuat banyak hal lain seputar Pulau Lombok dan Sumbawa.  Informasi yang diberikan sangat membantu jika ingin merancang liburan. Baik dari sisi waktu, lokasi dan keuangan pastinya. Semua informasi tertera dalam buku ini.

Saya sebenarnya bukan penggemar buku travelling & backpacking. Tapi saat melihat aneka foto dan informasi yang disajikan dengan sangat akurat, saya jadi tergoda untuk membeli buku ini. Beberapa lokasi yang diceritakan dalam buku ini mampu membuat saya tergoda untuk berkunjung. 

Bagi saya. penulis telah berhasil menghasilkan sebuah buku travelling & backpacking. Tidak saja karena informasi yang disajikan sungguh lengkap dan mudah dipahami tapi juga mampu membuat seseorang, dalam kasus ini diri saya sendiri tergoda untuk membeli dan mendatangi beberapa lokasi yang tertera dalam buku ini. Terutama sekali karena mengetahui betapa mudah dan murahnya akomodasi dibanyak lokasi pariwisata. Soal urusan tiket memang bisa disiasati dengan membeli saat promo atau jauh hari. Tapi jika tidak tahu harus tinggal dimana serta berapa biaya yang dikeluarkan tentunya kita tidak bsia merancang liburan dengan maksimal. Mau bagaimana lagi urusan akomodasi merupakan hal yang menjadi pertimbangan utama selain urusan tiket.

Selamat berlibur!


Sumber gambar:
http://travel.detik.com/readfoto/2011/08/16/113502/1517592/1026/1/desa-adat-bayan-di-lombok-utara
http://lombok.panduanwisata.com/files/2013/06/DSC011561.jpg

Jumat, 14 Februari 2014

Review 2014 #8: Misteri Kota yang Hilang


Penulis : Agustina Soebachman
Editor: Sadam Husein
Cover: Janur Kuning
ISBN: 978-602-7608-50-4
cetakan: Pertama, April 2013
Penerbit: Syura Media Utama (Jogja)


Acap Kali misteri memang bukan untuk diungkapkan

Bumi dimana kita berpijak memiliki banyak rahasia. Ada sungai yang mengalir di dalam laut, air asin dan tawar yang mengalir bersebelahan,  binatang yang mendadak punah bahkan letusan gunung merapi atau hujan es.  Banyak peristiwa yang telah terjadi. Salah satunya tentang kota yang hilang. 

Ada 45 kota yang hilang menurut buku ini. Beberapa kota berada dalam pengawasan PBB sebagai situs yang dilindungi. Banyak yang yang menyebabkan sebuah kota hilang. Secara garis besar dalam buku ini ada tiga hal utama yang menyebabkan sebua kota hilang atau ditinggalkan penduduknya, yaitu karena perang,  alam serta faktor ekonomi. Misalnya perang menyebabkan kota  Agdam (Azserbaijan),Gunkan Jima (Jepang), Old Sarum (Inggris) dan lainnya lenyap. Lalu  kondisi alam seperti kekeringan, longsor banjir menyebabkan beberapa kota seperti   Akrotiri (Yunani), Cliff Palace (Colorado), Craco (Italia), Varosha (Siprus) hilang. Bahkan ekonomi  dan politik juga  menjadi pemicu hilangnya sebuah kota seperti Angkor Wat (kamboja), San Zhi (Taiwan), Kadykchan (Rusia).

Kota-kota tersebut tersebar dari berbagai penjuru dunia. Ada Craco di Italia, El Dorado di Colombia, Akrotiri di Yunani, Vijayanagar di India, Xinjian di China dan masih banyak lagi. kota yang hilang itu belakangan peninggalannya ditemukan tidak saja di tempat dimana semula kota itu berada. Ada yang ditemukan di dasar laut, terkubur dalam debu gunung berapi atau berada di bawah runtuhan kota yang lain. Troy misalnya, kisahnya memang sungguh melegenda tapi tak banyak yang tahu bahwa kota tersebut dibangun di atas reruntuhan yang kesembilan. 

Guna menarik pembaca, penulis menuliskan tentang hal-hal yang perlu ditonjolkan di bawah nama kota. Misalnya GUNKAN JIMA (Jepang) lalu di bawahnya ditulis Pulau Perang Berhantu. Maksudnya untuk memberitahu pembaca bahwa jika mereka membaca kisah tentang kota Gunka Jima maka mereka akan menemukan juga kisah tentang 

Pulau tersebut sebenarnya bernama Pulau Hashima, panjangnya hanya sekitar 480 meter dan lebarnya 160 meter. Letaknya hanya  15 kilometer dari Kota Nagasaki. Karena dari jauh pulau ini terlihat seperti siluet sebuah kapal perang maka disebut Gunkan Jima.
Akibat bergesernya batu bara, maka tambang yang ada di pulau itu akhirnya ditutup. Penduduk dipaksa kembali ke kampung halamannya. Sempat disebut adanya aktivitas di pulau itu pada malam hari. Namun saat diselidiki tak ada apapun di pulau itu. Dari tahun 1974-2009 Pulau itu tertutup untuk umum. Tahun 2009 baru dibuka untuk wisatawan.

Kota Emas di Atas Awan atau Manchu Picchu di Peru ditemukan pada tahun 1911 oleh  arkeolog dari Universitas Yale,  Hiram Bingham III. Sejak tahun 1983 Situs ini menjadi salah satu dari Tujuh Keajaiban Dunia Baru.





Machu Picchu dibangun dengan gaya Inka kuno dengan batu tembok berpelitur. Bangunan utamanya adalah Intihuatana, Kuil Matahari, dan Ruangan Tiga Jendela. Tempat-tempat ini disebut sebagai Distrik Sakral dari Machu Picchu.

Ada teori lain yang menyebutkan bahwa Machu Picchu merupakan kota untuk mengontrol ekonomi daerah-daerah taklukan serta melindungi para bangsawan Inca. Machu Picchu ini bertingkat-tingkat, semakin tinggi tingkatannya, semakin tinggi tingkat kekuasaan orang yang menempatinya. Di puncak adalah tempat  para pendeta Inca mengadakan upacara menghormati matahari setiap harinya. terdapat juga  'intihuatana' (tempat tambatan matahari) yang berfungsi sebagai jam matahari. 

Para ahli berpendapat bahwa wabah cacar pada tahun 1527 yang menyebabkan lebih dari 50 persen populasi kota tersebut meninggal. Jatuhnya pemerintahan serta  perang saudara memperkeruh suasana. Saat  penakluk Spanyol Pizzaro tiba di Cuzco pada tahun 1532, Machu Picchu keburu menjadi kota hantu di atas awan. 


Saat ditemukan Pompei-Italia merupakan kota yang unik. Banyak lukisan, barang-barang kerajinan serta perlengkpan rumah tangga yang ditemukan seperti apa adanya seperti saat kota ini masih "hidup" 

Debu letusan gunung Vesuvius pada 79 M menyebabkan kota tersebut tertimbun debu lumayan tebal, hingga beberapa kaki. Butuh 1.600 tahun untuk menemukan kota ini kembali. Wajah korban yang ditemukan kebanyakan menunjukan ekspresi terkejut, menandakan betapa musibah datang begitu cepat dan sangat mengejutkan.

Karena berada di dekat gunung berapi, getaran kecil akibat gempa sudah dianggap hal biasa. Pada 5 Februari 62 terjadi sebuah gempa dasyat yang menimbulkan kerusakan. Saat gunung meletus, banyak kerusakan yang belum diperbaiki. Hal ini makin membuat parah situasi. Selama empat hari sebelum letusan yang mematikan  pada 24 Agustus, telah timbul getaran-getaran ringan. Namun tak ada yang menyadari pertanda tersebut.

Hasil penyelidikan  menyatakan bahwa Pompeii merupakan satu-satunya situs kota kuno di mana keseluruhan struktur topografinya dapat diketahui dengan pasti tanpa memerlukan modifikasi atau penambahan. Kota ini tidak dibagi sesuai dengan pola-pola kota Romawi pada umumnya dikarenakan permukaan tanah yang tidak datar. Kota ini berada di kaki gunung. Jalan-jalan di kota ini dibuat lurus dan berpola pada tradisi murni Romawi kuno, permukaan jalan terdiri dari batu-batu poligon dan memiliki bangunan-bangunan rumah dan toko-toko di kedua sisi jalan, mengikuti  Decumanus, jalan-jalan yang merentang dari timur ke barat, dan cardus jalan-jalan merentang dari utara ke selat


Kisah Para Penghuni Gua dari kota Efesus-Turki dalam buku ini menyebutkan tentang adanya sebuah perpustakaan besar yang didedikasikan untuk gubenur mereka, Celcus Polemeanus. Perpustakaan tersebut pernah mengalami masa sulit ketika Efesus diserang pada tahun 265 M. Perpustakaan tersebut dihancurkan.

Kota ini cukup unik dibandingkan  dengan kisah tentang kota yang lain dalam buku ini. Hingga sekarang kota ini masih bisa dikatakan "hidup." Banyak wisatawan yang berkunjung untuk menikmati bangunan-bangunan kuno yang telah mengalami renovasi.  Selain itu salah satu kisah yang dikaitkan dengan bukti arkeologis ialah perihal para penghuni gua (Ashabul Kahfi)

Perang selalu meninggalkan kenangan yang mengerikan.Tengok saja Kota Oradour Sul Glane di Perancis. Selama PD II, 642 penduduk dibantai dengan keji oleh SS Nazi Khusus sebagai bentuk pembalasan atas perlakuan Perancis. Sebenarnya sasaran adalah kota yang ada di dekat Oradour Sul Glane, entah mengapa justru pada 10 Juni 1944 justru kota itu yang diserang.

Berdasarkan kesaksian orang-orang yang selamat, penduduk pria dimasukan  dalam sebuah gudang lalu tentara Jerman menembaki kaki mereka sehingga akhirnya mereka mati secara pelan-pelan. Wanita dan anak-anak  dimasukan ke dalam gereja, tapi pada akhirnya mereka semua mati tertembak ketika berusaha keluar dari dalam gereja. 

Kondisi kota tersebut sangat mengenaskan. Bukti kekejaman Jerman bisa dijumpai sampai saat ini. Satuan SS Nazi khusus yang dibentuk terutama untuk mengadakan pembantaian tidak tanggung-tanggung dalam beraksi.

Masih banyak cerita tentang aneka kota yang bisa disimak dalam buku ini. Tapi jangan berharap bisa menemukan Atlantis sebagai kota yang hilang dalam buku ini. Penulis merasa sudah terlalu banyak referensi seputar Atlantis. Dari sekedar kisah hingga bukti penyelidikan ilmiah. Sementara referensi tentang kota-kota yang hilang lainnya termasuk minim. Karenanya ia merasa tidak perlu mencantumkan tentang Atlantis.

Jika ingin membaca karya yang lainnya silahkan mengunjungi http://agustinasoebachman.blogspot.com/2013_11_01_archive.html

Sumber gambar: http://commons.wikimedia.org/wiki/File:Peru_Machu_Picchu_Sunrise_2.jpg
http://mediakawasanonline.wordpress.com/category/yang-unik-unik/

















Minggu, 09 Februari 2014

Review Bersama 2014 #8: Lucid, Maggie atau Sloane?


Judul Asli : Lucid
Penulis: Adrienne Stoltz & Ron Bass
Alih Bahasa : Sujatrini Liza
Editor : Tendy Yulianes
Lay-out : Fakhri Fauzi & Axin Makruf
Ilustrasi isi : Rheza Purbawasesa
Desain sampul : Windu Budi
ISBN 978-979-433-774-5
Halaman: 502
Penerbit: Noura Books/Mizan Fantasi
Harga: Rp 64.000

Aku Sloane Margaret Jameson
Rambutku pirang
Siswa teladan di sekolah
Columbia University tujuangku selanjutnya
Aku menjalani kehidupan sederhana
di tengah keluarga sub-urban
Aku tidak pernah memukul apa lagi kenal Devin Cruishank
Kehilangan Bill merupakan pukulan bagiku 
Mesti  James mulai menghiasi hariku dengan cinta
Gordy , Lily dan Dana sebagai sahabat juga selalu mendukungku

Aku dipanggil  "Maggie"
Calon artis brilian dengan sejuta talenta
Mataku berwarna biru dan rambutku gelap
Glamor gaya hidup yang ku pilih
Aku hidup bersama adikku Jade serta Nicole
Ku pukul  Devin Cruishank
Belakangan aku sedang jatuh cinta pada  Andrew
Aku tak pernah tertidur pulas

Dengan kepribadian yang sangat bertolak belakang
Keduanya saling mengagumi
Saling memimpikan kehidupan yang lain

Tapi....
Hanya ada satu yang nyata
Hanya ada satu yang boleh terus ada

Siapa yang harus menghentikan mimpinya? 
Siapakah yang nyata bagimu?
Maggie atau Sloane?
Bagiku yang nyata adalah...


Buku ini berkisah tentang dua sosok yang memiliki kepribadian sangat bertolak belakang Sloane dan Maggie. Saat Sloane tertidur, ia akan memimpikan tentang aktivitas Maggie. Begitu juga sebaliknya. Tak jelas siapa yang memimpikam siapa, siapa yang nyata.Hanya jika salah satu menghentikan mimpinya dengan yang lain maka kehidupan tersebut akan lenyap. Jelas bukan, jika Sloane berhenti memimpikan kehidupan Maggie maka sama artinya kehidupan Maggie akan berhenti. Begitu juga sebaliknya.

Maggie sudah sering diingatkan untuk melupakan perihal Sloane. banyak hal yang dilakukannya dengan mengatasnamakan perbuatan Sloane. Saat kedapatan memukul salah satu teman misalnya, ia berkeras itu adalah tindakan Sloane. 

Awalnya sang Ibu, Nicole menganggap hanya khayalan anak-anak. Kelamaan mereka semua makin cemas akan celoteh Maggie tentang Sloane. Maggie merasa Sloane memasuki pikirannya saat ia terkantuk-kantuk atau tertidur pulas. Itu sebabnya ia jarang tertidur pulas. " Seperti biasa, Sloane berkedip-kedip melalui pikiranku saat aku terkantuk-kantuk. Aku memejamkan mata."

Sloane sendiri sangat takut ia harus pergi karena Maggie menghentikan mimpin tentang kehidupannya. Simak kalimat pada halaman 42, "Namun, ketakutanku yang terbesar dari semua ini adalah yang selalu kukatakan pada diriku sendiri takkan pernah terjadi. Yaitu, bahwa suatu malam Maggie akan tidur dan akulah yang pergi."

Kisah dalam buku ini disajikan secara bergantian antara sisi Maggie dan Sloane. Tak perlu repot membaca bagian siapa sekarang, hanya dengan melihat ilustrasi yang ada pada awal kisah kita bisa mengetahui ini bagian Sloane atau Maggie.

Kisah Sloane selalu dibuka dengan ilustrasi sebuah jendela yang menghadap sebuah kebun asri dengan sebuah pohon rindang tumbuh di pojok. Pagar kayu terlihat mengelilingi halaman tersebut. Korden yang ada terlihat sederhana dan diikat di sisi kanan jendela. Gambaran sederhana seperti Sloane.

Sementara pada bagian Maggie, yang terlihat adalah jendela yang menghadap ke aneka gedung bertingkat. Satu-satunya tanah yang ada adalah  pada pot bunga yang diletakan di sisi kanan jendela. Sementara korden terbagi dua sama rata di sisi jendela dan diberi kaitan menawan. Mewah dan elegan seperti layaknya Maggie.

Lucid Dream bisa dimaknai sebagai sebuah pengalaman di alam mimpi, di mana kita bisa mengontrol mimpi, merasakan hal-hal di dalamnya, terpenting tetap tersadar selama bermimpi. 

Perlu diperhatikan perbedaan dengan  mimpi biasa. Dalam Lucid seseorang benar-benar mengalami segala sesuatu secara sadar sehingga mampu mengingat semuanya dengan jelas. Melalui Lucid seseorang bisa memenuhi keinginannya yang tak tercapai dalam dunia nyata karena segala sesuatu berada dalam kontrolnya.

Sedangkan dalam mimpi kita seakan-akan hanya melihat berbagai hal sehingga seakan ada yang hilang dalam ingatan. Sebagai penonton tentunya tidak bisa melakukan apa-apa.

Awalnya saya kira kisah ini mengenai seseorang yang memiliki kepribadian ganda. Ternyata kisahnya lebih kompleks dari itu. Cerita yang diuraikan dengan menawan ini butuh trik khusus dalam menikmatinya. Pembaca harus memilah saat menikmati kisah Meggie dan Sloane karena keduanya sangat bertotal belakang. Nikmati saja kisahnya, biarkan semuanya  berjalan dengan ada adanya. Jangan ada perasaan kok begini bukannya harus begitu, kenapa dia berlaku begini dan sebagainya. Santai dan nikmati kisahnya dengan tenang.

Dugaan bahwa kisah mengenai seseorang dengan dua kepribadian juga yang membuat saya merasa harusnya buku ini termasuk buku dengan kisah  yang mengambil latar belakang psikologi bukannya fantasi. Kian kebelakang, saya merasa memang ada beberapa bagian yang bisa kita masukan dalam kategori fantasi.

Apapun itu, nikmatilah kisah ini.
Jangan-jangan, kita juga pernah atau bahkan sering mengalami Lucid.
Penasaran...





Sabtu, 01 Februari 2014

Review 2014 #7: Penghancuran Buku dari Masa ke Masa

Penulis: Fernando Báez
Penerjemah: Lita Soerjadinata
Penyunting: Ronny Agustinus
ISBN 978-979-1260-24-4
Halaman:373 
Harga: Rp 73.000

Apakah saya (mungkin juga kalian) bibliosida?
Bibliosida adalah sebutan bagi mereka yang menghancurkan buku. Tadinya saya kira penghancuran yang dimaksud adalah penghancuran dalam arti wujud buku secara fisik. 

Seperti pembakaran buku beberapa waktu lalu, menyobek buku untuk bungkus sayur, atau mencoret-coret buku. Sebut saja 3.000 buku koleksi Dr Iwan Gardono Sujatmiko yang musnah terbakar saat kebakaran di Gedung C FISIP UI beberapa waktu yang lalu, itu juga bisa disebut penghancuran buku.

Pembakaran buku, biblioklasme atau librisida merupakan suatu  tindakan memusnahkan buku atau media lainnya. Kadang kegiatan ini dilakukan secara seremonial di depan umum atas dasar politik, keagamaan dan moral. 

Buku-buku  dibakar, dihancurkan, atau dimusnahkan. Misalnya buku yang dibakar serentak oleh sebuah penerbit  besar atas desakan sebuah organisasi keagamaan.

Namun ternyata editor dan pustakawan juga bisa melakukan penghancuran buku. Caranya dengan tidak jadi menerbitkan sebuah buku karena pengeditan atau isi yang dianggap tidak layak.  Jelas ini sangat mengganggu pikiran saya. 

Saat ini membuat sebuah review yang jujur dan menyebutkan kekurangan buku itu hingga ada yang urung membeli dan membacanya,  apakah saya juga menyebabkan kehancuran sebuah buku? Sungguh menyeramkan! Lalu bagaimana polah para penimbun buku? Mereka membiarkan sebuah buku tergeletak tanpa dibaca.

Sang penulis mengungkapkan sebuah fakta bahwa buku-buku dihancurkan bukan oleh  ketidaktahuan awam atau kurangnya pendidikan, melainkan justru oleh kaum terdidik dengan motif ideologis masing-masing. Dan ini bisa menjelaskan fenomena di Indonesia ketika profesor, pejabat pemerintah, bahkan penerbit sendiri ikut-ikutan membakar buku.  

Uraian ini mengingatkan saya pada kisah seorang sahabat tentang sebuah konsersium kagetan yang dibentuk untuk membeli buku-buku yang dikeluarkan dari perpustakaan. Mereka sengaja membentuk konsersium itu guna menahan keinginan salah satu pebisnis yang ingin membeli buku-buku itu untuk dijadikan bubur kertas! Penghancuran buku dengan alasan untuk menciptakan buku baru.
  
Sebuah kalimat berikut mengganggu pikiran saya, "Ada ratusan kajian mengenai asal mula buku dan perpustakaan, tapi tidak ada satupun sejarah mengenai penghancurannya."  Sepertinya penghancuran buku adalah hal yang harus ditutupi. Padahal dengan memahami kenapa ada penghancuran kita bisa mengupayakan agar hal itu tidak terjadi.

Penghancuran buku dilakukan dengan atau tidak sengaja. Misalnya tentang penghancuran Perpustakaan Zahiriya. Pada 1108 pasukan Perang Salib menghancurkan Perpustakaan Zahiriya di Damaskus, lebih dari 3 juta buku dimusnahkan.  Setahun setelahnya, tepatnya pada  Juli 1109  dibakar 100.000 volume dari Perpustakaan Islam yang terkenal di Tipoli.

Urusan penghancuran  buku masih berlanjut. Ketika  Kontantinopel jatuh tahun 1453  pasukan Turki di bawah komando Sultan Muhammad al-Fatih menghancurkan patung-patung, gereja, dan buku.  Selama tiga hari mereka melakukan penghancuran. Permata yang menempel di buku dicongkel, sekitar 120.000 manuskrip dibuang kelaut dengan diikat terlebih dahulu. Manuskrip yang isinya tidak sejalan dengan  pandangan para pengikut Nabi Muhammad(hal 107).

Dunia mengetahui peristiwa penjarahan Museum Arkeologi Bagdad pada 12 April 2003. Tiga puluh koleksi hilang, lebih dari empat belas ribu koleksi kecil raib dan hancurnya ruang pamer. Tanggal 14 April sejuta buku di Perpustakaan Nasional di bakar, begitu juga Arsip Nasional. Rekam sejarah dalam bentuk buku, manuskrip bahkan sekeddar hasil penelitian raib dalam hitungan waktu

Perlu dibedakan antara kata "Hilang" dan "Musnah" walau sulit dibedakan dalam sejarah buku. Kadang sebuah karya hilang karena dimusnahkan, dan kadang musnah karena hilang atau belum ditemukan.  Dalam KBBI,  hi·lang v 1 tidak ada lagi; lenyap; tidak kelihatan: tiba-tiba benda itu -- dr pemandangannya;.... Sementara musnah /mus·nah/ v 1 lenyap; binasa: segala hartanya -- dimakan api; 2 hilang....

Uraian pada halaman 154 mungkin bisa diartikan sebagai makna diduga musnah ternyata ditemukan.
Al-Quran berbahasa Arab pertama  dicetak oleh  Paganini pada tahun 1537. Konon diberangus atas dasar instruksi langsung Paus. Selama ratusan tahun diyakini tidak ada cetakan yang tersisa, namun  pada tahun 1987  Angela Nuvono  menemukan satu ekslempar tersisa di dunia, tersimpan dalam perpusatakaan Fratri Minori de San Michele di Isola, Venesia."

Upaya penyelamatan buku pernah dilakukan oleh seorang perempuan berdarah Swabia, Wiborada dari biara Saint Gall, Swiss. Ia mendapat penampakan tentang penghancuran buku. Sehari sebelum serangan, pada dini hari 1 Mei 926, ia mengubur buku-buku koleksi perpustakaan. 

Penyerbuan memang berhasil dihalau tapi kebakaran yang terjadi cukup besar. Wiborada ditemukan tergeletak terluka parah di atas gundukan tanah dimana buku-buku dikubur. Atas tindakan beraninya, ia mendapat gelar Santa. Santa pelindung para pecinta buku.

Pada zaman Yunani kuno, buku adalah selembar papirus yang digulung, panjangnya bervariasi. Saat itu buku disebut Biblos sementara membaca disebut anagnosis berarti baca bersama. Sementara itu tindakan membuka gulungan papirus untuk membaca disebut annelitto. 
Dalam http://www.talkmen.com/articles/read/811/7-pembakaran-buku-bersejarah disebutkan berbagai peristiwa tentang pembakaran buku. 

Diantara ada buku dengan huruf  Braile yang dimusnakan atas dasar rasa takut jika guru-guru yang memiliki penglihatan normal tidak akan dibutuhkan lagi oleh para murid tunanetra, karena mereka berhasil membaca melalui huruf Braille.

Buku tentang penghancuran buku ini berisikan tiga bagian utama. Bagian Pertama: Dunia Kuno, Bagian Kedua: Dari Byzantium Hingga Abad ke-19, Bagian Ketiga: Dari Abad  ke-20 Hingga Sekarang. Setelah itu ada uraian tentang Pascawacana: Penghancuran Buku dalam Cerita Fiksi. 

Guna menulis buku ini Fernando Baez melakukan penelitian selama belasan tahun untuk melihat sejarah pemusnahan buku dari zaman dahulu, mulai dari Byzantium, Mesir, Yunani dan Romawi hingga saat ini. Uraian tentang catatannya lebih dari lima puluh halaman. 

Seorang mahasiswa sejarah mengajukan  pertanyaan “Mengapa manusia menghancurkan buku?”, kepada sang penulis karena menganggap ialah pakarnya. Tergelitik oleh pertanyaan itu, ia pun menyusun kajian ini. Merentang dari awal peradaban tulis hingga kasus-kasus kontemporer, inilah kajian sejarah global pertama tentang bibliosida (penghancuran buku) dari masa ke masa. Sebuah pertanyaan yang tidak memiliki jawaban pasti.

Kover buku ini sungguh menarik. Dibuat seolah-olah buku ini terbakar, lengkap dengan bagian yang bolong seakan habis dilalap api. Sisi kanan dibuat seakan kertas tersebut mulai terbakar api meninggalkan kesan hangus dengan bentuk tak beraturan. Sementara ilustrasinya menggunakan buku-buku yang seakan terbakar. 

Halaman belakang juga tak ketinggalan terkena sentuhan habis terbakar walau tidak seheboh halaman muka. Walaupun untuk itu saya mengalami sedikit kesulitan untuk menyampulnya, tapi kover buku ini menawan. Langsung menyampaikan inti dari hal-hal yang terkandung dalam buku.

Butuh waktu lama bagi saya untuk menyelesaikan buku ini. Bukan karena buku ini merupakan buku sejarah atau kajian budaya tapi karena isinya. Isinya membuat emosi saya tercampur aduk.

Sedih saat mengetahui sebuah buku dihancurkan karena sama artinya menghancurkan pikiran seseorang, buah karya seseorang. Gembira saat tahu sebuah buku tersimpan aman dan telepas dari behaya penghancuran. Mengutuk mereka yang menghancurkan buku, karena sama artinya mereka menghancurkan perabadan.

Seperti yang saya uraikan di atas. Scara pribadi buku ini membuat saya jadi berpikir akan koleksi saya.  Apakah dengan menyimpan saya juga telah melakukan penghancuran buku?

Apakah review saya membuat sebuah buku musnah
Entahlah, yang pasti saya sedang belajar berbagi.

------

THX buat Sis Ira atas buku ini.
Isinya benar-benar bikin merinding hiksss
Tapi perlu dibaca untuk kita yang mencintai buku


Sumber gambar
http://www.dw.de/aksi-pembakaran-buku-10-mei-1933-di-jerman/a-16803353
http://www.chine-chinois.com/sylvain-en-chine/ascension-declin-dynastie-Qin