Jumat, 07 Agustus 2015

2015 #67: Melancong dengan Cinta


Judul asli: The Traveler's Wife
Penulis: Tias Tatanka
Penyunting: Diyah Rahma
Pemeriksa aksara: Aminah Mustari
Penata letak: Yunita Hye Zala
Pewajah sampul: Heavenly Duralisz
ISBN: 9786021695210
Halaman: 242
Cetakan: Pertama-April 2015
Penerbit: SALSABILA
Harga: Rp 75.000,00

 'Jika ingin mengenali pasanganmu, ajak ia melakukan perjalanan'

Kalimat bijak yang disampaikan dalam endors buku ini oleh  Lalu Abdul Fatah, mengingatkan saya pada kenangan saat masih pecicilan dulu. Beberapa sahabat saya melakukan gerakan bubar jalan setelah pulang dari kamping. Segala macam curhatan membuat saya terpesona, dari  hal kecil seperti kebiasaan makan hingga hal yang agak mengada-ngada seperti warna kesukaan. Memang selama ini belum cukup mengenal pasangan ya, kok sudah berani membuat komitmen. Jika hal itu saya tanyakan, pasti jawabannya nyaris sama, dulu tidak tahu tapi selama pergi kemping jadi tahu. Lhoooo piye tho.

Bagi say,a bukan perjalanan yang membuat kita mengenali pasangan, tapi waktu yang dihabiskan selama perjalanan yang membuat kita lebih mengenal seseorang. Nyaris 24 jam kita bersamanya, maka banyak hal yang selama ini luput dari perhatian akan terlihat. Nahhh, kamu ketahuan, ternyata ...... *lebai-dikit-ah*

Buku Honeymoon with My Brother contohnya, membuat dua kakak-beradik jadi lebih mengenal satu dengan lainnya. Meski bersaudara bukan berarti mereka cukup saling memahami sesama. Dengan menghabiskan waktu bersama selama bepergian, timbul saling pengertian dan pemahaman akan sifat dan tabiat yang lain.


Begitu juga dengan saya.
Saya memang tidak melakukan perjalanan dengan sosok penulis-Tias Tatanka, tapi melalui buku ini, saya seakan menjadi anggota ketiga yang tidak kelihatan dalam tim mereka. 

Sepanjang 242 halaman, kita akan diajak mengikuti petualangan penulis bersama suami menjelajahi tujuh negara selama 48 hari, Road to Asia. Menikmati suasana diSingapura, Malaysia, Thailand, India, sisanya tebak sendiri yaa. Oh ya mereka juga sempat pergi ke Uni Emirat Arab.

Tias Tatanka menuliskan segala hal yang ia rasakan, ia alami, tindakannya,  dalam sebuah jurnal. Jurnal yang merupakan cikal bakal buku ini. Itu mengapa saya bisa merasa ikut melancong bersama mereka. Hal itu juga yang menjadi perbedaan utama dari buku ini dibandingkan buku sejenis,  yaitu sisi pandang penulisan kisah. Sepasang suami istri melakukan perjalanan memang bukan hal luar biasa.  Gol A Gong memang mendampingi bahkan pencetus ide perjalanan kali ini. Namun sepanjang perjalanan ia lebih bersikap membiarkan istrinya melakukan banyak hal selama itu tidak membahayakan jiwa. Ia cukup mengawasi saja. 

Pemilihan kata yang dipergunakan singkat namun berbobot. Saat menceritakan kekhawatiran akan kondisi suami yang medadak sakit di perjalanan, ia mengungkapkan rasa khawatir sebagai seorang istri dengan bahasa yang sederhana namun  bermakna dalam. Saya seperti ikut panik bersamanya. 

Saat mengetahui terjadi salah pemesanan tiket, kekhawatiran dan kepanikannya juga ikut menyerang perasaan saya. Aneka pertanyaan bagaimana jika berkecamuk dalam benak saya. Namun sepertinya Sang Maha Pencipta memberikan kemudahan bagi keduanya.

Mau tidak mau saya harus memberikan acungan jempol kepada kedua pasangan ini. Saat yang satu sedang drop,  maka yang lain harus kuat untuk bisa menjadi sadaran. Segala kesulitan  mereka terima dengan iklas, dan menyikapinya sebagai bumbu perjalanan. Love both of u ^_^

Membaca buku ini, membuat kita mendapat pengetahuan mengenai beberapa negara.  Misalnya tempat wisata yang ada di India. Tidak hanya Taj Mahal yang menarik, namun masih ada tempat lain yang layak dikujungi. Di tanah air, Mall memang bukan tempat hiburan yang luar biasa, tapi di Uni Emirat Arab banyak hal menarik yang bisa kita jumpai di Mall. Sepertinya Uni Emirat Arab terobsesi menyandang predit "Ter" jika melihat perkembangan pembangunan negara itu. Bahkan catatan kaki yang ada dalam buku ini mengusung tambahan pengetahuan yang layak disimak.

Tips untuk membuat perjalanan menjadi menyenangkan serta ramah di kantong juga bisa kita peroleh dalam buku ini. Cara penulis menguraikan bagaimana mereka berburu hotel, tiket hingga mengurus transport lokal diuraikan dari sisi pandang seorang pelancong, apa adanya. Akan beda jika diuraikan oleh seorang yang bekerja di biro perjalanan. 

Akan lebih membantu bagi mereka yang ingin mengikuti jejak penulis, jika dibuatkan semacam pentunjuk dalam bentuk rangkuman, bagan atau tabel yang berisi instruksi singkat untuk pergi ke suatu tujuan wisata. Misalnya, untuk ke Malaysia, pemesanan tiket sebaiknya xxx hari sebelum keberangkatan agar lebih murah. Kisaran harga tiket sebesar Rp xxx. Sampai Malayasi ke XX menggunakan XX dengan biaya XX. Menginap di XX. Bukannya tidak mungkin, setelah membaca buku ini ada pembaca yang terinspirasi mengikuti petualangan mereka.

Kover yang mengusung tema dua pasang sepatu, membuat saya langsung curhat ke penulis. Kover jenis ini memang membuat pembaca langsung bisa mendapat informasi bahwa ini buku tentang perjalanan atau traveling. Hanya saja apakah tidak ada ikon lain yang bisa digunakan selain gambar sepatu? Sudah ada beberapa buku sejenis yang mempergunakan ikon sepatu,  sebaiknya buku ini beda dengan yang lain.  Jika tetap merasa gambar sepatu sudah paling cocok, kenapa tidak mempergunakan sepatu yang dipakai selama perjalanan? Sepatu bot yang khusus dibeli penulis untuk keperluan perjalanan ini. Tentunya  sepasang sepatu berdebu akan lebih memberi kesan dramatis dari pada sekedar dua pasang sepatu yang menurut saya justru lebih mengarah kepada sepatu sekolah he he he. kalau tidak salah itu sepatu Converse ya.

Saya agak kurang paham dengan kalimat di halaman 62, "Dulu, suamiku sudah kenyang sarapan itu," senyumnya mengenang. "Rasanya masih terasa di lidah." Terkait dengan percakapan sebelumnya, penulis menawari makan suami. Bukankah lebih tepat jika ditulis, "Dulu, suamimu sudah kenyang sarapan itu, "senyumnya mengenang. Atau  menyambung kalimat sebelumnya. ".., ia menggeleng lemah. Ah lupa aku, dulu suamiku sudah kenyang sarapan itu." 

Buku traveler tdaiklah lengkap tanpa aneka foto. Demikian juga dengan buku ini,banyak foto-foto yang disajikan dalam buku ini. Nyaris tiap tempat yang disambangi bisa ditemui fotonya dalam buku ini. Tapi saya agak kecewa perihal urusan foto. 

Bukan.....! Bukan karena mutunya kurang maksimal. Wajar mengingat foto yang ada dicetak di atas kertas koran, tentunya akan berbeda dengan yang dicetak di atas kertas foto. Justru, saya mengharapkan akan menemukan foto dari jurnal yang legendaris itu! Jurnal yang memuat tulisan tangan penulis, yang berisi tempelan aneka tiket dan pengeluaran lainnya. Saya teramat yakin, justru jurnal itu bisa memberikan banyak informasi dan menyampaikan banyak kisah terkait petualangan sang penulis.

Seorang sahabat saya pernah menyatakan kerinduannya akan petualangan menyusuri kota atau negara baru. Lalu kenapa tidak berangkat? Buat saya sederhana saja, jika ia ingin pergi tentunya ia bisa menyusun rencana perjalanan, tidak mengubur rasa itu. Apalagi setahu saya ia sering melakukan perjalanan sendiri. Alasannya membuat saya tertegun, anak. Sejak memiliki dua anak ia memang tidak pernah pergi ke mana-mana. Mungkin buku ini bisa menginspirasi dirinya bahwa punya anak tidak membuat seseorang tidak bisa melakukan apa yang ia sukainya, semuanya hanya perlu manajemen yang baik dan benar saja. jadi ingat, kalau tidak salah ada malah ada komunitas yang beranggotakan ibu-ibu yang gemar traveling.

Semoga, kapan-kapan kita bisa berjodoh melancong bersama.

-------------->
Cintaku
Belahan jiwaku
Kita memang belum sempat melakukan perjalanan bersama dalam waktu lama, tapi waktu yang kita luangkan bersama saat mengurusi koleksi buku sudah menjadi awal kita untuk saling memahami satu sama lain.

Bagaimana bisa seperti mereka, menghabiskan waktu selama 48 hari bersama. Kadang pertemuan kita dilakukan di restoran yang terdapat di Bandara. Aku baru akan pergi ke suatu tempat, sementara kau baru pulang dari suatu tempat. Sungguh pertemuan yang ajaib, menurut sahabat kita.

Minimal, buku ini menjadikan kita memiliki niat untuk kelak, entah kapan menghabiskan waktu bersama mengunjungi salah satu negara yang memiliki toko buku bekas ternama. Semoga.

Kamis, 06 Agustus 2015

2015 #66: The Kill Order, Asal Mula The Maze Runner


Judul asli: The Kill Order
Penulis: James Dashner
Penerjemah: Yunita Candra
Penyunting: Ade Kumalasari
Pemeriksa aksara: Septi Ws, Intan
Penata aksara: Martin Buczer
ISBN: 9789794338926
Halaman: 426
Cetakan: Pertama-Juli 2015
Penerbit: Mizan Fantasi
Harga:  Rp 69.000


Virus VC321xb47
Sangat Menular
24 Anak Panah, hati-hati 

Betapa terkejutnya Mark saat menemukan tulisan itu tertera pada tumpukan kardus yang berada di dalam Bergs yang menyerang pemukimannya. Kelak terbukti tulisan itu tidak hanya menakutkan untuk dibaca, tapi efeknya sungguh luar biasa menyeramkan.


Kisah yang ditawarkan dalam buku ini adalah tentang kondisi di bumi setelah terjadi ledakan matahari. Ledakan tersebut, tentunya membuat kehidupan di bumi mengalami banyak perubahan. Kemudian WICKED dibentuk, selanjutnya Glade dibangun.

Setelah ledakan sinar matahari, masalah terbesar dan paling mendesak adalah kemungkinan besar terjdinya tsunami. Semburan cahaya matahri itu pasti telah menghancurkan dan memicu kerusakan besar di seluruh dunia serta  melepaskan panas seperti neraka. Maka sudah bisa dipastikan es di kutub utara akan mencair dengan cepat, beberapa kota bahkan negara terancam berada di bawah air. Segala upaya untuk bertahan hidup harus segera dilakukan jika ingin selamat. Dalam kisah ini, kadang dilakukan dengan cara yang tidak masuk akal, bahkan cenderung kejam.

Prolog kisah ini menceritakan bagaimana proses Thomas berada dalam kotak. Kotak yang kelak membuka dan membuat Thomas berada di dunia yang berbeda. Awal kisah Maze Runner. Jelas membuat saya merenung, memanggil memori tentang kisah yang ada dalam buku itu. Seorang bocah laki-laki harus berusaha untuk bisa bertahan hidup, jika tidak ingin mati. Pilihannya jelas hanya dua, lemah dan mati atau kuat dan bertahan. Semua tahu dengan pasti bagaimana sikap Thomas. Menyentuh. 

Selanjutnya, kita ditarik mundur ke belakang, saat Thomas belum berada dalam kotak. Sepanjang 67 bab kita akan diajak mengikuti kisah mereka yang selamat berjuang untuk hidup. Semula Mark, Trina,  Alec, Lana dan beberapa orang yang lolos dari bahaya ledakan hidup damai di North Carolina. Sekitar tiga belas tahun sebelum kisah Maze Runner.

Penulis mampu menggambarkan kedamaian suasana di sana dengan indah. Hingga suatu hati, sebuah Bergs datang dan menghujani mereka dengan anak panah. Seluruh hunian menjadi porak-poranda, hancur berantakan. Belum lagi beberapa orang yang menjadi korban.

Alec dan Mark berhasil menyusup ke dalam Bergs dan membuat jatuh sebelum menimbulkan kekacauan lebih parah lagi. Di sanalah Mark untuk pertama kali melihat  tumpukan kardus dengan tulisan menakutkan itu. Virus itu mematikan pikiran, koma seketika. Membuat tubuh benjadi tidak berguna. Efek yang dihasilkan pada tiap orang tidak sama, tergantung ketahanan tubuh. 

"Seorang wanita memakan kucing. Seorang pria menguyah permadani di sudut ruang tamunya. Dua anak salong melempar batu sekiau tenaga, berlumuran darah dan memar-menar seluruh tubuh." 

Seiring waktu, virus tersebut bermutasi dan sudah menyebar melalui darah dan udara. Mereka yang terinfeksi semakin banyak. Seakan belum cukup perjuangan mereka untuk bisa bertahan, sekarang mereka harus berhadapan dengan musuh baru,  mereka yang terinfeksi virus.

Tunggu!
Jangan mengira musuh mereka hanyalah orang yang terinfeksi saja. Karena ternyata mereka juga harus berhadapan dengan para pembuat virus itu, manusia yang juga selamat dari bencana namun ingin mengurangi jumlah populasi yang hidup dengan alasan keterbatasan sumber daya.

Ternyata penulis bukan saja mampu menggambarkan suasana damai hingga pembaca seolah-olah ikut merasakan kedamaian, tapi juga suasana menyeramkan sehingga membuat pembaca merasakan aura kengerian. "Tubuh-tubuh bergelimpangan di lantai, telanjang dan terbakar. Jeritan dan tangisan kesakitan mengiris pendengarannya dan bergaung di dinging. Orang-orang sempoyongan di segala arah, lengan-lengan terjulur, pakaian mereka terbakar, dan wajah mereka setengah meleleh seperti lilin. darah di mana-mana. Dan, udara panas berembus kencang di udara, seolah mereka berada di dalam oven."

Pada tiap awal bab, selain diberi nomer bab di bagian pojok kiri, terdapat juga ilustrasi dua orang yang sedang berlari dengan warna nuansa hitam. Jika dilihat dari samping, maka akan terlihat seperempat bagian kertas yang berwarna hitam. Cukup unik memang.

Sementara epilog di akhir kisah, bisa dikatakan sangat terkait dengan prolog. Setingnya adalah dua tahun setelah Mark dan kawan-kawannya mengalami kehebohan virus tersebut.

Sepengetahuan saya, prolog bisa diasumsikan sebagai pembuka kisah.  Sementara epilog merupakan penutup yang berisi intisari kisah.  Saya agak bingung mengenai isi prolog dan epilog dalam buku ini. 


Buku ini juga memuat bagian yang membuat para pembaca, penyuka, penimbun serta gila buku bisa merasa bahagia. "Dia menemukan gadis itu di sungai, salah satu tempat tenang untuknya membaca buku yang berhasil mereka selamatkan dari perpustakaan tua yang mereka lewati dalam perjalanan. Gadis itu sangat suka membaca buku, dan ia sedang mengganti waktu berbulan-bulan yang mereka habiskan berlari menyelamatkan diri, saat buku sangat jarang ditemukan. Buku-buku digital sudah lama lenyap, sepanjang pengetahuan Mark-musnah ketika semua komputer dan server terbakar. Trina membaca buku jenis lama berbahan kertas." Beberapa buku berhasil diselamatkan dalam peristiwa itu. Buku cetak ternyata mampu bertahan dari bencana. 

Menarik memang, tapi saya gagal paham keterkaitan kisah ini denga The Maze Runner. Kecuali Maze Runner tercipta akibat virus yang terjadi pada kisah ini. Lalu bagaimana nasib beberapa tokoh yang berhasil selamat? Serba misterius.

Oh ya, buku ini bisa dibaca oleh siapa saja tanpa perlu membaca serial The Maze Runner terlebih dahulu. 


Sumber gambar:
https://www.goodreads.com


Kamis, 30 Juli 2015

2015 # 65: Warisan Legendaris Para Bedebah


The Bastard Legacy: Warisan Legendaris Para Bedebah
Penulis: Jaunatan
Penyunting: Lis Sutinah
Pendesain Sampul & tata Letak: EM. Giri
Ilustrasi sampul: Aminudin Hadinugroho
ISBN: 9789790652408
Halaman: 150
Cetakan: Pertama-17 Mar 2015
Penerbit: Visimedia
Harga: Rp 42.000


Sesuatu harus sangat bagus, hebat, berbeda hingga berada dalam ingatan  orang dalam jangka waktu lama

Itu kuliah yang saya dapat dalam matakuliah periklanan dulu. Tentunya bukan itu yang membuat para pelaku kejahatan yang ada dalam buku ini melakukan kejahatan yang teramat sangat luar biasa kejamnya hingga akan sulit dilupakan orang dalam waktu lama. Mereka tidak ingin dikenal. Justru mereka tidak ingin ada yang mengetahui perbuatannya hingga bebas  melakukan perbuatan terkutuk itu.

Dalam beberapa kisah yang ada, umumnya faktor kejiwaan seseorang yang membuat ia menjadi bersikap seperti itu. Dalam kasus Gacy si Pogo The Clown, menurut kabar angin, sejak remaja ia beberapa kali mengalami kekerasan seksual dari teman-temannya, ditambah dengan ia juga sering mengalami kekerasan fisik dan mental oleh ayah kandungnya. Kekerasan tersebut terekan di alam bawah sadarnya, oleh karena itu, ketika sudah besar ia merasa bisa menindas orang yang lemah darinya, sehingga ia dapat melakukan pembalasan.

Seperti yang diuraikan pada halaman 99, "Masa kecil adalah masa ketika anak-anak menampung banyak pengetahuan serta hal-hal baru yang akan dia kenang ketika beranjak remaja, lalu dewasa. Ingatan-ingatan di masa kecil itulah yang kemudian akan mengendap di alam bawah sadar, kemudian terbawa sepanjang hidupnya. Jika kamu mau mengamati, orang-orang yang mempunyai kelakuan aneh, para penjahat berdarah dingin, dan sebagainya, mereka cenderung memiliki masa kecil yang kelam."

Beberapa  kisah tentang kejahatan yang teramat sangat luar biasa kejamnya itu berada dalam buku ini. Ada 10 kisah,  ada kisah cukup  sering diulas sehingga bukan menjadi hal baru saat membacanya. Tapi ada juga kisah yang mampu membuat bulu kuduk saya berdiri membayangkan kengerian kisah, hiiii.  Kisah-kisah yang ada dalam buku ini tentang Jack the Ripper, Lukisan Gacy, Delphine dan Rumah warisannya yang Berhantu (waduh), Eddy Tansil, Kusni Kadut, Belle dan Tabir Misteri yang Diwatiskannya, Rumah Jagal di Jombang, Laki-laki Abu-abu dan Pusaran Kekejamannya, Saksi Bisu Ladang Tebu Berhantu, Legenda si Cantik dan Kolam Darah. Bagaimana sudah ikutan merinding?

Dua kisah mengusung unsur lukisan sebagai bumbu kisah. Pertama kisah kekejaman  John Wayne Gacy yang dikenal sebagai Gacy si Pogo The Clown. Iya, tidak salah baca kok, penjahat yang memiliki profesi sebagai badut. Lukisan karyanya berada di Museum Kejahatan Nasional di Washington DC, USA. Lukisan tersebut menjadi obyek yang paling dicari pengunjung. Selama berada dalam penjara, Gacy memang sering melukis.

Setelah dieksekusi mati, ada 30 lukisannya yang dilelang. Pembeli bukan untuk mengoleksi tapi membakarnya dalam api unggun perayaan eksekusi Gacy. Tercatat saat ini hanya tinggal 2 buah lukisan yang berada di Museum Kejahatan Nasional di Washington.

Kedua tentang lukisan Kusni "Robin Hood-nya Indonesia" Kadut di Museum Gereja Katederal Jakarta. Lukisan dari gedebong pisang tersebut menggambarkan gereja katederal lengkap dengan menara dan arsitektur bangunannya yang unik. Sebelum dieksekusi, Kusni kadut berkenalan  dengan seorang pemuka agama Katholik. Pertemuan tersebut membuat ia mengambil keputusan fenomental dalan hidupnya, bertobat dan pembaptisannya sebagai pemeluk agama Katolik dengan nama Ignatius Waluyo.

Pengurus Museum Gereja Katederal Jakarta mengatakan, bahwa lukisan itu adalah wujud cinta Kusni Kadut kepada keyakinannya. Juga sebagai ucapan terima kasih karena sudah diberi bekal untuk menghadapi kematiannya. Mengenaskan, nasib pejuang yang terlupakan jasanya.

Urusan kejam, ternyata tidak membedakan jenis kelamin. Mungkin pepatah yang menyebutkan perempuan adalah makhluk lemah yang harus dilindungi, perlu dipertimbangkan jika mengacu pada kejahatan yang dilakukan oleh Dephine Lalaurie serta Belle Gunnes.

Dephine  yang lahir di Circa sekitar tahun 1775, memendam kebencian serta kemarahan pada para  budak kulit hitam karena ibu dan adiknya meninggal saat terjadi pemberontakan kaum budak. Perasaan tersebut kian bertambah ketika suaminya, Blanque tewas pada tahun 1816 juga akibat pemberontakan para budak yang merasa diperlakukan dengan tidak manusiawi.

Kekejaman apa yang dilakukan oleh Dephine? Duh, membuat merinding saat membacanya. Sekedar bocoran saja,kekejaman yang dilakukan Dephine seperti merantai kaki; menghamtam kepala budak dengan batu besar; menguliti; tidak memberikan makan dan istirahat yang cukup; kaki dan tangan dipotong; bahkan ada yang tubuhnya dibelah seakan dioperasi dan alat kelaminnya dirusak.

Perempuan kejam lainnya adalah Belle Sorenson Gunnes lahir pada 22 November 1859. Belle menikah dengn Gunness Mads Albert Sorenson dan membuka sebuah toko perman dan makanan kecil yang tidak berjalan lancar. Setahun kemudian, mendadak toko tersebut terbakar secara misterius lalu keduanya mengklaim uang asuransi toko.

Tidak jelas apakah mereka benar-benar memiliki anak. Beberapa peneliti menyatakan Belle tidak memiliki keturuan, peneliti yang lain menyatakan ada empat anak Belle dimana dua meninggal saat bayi. Belle dan suaminya juga mengklain asuransi atas anak-anak itu.

Selanjutnya, ketika suami Belle meninggal, ia mendapat klaim asuransi yang cukup besar hingga mampu membeli sebuah peternakan mungil. Alasan kematian suaminya adalah penyakit, entah benar atau tidak. Begitu juga kematian orang-orang lain yang berada di sekitar Bella

Mungkin para petugas asuransi akan sangat mendambakan dan mencintai   klien seperti Belle, karena mengikutkan anggota keluarganya dalam program asuransi dengan nominal lumayan. Selanjutnya  mereka akan curiga dan  membenci Belle karena melakukan klaim  atas meninggalnya anggota keluarga yang terdaftar sebagai pemegang polis asuransi tersebut.

Penipuan klaim asuransi ternyata sudah lama berlangsung. Metodenya bisa saja berbeda, namun tujuannya sama membuat pemegang polis meninggal lalu ahli warisnya mendapat klaim yang jumlahnya lumayan besar. Buat saya, ini seperti menandatangani kontrak kematian. Siapa yang bisa menduga hati orang, bagaimana jika saya sengaja diikutkan dalam polis lalu...... Astagfirullah, ih  kenapa jadi ngelantur seram saya.

Baik Daphine maupun Belle tidak bisa ditemukan keberadaannya. Daphine dengan dukungan kekayaan keluarga sempat melarikan diri saat terjadi kerusuhan di rumahnya. Belle, menurut pengakuan orang yang mencintai dan memujanya belum mati, ia justru melarikan diri dan meninggalkan ia yang sudah bersedia membantunya. Belle kabur  dengan membawa banyak uang hasil perbuatannya selama ini.

Secara keseluruhan buku ini cukup menarik. Saat tanpa sengaja saya membawanya ke meja sirkuasi peminjaman saat piket Rabu sore, beberapa mahasiswa Krininologi Fakultas Hukum yang melihat merasa tertarik, terutama sekali saat membaca kata bedebah. Ketika melihat isinya, menurut mereka buku ini layak dibaca untuk mereka yang memiliki ketertarikan dalam bidang hukum serta kriminologi.       

Gaya bahasa yang dipakai cukup mudah dipahami, meski pada beberapa bagian berkesan membesar-besarkan sebuah peristiwa. Padahal tanpa begitu kesan betapa kejam atau mengerikannya sebuah kasus juga sudah terasa dengan dukungan aneka fakta yang disajikan dengan apik.

Apakah tidak sebaiknya dibuat peringatan untuk batas usia boleh membaca. Hal ini sekedar erjaga-jaga agar tidak ada yang menjadikan inspirasi lalu meniru perbuatan biadap dalam buku ini, bahkan mungkin melakukan dengan kejam. Perlu juga dibuat semacam peringatan di kover luar bahwa ini sekedar informasi semata, jangan meniru.

Jika buku ini akan dicetak ulang, sebaiknya mulai memperhatikan beberapa kalimat yang saling berhimpit. Sepertinya terjadi kesalahan setting. Sebagai contoh, pada halaman 104 tercetak, 'Graciebarusajapulangdarigerejadaniamasih mengenakan...." Di halaman 118 tertulis, "memanggilseorangperempuanuntuk berdiridanmengungkapkankesaksiannya." Sementara pada halaman 125 tertulis, "samgdukuntidakberhentimenyakinkandirinya...." Semua saya beranggapan mata yang yang sedikit tidak benar, sehingga tidak melihat spasi antar kata. Tapi sepertinya bukan, memang beberapa kalimat terbentuk dari rangkaian kata yang berhimpitan.

Entah salah ketik atau bagaimana, tapi tulisan "d=" di halaman 116 baris ke 6 dari atas membuat saya bingung akan maknanya. Lalu di halaman 138 tertulis, "Dia adalah seorang ningrat yang kara raya." Apakah maksudnya kaya raya?

Beberapa kejahatan dalam buku ini bisa terungkap berkat partisipasi masyarakat. Serta calon korban yang berhasil kabur dan melaporkan peristiwa itu pada pihak berwajib. Bukti Sang Pencipta tak akan membiarkan kejahatan dan kesadisan berlangsung lama.

Waspadalah!
Siapa tahu kejahatan sedang terjadi di sekitar kita.


Sumber gambar:
http://selokartojaya.blogspot.com

Selasa, 28 Juli 2015

2015 # 64: Dari Ngalian Ke Sendowo

Penulis: Nh Dini
Desain sampul: Suprianto
Ilustrasi Menara Kudus: Ade Pristi
Setter: Fitri Yuniar
ISBN: 9786020316512
Halaman: 268
Cetakan: Pertama-25 Mei 2015
Penerbit: PT Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 65.000


Garis nasib tidak selalu lurus. Juga tidak selalu mulus. Di samping kepuasan-kepuasan, kegembiraan-kegembiraan, tentu tersuguh juga kerumpilan dan kekecewaan dalam kehidupan manusia. 
~hal 244



ke.rum.pil.an
Nomina (kata benda) perihal rumpil; kesukaran; kesulitan; kesusahan: berbagai kerumpilan yang dihadapi untuk mencapai keberhasilan
Salah satu keuntungan membaca karya Eyang Nh. Dini adalah saya bertambahnya kosakata saya. Tentunya selain hiburan membaca kisah dalam Seri Cerita Kenangan.  Bagi banyak orang yang berkecimpung di dunia sastra, kata kerumpilan mungkin bukan kata yang baru. Tapi bagi saya yang hanya sekedar hobi membaca, kata tersebut menjadi tambahan kosakata baru.

Sebanyak  xxi + 268 +  xxi halaman berisi  autobiografi si penulis, saya meyebutnya dengan sapaan eyang.  Buku ini memaparkan tentang kehidupan eyang diusia sepuh. Meski berusia senja, eyang seakan memiliki energi yang tidak pernah habis untuk mengurusi pondok baca, menjadi pembicara serta berbagai keiatan yang terkait dengan dunia sastar di tanah air. 

Kisah dalam buku ini terjadi antara kurun tahun 2000-2006 saat eyang memutuskan untuk tinggal di rumah jompo Yayasan Wredha Mulya di Sendowo, Sleman, DIY, YWM. 

Tidak hanya kisah, jika diperhatikan dengan lebih seksama, eyang juga memasukan tambahan ilmu saat mengulas tentang suatu hal.  Saat menerima hadiah dari Ratu Sirikit di Bangkok misalnya, eyang juga memberikan ulasan singkat mengenai latar belakang Thailand. Selain membuat pembaca memiliki bayangan mengenai lokasi kisah, ikut merasakan apa yang dirasakan penulis, pembaca juga menjadi tahu tentang negara Thailand, meski hanya garis besar saja. 

Saya terbuai dengan paduan rangkaian kata dan sikap eyang yang mandiri meski usia sudah sepuh. Tak ada alasan untuk tidak mandiri. Eyang justru memilih tinggal di YWM karena memiliki keinginan untuk tidak merepotkan orang lain. Kontras memang, saat banyak penghuni panti jompo yang merasa dibuang oleh keluarganya karena dikirim ke sana.

Satu lagi prinsip hidup eyang yang sangat saya kagumi adalah cara berpikir yang sangat realitis. Perihal keuangan eyang sangat mandiri, segala pengeluaran tentunya menjadi pemikirannya. Tak terkecuali Pondok Baca. Saat menerima hadiah songket, eyang meminta seorang pembesar daerah menukar songket itu dengan sejumlah uang. Bukan tidak menghargai pemberian, eyang sangat sadar tidak akan mampu mempergunakan kain tebal tersebut. Uang bermanfaat bagi pengembangan serta kelangsungan Pondok Baca.

Saya jadi teringat sebuah tas jinjing halus yang saya hadiahkan saat bertemu. Melihat eyang yang kerepotan membawa aneka barang, saya aturi tas tersebut kebetulan masih baru. Jika dipakai, tentunya saya bersyukur, jika nasibnya seperti songket itu, saya juga bersyukur karena telah berpartisipasi dalam urusan Pondok Baca, meski secara tidak langsung.

Sebuah bagian yang mengisahkan bagaimana eyang  merasa wajar jika ia memasang tarif sebagai pembicara, membuat saya seakan-akan berkaca pada kondisi sekitar. Saya sangat setuju dengan hal itu, wujud profesionalisme. Kecuali saat eyang memang sedang membagi ilmu dan tenaga untuk amal. Di halaman 244, eyang menyebutkan nama beberapa universitas yang menghargai kehadiran eyang. Termasuk soal honorarium yang amat layak disamping biaya transpor yang dermawan.

Sahabat saya sering diminta membantu sebuah kegiatan peluncuran sebuah buku baru, ia diminta menghimpun masa serta melakukan promosi melalui akun  media sosialnya. Untuk memudahkan promosi, sahabat saya mendapat kemudahan dengan dikirimi draf buku yang akan diluncurkan. Dengan semangat yang sangat layak diacungi semua jempol tangan, ia memprovokasi para sahabat untuk hadir pada acara tersebut.

Bahkan saya ikut hadir meski penulis dan genre buku tersebut bukan bacaan saya. Saya datang hanya karena menghargai sahabat saya yang begitu bersemangat membantu mensukseskan acara tersebut. 

Setelah acara selesai, seperti biasa kami pindah tempat dan meneruskan obralan. Dari situ saya tahu, ia hanya mendapat beberapa buat buku, souvenir sepele serta ucapan terima kasih. Saya yakin sekali buku yang ia terima juga belum tentu ia suka. Memprihatinkan buat saya! Jika tidak bisa memberi sekedar ongkos taxi, bisa diganti dengan voucher dari penerbit. Minimal ia bisa memilih buku yang ia suka. Hanya karena kecintaan akan dunia buku yang membuatnya sudi melakukan itu semua.

Saya dulu begitu, sekarang tidak lagi (mirip lagu). Beberapa kenalan-orang yang saya kenal sekedarnya saja, meminta saya membaca draf novelnya dan memberikan masukan. Sekali saya membaca dan memberikan masukan lalu mengirim kembali ke penulisnya. Tak lama saya mendapat balasan berisi draf yang sudah direvisi, bisa beberapa kali seperti itu. Saya seakan menjadi editor mereka. Jika saya ada waktu dan kisahnya menarik tentunya tidak masalah buat saya. kadang ada yang marah-marah karena saya agak lama memberikan respon. Mereka mungkin lupa, saya juga punya kehidupan pribadi. Kisah yang mereka tulis juga sering kali bukan dari jenis bacaan saya. 

Kenapa niat baik saya jadi membuat orang salah kira? Kalau butuh tenaga yang siap 24 jam 7 hari seminggu maka ikat dia dengan kontrak dan bayar setiap waktu yang dihabiskan. Pernah karena terlewat emosinya, saya membalas omelannya dengan kalimat, "Saya bukan editor yang dibayar untuk memberikan masukan bagi karya anda, jadi suka-suka saya kapan saya mau membaca karya anda." Sejak ia menerima kalimat itu ia berhenti menghubungi saya. Baguslah. Belum jadi penuiis besar saja sudah terlalu banyak lagak.

Entah kebetulan atau bagaimana,  beberapa hal yang sedang ramai dibicarakan orang juga diungkap dalam buku ini. Pertama perihal pengeras suara alias toa di mesjid. Di halaman xix, ditulis, " Pendek kata, ketenangan dan kenyamanan yang kuharapkan sebelum pindah ke ota itu, tidak kudapatkan. Itu masih ditambah seruan pengeras suara 17 Mesjid di keliling kompleks YWM yang mulai memasang kaset berisi entah doa entah ceramah pada pukul 3 dinihari! Perasaanku sungguh-sungguh terhimpi." 

Kedua tentang kisah bagaimana seorang wartawan suka sensasi kena batunya ketika membuat tulisan tentang istri Ajip Rosidi. Belakangan, sering kita temui judul berita penuh sensasi di media. Ketika kita membaca, isi  beritanya sekedar membuat suasana ramai dengan sensasi semata. Ternyata dari dahulu sudah ada tipe wartawan seperti itu, meski banyak juga yang menjalankan profesinya dengan benar. 

Selanjutnya, film Minions yang ramai dibicarakan juga membuat nama sutradara film  Pierre-Louis Padang Coffin ikut terangkat. Anak bungsu eyang ini, disebutkan sebagai pemakan daging dalam buku. "Pikiranku melayang kepada Padang, anakku yang bungsu. Dialah 'pemakan daging'....Tidak jauh dari Kampung Sekayu, ada penjual sate ponorogo. Kekhasan sate ini ialah menggunakan daging sapi sebagai bahan. Irisan-irisan persegi yang cukup besar tertata di tiap tusuk batang bambu. Anakku mampu menghabiskan 20 hingga 30 tusuk! Mungkin lebih seandainya aku mampu membelinya." Begitulah seorang ibu, ia akan membeli matahari jika mampu untuk sang anak.

Pesan moral seorang ibu yang sering dikutip eyang membuat buku ini memiliki nilai lebih lagi. Anggaplah sebagai wacana dalam menghadapi hidup ini. Contohnya saat eyang kehilangan benda sepele tapi saat dibutuhkan . Kita harus iklas, merelakan barang yang diambil orang karena mungkin saja barang-barang tersebut bisa membuat bahagia yang mengambil. Eyang tidak saja kehilangan seprei, sarung bantal dan selimut. Tapi juga jacket, payung serta sandal. Seperti barang-barang itu diambil oleh calon-calon asisten rumah tangga yang hanya tinggal beberapa hari. Nelongso, Untungnya eyang selalu mengingat pesan ibundanya, "Ya, meskipun kamu atau yang kehilangan merasa rugi atau sedih, kebalikannya, yang mendapatkan benda itu tentunya merasa senang, malahan mungkin bahagia ...! 

Namanya juga pengarang besar, tentunya tetap ada bagian yang menguraikan tentang buku. Dalam hal ini eyang menguraikan tentang suasana nyaman yang dikenalnya saat di Jepang. Kebanyakan orang Jepang di dalam kereta atau bus selalu mengambil dua sikap, memejamkan mata atau membaca. Jarang kita temui penumpang yang termenung-menung dengan mata terbuka di kereta atau bus. Dalam urusan membaca, bangsa Jepang merupakann pembaca yang sangat handal. Perpustakaan besar dan kecil tersebar di seluruh kota hingga pelosok desa. Jumlah perpustakaan yang dikelola oleh swasta serta pribadi adalah sebesar sepertiga dari keseluruhan jumlah perpustakaan yang ada. Bagi bangsa Jepang membaca adalah sebuah budaya.

Untuk mereka yang dengan santainya "nodong" buku baru ke sahabat yang kebetulan penulis, mungkin kisah di halaman 234-237 bisa membuat kalian (eh saya juga meski kadang-kadang) berpikir dua kali ketika akan melakukan hal tersebut lagi.

Jika di luar negeri seorang pengarang bisa kaya raya dengan sebuah buku best seller, tidak demikian di tanah air. Eyang bahkan sempat menolak penghargaan  karena merasa panitia tidak fair. Mereka dengan mudahnya memberikan penghargaan  pada orang yang belum cukup berkarya tapi sering muncul di koran.

Kover buku dengan nuansa bunga aneka warna ini menawarkan pemandangan yang neyejukan hati bagi yang melihatya. Ditambah dengan warna judul dan penulisnya. Menurut saya eyang sangat rendah hati karena membiarkan nama beliau ditulis secukupnya, tidak seperti penulis lain yang namanya dicetak dengan huruf berukuran besar melebihi judul. Meski demikian saya agak bingung dengan ilustrasi Menara Kudus. Apakah sekedar untuk memperjelas  lokasi kisah atau hal lainnya,

Buku ini berjodoh dengan cara yang unik. Setelah melakukan pembayaran, saya lupa melakukan konfermasi pada si penjual. Setelah nyaris dua minggu baru saya ingat. Untunglah buku ini masih ada dalam persediaan.

Sebelum saya makin ngelantur ngalor-ngidul, ada baiknya saya akhiri review ala curhatan saya dengan menawarkan sebuah perenungan yang bersumber dari buku ini.

Apa pun yang tidak diasah, akhirnya selalu menjadi tumpul. Segumpal batu atau berlian yang memiliki nilai jual tinggi sekalipun harus diasah lebih dahulu, dipotong dan dikikis dengan pertimbangan sudut serta segi tertentu agar memantulkan sinar sehingga berkilauan. Demikian pula halnya akal manusia, alat terpenting karunia Yang Maha Kuasa. Bakat yang dimiliki seseorang tidak akan matang, kemudian mewujudkan sesuatu hasil jika tidak dipupuk dan diasah. 
Ini bakat dan hobiku
Mana bakat dan hobi kalian yang siap dipupuk dan diasah?