Sabtu, 25 Juli 2015

2015 #63: The Heart of Glass


Penulis : Vivian French
Ilustrasi: Ross Collins
Penerjemah: Sri Noor Verawaty
Penyunting: M. Sidik Nugraha
Pewajah isi: Siti Qomariyah
ISBN : 9786027145832
Halaman: 264
Cetakan: Pertama-2015
Penerbit: Atria
Harga: Rp 39.000


Saat hidup Jiwa Sejati berakhir di sini
Jantung Raja Tertinggi 'kan berdetak sekali lagi
Dan kekuatan datang pada dia yang berkuasa
Rajanya para raja akan kembali berjaya

Gracie Gillypott serta Pangeran Marcusmemutuskan untuk pergi ke Rimba Muslihat guna melihat dan menemui para kurcaci. Mereka akan memandang para kurcaci yang sedang bekerja dari jauh, jika mungkin berbicara singkat dengan satu atau dua kurcaci. Sepertinya bukan petualangan yang membahayakan menurut mereka.

Sebenarnya para kurcaci sedang lumayan sibuk. Mereka diminta untuk menyediakan aneka mahkota cantik pada pernikahan Putri Fedora dan Pangeran Tertius dari Niven's Knowe. Untuk urusan ini, mereka memang pakarnya menciptakan perhiasan cantik menawan.

Dibutuhkan  emas untuk membuat mahkota, artinya jika banyak mahkota yang harus dibuat maka dibutuhkan banyak emas. Untuk bisa mendapatkan banyak emas, butuh tenaga yang besar untuk bisa menggali lebih dalam guna mendapatkan tambang emas baru.

Saat tenggat makin dekat, para kurcaci terpaksa membuat kesepakatan dengan Raja Troll, Thab. Mereka meminta bantuan raja untuk meminjamkan salah satu Troll yang terkuat guna membantu penggalian. Troll tentunya lebih kuat menggali dibandingkan para kurcaci.

Raja Thab bersedia membantu asal mendapat imbalan yang agak luar biasa anehnya. Pihak kurcaci terpaksa memenuhi persyaratan yang diajukan tanpa memikirkan lagi bagaimana konsekuensi dan memenuhinya, semuanya demi mendapat bantuan yang dimaksudkan.

Terlepas dari persyaratan yang diajukan sang raja, tak ada yang mengetahui bahwa sebenarnya sang raja menyimpan jantung kaca tergeletak di atas tempat tidur beludru yang lembut. Jika ia bisa mendapatkan seorang Jiwa Sejati maka jantung tersebut berdetak sekali lagi, dan ia akan menjadi raja dari semua raja. Dan ia mengharapkan persyaratan yang diberikan pada para kurcaci bisa membantunya mendapatkan Jiwa Sejati.

Ternyata rencana petualangan  Pangeran Marcus dan Gracie Gillypott tidak berjalan semulus yang dibayangkan. Mereka justru harus berurusan dengan Troll jahat, kurcaci, terowongan bawah tanah serta bahayalongsor. Untunglah keberuntungan masih berada di  pihak mereka. Jika tidak bagaimana nasib Grace si Jiwa Sejati saat berada di tangan Raja Troll yang kejam.

Seakan semuanya belum cukup menyulitkan, mendadak Putri Marigold muncul setelah sebelumnya memiliki ide ajaib untuk menunggu Pangeran Marcus di ujung kerajaan. Siapa tahu pangeran akan melihatnya yang mempergunakan gaun cantik, berhenti dan mengajaknya kembali ke kerajaan bersama-sama. 

Petualangan ala Putri Marigod, tentunya sangat berbeda dengan versi Pangeran Marcus. Ia begitu terkejut saat melihat sang putri. "Aku sedang bertualang! Ini sangat menyenangkan sampai kuda poni nakalku melarikan diri ... tapi sekarang kau sudah bergegas datang untuk menyelamatkan aku. Marcus Sayang! Tidaklah kau mau menciumku?"


Seperti karya Vivian yang lainnya, semua kesimpang siuran kisah akan berakhir dengan manis. Segala hal yang belum jelas tentunya akan terjelaskan, bahkan dengan cara yang sederhana sekali pun.

Dalam buku ini, kita akan berkenalan dengan tokoh baru yang membuat kisah ini menjadi lebih seru. Sang  tokoh baru digambarkan selalu saja bersin tiada henti, akibat alergi. Berada di bawah tanah yang penuh dengan debu galian jelas sangat memicu alerginya. Bagian ini mengingatkan saya yang sering lupa pada alergi debu saat asyik membongkar buku-buku lawas nan antik di kantor.

Pesan moral yang disampaikan buku ini sangat cocok untuk para remaja, sasaran pembaca buku ini. Bagaimana pun situasi dan kondisinya, kita harus berhati-hati jika memberikan janji, karena janji harus ditepati. Janji adalah hutang yang harus dibayarkan. Untung itu jangan sembarangan memberikan janji pada yang lainnya. Pikirkan dulu masak-masak bagaimana kondisinya, apalah merugikan bagi diri kita dan orang lain, bagaimana cara kita memenuhi janji tersebut.

Dalam buku terdahulu, kita pernah bertemu dengan kakak tiri Gracie, Foyce. Disinggung sedikit bagaimana kondisinya sekarang ini selama berada dibawah pengawasan Para Pitarah.  Mereka akan membiarkan Foyce pergi jika hatinya sudah benra-benar bersih dari kebaikan dan keburukan. Semoga hatinya bisa menjadi secantik wajahnya. Dan melihat aneka komentar yang diucapkan Foyce, sepertinya masih lama sebelum ia bisa pergi dari Kastel Pitarah Purba. Hal ini memberikan kita pesan moral, bahwa pada dasarnya keindahan hati lebih utama dari pada keindahan fisik.

Hal lain yang bisa kita ambil manfaat dari buku ini adalah, bahwa bekerja sama bisa membantu memecahkan masalah dari pada bekerja sendiri. Para Kelelawar Marlon dan Alf, Guble  bahu-membahu dengan  Pangeran Marcus untuk berusaha menyelamatkan Gracie. Bersama dan bersatu membuat segala hal menjadi mungkin dilaksanakan.

Mungkin saat melakukan alih bahasa, kalimat yang memuat bagian Putri Marigod mengatakan, "... Marcus Sayang! Tidaklah kau mau menciumku?" bisa dihilangkan. Kesannya kurang baik saja bagi remaja, meski cium dalam buku ini bisa berarti menciup tangan ala sopan santun.

Secara keseluruhan buku ketiga ini tidak kalah serunya dibanding dua buku terdahulu. Justru karakter baru dan pengembangan kepribadian para tokoh kian terasa dalam buku ini.

Penasaran bagaimana buku selanjutnya.
Semoga tidak keluar dalam waktu yang tidak terlalu lama.










































































Senin, 20 Juli 2015

2015 #62: House Of Secrets : Battle Of The Beasts

Chris Columbus & Ned Vizzini

Penulis: Chris Colombus & Ned Vizzini
Penerjemah: Putro Nugroho
Penyunting: Lisa Indriana Yusuf
Penyelaras aksara: Nunung Wiyati
Penata aksara: chickencavalry
Perancang sampul: Vinsen  
Chris Columbus & Ned Vizzini
ISBN: 9786020989754
Halaman: 452
Cetakan: Pertama-29 Jun 2015
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 79.000

Hati-hatilah jika menginginkan sesuatu. Pikirkan terlebih dahulu dampaknya bagi dirimu dan orang disekitarmu.
Begitulah kurang lebih pesan moral yang bisa didapat dari film Marsha sore ini (efek liburan ngak tahu mau ngapain).

Dan seharusnya nasehat  itu juga yang diingat oleh  Eleanor sebelum ia menuliskan keinginan dan memasukannya dalam Kitab Petaka dan Hasrat waktu itu.

Elenor menulis dengan jelaga keinginannya yaitu; Pernyihir Angin akan pergi ke tempat terburuk, dan anak-anak Walker kembali ke rumah. Kembali ke malam segalanya dimulai. Dengan orangtua yang masih hidup; Kembalikan Will Draper juga; keluarganya  menjadi kaya dengan uang sebesar sepuluh juta dollar di rekening ayahnya.

Sepertinya semua berjalan baik, sesuai dengan yang ditulis Eleanor serta yang diharapkan oleh anak-anak Walker lainnya. Sampai aneka peristiwa aneh terjadi.

 
Orang tua mereka memang kembali dalam kondisi hidup, seperti tidak terjadi apa-apa. Uang sejumlah sepuluh ribu dollar mendarat  ke rekening ayahnya, diduga itu adalah uang perdamainan.  Tapi kehidupan keluarga tersebut menjadi aneh. Ibu mereka membeli sebuah kompor gas yang harganya lebih mahal dari mobil lexus, sementara sang ayah memiliki telepon genggam lain yang tidak diketahui anggota keluarga.

Will memang ikut terbawa kembali. Tapi butuh waktu lama bagi Will untuk kembali menemui  Cordellia, yang sedang sibuk panik karena terkena gejala berubah menjadi nenek-nenek. Kulitnya menjadi keriput. Giginya mulai goyang, bahkan beberapa sudah tanggal. Celakanya peristiwa itu terjadi disaat seorang cowok populer mengajaknya kencan. Bisa ditebak, kencan berakhir sebelum dimulai. Cordelia juga mulai tidak suka buku lagi. Gawat!

Brendan yang berharap menjadi populer mendadak mengalami aneka peristiwa yang membuat segala usahanya sia-sia. Ia bahkan sudah mengeluarkan uang banyak. Alih-alih menjadi populer, ia justru mendapat perlakuan tidak nyaman dari beberapa murid di sekolah.

Eleanor merasa diikuti oleh bayangan hitam. Ia merasa tidak  nyaman. Firasatnya itu ternyata benar! Raja Badai  menculik dan membawanya ke Bohemian Club. Tindakan tersebut membuatnya bertengkar dengan Aldrich Hayes, pemimpin Penjaga Hikayat. Tindakannya itu dianggap bisa membahayakan kelangsungan seluruh operasi. "Bohemian Club telah membentuk dunia! Kita yang memilih presiden! Kita mempengaruhi politik dunia! Dan, kita berhasil hanya karena satu alasan... kerahasiaan." 

Perkumpulan tersebut mengingatkan pada khabar mengenai sebuah perkumpulan yang dianggap menguasai dunia. Mereka konon bisa menentukan kondisi ekonomi, bahkan  siapa yang menjadi presiden sebuah negara adidaya. Penulis sengaja memasukan dalam kisah untuk mengingatkan pembaca bahwa banyak hal yang tidak kita ketahui berlangsung di sekitar kita.

Dan mulailah petualangan seru mereka untuk kedua kalinya, tentunya juga melibatkan Will dan Rumah Kristoff. Seperti buku pertama, dikisahkan rumah tersebut melayang tanpa ada yang tahu tujuannya. Mereka mendadak berada di waktu dan tempat yang menakutkan, tapi pastinya bagian dari salah satu kisah dalam buku yang ditulis Kristoff.

Selain kisah petualangan seru, sebenarnya pembaca juga diberikan pengetahuan, meski dalam porsi yang tidak banyak. Dalam buku ini, kita akan bertemu dengan penguasa Roma yang menyukai aksi gladiator di koloseum, Nazi, monster pemakan manusia serta biksu.

Saya sangat yakin, setiap pencinta buku pasti merasakan sensasi yang menyenangkan plus menegangkan saat membaca kisah di halaman 216-221.  

Serius! Tidak percaya? Simak kutipan berikut ini,
Sebuah rak buku.
Benda itu mirip rak kayu apung yang mereka lihat di petualangan terdahulu. Rak itu benar-benar berada di bawah permukaan air kolam. Dan di setiap raknya, terlihat jelas meski berada dalam air, berjejer lusinan manuskrip.
Sebuah rak penuh buku berada di bawah air tanpa merusak buku! OK saya mau pesan satu zat atau mantera apalah yang bisa membuat koleksi saya menjadi seperti itu. Lumayan, menghemat tempat penyimpanan.

Selain disajikan adegan baku hantam, adu kecerdikan, ada juga bagian yang mengisahkan tentang mereka saling mengungkapkan perasaannya.  Bagian dimana Will menyatakan perasaannya sungguh mengharukan, dibanding yang lain. 

Meski hanya berupa karakter dalam buku,  namun sosoknya sudah sangat melekat dalam hati anak-anak Walker.  Setiap hari Will terus berupaya melupakan bahwa dirinya bukan manusia yang memiliki daging dan darah.

"Kurasa persamaan di antara kita...kita yang berasal dari buku-buku ini...adalah perasaan terperangkap. Entah kita bertempur dalam peperangan yang sepertinya tidak pernah berakhir, atau berkelahi di arena selama berhari-hari...rasanya semua akan terus dan terus berlangsung, sama sekali tidak ada tanda-tanada akan usia. Ini agak mirip dengan kutukan...kita semua merindukan sesuatu yang lebih daripada kristoff tulis." Maka tak heran jika kemudian Will melakukan hal yang tak kita duga. Sepertinya saya akan merindukan gaya  sopan Will kelak.

Mungkin konyol, tapi satu adegan membuat saya tertawa plus penasaran. Awas ini spoiler sedikit yaa. Ada sebuah bagian yang menyebutkan Brendan berada di koloseum menjadi gladiator, tentunya dengan kostumnya, cawat. Ehh bukan itu yang membuat saya tertawa. Tapi adegan ketika  cawat Brendan tertarik dan ia menjadi telanjang! Lalu kalimat berikut,"Brendan memanjat naik ke kereta luncur. Luar biasa kelelahan. Aman. Dan, telanjang."

Penasaran, tidak disebutkan bagaimana selanjutnya Brendan. Maksud saya apa yang ia pakai menjadi baju? Di kereta luncur tentunya tidak banyak pilihan. Hal kecil tapi membuat saya penasaran saja, terutama ketika mendadak Brendan yang disebutkan telanjang bisa dengan santainya duduk di kereta luncur. Selama itu ia telanjang? Baru di halaman 393 dituliskan, "Setelah buru-buru memungut mantel bulu yak yang dibuang oleh seorang biksu, Brendan pun memeluk Felix."

Pada halaman 128 tertulis, "..., diam-diam Cordelia mendekati pajangan armadillo yang diawetkan." Sementara itu, di halaman 129 juga tertulis, " Namun sayang, pada saat yang sama Cordelia memukul punggungnya dengan bingkai armadillo."
 
Penasaran juga saya, seperti apa yang dimaksud dengan Armadillo itu sebenarnya. Kenapa tidak ada catatan kaki mengenai hal itu. Padahal sebelum halaman 128, jika tidak salah sudah ada 6 catatan kaki yang memuat mengenai hal yang belum umum diketahui. Atau memang hanya saya saja yang tidak cukup tahu mengenai Armadillo itu. Gambar serta keterangan lebih lengkap mengenai Armadillo bisa dilihat di http://animals.sandiegozoo.org

Untuk urusan kover, saya lebih menyukai yang menggambarkan Rumah Kristoff  mendarat di tengah koloseum. Bukan karena kover yang didominasi dengan warna biru, namun karena kesannya lebih dramatis. Selain itu, kover tersebut mencerminkan bagian kisah yang lumayan panjang.


Kover versi yang beredar di tanah air juga bagus, hanya saja kesan petualangannya kurang, malah bagi saya lebih mengusung kesan horor. Jika tidak salah itu merupakan bagian dari kisah di Bohemian Club, bagian yang memang tidak begitu panjang tapi merupakan cikal bakal petualangan ini. Tapi semuanya tergantung pada selera pembaca mana yang mereka suka.
 
Sungguh buku yang menghibur. Dibandingkan dengan buku pertama, dalam buku ini para karakter mulai berkembang. Brendan meski masih bersikap konyol namun sudah mulai berubah menjadi lebih dewasa. Beberapa keputusan penting dan tindakan berani dilakukan oleh Eleanor, padahal di bagian awal kisah ada adegan yang menyebutkan ia menangis ketakutan. Cordelia sudah mulai mampu menekan sikap egoisnya, terutama berurusan dengan cinta.  

Catatan kaki lumayan membantu pembaca. Sekitar 12 catatan kaki ada dalam buku ini. Jangan melihat angka, tapi lihatlah manfaatnya. Meski begitu, sayangnya sumber yang dijadikan acuan adalah wikipedia. Bukan apa-apa, saya jadi teringat pesan seorang dosen agar tidak mencantumkan wikipedia sebagai sumber saat membuat sesuatu. Sebagai tambahan pengetahuan boleh, namun untuk surmber tulisan sebaiknya jangan. Menurut beliau karena di wikipedia tidak jelas siapa yang menuliskan hal tersebut, sehingga secara akademis tidak bisa dipertanggungjawabkan. Mungkin lain waktu, penerjemah bisa mencari sumber-sumber lain selain wikipedia. Jika faktor kemudahan, tentunya selain wikipedia banyak situs yang bisa dikunjungi. Sekedar saran saja ^_^ toh saya juga suka berkunjung ke sana.

Salah satu adegan Brendan menyanyikan Glory Days di kolosium sungguh spektakuler, hayuh kita ikutan bernyanyi biar semangat menunggu kisah selanjutnya

"Glory Days"
I had a friend was a big baseball player
back in high school
He could throw that speedball by you
Make you look like a fool boy
Saw him the other night at this roadside bar
I was walking in, he was walking out
We went back inside sat down had a few drinks
but all he kept talking about was

[Chorus:]
Glory days well they'll pass you by
Glory days in the wink of a young girl's eye
Glory days, glory days

Well there's a girl that lives up the block
back in school she could turn all the boy's heads
Sometimes on a Friday I'll stop by
and have a few drinks after she put her kids to bed
Her and her husband Bobby well they split up
I guess it's two years gone by now
We just sit around talking about the old times,
she says when she feels like crying
she starts laughing thinking about

[Chorus]

My old man worked 20 years on the line
and they let him go
Now everywhere he goes out looking for work
they just tell him that he's too old
I was 9 nine years old and he was working at the
Metuchen Ford plant assembly line
Now he just sits on a stool down at the Legion hall
but I can tell what's on his mind

Glory days yeah goin back
Glory days aw he ain't never had
Glory days, glory days

Now I think I'm going down to the well tonight
and I'm going to drink till I get my fill
And I hope when I get old I don't sit around thinking about it
but I probably will
Yeah, just sitting back trying to recapture
a little of the glory of, well time slips away
and leaves you with nothing mister but
boring stories of glory days

[Chorus (repeat twice)]
 


Eh... nganu,  ternyata mereka semua memang tidak bisa dipisahkan ya. Anak-anak keluarga Walker, Raja badai serta Penyihir Angin. Selamanya mereka akan saling berhubungan. Bukan main! Kejutan di akhir kisah hi hi hi *kabur sebelum dituduh spoiler*



Sumber gambar:
https://www.goodreads.com
http://animals.sandiegozoo.org

Sumber teks lagu:
http://www.azlyrics.com/
79.000#sthash.Yszq4xuH.dpuf
79.000#sthash.Yszq4xuH.dpuf
79.000#sthash.Yszq4xuH.dpuf

Sabtu, 11 Juli 2015

2015 #61: The Night Gardener

Penulis: Jonathan Auxier
Alih bahasa: Rini Nurul Badariah
Penyunting: Yenni Saputri
Desain & Ilustrasi sampul: Arrahman Rendi
Desain isi:Reza
Tata Letak Isi: Tri
Cetakan: Pertama- Mei 2015
Penerbit: Metamind
Harga: Rp 56.000


Jari-jarinya luluh menjadi abu halus, bertebaran di lantai. Dengan desau terakhir, Pekebun Malam roboh menjadi seonggok abu.

Molly dan Kip hanyalah sepasang anak kecil yang sedang  mengembara dari Irlandia pada awal Maret. Mereka berkendara menyongsong maut,  begitu menurut orang-orang ketika tahu mereka menuju pertanian Windsor di hutan selatan.

Mereka butuh RUMAH. Mereka butuh tempat tinggal yang lumayan, makanan yang selalu tersedia meski tidak terlalu mewah serta alamat untuk menunggu kiriman ma dan pa. Keduanya sedang sibuk berlayar. Jika mereka berdua tidak menetap, bagaimana orang tua mereka bisa berkirim surat? Karena itulah mereka nekat menuju Windsor.

Lingkungan di sana sebenarnya biasa saja, seperti pertanian pada umumnya. Hanya ada sebuah pohon yang berada sangat dekat dengan rumah hingga tampak seolah keduanya tumbuh bersama.

Pohon itu besar sekali dan tampak amat, sangat tua. Kebanyakan pohon menebar suasana hening yang anggun kesekitarnya. Yang ini tidak. Kebanyakan pohon mengundangmu memanjat sampai puncak. Yang ini tidak. Biasanya pohon membuatmu  ingin mengukir inisial di batangnya. Yang ini tidak. Berdiri dinaungi pohon ini membuatmu merinding

Meski Kip merasa ada yang tidak beres pada keluarga yang tinggal di sana, terutama karena pucatnya mereka.
Bahkan secara spesifik mereka dilarang keras melakukan kegiatan yang bersinggungan dengan pohon tersebut. "Dalam situasi apa pun kau atau adikmu tak boleh menyentuh pohon itu, " kata Constance, dengan nada sedingin es. Mau bagaimana lagi, mereka tidak ada pilihan lain.
 
Dan benar saja.
Aneka kejadian yang misterius mulai terjadi. Anak tertua keluarga itu Alistair memiliki persediaan perman yang tidak pernah habis. Penny gadis manis si bungsu, memiliki buku dongeng yang tidak biasa. Cincin sang nyonya rumah yang ada lagi setelah sebelumnya dibawa untuk dijual.
 
Sepertinya ada semacam roh yang menghantui rumah itu di malam hari. Ia menjadikan semua orang sakit dan pucat. Bahkan Molly juga mulai terkena dampaknya. Ia berubah tanpa disadarinya. Molly merasa tugas rumah tangga yang membuat rambut merahnya berubah mengarah ke hitam dan kulit putihnya.

Tidak salah lagi! 
Pohon itu penyebabnya!
Pohon itu mengabulkan permintaan dengan menciptakan ketergantungan. Itulah perbedaan keinginan dan kebutuhan. Dan mereka semua dikuasai oleh keinginan yang tidak masuk akal.

Secara keseluruhan, kisah dalam buku ini sedikit mengandung unsur menakutkan.  Pembaca dibuat ikut ketakutan saat Molly mendengar suara langkah kaki di malam hari, atau saat melihat sebuah bayangan hitam besar di lorong, hii....! Atut.

Namun kita juga bisa melihat bagaimana kuatnya kasih sayang diantara kedua saudara, yang menjadi kekuatan sehingga membuat mereka bisa saling menjaga sesama dan tetap bertahan dalam menghadapi segala kesulitan. The power of love
  

Jonathan Auxier

Petualangan mencekam, rasa persaudaraan serta cinta kasih sesama menjadi kian seru dengan adengan mengharukan di halaman 297. Hiks bikin saya harus menahan mewek terharu.

Sempat terlintas, jangan-jangan kisahnya mirip dengan kisah dalam The Secret Garden karangan Frances Hodgson Burnett, mengacu pada judulnya yang menyinggung urusan berkebun. Ternyata tidak, berbeda jauh malah.

Kisah ini, mungkin merupakan satu dari sedikit kisah yang memiliki akhir berbeda dengan kisah sejenis. Tidak semua kisah berakhir dengan bahagia, seperti sang jagoan memang dan hidup bahagia dengan warga yang ditolong. Kekasih yang hidup bahagia dengan pujaan jiwanya. Kisah ini memberikan akhir kisah yang tak terduga. 

Sebenarnya penulis bisa lebih membuat bagian yang penuh kengerian lebih panjang lagi, tidak tiba-tiba masalah bisa selesai dengan agak mudah. Harusnya dibuat dengan lebih sulit dan rumit lagi masalah yang ada, sehingga peran Molly dan Kid sebagai pahlawan bisa lebih terasa gregetnya.

Jika menilik  penghargaan yang diterima, Goodreads Choice Award 2014: Best Middle Grade & Childrean's 0f 2014, Canadian Library Association's 2015 Book of the Year for Children Award, Kirkus Reviews' Best Children's Books of 2014, saya hanya berharap semoga anak-anak yang membaca tidak merasa ketakutan. Mungkin lebih cocok untuk remaja sepertinya. 

Saya lebih suka kover edisi Metamind. Selain membuat saya tetap masih penasaran dengan kisahnya, meski sudah ada kata The Night Garder, yang mengarahkan kita pada urusan kebun. Kesan yang ditampilkan lebih berkesan misterius.

Demikian juga dengan ilustrasi yang ada di halaman muka serta halaman belakang dengan warna halaman yang dibuat hitam, mengantarkan nuansa menyeramkan. Apa lagi jika membaca kalimat berikut, "Berdiri di naungan pohon ini membuatmu merinding...." 

Urusan alih bahasa, jelasa tak perlu dikomentari. Seorang  Rini Nurul Badariah sudah bisa dipastikan membuat sebuah kisah terjemahan tetap memiliki jiwa seperti kisah dalam bahasa aslinya. Saya selalu menikmati hasil kerja kerasnya.

Jika ada waktu, ada baiknya sebelum membaca buku ini terlebih dahulu melihat Book Trailer di  https://youtu.be/MP0txNz69jM agar bisa merasakan kengerian yang ditawarkan. Jika sanggup, bahkan menikmati kengerian yang ditawarkan, silahkan lanjutkan niat untuk membeli dan membaca buku ini. Jika tidak, jangan coba-coba membaca buku ini.

Kalimat yang patut menjadi bahan renungan, 
"Cerita membantu orang menghadapi dunia, meskipun mereka takut. Sementara dusta berbuat sebaliknya. Dusta membantu bersembunyi."
Ternyata urusan berkebun juga bisa menakutkan.

Sumber gambar:http://abramsbooks.tumblr.com
http://www.amazon.com

Minggu, 05 Juli 2015

2015 #60: Awal Kisah Tujuh Manusia Harimau

Judul asli: 7 Manusia Harimau Jilid 1: Pantang Berdendam
Penulis: Motinggo Busye
Penyunting: Hermawan Aksan
Desainer sampul: Dodi Rosadi
Ilustrasi sampul: Sweta Kartika
ISBN:978-602-1637-42-5
Halaman: 544
Cetakan: Pertama- Mei 2015
Penerbit: Qanita
Harga: 544

Lat bulat si Biji Lada
Lat kata biji
lat bulat kata lada
Lada bulat di pusat
Pusatnya si Anu
Yang kucinta
Yang bulat mencintaiku
Menggeliat pusat si Anu
Si Anu untukku
Malam ini si Anu ingatku!
Lat bulat si Biji Lada
Lada bulat di pusat si Anu
Lat bulat lat

Kar kata cakar
Kar kata kuku
Cakar kuku cakar kaki
Yang berkaki empat
Yang raja di hutan
Yang pantang nyeberang laut
Yang bercakar
Yang belang
Belang tiga
Fing! Masuk fing!
Dia ada di dalam
Dia si Belang Tiga
Aku si Belang Tiga

Faktanya, saya tidak menemukan sosok Karina dalam buku ini. 

Jangan khawatir, ini versi novel bukan sinetron. 
Pastilah ada perbedaan. Sosok Karina yang sak enak udele memang tidak ada. Tapi kita akan dibuat gemas, kesal, marah, terharu, heran dengan tingkah laku Herwati.

Sebenarnya saya agak bingung harus mereview buku ini. Tiap bagian menawarkan kisah yang mampu membuat mata betah membaca hingga tak ingin meletakkan buku sampai lembar terakhir.  Bagai candu, selesai satu halaman ingin segera membaca halaman selanjutnya. Spektakuler!

Kisahnya bermulai dari kedatangan seorang guru muda yang mengajar matematika serta fisika di Desa Kumayan, Gumara Peto Alam. Sejak ia menginjakan kaki di sana, ia sudah diberi tahu bahwa desa itu merupakan biang dari segala ilmu hitam. Ia juga paham bahwa ia harus bersikap hormat pada para tetua.

Belum apa-apa ia sudah diuji oleh Inyit. Inyit merupakan sebutan bagi harimau. Di Kumayan mereka menyebut begitu agar tidak kualat. Kemudian siluman ular mengujinya. Selanjutnya giliran manusia yang menguji. Dari dituduh membunuh, lalu mendapat kiriman makanan yang diberi racun teluh hingga menghadapi kehebohan dua gadis cantik yang berebut perhatiannya. "Aku datang ke Kumayan ini untuk kebaikan. Kenapa aku disambut dengan kejahatan berturut-turut,"bathin Gumara.

Dua gadis yang memperebutkan hati Gumara, Pita Loka dan Herwati meski sama-sama cantik tapi memiliki kepribadian yang bertolak belakang.  Pita Loka tidak bernapsu belajar ilmu  kanuragan seperti Herwati. "Aku ingin jadi penerbang pesawat jet, bukan harimau. Beda dengan kau, yang belajar mantap dari ayahmu...." Sementara Herwati sangat berambisi menjadi pendekar yang memiliki ilmu hebat.

Lembar-lembar selanjutnya kita akan disuguhi dengan aneka kisah seru dan menegangkan khas kisah silat mengenai sepak terjang ketiga anak manusia tersebut mencari ilmu silat.

Ada beberapa bagian yang agak menyeramkan dan sulit saya bayangkan. Bagian tersebut penuh dengan urusan pembantaian dan darah. Tapi ada juga bagian yang mengisahkan tentang keheningan alam saat seorang tokoh melakukan tapa. Hal tersebut ikut membawa suasana damai saat membacanya.

Asal usul Gumara yang misterius akan ada jawabannya di halaman 137. Ia memang tidak pernah belajar ilmu kanuragan  langsung dari ayahnya, Ki  Lebai Karat. Justru ilmu itu diturunkan sejak dalam kandungan. Itulah sebabnya dalam versi buku, kadang Gumara bisa melakukan hal-hal yang tidak pernah ia pelajari secara langsung.
 
Banyak kisah yang menceritakan bagaimana seorang jago ilmu bela diri belajar dari alam. Mempergunakan jurus dengan unsur yang ada di bumi seperti air, angin dan api, memperhatikan gerakan hewan seperti burung dan ular lalu mengolahnya dengan mempergunakan ketajaman akal dan budi menjadi sebuah jurus pamungkas. 

Senada dengan yang diuraikan oleh Ki Rengga Mada pada Pita Loka saat berguru. "Pelajaran silat adalah pelajaran mempertajam akal dan perasaan. Ketajaman memutuskan sesuatu, sekaligus melakoni sesuatu secara serentak"  

Ternyata untuk belajar ilmu kanuragan, ada juga cara instan. Tentunya cara ini tidak akan bertahan lama, seperti juga hal instan lainnya. Tapi bagi mereka yang ingin meraih sesuatu dengan mudah, tentunya hal ini sangat ditunggu. Misalnya peristiwa yang ada di halaman 371.

"Perhatikan wajahku" Lalu Harwati memegang kepala sang murid seraya berkata, "Melalui aliran darahku ke tanganku, getaran Ki Para, sang Guru Lobra, telah masuk dalam dirimu." 

Hanya dengan cara melakukan ritual menyiram kepala murid dengan bunga tujuh rupa lalu melakukan seperti yang tertera di atas, maka seseorang bisa langsung memiliki ilmu tinggi. Siapa yang tidak mau mendapat ilmu tanpa perlu susah-susah belajar. Dalam waktu singkat mereka yang ingin menjadi murid Herwati bertambah dengan cepat.

Buku ini juga memberikan banyak pesan moral selain urusan perkelahian tingkat tinggi. Simak saja kalimat berikut, "Seorang pendekar harus pandai maca. Tentu engkau seorang anak sekolah yang pernah belajar membaca. Tapi ada beda maca dan membaca. Maca juga berarti membaca peristiwa diri dan alam, sebagaimana aku membaca kehadiranmu di padepokanku...." Kalimat tersebut ada di halaman 178. Maknanya menganjurkan kita untuk mawas diri dan memperhatikan alam sekitar, karena kita bisa belajar banyak dari peristiwa yang terjadi dalam alam.

Selain urusan ilmu kanuragan, ternyata ada juga  porsi tentang pendidikan umum. Disebutkan bahwa salah seorang guru Pita Loka yang bernama Ki Surya Pinanti selesai studi di HBS Batavia. Sebenarnya ia ingin memperdalam Ilmu Listrik dan Fisika ke Holland, namun justru di Gunung Ciremai ia mendapat seluruh ilmu fisika dan elektro. Secara metafisis bukan fisik tentunya. 
 
Uraian ini agak kontras jika membaca bagian dimana Pita Loka, Herwati bahkan Gumara sendiri meninggalkan desa, tentunya meninggalkan sekolah. Padahal tugas Gumara adalah menjadi guru, lalu bagaimana ia bisa pergi seenaknya selama tiga minggu. Itu artinya ia meninggalkan kewajibannya mengajar. Hal ini menjadikan penilaian terhadap sosok Gumara yang digambarkan santun, ramah dan rendah hati menjadi agak berkurang.

Penilaian saya makin berkurang ketika membaca bagian yang mengisahkan Gumara tak mampu menahan godaan hasratnya. Coba telaah kalimat berikut, "... tiba-tiba hasratnya terpacu melihat seorang wanita yang sedang memetik buah mentimun. Gumara merunduk mendekat dan menarik kain si wanita. Wanita itu terpekik minta tolong. Gumara ketakutan dan malu." Duh..., Pak Guru Gumara kok bisa begitu ya.

Semula saya agak bingung membaca kisah versi buku, karena sekian lama sudah tertanam versi sinetron dalam memori saya. Tapi jangan khawatir versi buku juga sangat bisa dinikmati. 


Beberapa perbedaan yang ada seperti penyebutan datuk dalam sinetron menjadi ki dalam versi buku. Nama tokoh utama ada beberapa yang diubah untuk kepentingan estetika tontonan. Lading Ganda contohnya, diubah menjadi Rojo Langit. Bisa menebak siapa nama tokoh Karina dalam buku ini khan?

Istilah dan bahasa yang digunakan dalam sinetron menyelipkan dialek dan bahasa yang sering dipergunakan oleh masyarakat Bengkulu, seting kisah ini.

    Pedang Surandar ada dua, pertama Pedang Surandar itu sendiri yang semula dibuat oleh Empu Wesi untuk Ki Tunggal namun dicuri oleh Bokoh Anggita. Satunya Sepupu Surandar yang diberikan kepada Herwati dari Ki Tunggal. Perbedaan asal muasal kepemilikan yang membuat pedang tersebut berbeda. Pada versi buku ini pedang tersebut pada akhirnya tidak dimiliki siapapun.

    Urusan membuka kitab untuk mencari petunjuk yang sering kita lihat dalam sinteron ternyata juga ada dalam buku ini, yaitu ketika Ki Tunggal mencari petunjuk. Dia raih kitab di hadapannya, lalu dia membaca bagian yang ditandai dengan lidi, melanjutkan pembacaannya:
    Sesungguhnya dia yang bertengger di pohon sangkina
    Terikat oleh janji nasib untuk selalu memperbaiki kebaikan
    Dia hanya melakukan kewajiban, dan menjalankan yang hah
    Sesungguhnya diasedang berpuasa, pertapaan seekor gagak
    Nanti dia akan turun setelah tiga minggu
    Secara garis besar, kisah dalam buku ini membuat kita mendapat hiburan juga belajar tentang banyak hal. Selain urusan kehidupan sosial, tentunya pesan moral dan pelajaran kehidupan juga banyak terdapat dalam buku ini.

    Saya agak ragu apakah buku ini layak dibaca untuk anak remaja mengingat aneka adegan pertempuran yang selalu memuntahkan darah yang lumayan banyak. Agak menyeramkan bagi saya sebenarnya. 

    Kover dengan nuansa merah memang sangat tepat untuk menggambarkan suasana petarungan yang menengangkan dalam buku ini. Ilustrasi wujud harimau dan manusia menunjukan tentang manusia harimau.Tulisan 7 Manusia Harimau dengan warna perak terlihat kontras dengan latar belakang kover. Kesan kisah seru dan menegangkan bertambah dengan kalimat yang menyebutkan tentang judul buku ini, Pantang Berdendam.

    Tumben saya menemukan typo dalam buku ini. Ada di halaman 183 baris pertama. "Dan Pita Loka anpa ampun menggebrak dengan serangan...."

    Di Goodreads disebutkan bahwa kisah ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu
    Jilid 1 : Pantang Berdendam
    Jilid 2 : Gadis Sakti
    Jilid 3 : Murid Durhaka
    Jilid 4 : Misteri Tirai Setangi
    Jilid 5:  Rahasia Kitab Tuju
    Jilid 6:  Aji Melati
    Jilid 7:  Pedekar Wanita Buta
    Jilid 8 : Amukan Pendekar Edan
    Jilid 9 : Pedang Ratu Klabang
    Jilid 10: Pendekar Aneh Muka Aneh

    Untuk buku ini sepertinya memuat jilid pertama hingga keempat. Hal ini bisa dilihat pada Isi buku, yang terdiri dari 4 bagian, yaitu:
    Bagian 1 : Pantang BerdendamBagian 2: Gadis Sakti
    Bagian 3: Murid Durhaka 
    Bagian 4: Misteri Tirai Setangi 

    Kalimat bijak pada halaman 492, bisa kita jadikan renungan untuk lebih mawas diri agar bisa menjadi manusia yang lebih bermakna. 
    Apa yang kau sukai belum tentu engkau dapatkan. Dan apa yang engkau dapatkan belum tentu kau sukai. Tapi apa yang engkau sukai belum tentu baik bagimu




    Rabu, 01 Juli 2015

    2015 # 59: Antara Jawa & Eropa


    Penulis: Dodit Mulyanto
    Penulis Pendamping: Widya Arifianti
    Ilustrator/komikus: Norma Aisyah
    Penyunting: Kafisilly
    Penyelaras Akhir: Andri Agus Fabianto
    Penata Letak: Yhoghi Yhortdan
    Pendesain Sampul: Norma Aisyah
    ISBN: 978602-0--353
    Halaman: 144
    Cetakan: Pertama 2015
    Penerbit: Loveable

    Buku setebal 144 halaman ini sukses membuat saya ngakak  dengan gaya bebas alias sepuas-puasnya ketawa. Menghilangkan cekot-cekot di kepala dan memberikan pandangan baru tentang hidup ini. Well, minimal membuat saya merasa tidak tidak merasa bersalah jika berkomentar dalam hati (masih beraninya segitu) jika melihat hal-hal yang tidak biasa di sekitar.

    Terbagi menjadi beberapa bagian, tema yang dijadikan  kisah terinspirasi seputar kehidupan, yaitu Dodit Ngomongin Media Sosial, Gadget, dan Komunikasi; Dodit Ngomongin Politik dan Nasionalisme; Dodit Ngantor; Plesetan Dodit; Pahlawan Tanpa Tanda Jasa; Jawa Rasa Eropa; Peran Pembantu dan Orang Jawa; Dodit dengan Karakter Lainnya; Dodit Si Komika Favorit; Modus & Gagal Move On; 


    Semula saat membaca buku ini, saya akan menemukan banyak hal tentang Jawa dan Eropa saja. Ternyata bagian yang memuat tentang Jawa dan 
    Eropa hanya ada merupakan bagian dari beberapa topik lainnya.

    Dalam Dodit Ngomongin Politik dan Nasionalisme terlihat ada topik mengenai gelar bangsawan di Jawa dengan mengambil contoh soso R.A Kartini, di Plesetan Dodit ada sosok Dodit menggunakan Dodot (busana Jawa), 

    Jawa Rasa Eropa dimulai dengan prosesi kelahiran Dodit yang luar biasa tidak biasa, pendidikan yang ia alami sejak kecil termasuk kewajiban bermain biola, kebiasan makan dan tidur hingga gaya hidup yang ia jalani.

    Sementara itu pada Peran Pembantu dan Orang Jawa bekutat pada urusan para asisten rumah tangga yang sebagian besar memang berasal dari Jawa. Keberadaan mereka suka tidak suka sudah menjadi bagian hidup hampir sebagian besar rumah tangga di tanah air. Kesuksesan mereka di rantau menjadi pemicu rekan sekampung halaman untuk ikut mengadu nasib. Urbanisasi terjadi. 

    Sebenarnya tidak bisa 100% menyalahkan mereka,  jika tidak ada permintaan tidak ada penawaran kata Hukum Permintaan dan Penawaran. Selain tergoda dengan kesuksesan teman, mereka yang pulang kampung sering dititipi pesan untuk mengajak kenalan, kerabat jika ada yang mau bekerja karena si anu membutuhkan asisten rumah tangga. Gayung bersambut, urbanisasi terjadi.

    Rasanya kurang mewakili judul yang dipilih. Akan lebih pas jika bagian tentang Jawa dan Eropa lebih diperbanyak sehingga layak dijadikan judul. 

    Pada kover juga terdapat gambar Menara Eiffel di Paris apakah maknanya untuk mewakili Eropa? dengan hanya mengungkap tentang Dodit yang keturunan Jawa namun dibesarkan ala Eropa, sepertinya kurang mewakili isi.  Serupa halnya dengan gambar seperti candi yang bisa dianggap mewakili Jawa. Lagi pula tidak ada kisah yang menyinggung tentang Menara Eiffel dan candi. Sosok Dodit yang mempergunakan busana Jawa sudah cukup mewakili unsur ke-Jawa-annya.

    Sekedar usul, untuk bagian Dodit Plesetan serta Dodit dengan Karakter Lainnya sepertinya mengusung tema yang mirip. Mungkin jika cetak ulang bisa dijadikan satu bagian saja.

    Oh ya salah satu ciri khas Dodit adalah kebisaan mempergunakan Biola.  Meski dalam buku ini sudah bisa ditemukan banyak gambar yang memperlihatkan Dodit membawa biola, namun sepertinya porsinya perlu ditambah. Misalnya dalam Dodit Si Cowok Gothic, selain urusan penampilan yang berubah menjadi ala gothic bisa juga ditambahkan dengan Dodit membawa biola. Tentunya lebih kocak lagi. "Jubah hitam panjang terbuat dari gorden yang dipermak menjadi jubah, Outfit: serba hitam, dari ujung kaki (termasuk kulit). Kalau malam nyaris tidak kelihatan. Di pinggang tergantung biola hitam yang siap dimainkan kapan saja asal harga cocok."

    Selain menghibur, buku ini juga bisa dijadikan sebagai kaca untuk melihat bagaimana sebenarnya tingkah polah kita. Apakah masih dalam batas STD, kampungan atau melebihi Dodit.

    Enjoy

    ------------------
    Sabtu, 04-07-2015 saya menghadiri undangan yang dikirim oleh sis Muthia E mewakili penebit. Sebenarnya agak malas mengingat lokasi serta ada undangan yang menggoda juga. Setelah berdiskusi dengan sesama teman di komunitas maka saya diminta menghadiri acara ini, sementara teman menghadiri yang lain.

    Yang membuat saya meringis, saya tidak boleh meminta ttd or ikut berfoto karena tidak bisa menunjukan struk pembelian. Ya ampunnn namanya juga buntelan, mana bisa nunjukin struk. Yo wis dengan ngerundel saya memutuskan mengelilingi area toko buku di bagian atas saja. Sempat terpikir untuk menitipkan buku pada panitia karena pastinya setelah acara mereka punya sesi sendiri. Tapi rumpian dengan salah satu sahabat di dunia buku membatalkan niat saja.

    Ngak masalah, toh buku ini juga bukan buku yang bakalan saya beli, baca dan repiu andai bukan buntelan.Kalau pun saya simpan rapi karena ada ttd penulisnya. Tidak lebih. 

    Kebijakan saya dong.