Kamis, 11 September 2014

Review 2014# 51: Project X; The New Beginning of Net Detektif Indonesia

Penulis: Tim Penulis NDI
Penyunting: Zulfa Simatur & Fitria Pratiwi
Pendesain sampul: Nuruli
Penata letak: EM Giri
Ilustrasi sampul & isi: Sahua d & mhatzapa
ISBN: 979-065-210-0
Halaman: 350
Penerbit: VisiMedia Pustaka
Harga: Rp  59.000.00

Mari berkenalan dengan 5 anggota baru Net Detective Indonesia (NDI), sebuah organisasi detektif swasta, memiliki misi mengungkap kasus-kasus misterius yang terjadi di Indonesia. Mereka adalah Badai yang selalu melihat suatu hal dari banyak sisa dan memiliki kemampuan analisa yang tinggi, Loka sang kutu buku yang menolak kuliah tapi memiliki kemampuan berpikir yang tinggi, Gilang sang pemarah tapi baik hati, Ai  si manis pandai penyuka es krim dan teka-teki,Val si remaja ABG namun kritis pada banyak hal.

Tidak seperti  perkumpulan atau organisasi yang lain, kelima anggota baru tersebut direkrut dengan cara yang unik, mereka dibuat sedemikian rupa sehingga tanpa sadar telah berada ditengah sebuah misteri yang menantang kemampuan mereka untuk memecahkannya.

Buku misteri jelas sudah banyak. Tapi buku ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Kekuatan utama alasan buku ini layak dibaca dan dikoleksi adalah dari cara berceritanya. Buku ini mengisahkan 5 orang terpilih yang harus memecahkan misteri. Belakangan setiap misteri ternyata memiliki keterkaitan satu dengan lainnya sehingga menjadi sebuah misteri besar. 

Hal biasa? Memang. Justru bukan itu kelebihan buku ini. Kelebihannya adalah seluruh tokoh dibangun  oleh orang yang berbeda, artinya ada 5 orang penulis. Seluruh penulis awalnya membuat sebuah kisah sendiri-sendiri berdasarkan tokoh ciptaannya. Belakangan ada bagian yang mengharuskan beberapa tokoh saling bahu-membahu memecahkan masalah. Disinilah letak kekuatan buku ini. 

Jika pada penulisan sepak terjang setiap tokoh, pada 5 kisah awal, terlihat bagaimana ego seorang penulis.  Dimana gaya berkisah, pemilihan kata terlihat berbeda. Kisah-kisah tersebut dibuat dengan menggunakan sang tokoh sebagai narator. Justru pada 5 kisah selanjutnya, bagian mereka harus bekerja sama tidak terlihat kisah tersebut dikisahkan oleh orang yang beda. Seakan lima kisah yang pertama ditulis oleh 5 orang yang berbeda, pada 5 kisah selanjutnya juga ditulis oleh 5 penulis yang membuat kisah 5 diawal tadi. Pada 5 kisah yang mengandung unsur dimana mereka harus bekerja sama peran para tokoh terlihat seimbang. Hal ini menandakan siapa pun yang membuatnya sudah mampu menekan ego untuk tidak menonjolkan tokoh ciptaannya. 

Sebagai contoh, jika saya menciptakan tokoh C, sementara teman-teman saya menciptakan tokoh D, R dan K maka saat saya harus membuat sebuah kisah yang melibatkan  D, R dan K kemungkinan besar saya akan membuat kisah dimana C adalah pahlawan utama, tokoh utama sementara D, R dan K adalah tim penggembira. Dalam buku ini, penulis yang menciptakan tokoh C memberikan porsi yang sama dengan D, R dan K saat membuat sebuah kisah yang melibatkan mereka. 

Ada 2 kemungkinan, penulis yang sudah mampu menekan ego atas nama sebuah karya, buku ini bukti betapa baiknya kerja sama diantara para penulis. Atau editor yang sangat mampu membuat sebuah kisah tetap berada pada jalurnya. Semoga keduanya.

Kisah yang ada dalam buku ini beragam. Ada yang begitu membaca langsung membuat kita teringat pada kisah yang ada di tanah air. Beberapa kisah mengambil lokasi peristiwa di tanah air, tapi ada juga yang di luar negeri. Sosok yang menjadi korban juga beragam, ada dewasa, anak-anak, pria atau wanita.  Ada kisah yang bisa dimengerti dengan mudah, namun ada juga yang membutuhkan telaah lebih. Banyak hal bisa kita temui dalam buku ini.

Pembaca tidak hanya menikmati buku ini namun juga ditantang untuk memecahkan kasus. Pada bagian Solve The Riddle, sesuai dengan judulnya ada 8 soal yang harus dipecahkan. Bagi yang tidak sanggup memecahkan tak perlu meredam rasa penasaran, pemecahannya ada di bagian akhir buku ini. Tapi bukankah letak kesenangan membaca buku misteri adalah ketika mengetahui pemecahan misteri yang kita simpulkan sama dengan yang dirancang oleh penulis? Coba dulu memecahkan 8 kasus sederhana itu, jika sudah menyerah baru dibaca pemecahannya. 

Seperti layaknya kisah misteri, kadang hal-hal kecil menjadi sebuah petunjuk guna menemukan jawaban. Atau bisa menjadi sebuah bumerang bagi sang pelaku kejahatan, karena hal sepele kejahatan yang disusun rapi terbongkar. Begitu juga dengan buku ini. Beberapa hal kecil terasa janggal. 

Sebagai contoh, kasus Pelakunya Parakang. Disebutkan bahwa korban merencanakan pergi ke bank bersama teman lamanya untuk mengambil dana. Si teman lama membutuhkan pinjaman dana segar. Agak aneh saja buat saya, di zaman yang canggih ini masih dibutuhkan pergi ke bank untuk mengambil uang dan diserahkan pada orang lain yang kemungkinan akan menyimpan uang yang diterima ke bank. Bukankah lebih mudah dengan trasnfer, atau paling tidak memberikan  cheque tanpa perlu si korban ikut ke bank.
 
Pada halaman 80 dituliskan,"Jika kita perhatikan angka yang merah saja..." Padahal buku ini dicetak dengan menggunakan tinta hitam. Lalu bagian mana yang merah? Mungkin saat penyusun kisah ini sang penulis menempatkan kisah pada situasi dimana ada penulisan dengan menggunakan tinta merah, sayangnya ketika dicetak kondisi itu sudah tidak berlaku lagi. Mungkin lain kali bisa disiasati misalnya dengan dicetak lebih tebal, lebih besar atau bahkan mungkin saja benar-benar menggunakan tinta merah, meski artinya akan ada kenaikan biaya produksi.  

Lain lagi pada kisah Tragedi Pembakaran Panti. Tokoh dalam kisah ini Val dan Ai mendapatkan daftar orang yang memiliki izin khusus guna  masuk ke daerah sekitar alun-alun. Sebagai sepasang peserta yang jelas bukan petugas dari Kepolisian bagaimana bisa mereka mendapatkan daftar tersebut? Seharusnya hal tersebut menjadi suatu hal yang tidak bisa dibagikan begitu saja layaknya Siaran Pers Kegiatan. Lalu bagaimana cara mereka bisa "meminta" dengan begitu mudahnya. Atau bagaimana mereka dengan mudahnya menanyai para panitia terkait peristiwa yang terjadi di panti? tentunya para panitia menjadi waspada dan tidak gampang mengumbar kisah pada seorang anak ABG dan mahasiswa, harus ada trik khusus yang sebaiknya dikisahkan.

Kelima tokoh dalam buku ini dituliskan sebagai Badai, Loka, Gilang, Dias serta Val. Namun banyak bagian dalam buku ini yang memanggil Aimee Dias Wany dengan Ai. Akan lebih manis jika pada sinopsis yang berada di bagian belakang buku mencantumkan Ai. Sekalian menyebutkan apa kelebihannya selain manis. Manis dalam hal ini bisa bermakna enak dilihat, elok, menyenangkan. Jika demikian itu bukan kelebihan yang bisa ditonjolkan karena sifatnya relatif. Tergantung individu yang memandang. Demikian juga dengan kata "mudah marah" Akan menjadi makin menarik jika yang ditonjolkan adalah kemampuan yang terkait dengan keahlian sebagai detektif, seperti jago mengamati, memiliki daya ingat tinggi, mampu melakukan pekerjaan fisik dan sebagainya.

Persahabatan antara   AKP Sudirman dengan Badai   mengingatkan  pada persahabatan Kapten Kosasih dengan   dan Gozali,  keduanya  bahu-membahu melacak kejahatan khususnya di SurabayaAtau persahabatan  Dr. John H. Watson dan  Sherlock Holmes, serta Hercule Poirot dan  Kapten Arthur Hastings. Kenapa harus dibuat mirip, seorang detektif atau polisi membutuhkan bantuan dari orang lain walau kadang hal sepele.  Oh ya jika pembaca jeli, beberapa kalimat yang dicetak miring bisa menjadi petunjuk lho.

Sekedar saran, untuk buku selanjutnya sebaiknya pada penulis mulai mengurangi menunjukan unsur kekaguman pada para detektif yang sudah melegenda. Selain mengutip ucapan dan mengungkapkan kekaguman dalam kisah, ada juga yang menggunakan istilah guna menerngkan suatu keadaan atau teknik pembunuh seperti yang sering dipakai oleh para detektif tersebut.  

Memang bagi penyuka kisah detektif sosok Sherlock Holmes, Hercule Poirot dan Conan sudah menjadi semacam panutan tapi sepertinya tidak perlu menuliskan kata yang seakan-akan cara para detektif muda tersebut harus mengekor mereka dalam memecahkan kasus. Jika memang harus ada semacam  panutakenapa tidak mengacu pada tokoh detektif di tanah air?

Untuk kover, wananya jelas menggoda mata untuk melirik. Gambar gedung dan mobil mungkin mengacu pada beberapa kasus yang melibatkan gedung. Sementara gambar sosok orang dengan warna putih serta latar hitam akan membuat kita teringat akan penandaan TKP. Sayangnya kalimat yang ditulis di atas judul membuat yang membaca langsung mengingat salah satu tokoh detektif. Hal ini tentunya tidak bagus dari sisi pemasaran. Harusnya NDI yang diingat bukan tokoh yang lain.

Jika ada waktu luang, mampirlah ke http://www.netdetectiveindonesia.org agar bisa mengenal NDI dengan lebih dekat.
  
Menarik 
Jadi terpikir buat bikin proyek bareng. Saat Secret Santa tanggal 25 Desember nanti tentunya akan lebih seru jika ada bantuan dari NDI untuk membuat aneka soal yang harus dipecahkan
























Kamis, 04 September 2014

Review 2014 #50 : Ghost Dormitory in Sydney & Another World Elmore

Senangnya buku untuk anak-anak dan remaja tersedia dalam banyak genre.Tidak hanya soal persahabatan  tapi ada juga petualangan dan fantasi. Beberapa buku ditulis oleh mereka yang menyukai dunia anak,tapi tidak sedikit yang buku yang ditulis oleh anak-anak. Dan isinya tidak mengecewakan.

Untuk kali ini, ada dua buku anak dan remaja yang dipilih untuk direview. Selama membaca saya harus berulang kali mengingatkan diri saya bahwa buku  ini bukan diperuntukan bagi pembaca dewasa. Dengan demikian beberapa hal yang kurang pas masih bisa dimaklumi asalkan tidak terlalu signifikan. 


Bagaimana juga kesalahan adalah bagian dari  sebuah rangkaian proses untuk menjadi lebih baik. Keberhasilan mereka menerbitkan sebuah buku merupakan sebuah hal yang patut diacungi jempol, terlepas dari segala kekurangan yang ada.


1. 
Ghost Dormitory in Sydney


Penulis: Ziggy  Z
Halaman: 180
Penerbit: DAR Mizan
Harga: Rp 35.000

Ada kaitannya dengan buku-buku di perpustakaan. 

Dugaan saya saat melihat kover buku ini. Sosok seorang gadis yang sedang memegang buku disebuah tempat yang mirip perpustakaan dengan nuansa suram membuat saya menyimpulkan demikian.

Tengok saja perpustakaan di HP, kesannya agak suram karena penuh aura sihir. Bahkan bagian terlarang suasananya bisa membuat bulu kuduk berdiri. Maka berpindahlah buku ini dalam keranjang belanjaan saya. Perpustakaan dan buku memang menjadi kata sakti saya untuk memilih sebuah buku.


Kebetulan saya jarang membaca sinopsis dengan teliti, apa lagi jika buku tersebut dibeli dengan harga murah (tergeletak di area diskon). Jadi wajarlah jika saya terpaksa harus meredam kecewa saat membaca buku ini, agak sih.


Kisahnya tentang seorang anak peneliti yang mendapat beasiswa pada sebuah sekolah berasrama. Hal tersebut dianggap sebagai kesempatan kedua dalam kehidupannya setelah selama ini ia mengalami banyak kejadian tidak menyenangkan. Nama tokoh tersebut adalah Ichabod Kelly.


Tak butuh lama bagi 
Ichabod Kelly untuk memilki sahabat. Juga musuh. Musuh-musuhnya yang membuat Ichabod melanggar peraturan sekolah untuk tidak masuk ke menara kelima. Kenekatan Ichabod membawa petaka bagi sekolah.

Berbagai kejadian misterius mulai terjadi, Dari prefek yang meninggal, aneka masakan busuk hingga hancurnya menara asrama. kehebohan belum tuntas tanpa adanya rahasia kelam masa lalu yang terbuka. Dan hantu. Ya, banyak hantu di sana.


Semula saya mengira sosok yang di kover ini adalah pemeran tokoh utama dalam kisah. Nama I
chabod tidak mengindikasikan seorang lelaki atau perempuan. Baru saat mengetahu bahwa kawan sekamar Ichabod adalah Peter saya baru sadar kover ini tidak menampilkan sosok pelaku utama dari cerita. Makin nyengir ketika membaca sinopsis di halaman belakang. Kover ternyata melenceng dari kisah. 

Sebenarnya garis besar kisahnya menarik. Penulis sudah meletakkan dasar kisah yang kuat untuk membangun sebuah konsep cerita. Beberapa bagian bahkan mampu membuat saya merinding  karena takut. Sayangnya ada beberapa point yang  begitu mirip dengan kisah fantasi yang lain, terutama HP.


Kisah ini merupakan bagian dari seri 
Ghost Dormitory yang diterbitkan oleh Dar Mizan dalam Fantasteen, bacaan fantasi bagi anak-anak dan remaja. Seri lengkap kisah ini adalah:

1. Ghost Dormitory In Tokyo by Wanda Amyra Mayshara
 
2. Ghost Dormitory In London by Ayunda Nisa Chaira
3. Ghost Dormitory In Sydney by Ziggy Z
4. Ghost Dormitory In Seoul by Muthia Fadhila Khairunnisa
5. Ghost Dormitory In New York by Alya Namira Nasution

Menghibur


2. Another World Elmore


Penulis: Aulia M. Firmundia
Editor: A.G. Adil
Desain Kover: Melati Harum Pandan Wangi
Layout: Irnawati
ISBN: 978-979-063-105-2
Halaman: 320
Penerbit: Bestari Buana Murni
Harga: Rp 67.000/20.000

Persis kuping sis Dina!

Spontan terlintas dalam pikiran saat melihat sosok yang ada dalam kover buku ini. Selain memang menyodorkan warna-warna ceria, sosok yang ada mau tak mau membuat mata kita melirik.

Kisahnya tentang beberapa gadis  yang tinggal di   sebuah panti asuhan bernama Taman Anak. Beberapa anak dengan cepat memiliki orang tua angkat, sementara ada yang sudah sekian lama belum juga terpilih.


Fazya contohnya. Ia sudah berulang kali gagal memiliki orang tua angkat. Aneh memang. Para calon orang tua sudah cukup dekat dan merasa nyaman bersamanya. Namun selalu saja terjadi suatu hal yang membuatnya ia batal diangkat menjadi anak. Terakhir ia batal memiliki orang tua angkat karena sang calon ibu mendadak dinyatakan hamil. Jika sudah hamil untuk apa lagi mengangkat anak menurut sang calon ayah. Fazya sudah lelah berharap.


Suatu ketika, Fazya mendapat mimpi aneh yang menyebutkan ia adalah seorang putri dari Elmore. Sementara sahabatnya Fanda yang sudah memiliki orang tua angkat bermimpi ia harus menemani  seorang putri bernama Aileen menghadapi perang besar, dan ia adalah seorang pejuang wanita yang hebat di Elmore.  Keduanya bermimpi tentang hal yang sama, Elmore.


Untuk memasuki dunia Elmore, mereka harus menuju Hutan Albion. Sungguh kebetulan lokasi piknik pembagian rapot kenaikan kelas adalah di Hutan Albion. Bisa ditebak, keduanya memisahkan diri dan mulai menjelajah hutan mencari jalan masuk menuju Elmore.


Meski harus berurusan dengan aneka bahaya, belum lagi banyak hal yang tidak diketahui tentang jati dirinya, justru di Elmore Fayza menemukan makna kehidupan sesungguhnya. Ia mendapatkan segala hal yang selama ia idamkan.

Secara garis besar, kisah dalam buku ini menarik. Imajinasi sang penulis berkembang namun tidak ngawur. Bagaimana ia membangun plot sudah bisa dikatakan bagus jika mengingat usianya masih muda.


Kekurangan yang ada sepertinya masih bisa dimaklumi, namanya juga penulis belia. Pada halaman 52 disebutkan bahwa Fazya bertanya pada Naia siapa laki-laki eh anak laki-laki yang tadi menjaganya. Agak aneh. Bukankah pada halaman 17-18  Naia sudah menerangkan tentang siapa anak itu. Apakah maksud pertanyaan tersebut sekedar guna mengingatkan saja?


Adegan menembus lemari baju menuju bagian yang lain mengingatkan pada kisah empat orang bersaudara yang menembus sebuah lemari baju menuju dunia lain. Memang tidak persis sama, namun kurang lebih adegannya serupa. Sepertinya susah mencari kisah yang benar-benar orisinil.
 


Bookfrenz ini sendiri rupanya adalah sebuah sekolah menulis untuk remaja, yang mengadakan kompetisi untuk menyeleksi karya-karya penulis remaja yang layak terbit.

Imajinatif

Aku dan 101 Little Women #2: Koleksi LW


Versi Manga

 Hai....buat kali ini sekedar curhat tentang aneka koleksi LW.
Manga Bahasa China

Jadi setelah mulai tertarik dengan LW, mulai membeli iseng buku-buku sejenis dengan aneka kover. Sepertinya ini juga sering dilakukan oleh  para pengoleksi buku. Satu judul buku dimiliki dengan aneka kover.
Om Buku salah satunya.  Sementara buatku akhirnya terkonsentrasi pada LW saja.

Kesetanan kata para sahabat. Dari yang semula sekedar iseng jadi investasi, walau tidak yakin juga kapan-kapan mau dilepas he he he. Soal harga, beragam. Ada yang mengikuti kurs dollar ada juga yang murah dengan halaman yang tebal karena berisi Little Women and Good Wives, bahkan ada yang seluruh seri. Ada buku seken dengan kondisi prima. Bahkan ada buku terbitan lawas yang cukup langka berwujud hardcover tapi dijual dengan harga relatif murah. Namun ada juga yang bisa dibilang mahal mengingat halamannya yang tipis.
Versi Naskah Drama

Buku di samping ini salah satunya. Merupakan buku adaptasi dari Emma Reeves. Harganya sekitar Rp 200.000-an, dengan halaman hanya 111 tentunya menjadikan buku ini mahal. Ternyata letak unsur mahalnya adalah pada isinya yang tidak biasa. 

Isinya semacam naskah drama. Layaknya sebuah naskah drama tentunya gaya penulisannya berbeda dengan novel biasa. Bagi yang ingin mementaskan kisah Little Women dalam bentuk apapun, buku ini bisa dijadikan acuan

Koleksi yang semula hanya berbahasa Indonesia dan Inggris saja mulai bertambah dengan bahasa lain. Walau merupakan kisah yang konon sudah cukup melegenda dan masuk dalam jajaran kisah klasik. Mengoleksinya tidak mudah. Kendala ada di harga dan distribusi. Untuk versi bahasa selain Inggris misalnya. Versi yang paling mudah ditemui adalah dalam bahasa Spanyol

Khusus untuk negara dengan bahasa pengantar bukan Bahasa Inggris, yang pertama saya miliki adalah Little Women dalam bahasa Thailand hasil nodong  beloved  manager Silvero.  Konon mereka hanya menerbitkan satu macam kover saja hikss.  Selanjutnya ada bahasa Italia, Spanyol, Cina dan Jepang. Dua yang sedang diorder menggunakan bahasa Greek (Yunani?) dan Polish (Polandia?). Hayuh Sil tugas lagi biar bisa  nitip *modus*

Bahasa Thailand
Jadi ingat, waktu tugas ke  Jepang sudah punya niat harus bawa pulang LW versi Jepang. Teman-teman saya sibuk membuat rencana untuk pergi ke sana, potret di situ. Bahkan ada yang sudah mempersiapkan diri dari Narita ke Tokyo sekedar agar bisa berfoto di Tokyo Tower. Heboh! Sementara saya jauh hari sudah mulai membuat cetakan huruf kanji untuk LW. Mulai mendatangi setiap toko buku dan penjual buku sambil menyodorkan kertas yang saya bawa. Hasilnya GAGAL TOTAL! Dapat justru dengan menitip beli via Kinokuniya G.I
  
Membacanya jelas tidak bisa. Hurufnya saja sudah tak paham apalagi membacanya. Hanya ada kesenangan tersendiri saja saat membuka dan mengira-ngira ini bagian dari kisah yang mana. Apalagi judul Little Women juga sering diterjemahkan dalam bahasa dimana buku itu terbit.

Judul asli kisah ini Little Women berubah menjadi Mujercitas dalam bahasa Spanyol, Mulherzinhas dalam bahasa  Portugis,   Ù†Ø³Ø§Ø¡ صغيرات  dalam bahasa Arab, Piccole donne dalam bahasa Italia, Pikku Naisia dalam bahasa Finnish,  Les Quatre Filles du docteur March dalam bahasa Perancis, Малки жени dalam bahasa Bulgaria dan masih banyak lagi.
  
Dalam bahasa Indonesia sendiri, judulnya berubah menjadi Empat Dara, Putri Remaja, Nona-nona cilik, Young girls. Ada juga yang tetap mempergunakan judul Little Women, tergantung dari penerbit dan sasaran pembacanya.
Bahasa Belanda

Beberapa versi  bahasa ternyata dibandrol dengan harga yang lumayan membuat kantong meringis. Bahasa Belanda sebagai contoh, harganya tak kurang dari Rp 600.000. Begitu melihat sebuah buku bahasa Belanda dengan harga sekitar Rp 300.000 langsung ngeces. Untungnya sahabat saya yang ada di Belanda bersedia mencarikan di sana, barter dengan setumpuk buku. 

Keinginan mendapatkan beberapa versi bahasa lain membuat saya harus berjuang mengunjungi aneka situs. Serasa menemukan durian runtuh saat menemukan versi digital.  Terbayang betapa senangnya saat menemukan Little Women: Webster Spanish Thesaurus Edition versi digital.

Pernah saking begitu kepinginan versi suatu bahasa, begitu dapat versi digital langsung dicetak dengan kertas khusus yang biasa dipakai untuk mencetak novel. Kondisi ini berlaku untuk bahasa Arab, Perancis.  Biaya mencetak memang lumayan tapi masih lebih murah dari pada membeli. Semoga kelak bisa memiliki versi cetaknya.

LW bergaya Macho
Kisah LW, ternyata selain “dikisahkan kembali” ada juga kisah yang terinspirasi dari LW, atau plesetannya.  LW plesetan yang ditemukan diobralan seharga antara Rp 5.000-Rp 10.000 (buka kartu deh) langsung beli buanyak. Salah satunya sudah buat nimpuk sis Luckty di Lampung. Sekarang harga buku ini menjadi diatas Rp 100.000. 

Wajah menakutkan
 para Gadis
Isinya tentang sosok para gadis March yang berubah menjadi Vampire. Gigi taring dan darah pada kover membuat kesan para gadis March yang selama ini anggun berubah menjadi menyeramkan. Tapi justru hal tersebut yang membuat tampilan buku ini jadi berbeda.

Sementara untuk Little Women in Black  juga menawarkan kisah yang berbeda. Buku ini sebenarnya merisikan lima buah kisah yang merupakan plesetan dari kisah populer. "Anne-droid of Green Gables,"  buatan  Lezli Robyn, "Little Women in Black" oleh Rick Hautala, serta beberapa kisah lainnya. Para Gadis March menjadi sosok yang macho dengan senjata ala MIM (Man In Black)

Ukuran buku juga beragam. Ada yang kecil  seukuran seperempat kertas , ada yang besar seukuran nyaris seperempat koran. Ukuran yang beragam inilah yang membuat agak susah menyusun box penyimpanannya. Jadi tidak bisa disusun berdasarkan urutan angka.

Ukuran terbesar dalam Koleksi
Oh ya, supaya terawat setiap buku saya bungkus plastik lalu dimasukan dalam box plastik. Karena tujuannya untuk dikoleksi beberapa buku bahkan tidak saya buku plastiknya. Bagi buku yang ditemukan dalam kondisi kurang prima karena usia, meski disetiap box plastik juga ada selica gell, saya tambahkan selica gell sewaktu dibungkus plastik. Jadi jika orang lain berbelanja box untuk diisi kue atau panganan, saya justru bersemangat memborong guna menyimpan Little Women.

Saat ini jumlah LW memang sudah melewati angka 101. Versi bahasa Indonesia ada sekitar 17 buah, bahasa Perancis 2 buah, bahasa Belanda 2 buah, bahasa Spanyol 5 buah, bahasa China 1 buah, bahasa Jepang 2 buah, bahasa Italia 1 buah, bahasa Thailand 1 buah, bahasa Arab 2 buah, sisanya bahasa Inggris. Sementara yang sedang dipesan adalah bahasa Polish (Polandia?) 2 buah, bahasa Greek (Yunani?) 2 buah.

Jadi ingat, harus mengucapkan banyak terima kasih kepada para sahabat yang membantu mengoleksi buku ini. Sil, Jenny, Evyta Ar, Luckty yang sering mencolek jika melihat LW.  Patricia & Rahmadiyanti yang selalu rela dititipi, semua kalian banyak mendapat rejezi sehingga bisa sering melancong ke luar negeri jadi bisa nitip lagi, Aamiin YRA.  Sutaryono yang sering dijadikan penerima saat beloved yayang mengirimkan sebuah buku sebagai kejutan, tahu banget kalau dikirim langsung pasti nolak (dulu sih sekarang malah pinter nodong). Para  pemasok Om buku,  Mabu Majalah Buku, Meladeni All, tentunya Perpiplus keuletan mencarikan buku serta pelayanan yang memuaskan membuat koleksi ini bisa terwujud.

Paling penting, harus mengucapkan ribuan terima kasih kepada Ibu Retno P yang selalu rela dan iklas meminjamkan kartu kreditnya untuk melakukan transaksi pembelian. Jika tidak mengenal ibu yang satu ini, mungkin keinginan buat mengoleks hanya sekedar angan semu semata. 

Pertanyaan STD yang sering disampaikan orang, sudah habis berapa biaya untuk mengoleksi? Jika mengintip akun disebuah situs penjualan buku di tanah air, jumlahnya memang lumayan. Tak perlu heran, jika urusan koleksi memang menguras kantong. Tengok saja pengoleksi tas dan sepatu, koleksi LW saya masih lebih murah dari harga tas dan sepatu mereka.



Sudah menjadi keputusan bahwa dana pembelian tidak boleh mengganggu urusan dapur, alias THP. Uang mengembangkan koleksi diperoleh dari lembur, efisiensi uang makan siang, dapat arisan dan lainnya. Semangat cari tambahan demi LW.

Oh ya, toko buku Periplus memberikanku kemudahan. Selain diskon  khusus untuk member. Penukaran point membuatku makin semangat mengumpulkan agar bisa ditukar sebuah buku idaman. Buat apa susah jika hanya dengan menggerakan jari kita bisa mendapatkan sebuah buku. Jadi pingin nunggu diskon khsus member BBI nih.

Dalam rangka membagi kebahagaian menyambut Little Women ke-101 (seperti kisah klasik 101 Dalmatian yahhh) akan ada kuis berhadiah buku. Caranya??? Sabar buku sedang dikumpulkan dan didata. Soalnya pasti tak jauh dari Little Women kok

Jika Louisa menyebutkan

“I want to do something splendid…
Something heroic or wonderful that won’t be forgotten after I’m dead…
I think I shall write books.” 


Maka aku harus melakukan sedikit revisi pada kalimat I think I shall write books   menulis buku menjadi membuat G.A/kuis.
Setuju?????

Rabu, 03 September 2014

Aku dan 101 Little Women #1: Perkenalan dengan LW

LW ke-101
Hari ini, Selasa tanggal 02 September tahun 2014 Little Women ke-101 mendarat dengan manis menemani buku-buku yang lain. 101? Yups! Hingga saat ini sudah ada 101 buku, belum terhitung yang sudah diorder dan siap dikirim serta beberapa buku dobel. Sudah 101 buku Little Women yang berada dalam koleksi dan masih akan bertambah. THX Periplus.

Little Women  adalah sebuah novel karya  seorang pengarang Amerika Louisa May Alcott yang terbit pada tahun 1868. Kisahnya tentang  empat bersaudara March, Meg, Jo, Beth dan Amy selama  perang sipil di Concord, Massachusetts. Kehidupan keluarga mereka sedang-sedang saja walau pernah berada dalam kondisi yang lebih baik. Sang ayah adalah pengkhotbah Perang Saudara. Sementara sang  ayah pergi berperang mereka dibesarkan  dalam kehidupan sederhana penuh etika oleh  ibu  yang dipanggil Marmee.

Mereka bersahabat erat dengan Theodore Lawrence, Laurie. Seorang remaja yang tinggal hanya dengan kakeknya. Kebetulan rumah mereka berdekatan. Bersama  mereka menjalani kehidupan remaja yang riang gembira juga dengan riak-riak permusuhan kecil yang justru membuat persahabatan mereka kian erat. Keluarga March banyak mendapat dukungan terkait urusan finansial dari keluarga Lawrence. Sementara keluarga Lawrence banyak belajar tentang makna kehidupan dari keluarga March. Sebuah persahabatan yang indah. 

Selanjutnya kehidupan keempat gadis tersebut berubah seiring usia.  Meg menikah dengan seorang guru bernama John Brooke, guru Larry. Jo merupakan sosok yang tomboy dan berkeinginan menjadi seorang penulis menikah dengan seorang profesor. Beth yang manis terkena “Scarlet Fever” dan meninggal karena jantung lemah. Sementara Amy akhirnya menikah dengan Laurie dan menjalani kehidupan mapan.


Bentuk Halaman
Paling Unik
Kisah Little Women ternyata sukses dipasaran. Hal tersebut mendorong penulis menerbitkan Good Wives, disusul dengan Little Men dan Jo's boy. Di tanah air, banyak penerbit yang sudah mengalihbahasakan keempat buku tersebut. Sayangnya belum ada yang menjadikannya dalam sebuah box set. 


Little women merupakan cerminan kisah kehidupan Louisa May Alcott dan saudarinya. Rumah tempat ia penuliskan kisahnya dikenal dengan nama Orchard House dan berfungsi sebagai semacam museum. Lebih lanjut bisa dilihat pada http://www.louisamayalcott.org/ Jika ingin mengetahui seputar buku ini silahkan berkunjung ke http://id.wikipedia.org/wiki/Little_Women Sementara untuk e-book bisa diunduh di http://www.gutenberg.org/ebooks/514


Little Women pertamaku entah raib digondol siapa. Menemukan secara tak sengaja. Ceritanya aku sedang ikutan menunggu adik bungsu yang dirawat di rumah sakit.  Dari pada bengong  (maklum saat itu belum ada tv swasta yang tayang siang hari) meluncur ke kantin, kebetulan baru dapat hadiah jajan bulanan dari Eyang jadi serasa beruang banyak (halah).

Little Women yang
Pertama dimiliki
Eh menemukan ada kios penjual buku di kantin. Langsung berdiri dengan anteng di depan rak putar. Karena terbiasa baca buku Enid Blyton dan Trio Detektif agak bingung melihat rak yang isinya tak dikenal, tapi tetap penasaran melihat-lihat.


Si mas penjaga merekomendasikan buku ini. "Bagus lho," sambil berpromosi panjang lebar. "Isinya tentang putri remaja." Lanjutnya.  Pikiranku langsung menuju ke Cinderella tapi putri kok bajunya gini (ngak nyambung banget waktu itu). Tapi  dari pada tidak ada bacaan ya sudah  beli  saja buku pertama yang warna merah, padahal paling tidak suka warna merah.

Begitu selesai membaca langsung suka dan membayangkan aku adalah Jo.  Sama-sama tomboy (jumlah rok di lemariku bisa dihitung dengan hanya 1 jari tangan), suka mengarang dan membaca. Tingkah laku Jo menghibur sekaligus menyentuh. Apa lagi adegan Jo menjual rambutnya untuk keluarga dan memenangkan hadiah lomba mengarang. Dibalik kelakuan yang agak serampangan, Jo membuktikan ia juga sayang dan bisa berguna bagi keluarganya.

Little Women Terjemahan
 Pertama di Tanah Air
Kekuatan kisah ini bukan hanya karena settingnya adalah kehidupaan sehari-hari (meski dibuat tahun 1800-an tapi masih cukup relevan), juga tidak hanya pada figur sang ibu yang mampu menciptakan suasana harmonis dan mengajarkan banyak hal pada anak-anaknya, namun juga karena para pembaca bisa menemukan sosok yang merepresentasikan dirinya pada salah satu anak gadis keluarga March. Minimal mendekati.

Sayangnya ketika besok kembali ke kios penjual buku untuk membeli buku selanjutnya ternyata kios itu tutup. Begitu pula hari esoknya. Hingga adik saya pulang kios itu tetap tutup, hiks. Saya harus cukup puas hanya membaca buku pertama. Raib pula belakangan. Setelah lebih dari 20 tahun akhirnya menemukan buku merah itu kembali melalui penjual buku bekas yang ternama  Radjakomikbekas.blogspot.com berikut buku kedua bahkan  ketiga.


Selanjutnya tunggu kisah bagaimana mengumpulkan hingga menjadi 101*aladramatis ahhh*