Penulis: Sleepinigloo
Penyunting: Eka Kurnia Chandra Dewi
ISBN: 9786347205032
ISBN10: 6347205033
Halaman: 432
Cetakan: Pertama-2025
Penerbit: Andam
Rating: 3/5
Ngundhuh wahng pakerti
Kau harus membayar semuanya
Kau harus membayar semuanya
-95-
Buku ketiga ini membuat saya banyak berpikir
Masih berkisah tentang anak-anak yang harus melawan seorang penyihir jahat. Sepertinya memang tidak berimbang, anak-anak harus berhadapan dengan seorang manusia dewasa.
Tapi jika diperhatikan dengan lebih teliti, faktanya adalah seorang dewasa yang menghadapi keroyokan 7 orang anak. Tidak sembarang anak, mereka adalah anak terpilih yang dibekali berbagai macam ilmu kanuragan oleh para pendahulu. Dan jika diperhatikan lebih lanjut, usia mereka bisa dibilang sudah mulai remaja.
Jadi jika niatnya ingin memberikan pemahaman bahwa kejahatan pada akhirnya kalah dengan kebaikan, agak terganggu dengan fakta kebaikan harus main keroyokan agar bisa menang. Tolong deh, jangan bilang ini kerja sama. Banyak cara untuk bisa bekerja sama tanpa harus maju bersama-sama melawan 1 orang. Duh! Kenapa saya jadi membahas hal yang begini.
Seperti yang sudah disebut di atas, dalam buku ini, kembali dikisahkan tentang 7 anak terpilih yang dianggap mampu mengalahkan sosok yang dianggap jahat. Selama ini keberadaan 7 anak tersebut dirahasikan dengan berbagai pertimbangan. Keamanan, salah satunya. Sepertinya hal tersebut tidak bisa dilakukan lagi. Semua sudah mengetahui siapa sebenarnya Ayu, Fuji, Drio, Bastian, Nala, Sanja, dan Lexan.
Kali ini, untuk bisa mengalahkan musuh, 7 anak terpilih harus memiliki kekuatan ekstra. Untuk mendapatkan kekuatan sihir-Imang, dari pendahulunya, mereka harus bertemu secara langsung. Tidak saja dengan penyihir pendiri golongan, namun juga anak terpilih sebelum mereka.
Tentunya pertemuan tersebut terjadi di dimensi lain. Jika tidak, bagaimana bisa salah satu dari mereka bertemu salah satu pendahulu yang ternyata adalah ibunya yang sudah meninggal? Dalam buku ini, Hayam Wuruk disebut sebagai orang terpilih ketiga dari Ranang-penyihir senjata. Sebuah ide menarik untuk membuat pembaca muda tertarik dan kemudian mencari tahu tentang siapa sosok Hayam Wuruk sebenarnya.
Bagian ini agak membosankan buat saya. Bayangkan harus membaca 7 kali peristiwa anak-anak pilihan bertemu dengan pendahulunya. Kenapa tidak dibuat dengan lebih sederhana? Kembali, hanya komentar, semuanya kembali pada penulis.
Untungnya ada beberapa bagian yang mampu mengurangi kebosanan. Misalnya, percintaan ala remaja diantara mereka. Sosok populer di dunia luar yang mendadak menjadi murid di sekolah mereka. Kemudian ada kejutan tak terduga pada akhir kisah yang melibatkan salah satu anak.
Oh, ya. Seperti yang pernah atau bahkan sering saya sebutkan tentang banyaknya bagian yang menggiring ingatan saya pada HP. Dalam buku ini, yang terasa sekali adalah mereka mempergunakan media untuk bisa berpindah tempat. Media yang digunakan adalah tusuk konde. Tak terbayangkan 7 anak memegang benda seimut itu.
Saya sibuk berdebat dengan diri sendiri, apakah kematian salah satu tokoh juga membuat saya teringat akan HP? Tapi dalam buku ini, belum jelas apakah tokoh tersebut benar-benar meninggal atau kembali dari kematian. Penulis seakan masih mempertimbangkan seberapa besar perannya dalam kisah.
Saya juga sempat tertawa membaca kalimat di halaman 3, " Pasar di Turangi sendiri cukup sumpek,.... ". Rasanya jarang menemukan kata seperti itu dalam sebuah buku. Kata sumpek semula merupakan bahasa Jawa yang kemudian diserap menjadi bahasa Indonesia. Kata tersebut bahkan ada dalam KBBI.
Salah satu kelebihan dari buku ini adalah banyaknya kearifan lokal yang diangkat oleh penulis. Coba dicermati dengan teliti. Sebuah cara penarik untuk membuat generasi sekarang tertarik dan menambahkan cinta pada kearifan lokal.
Kesempatan kali ini, buku ketiga saya peroleh dari acara semacam tukar kado buku dengan teman-teman komunitas. Untuk buku selanjutnya, saya mungkin akan mempertimbangkan dahulu, apakah lanjut membaca atau stop.
Tapi sayang juga sudah 3 buku, saya berasumsi akan muncul 7 buku sesuai dengan jumlah tokoh. Semoga konsisten, tidak membuat kecewa seperti sebuah buku fantasi lokal yang dulu digadang-gadang akan menjadi HP ala Indonesia adan terbit sebanyak 7 buku. Hanya muncul 1 buku dan tak ada khabarnya sekian lama.
Sekedar berbagi, jika ada yang ingin mengetahui tentang buku pertama bisa dibaca di sini. Adapun untuk buku kedua ada di sini.
Begitulah.
Sumber Gambar:
https://www.goodreads.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar