Penulis: Rudyard Kipling
Penerjemah: Titi Andarwati
Editor: Setyaningsih
ISBN: 9786238023257
Halaman: 180
Cetakan: Pertama-2025
Penerbit:bukuKatta
Harga: Rp 70.000
Rating: 3.75/5
Ini memang temuan luar biasa, dan suatu hari manusia akan menyebutnya sebagai tulisan
-hal 87-
Bisa dikatakan, sebagian besar anak-anak di seluruh dunia mengenal sosok Mowgli, Baloo, Bagheera dan nama-nama lain melalui adaptasi buku The Jungle Book ke layar lebar oleh Disney. Tak hanya The Jungle Book, kali ini sang penulis-Rudyard Kipling, juga memukau pembaca buku di tanah air melalui buku Just So Stories terbitan bukuKatta. Tak sengaja menemukan informasi buku ini di laman penerbit.
Terdapat 12 kisah dalam buku ini, dan sebagian besar judul dimulai dengan kata Bagaimana. Sebenarnya hal tersebut sesuai dengan benang merah seluruh kisah yang ada dalam buku, bagaimana berbagai hewan dan benda muncul dalam wujud saat ini. Apa yang menyebabkan perubahan? Kenapa bisa berubah? Jawabannya bisa ditemukan dalam buku ini.
Beberapa judul buku yang ada dalam buku ini antara lain adalah Bagaimana Paus Mendapatkan Tenggorokannya, Bagaimana Unta Mendapatkan Punuknya, Bagaimana Macan Tutul Mendapatkan Bintiknya, Bagaimana Surat Pertama Ditulis, serta Kupu-Kupu yang Mengentakan Kakinya.
Baru membaca judul kisah saja sudah mengundang rasa penasaran. Dalam kisah Anak Gajah di halaman 43, diceritakan bagaimana hidung alias belalai gajah bisa menjadi panjang seperti sekarang. Ternyata dahulu gajah hanya memiliki hidung sebesar sepatu bot berwarna hitam yang bisa digerakan ke kanan dan kiri.
Karena sifat penasarannya, si anak gajah berpetualang mencari jawaban atas pertanyaan yang tak dijawab oleh binatang lainnya. Tak terduga, terjadi sebuah perkelahian dalam upaya menyelamatkan diri ketika akan menjadi santapan binatang lain. Peristiwa itu membuat hidungnya memanjang menjadi belalai seperti sekarang.
Sebagai penggila buku, tentunya saya bersemangat membaca kisah Bagaimana Surat Pertama Kali Ditulis yang ada di halaman 81. Sungguh seru! Bagian yang mengisahkan kesalahpahaman akibat surat yang berusaha ditulis oleh seorang anak bernama Taffy. Semua ia meminta bantuan seseorang yang tak paham bahasa sukunya untuk mengantarkan surat tersebut pada ibunya di desa tempat ia tinggal.
Sebenarnya, ia menggambar pesan yang bermakna agar sang ibu mengutus orang mengantarkan tombok ayahnya, karena tombak yang dibawa rusak. Sementara ia sendiri tak mungkin pulang untuk mengambil tombak tersebut. Guna memudahkan menuju lokasi yang jauh dari rumah, ia juga mencoba menggambarkan semacam peta menuju lokasi.
Alih-alih tombok ayahnya dikirimkan, si pembawa surat malah dianggap telah melakukan kejahatan sehingga penduduk mengisi kepalanya dengan lumpur. Rupanya mereka salah mengartikan gambar yang dibuat oleh Taffy. Mereka mengira ayahnya terkena tombak sehingga cedera😀, dan si pembawa pesan yang harus bertanggung jawab.
Keributan yang terjadi, masih berlanjut dalam kisah Bagaimana Alfabet Dibuat. Tentunya alfabet yang dimaksud berbeda dengan yang kita kenal saat ini. Memang saat mulai dibuat belum sempurna, minimal Taffy dan ayahnya berupaya agar semua orang bisa memiliki pemahaman yang sama tentang suatu gambar, sehingga tidak menimbulkan salah persepsi lagi.
Memang dalam kisah tersebut tidak secara langsung melibatkan hewan, namun tanpa hewan, upaya Taffy dan ayahnya menciptakan sebuah simbol untuk dipahami bersama tidak akan bisa berhasil. Jika demikian, tidak akan ada alfabet. Mereka mempergunakan hewan sebagai pengganti alfabet.
Sebagai contoh, untuk huruf B adalah gambar Berang-berang Suci dari Tegumai dengan sedikit kejayaan masa lalu. Untuk huruf J mempergunakan gambar kail ikan yang terbuat dari mutiara. Sedangkan untuk huruf Y mempergunakan ekor ikan mas yang terbuat dari gading. Membaca diskusi Taffy dan ayahnya sungguh kocak!
![]() |
https://www.goodreads.com/book/ show/55775889-los-cuentos-como-son |
Memang belum tentu benar menurut Teori Evolusi Darwin, tapi membaca kisah yang ada, rasanya bisa saja hal tersebut benar adanya he he he. Benar-benar menghibur.
Konon Kipling membuat kisah dalam buku ini sebagai dongeng pengantar tidur untuk putrinya. Maka tak heran ketika membaca kalimat pertama seakan membuat kita sedang mendengarkan dongeng, misalnya kalimat "Pada zaman dahulu kala, wahai Kesayanganku...."
Pada laman https://www.kiplingsociety.co.uk disebutkan bahwa cerita-cerita itu disebut "Just So" karena ia menceritakannya berulang-ulang, dan anak-anak selalu ingin cerita-cerita itu diceritakan kembali. Ia sendiri yang menggambar ilustrasi hitam putihnya. Terbayang kalau dibuat dalam versi warna, pasti keren banget!
Ilustrasi yang dibuat tidak hanya sekedar ilustrasi namun juga diberikan narasi sehingga membuat kisah semakin menarik. Misalnya ilustrasi yang ada di halaman 40 dari kisah Bagaimana Macan Tutul Mendapatkan Bintiknya, disampingnya terdapat kalimat yang berbunyi, "Ini adalah gambar Macan Tutul dan orang Etiopia.... Macan Tutul telah mendapatkan titik-titik lain pada tubuhnya, dan orang Etopia telah mengubah warna kulitnya...."
Oh ya, terdapat juga beberapa istilah yang mungkin terasa asing dalam buku ini, seperti Batu Puding dan Man-Friday. Tak perlu risau, terdapat catatan kaki untuk memberikan penjelasan lebih jauh tentang maksud kata tersebut.
Tiap kisah mengandung pesan moral yang berbeda-beda. Mempertimbangkan usia sasaran pembaca atau mendengarkan dongeng dari buku ini, diharapkan mereka bisa menerima dengan mudah pesan yang disembunyikan dengan apik dalam tiap kisah.
Kisah Bagaimana Badak Mendapatkan Kulitnya, memberikan pesan agar dalam kehidupan harus berlaku sopan, jangan memakan yang bukan miliknya. Akibat ia memakan kue milik orang Parsi tanpa izin, seluruh tubuhnya merasa gatal karena rempah-rempah yang ditaburkan oleh orang Parsi pada kulitnya.
Walau buku ini sering disebut buku anak-anak karena mengusung tema fabel, namun kisahnya bisa dibaca oleh segala usia. Fabel merupakan salah satu jenis dongeng dengan mengusung binatang sebagai tokoh. Binatang yang menjadi tokoh diceritakan mempunyai akal, tingkah laku, dan dapat berbicara seperti manusia.
Saya menikmati buku ini dengan membaca acak. Sudah tahu dong kisah mana yang saya baca pertama dan selanjutnya he he he. Secara umum, kecuali dua kisah tersebut memang tiap kisah berdiri sendiri sehingga tak ada aturan khusus untuk menikmati buku ini. Bisa dibaca dari lembar pertama hingga terakhir. Atau membaca kisah yang dirasa menarik terlebih dahulu. Bebas saja.
Pada bagian akhir, penerbitkan pemberikan informasi terkait sosok Rudyard Kipling. Tidak hanya sebagai penulis kisah pendek, Joseph Rudyard Kipling juga adalah seorang novelis dan penyair. Dia lahir di Bombay, India pada 30 Desember tahun 1865 dan meninggal saat 18 Januari 1936 di London, Inggris. Pada tahun 1907, Kipling meraih penghargaan Nobel Prize in Literature.
Selain The Jungle Book dan Just So Stories, buku berjudul Gunga Din juga disebut sebagai karya Kipling yang terkenal. Sepertinya belum pernah diterbitkan di Indonesia. Dalam situs Goodreads, tercatat ada lebih dari 4700-an versi The Jungle Book. Sedangkan Just So Stories ada 2500-an. Layak masuk koleksi.
Sumber gambar:
https://www.goodreads.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar