Senin, 20 Februari 2017

2017 #15-16: Jang Tersisih & Bulan Dibawah Air


















Gara-gara  menemani seorang mahasiswa mencari buku di rak, saya jadi tertarik untuk membaca dua buku tipis ini. Menurut saya ini merupakan buku yang unik. Pertama karena halaman kedua buku ini  hanya terdiri dari enam belas halaman. Singkat bukan? Beda jauh dengan beberapa buku yang saya baca belakangan. Bayangkan, seorang penulis harus mampu memukau pembaca dengan halaman yang lumayan sedikit ini.

Kedua, tahun terbitnya lumayan lawas. Kondisi kedua buku ini lumayan terawat, sepertinya sudah mengalami preservasi. Namun tetap saja, saya sangat berhati-hati membuka halamannya. Plus membaca dengan jarak yang agak jauh mengingat alergi debu yang saya miliki. 

Ketiga,  otomatis ejaan yang dipergunakan merupakan ejaan lama sehingga membutuhkan konsentrasi dan kesabaran saat membacanya. Kecepatan membaca harus diturunkan agar tidak salah memahami makna yang terkandung dalam sebuah kalimat. Saya jadi merasa tertantang.

Lumayan untuk menemani akhir pekan

Judul:  Seri Batjaan Remadja: Jang Tersisih
Penulis: Ajaptrohaedi
Gambar kulit: Dachlan Djazh
Halaman: 15
Cetakan: 1965
Penerbit: P.N Balai Pustaka
No Panggil: 

Lalu pergilah dia ke makam ibunja. Menanti ibunja keluar dari lahadnja. Dia duduk diatas tanah makam ibunja. Mentjokeli tanah hingga bertumpuk didepan kakinya. Matanja terus menatap kearah nisan jang terpantjang, lantaran menurut pikirannja, dari situlah ibunja bakal keluar.

Mengapa ibutiri selalu kedjam terhadap anaktirinja?

Entah kenapa yang namanya kisah antara ibu tiri dan anak tiri selalu bekutat dengan kesedihan. Ibu tiri kejam yang menyiksa anak tirinya. Padahal tidak semua ibu tiri seperti itu. Tapi apa mau dikata susah menghilangkan pandangan masyarakat umum.

Kisah dalam ini juga demikian. Seorang anak yang kehilangan ibu pada usia belia. Sang ayah menikah lagi. Anak yang kurang paham pada awalnya merasa bahagia karena ibunya sudah kembali. Ingatan samar pada sosok sang ibu membuatnya percaya bahwa ibu yang sekarang adalah ibunya yang kembali dari pergi jauh.

Seperti kisah yang lain, kasih sayang sang ibu tiri ternyata hanya sesaat. Jangankan ia dipangku, ditemani tidur sambil mendongeng, bersikap manis pun jarang. Untunglah dalam kisah ini tidak ada saudara tiri yang bisa membuat kisah makin penuh dengan urusan menyiksa anak kecil!

Seiring waktu, sang anak ingat pada sosok ibunya. Ditambah dengan cerita orang sekitar mengenai pribadi ibu kandungnya. Ia sering bertanya pada sang uwa mengenai perbedaan perilaku ibu yang sekarang, yang baru kembali dari pergi jauh dengan ibu yang dahulu pergi. Konsep meninggal belum sepenuhnya ia pahami.

Bagian yang mengisahkan bagaimana ia menunggu sehatian dengan harapan sang ibunya muncul dari kuburannya, membuat saya terharu. Penulis mampu menciptakan rangkaian kata yang menunjukan betapa sang anak merasa kesepian dan haus kasih ibunya.

Sementara bagian yang mengisahkan bagaimana sang ibu tiri dengan culasnya menguasai seluruh gaji sang suami yang tetap diterima walau berada dalam tahanan, mampu membuat saya gemas. Licik sekali perempuan itu! Dikuasainya seluruh gaji dengan cara mengirimkan ke kampung halamannya, sementara ia memerankan peranan istri yang menderita. Bahkan ia tega numpang hidup dengan mertuanya.

Sempat saya merasa penulis mungkin berlebihan, adakah perempuan seperti itu. Atau sekedar untuk menguatkan karakter,  menimbulkan kesan sosok ibu tiri yang kejam seperti anggapan orang banyak. Mendadak saya jadi teringat kisah seorang kenalan yang nyaris serupa. Bukan ibu tiri memang, tapi sang istri tega menguntit uang belanja untuk dikirimkan ke rumah orang tuanya. Ia selalu mengeluh kurang belanja sehingga si suami harus banting tulang bak sapi perahan. Kelakuannya terbongkar ketika sang ibu mertua tanpa sengaja mengisahkan perihal televisi lebar yang baru mereka beli hasil menabung uang kiriman sang istri. Padahal di rumah mereka, televisi hanyalah berukuran kecil dan model lama. Bukan memberikan uang pada orang tua yang disesalkan suami, tapi cara sang istri.  Eh kok saya jadi melantur ^_^

Sungguh, kisah dalam buku ini membuat hati menjadi sedih dan kasihan pada sosok anak kecil yang kehilangan ibu. Pesan moral yang bisa kita ambil adalah agar berhati-hari mencari jodoh. Karena apa yang indah terlihat belum tentu seperti itu sesungguhnya.

Iseng, saya mulai mencari informasi mengenai buku ini melalui dunia maya, dan menemukannya di ini. Ternyata  buku yang terbit tahun 1965 merupakan cetakan kedua. Lumayan diminati sepertinya kisah ini.

Judul:  Seri Sastra Modern: Bulan dibawah Air
Penulis: S. Hadisantoso
ASIN: B0000D7JH5 
Halaman: 16 
Terbit: 1964
Penerbit: P.N Balai Pustaka
No Panggil: 800.221 HAD b(1)

Kisah dibuka dengan adegan sepasang kekasih,  Hadi dan Ima yang asyik memandu kasih sambil menikmati bayangan bulan yang jatuh seakan-akan berada di bawah air. Sosok Ima yang digambarkan sangat sensitif, mudah terharu oleh hal kecil, sangat bertolak belakang dengan Hadi yang periang dan lebih memakai logika. Justru perbedaan tersebut membuat mereka bisa cocok.

Nasib baik ternyata tidak memihak mereka, Ima menderita sakit tipes hingga usianya tak panjang. Jangan lupa, dahulu sakit seperti itu sangatlah berbahaya dan bisa menyebabkan kematian.  Sebelum meninggal Ima masih berkeinginan untuk menikmati cahaya bulan dari jendela kamarnya.

Setelah sekian lama, Hadi kembali ke lokasi dimana dahulu ia dan Ima memadu kasih sambil menikmati cahaya bulan yang terpantul di air. Saat itu ia bertemu dengan sosok PSK yang wajahnya sangat mirip dengan  Ima, Kenangan masa lalunya kembali. Ia setuju pergi dengan wanita itu, lebih tepatnya ia merasa pergi dengan Ima. 

Ternyata wanita itu bukankah sosok PSK sembarangan. Kisah ini berakhir dengan kejutan yang tak terkira. Bisa dikatakan Hadi berada diwaktu dan tempat yang salah karena sibuk mengenang kisah cintanya dengan Ima.  

Kisah yang sederhana namun menunjukan betapa cinta bisa membuat seseorang melakukan hal yang tak masuk akal.Buku ini memberikan kesan moral agar kita tak terlalu terlena dengan kenangan masa lalu. Apa pun yang terjadi dengan orang terkasih, kita harus kuat dan meneruskan hidup. Karena, bagaimana juga yang sudah berpulang tak akan hidup

Pada bagian akhir, penulis memberitahu pembaca melalui tokoh wanita PSK bahwa Hadi adalah seorang astronot dari squadron sebelas. Sementara dari pembicaraan Hadi dan si wanita, diketahui bahwa Ima adalah pelajar diperguruan tinggi publisistik tingkat pertama. Maka tulisan P.A.U Adi  Sutjipto makin terasa hubungannya dengan kisah ini.

 Saya tidak menemukan data mengenai buku ini di halaman depan yang biasa memuat  informasi mengenai buku tersebut. Sepertinya halaman tersebut sudah tidak ada ketika buku ini mengalami  perbaikan. Hanya pada akhir kisah saya menemukan tulisan P.A.U Adi Sutjipto, sepertinya itu lokasi pembuatan kisah ini. Sementara untuk jumlah halaman, sebenarnya pada kover sudah tertera tulisan  yang menyebutkan halaman buku ini.

Iseng, saya menuju ke sini, dan menemukan informasi dasar mengenai buku. Minimal tahu nama menulisnya adalah S. Hadisantoso. Masih penasaran mencoba mencari informasi melalui si mbah dan menemukan data tahun terbit serta ASIN di link berikut.


Tanpa sengaja, kedua buku yang saya baca memiliki kesamaan dalam hal unsur kematian. Pada kisah  Jang Tersisih, kematian sang ibu dari tokoh utama yang membuat kisah ini terbentuk. Sementara pada kisah Bulan Dibawah Air, kesedihan akan meninggalnya kekasih hati yang membuat Hadi jadi bersikap aneh selama beberapa saat di jembatan.

Kedua penulis sepertinya mengambil ide kisah dari hal-hal yang dianggap menarik pada saat itu. Peristiwa yang terjadi di sekitar mereka bisa dijadikan ide bagi sebuah karya. Kedekatan emosi antara pembaca dengan latar belakang kisah, lokasi dan sebagainya membuat kisah lebih cepat diterima.

Jika buku kedua tidak ada ilustrasi, maka buku pertama menyajikan beberapa ilustrasi yang lumayan menarik. Meski tak berwarna seperti kover, namun mampu menimbulkan efek mempertegas kisah. Besarnya juga lumayan, menghabiskan satu halaman. 

Kedua buku tersebut  semula dijilid dengan cara dijahit. Memang kondisinya sekarang sudah dijilid rapi, tapi benang yang dipakai untuk menjilid buku masih terlihat. 

Baik buku pertama maupun buku kedua, terdapat tulisan Pr 16 halaman PN BP di kover depan. Bisa kita simbulkan bahwa ini merupakan buku dengan ketebalan enam belas halaman (meski ada yang 15) terbitan Perusahaan Negara Balai Pustaka.

Menginspirasi.

Minggu, 19 Februari 2017

2017 #14: Kisah Tanah Surga Merah

Judul asli: Tanah Surga Merah
Penulis: Arafat Nur
ISBN: 9786020333359
Halaman: 312
Cetakan: Pertama-Januari 2017

Penerbit: PT Gramedia Pustaka
Harga: Rp 65.000,-
Rating: 3/5

Aku yakin Aceh akan segera berubah dan orang-orangnya menjadi cerdas apabila pemerintah memberlakukan hukuman tembak mati bagi siapa saja yang tidak membaca buku
~Tanah Surga Merah Hal 38~

Bagi yang belum pernah membaca karya lain penulis ini, mungkin akan ragu untuk membeli buku Tanah Surga Merah. Padahal selain  harga buku yang  jelas sangat bersahabat, embel-embel  Peraih Khatulistiwa Literary Award di kover depan pastinya menjanjikan sesuatu yang berbeda. Lalu alasan  apa lagi untuk tidak memasukkan buku ini dalam keranjang belanjaan. 

Jika diperhatikan kover kisah ini mengusung ilustrasi yang lumayan unik selain perpaduan warna hitam dan merah yang membuat mata langsung melirik. Gambar orang yang bergandengan tangan jelas sosok pria dan wanita. Terbukti dari rambut terurai sang wanita dan sosok tegak pria yang mempergunakan peci. Lalu  daun-daun yang bertebaran, jika tidak salah merupakan daun ganja. Bukankah menambah rasa penasaran?

Saya sudah membeli, tinggal membaca. Namun..., saya agak terpengaruh dengan komentar beberapa sahabat di GRI. Beberapa mengganjar dengan bintang lumayan, sementara ada juga yang memberikan bintang biasa. Jadi, dari pada menjadi sosok yang gampang terpengaruh, mari kita baca. Dibuktikan saja sendiri.

Kisahnya mengenai sosok Murad, mantan anggota Pasukan Merah yang dicari karena menembak salah seorang anggota lain. Betul ia menembak seseorang, namun itu ia lakukan demi membela kehormatan salah seorang kerabat wanitanya yang coba dirusak oleh korban. Salahkah ia jika begitu? Orang hanya tahu apa yang dikisahkan anggota Partai Merah yang tak menyukai dirinya.

https://www.goodreads.com
Setelah sekian lama bersembunyi, suatu saat tokoh kita memutuskan untuk kembali ke kampung halamannya. Ia tak betah tinggal di tempat lain, selalu teringat akan tempat tinggalnya. Jiwanya juga menjadi tersiksa. Dengan pertimbangan keamanan, ia menyamar ketika pulang dengan harapan tak ada yang mengenali.
  
Ternyata ia masih diburu. Dan banyak yang masih mengenali sosoknya. Selain dituduh membunuh ia juga dianggap sebagai aktor intelektual dari perpecahan yang terjadi dalam partai dan penulis berbagai artikel di koran dengan nama samaran. Bahkan pemerintah juga mencarinya dengan tuduhan sebagai bandar yang menampung ganja-ganja yang dikirim keluar Aceh. Keadaan sekarang ternyata lebih membahayakan jiwanya.

Buku setebal 305 halaman ini mengisahkan bagaimana tokoh utama dalam kisah ini berusaha menyelamatkan diri dari kejaran mereka yang dahulu sepaham dengannya. Bukan usaha yang mudah mengingat situasi dan kondisi di sana. Beberapa sahabat bahkan keluarganya tidak bisa membantu banyak. Ia harus mengandalkan pada naluri, kecerdikan serta nasib baik untuk dapat bertahan hidup.

Dalam bertahan hidup, kadang hal yang mustahil justru menjadi hal yang paling masuk akal. Demikian juga dalam kisah ini. Meski tidak ada tempat yang aman, namun persembunyian terakhirnya sungguh merupakan pilihan yang cerdik. Seperti kata orang, bersembunyilah di tempat yang paling tidak dipikirkan orang jika ingin selamat.

Pada sebuah bagian, penulis sengaja tidak menyebutkan nominal mata uang tapi menyebutkan ciri-ciri. Saya menjadi tertantang untuk menebak mata uang yang dimaksud. Uang kertas ungu bergambar Sultan Hahmud Badaruddin II sepertinya uang dengan nominal Rp 10.000.  Sementara uang kuning bergambar Tuanku Imam Bonjol pastinya uang dengan nominal Rp 5.000.  Lalu seikat uang kertas merah bergambar dua manusia seperti yang disebut pada halaman 123 adalah uang dengan nominal seratus ribu rupiah. Jawaban yang semua juga tahu. Jadi jika selembar uang kertas ungu ditambah selembar uang kertas kuning, tahu kan berapa nominalnya? Kenapa saya melakukan itu? Entah, mungkin sekedar iseng mengikuti penulis ^_^

Kegiatan pementasan drama yang dilakukan oleh salah seorang sahabat Murad dengan judul Bacalah Buku Sebelum Tuhan Mencabut Nyawamu! bisa dianggap sindiran bagi minat baca yang rendah. Bahkan pada halaman 98 dituliskan dengan lebih tegas lagi.

"Aku orang Indonesia," sela yang berambut landak. "Orang Indonesia tidak suka buku. Kami ini keturunan orang yang dijajah Belanda dan Jepang. Kami tak suka buku. Kami suka menekan dan menyakiti orang."
https://www.goodreads.com

Sempat agak bingung dengan istilah kereta. Maklum sebagai anak Jakarta,  pemahaman akan kereta adalah alat transportasi yang berjalan di rel. Belakangan saya menebak mungkin yang dimaksud adalah motor. Entah saya yang terlewat atau memang tidak ada, namun akan lebih baik jika penulis memberikan catatan kaki atau apalah namanya sehingga mereka yang bukan mempergunakan bahasa yang sama bisa paham dengan apa yang dimaksud dengan motor. 

Ada baiknya penulis sedikit memberikan sentuhan khas dari daerah Nangroe Aceh Darussalam (NAD) dalam kisah ini sehingga makin terasa suana kental NAD. Bisa dengan membuat percakapan dengan bahasa daerah, atau penggunaan satu-dua kata daerah dalam percakapan. Tentunya jangan lupa memberikan artinya

Memang penulis menceritan tentang kehidupan masyarakat setempat, serta ritual peusijuk dalam kisah ini. Namun posisinya hanya sekedar pelengkap saja. Informasi yang diberikan juga sangat sedikit, sehingga hanya orang tertentu saja yang paham apa yang dimaksud penulis.
 
Bukan salah penulis, namun saya menantikan sesuatu yang teramat sangat spektakuler. Selain tema yang memang lumayan unik,  Tapi selain kisah mengenai "aku" yang sibuk menghindari dari kejaran Partai Merah, serta ungkapan kebencian yang tiada henti, saya tak menemukan hal unik lainnya. Justru ketika saya berharap ada yang seru pada bagian ketika tokoh kita berada di tempat persembunyian terakhir, kisah malah berhenti ala film negara jauh. Jika peminat banyak, maka akan ditemukan kelanjutan dari akhir yang nanggung, jika tidak ya sudah. Silahkan penikmat berimajinasi masing-masing tentang akhir kisah  Murad dan Jemala.

Setiap buku memiliki pembacanya masing-masing. Munkin, buku ini memang bukan untuk saya sehingga saya tidak bisa menikmati kisah yang disajikan sepertinya pembaca lainnya.
https://aliansisastrawanaceh.wordpress.com


Arafat Nur sang penulis, lahir Lubuk Pakam, Sumatra Utara, 22 Desember 1974. Namanya dikenal melalui berbagai karya  seperti  Meutia Lon Sayang (Novel, Mizan, 2005), Percikan Darah di Bunga (Novel, Zikrul Hakim, 2005),  Antologi Remuk (Cerpen, DKB, 2000), Antologi Keranda-Keranda (Puisi, DKB, 2000), Lagu Kelu (Puisi, ASA-Japan Aceh Net, 2005), serta  Lampuki  (Novel, Serambi 2011yang menjadi Pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2010 serta meraih Khatulistiwa Literary Award, 2011. Kisah terbaru, Tanah Surga Merah  merupakan Pemenang Unggulan Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016. 

Ada kalimat yang saya suka dalam kisah ini,  tepatnya di halaman 79.
Kadang kucing juga butuh membaca
Pastinya saya juga butuh membaca.
Semoga kalian juga ^_^ 

Sumber gambar:
https://www.goodreads.com https://aliansisastrawanaceh.wordpress.com

Jumat, 17 Februari 2017

2017 #13: Cerita Dibalik Sepuntung Kretek Jawa

 




















 
Judul asli: Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya
Penyusun: Rudi Badil, TR Setianto Riyadi
Penyunting: Rudi Badil
ISBN: 9789799103673
Halaman: 171
Cetakan: Pertama-2011
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
Rating: 3.5/5

That your excellency, is the reason for which the west conguered the world
(Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya, hal xv)

Saya perokok, sepertinya.

Maksudnya, kondisi sekitar membuat saya sebagai perokok pasif. Saya jelas bukan perokok, apalagi dengan penyakit asma yang saya sandang. Namun keluarga saya banyak yang merokok, begitu juga para sahabat.  Bukan hal yang menyenangkan. Tentunya harus dicari pemecahan agar saya tidak menjadi perokok pasif.

Cara yang paling aman (versi saya) agar tidak menjadi perokok pasif, dimana efeknya ternyata lebih menakutkan dari pada perokok aktif, saya selalu menghindar berada di dekat perokok. Jika di area tertentu yang tidak memungkinkan untuk menghindar, maka saya akan terang-terangan meminta agar rokok dimatikan. Jangan membuat saya celaka karena kesenangan anda!

Bermula dari upaya menyembuhkan penyakit asma, saya jadi tertarik untuk mengamati berbagai rokok tingwe alias dilinting dewe yang ada dipasaran. Suatu saat dalam rangka berobat, ada yang menyarankan obat hisap berbentuk rokok  tingwe. Alih-alih berisi tembakau, isinya adalah aneka ramuan jamu dan dibungkus  daun jagung. Entah apa istilah yang pas. Lalu ramuan tersebut harus saya isap layaknya mengisap rokok. Jangan tanya rasanya!

Meski sering dikecam karena dapat membahayakan jiwa, rokok dianggap berguna untuk sarana membangun komunikasi, menciptakan komunikasi sosial. Misalnya ketika ada parhelatan, masih bisa kita jumpai rokok diletakkan dalam gelas bersama hidangan lainnya, ada yang mengundang hajatan dengan menyerahkan rokok. Bahkan dalam upacara adat, terdapat rokok diantara sesajen. Di Dataran Tinggi Dieng, rokok dipergunakan sebagai sarana komunikasi dengan Kiai Tumenggung Kolodete salah satu penjaga wilayah Dieng.

Buku setebal 171 halaman ini mengupas mengenai rokok kretek di Pulau Jawa. Kretek merupakan suara yang timbul ketika campuran tembakau dan cengkeh dibakar. Mulai dari pengantar beberapa budayawan, perihal etiket rokok, jenis tembakau, kisah seputar para buruh pekerja industri rokok hingga pemilihan nama produk.

Pernah membaca kisah tentang Rara Mendut? Rokok yang mahal justru rokok yang sudah ia hisap. Konon mpembeli percaya bahwa ludah Rara Mendut yang membuat rokok memiliki rasa berbeda.  Dalam buku ini disebutkan bahwa bahan penguat rasa dan aroma rokok yang dibuat dari aneka rempah-rempah sudah dipergunakan hingga membuat rasa berbeda. Aroma yang keluar ketika campuran tembakau dan wur (istilah bagi bahan campuran) dibakar harum baunya. Contoh wur klembek, kemenyan, dupa, pucuk cendana, waron, pala, adas, dan lainnya kecuali cengkeh.  

Rokok Kretek terbagi menjadi dua, yaitu rokok kretek non-filter dan dengan filter. Kretek yang non-filter masih terbagi dari yang tingwe. Adapun kretek dengan filter, pada ujung rokok diberi  semacam gabus untuk menyaring nikotin dari pembakaran tembakau dan cengkeh.

Melalui buku ini, saya jadi mengetahui  terdapat dua jenis tembakau. Pertama tembaga musim kemarau yang disebut vooroogst (VO). Tembaga jenis ini misalnya asepan, sigaret dan tembakau rajangan atau tembakau rakyat. Jenis ini ditanam pada akhir musim penghujan dan dipanen pada musim kemarau. Selanjutnya adalah tembakau penghujan na-oogst  (NO), contohnya cerutu. Jenis ini ditanam saat akhir musin kemarau dan dipanen saat penghujan

Pengetahuan saya bertambah, termasuk asal usul nama nikotin, atau ulelet mbako. Istilah tersebut mucul di Peranci. Pada tahn 1558, Jean Nicot De Villemain membawa biji-biji tembakau ke negerinya untuk tanaman obat dan mempersembahkan kepada Raja Frans II untuk obat sakit kepala.  Sejak 1615 tanaman tembakau juga dinamakan nicotina. 
 
Industri tembakau ternyata merupakan indutri yang memberikan masukan lumayan besar bagi kas pemerintah daerah.  Selain tembakau, ternyata industri tersebut juga menimbulkan industri lainnya. Keranjang untuk tembakau sebagai contoh. Di Pasar Legi Parakan, bisa ditemukan banyak keranjang berikut pelepah batang pohon pisang serta rigen sebagai para-para untuk menjemur tembakau.

Belum lagi keberadaan  Buruh SKT (Sigaret Kretek Tangan) yang membuat geliat ekonomi bagi warga sekitar. Misalnya dengan menyediakan tempat tinggal bagi buruh pendatang, penyedia kebutuhan sehari-hari, hingga penyedia angkutan menuju pabrik.
 
Bagi produsen rokok, keberadaan tembakau tentunya bagaikan bahan bakar utama. Meski ada daerah yang tak memiliki pabik rokok, namun mampu memberikan masukan pendapatan melalui kualitas tembakau yang dihasilkan di sana. Dalam buku ini diuraikan bagaimana tembakau bisa membantu perekonomian sebuah daerah meski tak memiliki pabrik rokok.

Pembaca juga bisa menemukan banyak etiket rokok   nyaris pada tiap halaman.Tidak dapat dipungkiri, urusan etiket juga mendapat perhatian khusus selain mutu produk. Etiket biasanya terdiri dari gambar dan teks. Bentuk persegi paling banyak digunakan, sementara trapesiun jarang dipilih. Faktor keseimbangan bobot bidang gambar sangat diperhatikan ketika membuat gambar. 


Pemberian nama atau merek ternyata lumayan rumit. Umumnya mengandung unsur angka tiga dan sembilan. Lebih lengkapnya dibahas di halaman 102.  Pada halaman 111, pembaca bisa menemukan analisa kategori etiket produk secara terinci. 

Saya sempat ingat dulu pernah ada rokok merek Staf (maaf saya lupa dengan satu atau dua "f") yang tidak mampu bertahan lama. Sebenarnya tidak mengherankan. Siapa yang selalu mau menjadi staf alias bawahan? Semua orang tentunya ingin menjadi bos. Dengan memilih rokok merek staf, secara psikologis menimbulkan rasa kurang nyaman. Tentunya seseorang lebih bangga memakai produk yang membuat ia seakan-akan bos.

Selain urusan rokok, saya jadi tahu mengenai sejarah kota Kudus. Kota yang semula bernama Quds, suci bisa dikatakan basis produksi rokok. Bahkan batik  Kudus juga dipengaruhi unsur kretek.

Menilik ukuran buku yang lumayan besar, nyaris seperempat halaman koran, tak heran jika pembaca dimanjakan dengan banyak foto-foto menawan. Tidak sembarang foto, ukurannya lumayan besar. beberapa malah ada yang menghabiskan dua halaman lebih. Dan jumlahnya lumayan banyak. Sayangnya tidak terdapat glosarium dalam buku ini.
 
Mata saya langsung melebar ketika membaca judul yang ada di halaman 159, Kategorisasi Ragam Merek Rokok Ketek 1930-an Hingga 1970-an. Betul, Ketek. Semula saya merasa jangan-jangan saya salah baca akibat dari mata saya yang kelelahan. Saya melihat daftar isi, ternyata juga ditulis sama.

Segera meluncur ke KKBI. Ada beberapa pengertian tentang ketek yang saya temukan di sana. Untuk makna monyet, ketiak dan perahu motor sepertinya bukan. Kemungkinan makna kecil atau sedikit. Tapi entah kenapa, saya merasa itu typo. Saya sangat yakin maksudnya adalah Kretek. Karena pada salah satu judul tabel tertulis Ragam Merek Rokok Kretek.  Tapi mungkin saja saya yang salah.

Dalam kategori tersebut, pembaca bisa menemukan berbagai merek. Ada kategori Makhluk Hidup dengan sub kategori antara lain jenis primata (seperti lutung), sayuran (misalnya kangkung dan terong), nama perempuan pribumi  (Endang dan Tri), lakon wayang (Bima Sakti, Naga Putra). Kategori Peralatan dengan sub  seperti peralatan dapur (dandang), sejata (pusaka, golok wasiat). Lalu kategori Alam dengan contoh  sub angkasa raya (bintang bulan  dan terang bulan), gerak alam (muluk, ombak). Tak ketinggalan kategori Warna dan Rasa dengan sub seperti warna (dwi warna, djinggo). Tak terbayangkan pernah ada rokok dengan merek seperti itu ^_^

Tak sia-sia saya harus kehujanan, gedor kios penjual hingga balik siang hari khusus menjemput buku ini. Layak dikoleksi.


Sumber gambar:
Buku Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya