Selasa, 30 Agustus 2016

2016 # 94: Batik Selayang Pandang

Judul: Batik: Pola & Tjorak-Pattern & Motif
Teks: N. Tirtaamidjaja, SH
English Text: B.R.O.G Anderson
Foto: Jazir Marzuki
ASIN: B004R2546C
Halaman: 111
Cetakan: Pertama-1966
Penerbit: Penerbit Djambatan

Salah satu keuntungan bekerja di perpustakaan adalah bisa menemukan dan membaca buku-buku yang sudah sulit ditemukan. Mungkin masih ada yang menjual, tapi harganya lumayan tinggi.

Begitulah pertemuan saya dengan buku buluk yang satu ini. Salah seorang teman sedang berupaya melakukan perawatan dan perbaikan atas buku ini. Mulanya saya tidak tahu ini buku tentang apa, hanya tergoda oleh kover yang menyerupai motif batik.  

Ternyata kover yang ada juga sudah merupakan hasil perbaikan dan perawatan.  Terbit pada tahun 1966 dan dibaca banyak mahasiswa (terlihat dari kartu yang menempel di bagian belakang), tentunya membuat buku ini tidak dalam kondisi yang prima. Tapi soal isi jelas masih sangat dibutuhkan.

Dimaksudkan untuk memperkenalkan kembali kepada khalayak umum akan mutu batik yang tinggi, merupakan tujuan penyusunan buku ini. Termasuk bagi mereka yang ingin menggali pola-pola kuno.
https://www.amazon.com/

Terbagi dalam tiga bagian besar, bagian pertama meliputi sejarah atau asal-usul batik dilanjutkan dengan perkembangannya pada saat ini. Bagian kedua memuat cara atau proses batik. Terakhir memuat mengenai pola beserta keterangannya. 

Disebutkan bahwa dari segi pola batik memakai pola yang berasal dari tanaman dan dunia binatang dari tanah air. Dalam perkembangannya, memang mendapat  pengaruh dari budaya asing.  Sedangkan pola geometris memperlihatkan garis serta gaya yang dikenal di tanah air. 

Inti cara membatik adalah menutupi bagian atas kain atau bahan adsar yang hendak diberi warna dengan bahan penutup berupa lilin,  Kualitas kain yang dipergunakan sebagai bahan akan berpengaruh pada hasil pewarnaan.

Untuk pembagian pola batik dibagi menjadi ukuran geometris serta tidak bersifat geometris. Untuk geometris misalnya pola ceplok atau ceplokan, pola meniru tenunan atau anyaman, dan lainnya. Sementara pola yang tidak bersifat geometris seperti semen merupakan pola yang tak terbatas, karena penciptanya tidak begitu terikat oleh ukuran atau gaya tertentu. 
Canting, Alat Untuk Membatik
https://id.wikipedia.org

Dengan penulisan ejaan lama, buku ini tetap menarik untuk dibaca. Baru pendahuluan saja, saya sudah mendapat banyak ilmu. Misalnya, perbedaan utama membatik zaman dahulu dan sekarang ada pada prnggunaan bahan pewarna, apakah alami atau bahan kimia. Ini juga akan berpengaruh pada lamanya proses pembatikan.

Membatik dengan cara tradisional, bukan dicap mampu mengembangkan kreativitas. Beda dengan batik cap yang hanya tinggal dicap saja. Itu juga yang membedakan antara nilai batik tulis dan batik cap. Kesalahan yang disebabkan unsur manusia dalam batik tulis menjadi nilai tersendiri.

Pembaca sangat dimanjakan dengan aneka foto. Bagaimana tidak,  dari 111 halaman hanya sekitar 28 halaman  yang berisi uraian mengenai batik. Itu pun dibagi dalam dua bagian, bahasa Indonesia dan bahasa Inggris. Sisanya sekitar 83 halaman berisi foto corak kain batik. Baik dalam bentuk berwarna atau hitam putih. 

Begitu kita membuka halaman awal, sudah disuguhi gambar peta pulau di tanah air lalu khusus untuk pulau Jawa diberi tanda untuk pusat-pusat pembatikan. Terlihat ada Tasikmalaya, Indramayu, Surabaya, Pekalongan dan lainnya.

Sayangnya, pemilihan huruf serta tata letak yang berkesan padat membuat mata kurang nyaman membaca. Kontras sekali tata letak halaman yang berisi tulisan dengan yang hanya berisi gambar. Sepertinya jika gambar diberikan ruang selebar mungkin. 
Iwan Tirta
http://www.tokohkita.com/

Penggunaan juga bahasa Inggris,  membuat buku ini bisa dinikmati seipa saja asalkan  mereka mengerti bahasa Inggris. Bisa disebutkan cara ini merupakan salah satu sederhana untuk mempromosikan keberadaan batik di tanah air.

N. Tirtaatmidjaja, SH yang disebut sebagai penyusun teks dalam bahasa Indonesia,  adalah sosok Iwan Tirta. Lahir di Blora, Jawa Tengah, 18 April 1935 dengan nama  Nusjirwan Tirtaamidjaja, Iwan merupakan perancang busana yang dikenal melalui rancangan dengan unsur batik. Pada pertemuan APEC tahun 1994, hasil karyanya berupa baju batik dipergunakan oleh para  kepala Negara. Tiap desain yang dikenakan oleh para kepala Negara tidak ada yang sama.  Iwan meninggal dunia pada usia 75 tahun di Jakarta, 31 Juli 2010.  Presiden Joko Widodo atas nama negara memberikan Tanda Kehormatan Bintang Budaya Parama Dharma kepada Nusjirwan Tirtaamidjaja

Minggu, 28 Agustus 2016

2016 #93: Pilih Sendiri Petualanganmu: Planet Ketiga Dari Altair


Penulis: Edward Packard
Ilustrator: Paul Granger
Alihbahasa: Djokolelono
Halaman: 117
Cetakan: Pertama-Juli 1985
Penerbit: PT Gramedia
Rating: 4/5 
                                        
                                PERHATIAN!
Dilarang keras membaca buku ini seperti biasa, langsung dari halaman pertama ke halaman berikutnya. Di Buku ini terdapat berbagai petualangan yang bisa kaualami di antariksa. Jika selesai membaca satu halaman, bacalah catatan di bawahnya. Tentukan pilihanmu dan ikuti petunjuk. Pilihanmu sangat menentukan, apakah kau menemui kebahagian ataukah kehancuran!

Petualangan yang dikisahkan adalah hasil pilihanmu sendiri. Kau sendirilah yang bertanggung jawab.

Ingat-kau tak boleh mundur! Jadi, berpikirlah baik-baik sebelum kau bertindak. Sekali salah... petualangamu berakhir mengerikan. Tetapi kalau pilihanmu tepat, mungkin kau akan kaya raya, dan bahagia!

Peringatan itu selalu ada pada halaman awal seri Pilih Sendiri  Petualanganmu. Buku ini memang unik mengingat cara membaca tak biasa yang disarankan. Jangan membuka halaman secara berurutan, tapi tentukan pilihanmu sendiri. Ada lebih dari tiga puluh akhir cerita yang bisa kita peroleh, sekali lagi tergantung pada pilihan masing-masing.

Salah satu seri ini adalah Planet Ketiga dari Altazair. Pembaca memainkan peranan aktif sebagai seorang astronot.Disebutkan bahwa sejak lama para ahli perbintangan mencoba menangkap pesan-pesan yang berasal dari suatu kehidupan jauh di ruang angkasa luar. Akhirnya impian selama ini terwujud. Observatariun Muna Kea di Hawaii menangkap pesan yang diperkirakan adalah planet ketiga dari Altair, sebuah bintang kuning putih yang berjarak enam belas tahun cahaya dari bumi.

Pesan yang diulang-ulang setiap beberapa saat  dianggap dikirim oleh makhluk yang memiliki kecerdasan lebih tinggi. Sayang tak seorang pun bisa memastikan apa arti pesan itu. Untuk itu, sebuah misi menuju Altair segera disiapkan.

Pembaca, dalam buku ini dipanggil dengan Kau, merupakan satu dari empat awak pesawat antariksa Aloha. Tujuannya mencari siapa atau apa yang mengirim pesan tersebut. Serta mengapa. Kau berharap dapat menempuh perjalanan dalam waktu hanya beberapa minggu dengan mempergunakan teknologi baru.

Matahari tanpa mengecil. cahaya dan sinarnya tak beda dengan bintang lainnya.  Tiba-tiba antaraiksa di sekeliling pesawatmu terisi oleh sinar-sinar gemerlapan. Kapten Bud Stantona astronot veteran berdiri kaku bagaikan beku, badanmu pun terasa seakan digeletik. Di sekitar komputer mulai berpijar loncatan api listrik. Agaknya pesawat baru melewati badai materi anti.

Situasi tersebut memicu perdebatan antara anggota tim yang lain. Dr Nera  Vivaldi ahli ilmu pengetahuan manusia jurusan hubungan antarmakhluk, mengusulkan untuk kembali ke bumi. Apalagi peralatan belum tentu sanggup mengalami peristiwa yang sama lagi. Sementara Profesor Henry Pickens ahli ilmu antariksa mengusulkan untuk terus melanjutkan perjalanan. Menurutnya sang kapten juga akan setuju untuk tetap melanjutkan perjalanan.

Tinggal tokoh Kau yang belum menyatakan pendapat. Mulai bagian ini, pembaca  diajak menikmati keseruan kisah dengan diharapkan pada dua pilihan. Pertama, jika berpendapat Aloha harus terus maju menuju Altair maka lanjutkan ke halaman 6. Jika kau perintahkan komputer untuk mengubah arah haluan lanjutkan ke halaman 8. Hati-hati memilih! Karena jalan dan  akhir cerita tergantung pada pilihan pembaca sendiri.

Jika diintip beberapa bagian yang menandakan berakhir kisah, ada yang berakhir menyenangkan seperti kembali ke bumi dengan banyak tambahan informasi, menyaksikan lahirnya tata surya baru, tapi ada juga yang berakhir sedih. Misalnya tetap harus tinggal di Planet Altair.

Saya memiliki cara tersendiri untuk bisa menikmati kisah ini. Benar-benar ngak mau rugi he he he. Sebelum membaca sebuah buku, saya mulai membuat alur terlebih dahulu. Caranya mengikuti setiap perintah untuk menuju halaman tertentu hingga sampai pada akhir kisah. Terlihat coretan yang saya buat ^_^. Dengan begitu saya bisa menikmati keseluruhan kisah dengan lebih maksimal. Satu buku dengan banyak kisah.

Sejauh ini, sepengetahuan saya ada lumayan banyak kisah dalam seri ini. Ada Lorong waktu, Mencari atlantis, Dengan balon ke sahara, Penjelajah antariksa, Rahasia rumah terkutuk, Rahasia ikan paus bungku, Siapa pembunuh Hardlowe Thrambey dan lainnya. Lumayan beragam.

Sayangnya buku ini masuk dalam buku buluk, alias buku lawas. Belum ada versi cetak ulangnya. Padahal buku ini sangat bagus guna meningkatkan kreativitas anak. Pembaca tidak begitu saja mengikuti alur kisah yang dibuat oleh penulis, tapi bisa memilih hendak menjadi bagian kisah yang mana dahulu.

Selain itu, anak-anak diajar untuk berani menentukan pilihan dan menerima konsekuensi dari pilihannya tersebut. Dengan memilih salah satu halaman yang dituju sebagai contoh, bisa saja malah berakhir dengan kematian sang tokoh. Artinya kisah berakhir dengan cepat. Namun bisa juga justru halaman yang dipilih membuat kisah menjadi lebih panjang dan seru. Semuanya tergantung pada pilihan pembaca sendiri. 

Tentunya jangan lupa sisi ekonomis buku ini seperti yang beberapa kali saya sebut. Betapa tidak, dengan harga sebuah buku saat itu, pembaca bisa menikmati lebih dari tiga puluh akhir kisah. Efisiensi sekali bukan? Sebagai pembaca cepat, buku seperti ini juga membuat saya bisa menikmati kisah yang ada dengan lebih lama.

Sekali lagi hanya bisa berharap, semoga seri ini dicetak ulang kembali.

 







2016 #92: Berpetualangan Ke Dunia Sihir #1 Negeri Kirana (Plagiatkah?)

Penulis: Vero Sudiati, Al. Widyamartaya
Penyunting: Wawan K
Perancang sampul: Lucky Advertising
Proof reader: Tim Narasi
ISBN: 9799756410X
Halaman: 100
Cetakan Pertama- November 2003
Penerbit: Narasi


Salah satu keuntungan membaca buku banyak antara lain jadi lebih mudah memahami mana kisah yang idenya asli milik penulis, kisah yang terinspirasi dari kisah lainnya, serta kisah yang jelas-jelas menciplak karya orang lain dan hanya melakukan sedikit perubahan.  Salah satunya buku ini.

Sahabat saya, para penyuka buku ramai membicarakan bahwa buku ini bisa dikatakan menjeplak habis alias melakukan plagiat dari karya C.S Lewis,  The Chronicles of Narnia #1: The Lion, the Witch, and the Wardrobe. Penasaran, langsung membeli buku ini dan mulai membaca. Oh ya yang ingin tahu, atau lupa akan kisah asli The Lion, the Witch, and the Wardrobe bisa dibaca di sini.

Dari membaca sekilas saja saya sudah menemukan beberapa persamaan yang teramat sangat mirip dengan buku yang disebutkan sebagai buku asli. Tunggu,  jangan mengambil kesimpulan segera. Mari dibaca sampai tuntas baru kita putuskan.

Kisahnya tentang empat orang sahabat Nunung, Nuning, Yuyun dan Ningrum. Mereka disebutkan sangat suka berpetualang. Suatu ketika mereka mendapat izin untuk ikut tinggal di rumah seorang bangsawan keraton bernama Raden Mas Wigita.

Bisa tinggal di rumah bangsawan dengan mengandalkan surat dari sekolah dan kepala desa, aneh. Lebih aneh membaca mereka bisa bebas berkeliaran memeriksa kamar-kamar yang ada di rumah itu. 
Sampai bagian ini saya masih berusaha berpikiran terbuka. Mungkin ini termasuk kisah yang terinspirasi dari kisah Narnia. Kemiripan memang makin terlihat. Mari kita lanjutkan membaca.

Setelah membaca sampai tamat, saya bisa mengatakan kisah ini 90% sangat mirip dengan Narnia (mau menulis 99% kok agak ikut malu juga). Ada penggunaan nama Aslan juga dalam buku ini mulai halaman 89.

Berbedaan yang ada sangat kecil. Misalnya, jika kisah asli menyebutkan mengenai empat bersaudara saat Perang Dunia II, maka dalam buku ini disebutkan sebagai empat sahabat yang suka berpetualang. 

Nama keempat tokoh asli Peter, Susan, Edmund, dan Lucy Pevensie, dalam buku ini adalah Nunung, Nuning, Yuyun dan Ningrum. Peter menjadi Nunung, Susan menjadi Nuning, Edmund menjadi Yuyun, maka pastinya Lucy menjadi Ningrum. 

Keempat anak bersembunyi dalam lemari karena takut berpapasan dengan Ibu Rumini, pengurus rumah tangga yang sedang membawa pengunjung mengelilingi rumah. Hayuh, masih ingat kan bagaimana mula keempat saudara tersebut masuk ke dalam lemari.

Selain urusan kemiripan yang 90%,  para penulis juga mempergunakan nama tokoh yang lumayan membingungkan. Membaca nama  Nunung, Nuning, Yuyun dan Ningrum tentunya membuat pembaca (sebagian besar) akan mengira mereka adalah anak-anak perempuan. Terutama nama Ningrum. Baru beberapa halaman setelah bagian yang menyebutkan nama diterangkan bahwa mereka akan mendapat dua kamar. Satu untuk anak perempuan, sementara yang lain untuk anak laki-laki. 


Pada salah satu halaman, saya menemukan kata brengsek. Mungkin dalam bahasa pergaulan itu merupakan kata yang yang dianggap biasa. Tapi akan menjadi tidak biasa jika dipergunakan dalam buku anak-anak. Mengingat mereka yang disebut sebagai penulis cukup  lama malang-melindang di dunia buku, harusnya tahu untuk tidak mempergunakan kata tersebut.
 
Menilik kover, saya kurang bisa menemukan "cerita" yang diperoleh melalui kover dengan kisah sesungguhnya. Kover dapat dikatakan kurang bisa mencerminkan isi kisah. Memang sosok wanita dengan topi lancit bisa kita asumsikan sebagai ratu yang jahat. Tapi yang lainnya kurang mengena. Gambar puri yang ada malah mengingatkan saya pada film kartu  Scooby-Do.

Oh ya, buku ini berakhir pada bagian Yuyun pergi meninggalkan keempat sahabatnya menuju ke tempat tinggal penyihir.. Jika dibandingkan dengan kisah asli, maka sampai pada bagian Edmud meninggalkan saudaranya menuju istana penyihir putih.

Satu yang mungkin bisa dianggap sebagai kelebihan buku ini, adalah cara kedua penulis memilih dan mempergunakan kata. Uraian mengenai suatu hal atau kejadian dilakukan dengan mempergunakan kalimat yang singkat namun tepat sasaran. Anak-anak yang menjadi sasaran pembaca juga tidak akan mengalami kesulitan untuk mengembangkan imajinasi berdasarkan uraian dalam buku ini.

Sungguh sayang.
Jika potensi yang ada hanya dipergunakan untuk membuat kisah seperti ini. Sekedar opini saya, tak mungkin kedua penulis tidak tahu kisah Narnia. Melihat usianya sudah cukup lumayan senior, tentunya sudah banyak tahu mengenai aneka kisah. Pihak Editor dari perusahaan, harunya juga paham akan kemiripin yang teramat sangat sama. Entahlah, jadi penasaran kok buku seperti ini bisa beredar.

Seandainya harus memberi bintang, saya akan memberikan bintang 5. Iya, jelas lima  karena sama seperti membaca Narnia versi bahasa lokal he he he.








Jumat, 26 Agustus 2016

2016 #90-91: The Land of Elyon




Beginilah penimbun!
Melihat buku yang menggoda langsung membeli, baca kapan lagi urusan. Meski harga juga menjadi pertimbangan, tapi tetap saja jika sudah tertarik akan terabaikan.

Pertama kali melihat serial ini kira-kira 3 atau 4 tahun lalu *sudah jangan sok kaget gitu* Harganya  cukup murah hanya Rp 20.000. Menurut si penjual ada dua buku, tapi entah kenapa saat itu saya hanya menemukan buku pertama.  Kenapa tetap nekat membeli? Entah kenapa firasat saya mengatakan buku ini pasti menarik.

Tapi..., kembali lagi penimbun.
Terlupakan karena tertimbun dengan buku-buku pemberian yang atas dasar pertimbangan moral haru segera saya baca dan saya review. Hingga, sebuah ol tertutup menwarkan buku ini dengan harga yang sangat masuk akal, langsung disambar. Padahal, belum lama juga ada yang menawarkan dengan harga setara, tapi hati ini entah kenapa belum tergerak untuk membeli *jie sedang sadar timbunan*

Maka sebelum saya tulalit lagi, lupa meletakan di mana buku yang saya beli, atau tertutup dengan tumpukan buku yang baru datang, maka secepatnya buku ini harus dibaca dan direview.  Supaya saya juga bisa memuaskan rasa penasaran saya, kenapa dan apa yang membuat saya dulu nekat membeli buku ini dan membeli buku lagi satu set (terdiri dari 2 buku-jadi jilid satu saya punya 2).
 
Judul: The Land of Elyon #1 Bukit-bukit Kelana
Penulis: Patrick Carman
Penerjemah: Femmy Syahrani
Penyunting: Maria Masniari Lubis
Proofreader: Ela Karmila
ISBN: 9793659777
Halaman: 328
Cetakan: Pertama-2006
Penerbit: Little K
Rating: 3/5


Kami terkenal di Ainsworth sebagai pembuat sampul buku yang paling indah dan jilid buku yang paling kokoh. Tersebar luas juga bahwa kami adalah masyarakat yang terampil dalam memperbaiki buku dan naskah yang paling berharga.

Saya pasti akan sangat bahagia jika hidup di Bridewell,  Elyon. Guna menghidupi diri, tentunya saya harus bekerja, Dan pekerjaan yang saya pilih adalah menjadi asisten atau anak buah  Grayson, pengurus perpustaakan.

 Di Bridewell, literasi mendapat tempat utama.  Sang pendiri,   Thomas  Warvold sangat memperhatikan pentingnya isi perpustakaan.  Sebagian besar perpustakaan dipenuhi dengan buku-buku yang ia kumpulkan dalam perjalanannya. Belakangan karena sudah jarang berpergian, ia meminta dibawakan buku yang berkualitas sebagai syarat bagi petinggi dari semua kota di Negeri Elyon  yang ingin menemuinya. Bagaimana sikap ia menerima tamu tergantung dari isi buku yang mereka bawa.  

Kisah dalam buku ini  bukan mengenai sebuah perpustakaan, namun mengenai seorang anak gadis yang sangat menyukai perpustakaan. Ia bernama  Alexa Daley,   berusia 12 tahun. Putri dari walikota lathbury.

Rencananya ia akan menghabiskan musim panas  di Bridewell. Suatu senja, Thomas Warvold mengajaknya berjalan-jalan sambil mengisahkan tentang enam orang buta yang meraba gajah. Tiap orang memegang bagain tubuh yang berbeda, sehingga memiliki persepsi yang berbeda satu dengan lainnya.  Tak lama kemudian, Alexa baru menyadari bahwa keheningan yang terjadi diantara mereka adalah karena  Warvold sudah meninggal.

Situasi menjadi mulai tidak terkendali. Alexia menemukan sebuah fakta bahwa akan terjadi perebutan kota yang dilakukan oleh para narapidana yang dahulu ikut membangun tembok kota. Mereka mudah dikenali dengan cap N. Semua tergantung pada dirinya.

Mulanya saya semangat membaca buku ini. Permulaannya menjanjikan keseruan. Makin ke tengah kok ceritanya makin mengada-ngada, banyak logika yang bolong. Tapi mendadak kisahnya kembali menjadi seru. Naik turun begini ritmenya.

Baiklah, saya harus ingat ini untuk anak-anak. Untuk mereka kisah ini akan sangat menawan. Sinopsisnya ada di sini.

Judul: The Land of Elyon #2 Lembah Berduri 
Penulis: Patrick Carman
Penerjemah: Widati Utami
Penyunting: HP Melati
Proofreader: Ela Karmila
ISBN: 9793659912
Halaman: 308
Cetakan: Pertama-2006
Penerbit: Little K
Rating: 3/5

Ketika Elyon menciptakan dunia ini dan para manusia, dia juga menciptakan sesuatu yang lain seratus makhluk lain yang disebut dengan Seraph. Makhluk ini diciptakan untuk melindungi Negeri Elyon dari Kerajaan Kota Kesepuluh, sebuah tempat rahasia yang dibangun oleh Elyon sebagai rumahnya agar dia bisa melihat semuanya. Sedangkan Seraph, diciptakan untuk mengawasi para manusia, mereka tidak boleh meninggalkan Kota Kesepuluh. 

Setelah sukses menyelamatkan kota pada musim panas lalu, Alexia kembali ke Bridewell.  Agak aneh juga melihat pemandangan kota yang seakan terhampar luas sejak dinding yang melindunginya hancur beberapa waktu lalu. Selain itu, tak banyak yang berubah. Termasuk kursi favoritnya di perpustakaan.

Mendadak ia mendengar ketukan dari dinding yang ada di balik kursi. Ada jalan rahasia rupanya di sana. Salah satu teman yang ikut petualangan lalu, Yipes,  muncul dari sana. Ia membawa surat dari Warvold yang harus diserahkan pada Alexia setahun setelah ia meninggal tahun lalu.

Seperti pada buku yang pertama, kali ini Alexa harus kembali menyelamatkan orang banyak. Ia harus pergi menuju Lembah berduri. Kali ini ia ditemani oleh beberapa sahabatnya. Mungkin agak aneh jika melihat rombongan yang berangkat untuk menyelamatkan Elyon, tapi begitulah kisah ini berjalan.

Lumayan seru dibandingkan dengan buku pertama. Hanya saja pada buku kedua ini kisahnya tidak langsung tamat. Salah satu sahabatnya mengalami kesialan. Mereka yang tersisa harus bersuaha untuk menyelamatkannya. Kisah penyelamatan tersebut berada di buku tiga. Sayangnya tidak diterjemahkan oleh penerbit. Atau ada tapi saya tidak (belum) menemukan.

Dari buku pertama dan buku kedua, kisahnya memang mengalami perubahan. Dari yang semula hanya berkisar di dalam kota, belakangan meluas menjadi negara. Tokoh utama dalam kisah ini, Alexia juga mengalami pertumbuhan seiring usia. Sifatnya terlihat lebih dewasa dan sudah lebih bisa menahan diri. Tindakan yang diambilnya juga sudah lebih berdasarkan pemikiran yang matang.

Perpustakaan sepertinya merupakan tempat yang paling disukai penulis untuk memulai sebuah kisah. Kedua buku ini juga beberapa menyebutkan pengenai perpustakaan, buku serta kegiatan yang terkait dengan buku.

Seri dari The Land of Elyon adalah The Dark Hills Divide ( Bukit-bukit Kelana),  Beyond the Valley of Thorns (Lembah Berduri), The Tenth Citydan Strargazer. Ada sebuah prekuel yang muncul sebelum buku. Bagi yang ingin tahu lebih banyak mengenai penulis dan Negeri Elyon bisa mengunjungi www.scholastic.com/landofelyon.

Lumayan juga untuk buku yang ditimbun