Rabu, 29 Oktober 2014

Review 2014 #59 :Perangkat Digital Membuat Otak Tidak Bisa Berpikir




Judul asli: Mendidik Anak Di Era Digital
Penulis: Yee-Jin Shin
Penerjemah: Adji Annisa
Penyunting: Kiki Sulistiyani
Penyelaras aksara: Aulia Nur Rahmah
Ilustrasi isi: Taufiq Wajdi
Desain isi: Aniza Pujiati
Desain sampul: Zariyal
ISBN: 978-602-1306-25-3
Halaman: 282
Penerbit: Noura Books
Penerbit: Noura Books
Penerbit: Noura Books
Harga: Rp 49.000

Anakku pandai berbicara bahasa asing. Sejak kecil ia suka menonton DVD kartun berbahasa asing.

Baru dapat arisan, mau beli smartphone buat anak biar dia lebih melek teknologi dan menambah wawasan.

Handphoneku serta suami isinya game buat anak. Setiap pulang kerja anak selalu menyambut dengan gembira dan minta dipinjamkan HP lalu kami berkumpul bersama menemaninya bermain game

Anda pernah berada dari ketiga kondisi di atas?
Kalau iya maka selamat! Anda sukses membuat anak terkena imbas dari kemajuan teknologi. Bahkan bukan tidak mungkin Anda sudah sukses merusak otak buah hati terkasih.

Buku ini membuat saya merinding juga menyesali beberapa keputusan yang pernah saya ambil terkait urusan gadget canggih jagoan. Teknologi bagaikan sisi 2 mata pedang, bisa membantu atau merusak tergantung bagaimana sikap dan cara orang memperlakukan dan memanfaatkan teknologi tersebut.

Sering melihat seseorang, entah dewasa atau anak-anak asyik dengan gadget canggih tanpa menghiraukan situasi sekitar? Bisa dikatakan orang itu sudah mulai kehilangan empati pada sekitar. Padahal kemampuan berempati adalah dasar dari perkembangan kemampuan bersosialisasi. Tidak adanya rasa empati membuat kemampuan bersosialisasi anak sangat buruk.

Perangkat digital bisa memberitahukan berbagai jawaban, perangkat itu tidak bisa  membimbing anak untuk berpikir secara mendalam. Mereka menelan  begitu saja semua informasi yang mereka temukan tanpa ada keinginan untuk mencari lebih tahu.

Ketik kata padi contohnya, maka akan bermunculan aneka informasi mengenai padi.  Sang anak akan memiliki pengetahuan teoritis tentang padi. Tapi bagaimanakah baunya, rasanya di tangan bahkan bagaimana wujud sawah tempat padi ditanam tidak akan mereka ketahui.  Semua informasi yang kita peroleh merupakan hasil unggahan orang lain. Pengalaman tidak langsung yang seolah-olah menjadi informasi bagi diri sendiri itu membuat anak miskin pengalaman.

Baginya pengetahuan itu saja sudah cukup. Anak tidak memiliki rasa ingin tahu untuk mencoba memegang pagi, mencium baunya bahkan merasakan  menanam padi. Pengalaman tidak langsung yang diberikan oleh perangkat digital membuat jiwa anak menjadi hampa, mengurangi kesempatan anak untuk berbagi rasa dengan orang lain, dan menghambat perkembangan emosi serta kemampuan bersosialisasi anak.

Perangkap digital telah merenggut seluruh pengalaman yang seharusnya seorang anak rasakan sesuai usianya hanya dalam satu detik. Ia perlu merasakan pengalaman mendasar yang harus dirasakannya secara bertahap. Semakin anak tumbuh besar, anak tidak perlu merasakan dampak buruk yang lebih besar lagi.

Tak heran jika obesitas juga bermunculan belakangan ini. Sebuah buku menyebutkan bahwa internet menyebabkan kemalasan. Jelas sekali, buat apa menunduk-nunduk di sawah untuk mengetahui warna padi, bentuk padi jika bisa mengetahui dari internet. Anak akan malas bergerak menuju perpustakaan, piknik di alam bebas sambil belajar menjadi sesuatu yang tidak dilakukan lagi jika hanya dengan satu jari semua informasi yang dibutuhkan bisa tersedia tanpa harus berkeringat dan lelah.

Masyarakat  tergila-gila pada perangkat digital sehingga menciptakan anak-anak yang "matang semu" Secara fisik memang mereka cukup matang tapi secara bathin dan otak,  mereka hanyalah anak-anak. Perangkat digital tidak saja menyebabkan anak menjadi matang semu namun juga mengalami gangguan kejiwaan, tidak bisa mengontrol emosi dan terlihat antisosial

Anak yang mengalami ketergantungan perangkat digital terlihat tidak sabaran dan agresif ketika mengalaman tekanan. Saat menggunakan perangkat digital, anak terpapar stimulus yang kuat pada indra penglihatan dan pendengarannya. Sinar dan warna yang mencolok tersaji terus-menerus. Selagi stimulus itu terus berlanjut, situasinya berganti dengan cepat. Setiap kali ada tampilan baru, setiap kali juga anak tidak bisa mengalihkan perhatiannya.

Namun, jika anak sering terpapar stimulus lain yang juga sekuat itu, anak tidak akan memberikan perhatian pada permainan-permainan yang tidak bisa memberikan stimulus yang sama kuatnya. Tanpa sadar, otak anak telah menjadi popcorn brain. Popcorn brain adalah istilah yang digunakan untuk menyebutkan kondisi otak yang terbiasa dengan layar perangkat digital yang senantiasa merespon stimulus kuat sehingga otak seperti meletup-letup.

Hal ini bukan isapan jempol semata namun diungkapkan pertama kali oleh saluran CNN Amerika serikat pada 23 Juni 2011.  Dalam berita itu disebutkan bahwa jika anak terbiasa melakukan banyak hal sekaligus di perangkat digitalnya, struktur otak cenderung tidak bisa beradaptasi dengan dunia nyata.

Salah satu karakteristik perangkat digital adalah mendorong anak melakukan multi tasking, melakukan beberapa hal sekaligus. Perangkat digital melemahkan otak anak dan mengacaukan proses tumbuh-kembangnya. Peralatan itu juga merusak hubungan anak dengan orang tuanya. Sang anak sibuk dengan peralatan, sementara dilain waktu justru orang tua yang sibuk dengan peralatannya.

Meski demikian, bukan berarti kita tidak bisa menjadi orang tua yang bijak. Ada tujuh prinsip digital parenting yang harus diketahui oleh orang tua bijak
1. Yang terpenting bukan "apa" jenisnya, melainkan "kapan" perlu memberikannya.
2. Kualitas lebih penting daripada kuantitas
3. Tentukan sanksi ketika anak melanggar janjinya
4. Jelaskan alasan ditetapkannya peraturan
5. Berbagilah pengalaman tentang perangkat digital dengan anak
6. Libatkan seluruh anggota keluarga
7. Mintalah bantuan psikiater jika orang tua tidak bisa mengatasinya

Pendekatan digital parenting berbeda-beda sesuai usia anak. Dengan kata lain, diperlukan pendidikan yang optimal karena anak-anak memiliki karakteristik dan perkembangan yang berbeda berdasarkan usia mereka. Oleh karena iru, orang tua harus menghargai, mempertimbangkan, serta mengaturnya sebagai kebutuhan mendasar anak.

Masih banyak lagi yang diulas seputar efek perangkat digital terhadap anak. Bahkan penjelasan ilmiah dengan uraian yang lugas dan mudah dipahami juga ada. Para prinsipnya penulis ingin memberikan pemahaman mengenai penggunaan perangkat digital yang tidak sesuai.

Kita bahkan bisa menguji apakah anak kita sudah memiliki ketergantungan pada ponsel cerdas. Tersedia semacam test singkat dalam buku ini. Sepertinya kondisi itu juga cocok untuk orang dewasa. Bukti nyata, banyak orang yang rela kembali pulang karena ponselnya ketinggalan, panik karena ponselnya rusak. Bayangkan kehidupan dulu, tanpa ponsel pun semua bisa berjalan dengan baik.

Di bagian belakang buku, kita akan menemukan aneka pertanyaan dan jawaban seputar penggunaan perangkat digital. Pertanyaan yang ada dikelompokkan berdasarkan kata kunci. Ada kata kunci ayah, ibu dan sebagainya.

Untuk hal-hal yang dirasakan perlu untuk dipelajari atau perlu mendapat perhatian khusus, maka penerbit memberikan ilustrasi khusus pengenai hal tersebut. Sehingga pembaca langsung bisa melihat dan mengingatnya. Biasanya ilustrasi tersebut diletakkan di pojok kanan bawah atau kiri bawah halaman.

Ada paragraf yang paling saya suka,
"Apapun alasannya jangan sampai anak balita mengenal perangkat digital. Karena jika ia mengenal sejak dini maka perkembangan otaknya akan menjadi tidak proporsional. Sebaiknya anak tersebut diarahkan melakukan berbagai aktivitas yang mampu membuat fungsi pancaindranya berkembang melalui pengalaman langsung."
Mungkin sesudah membaca buku ini para, para ibu tidak dengan bangganya membicarakan kecanggihan sang anak memainkan perangkat digitalnya, tidak memaksa anak batita duduk di jok mobil sambil  menonton film kartun yang mungkin belum dimengertinya sementara sang ibu bergegas menuju lokasi arisan. Para ayah tidak dengan bangganya memamerkan perangkat digital yang diberikan untuk anak sebagai hadiah prestasi. Para nenek-kakek tidak memaksa cucu menemani mereka menonton televisi dengan alasan kumpul keluarga.

Semoga orang tua kian dewasa 
Semoga kian bijaksana
Semoga.....
Semoga....
Semoga....
----------------------------

Dear Jagoan Neon

Maafkan Mamski, atas alasan keamanan terpaksa memberikan hp sederhana saat kelas 1 SD sehingga kamu diangap anak eksklusif di sekolah. 

Maafkan Mamski, membelikan hp canggih sesuai permintaanmu sebagai hadiah untuk mengikuti acara LDKS di SMP sehingga merasa sesuatu harus ada imbalannya.

Maafkan Mamski, karena memberikan pad sebagai sarana usaha online. Begitu tekunnya dirimu berusaha hingga kadang tak perduli sekitar.

Maafkan Mamski, karena menyediakan aneka sarana pembelajaran digital canggih guna belajar  hingga membuatmu malas berdiri untuk mencari reverensi di alam bebas.

Andaikan semuanya tidak pernah diberikan, mungkin kamu akan asyik mencari katak di empang, belajar tentang kesuburan tanah dengan mencampurkan antara kompos dan tanah, tidak takut kena hujan dan panas. Kamu juga masih punya waktu untuk menghadiri arisan keluarga.

Semoga kewajiban makan siang  bersama1 x setiap bulan masih bisa diajikan ajang curhat yang menyenangkan. Bahkan kehadiran teman-temanmu yang kadang lebih bersemangat untuk membuat acara makan siang membuat semuanya jadi lebih berwarna.

Hug






Harga: Rp272
272
272

Minggu, 26 Oktober 2014

Review 2014#58 : Anna Pencinta Bumi

Judul asli: Dunia Anna
Penulis: Jostein Gaarder 
Penerjemah: Irwan Syahrir
Penyunting: Esti A. Budihabsari
Proofreader: Ine Ufiyatiputri
Desainer Sampul: Andreas Kusumahadi 
ISBN: 978-979-433-842-1
Halaman: 245
Penerbit: Mizan
Harga: Rp 45.000



Saya khawatir akan perubahan iklim yang diakibatkan oleh ulah manusia.Saya takut kalau kita yang hidup ini mempertaruhkan iklim dan lingkungan bumi ini tanpa memerdulikan generasi selanjutnya. 
(Dunia Anna hal 21)   

Pernah ke Kebun Binatang? Atau malah memiliki binatang peliharaan di rumah? Bersyukurlah jika demikian. Terbayangkan menyedihkannya jika suatu saat ketika kita mengunjungi kebun Binatang, yang kita temui bukanlah binatang seperti yang sekarang kita lihat. 

Di The International Zoological Park semua binatang yang ada adalah hologram versi paling mutakhir, dengan demikian  tidak ada darah dan daging. Yang ada hanyalah virtual. Memelihara binatang juga menjadi hal yang nyaris tak mungkin mengingat jumlahnya kian menipis. Bahkan tokoh kita Nova sudah menggunakan aplikasi  Lost Species yang menampilkan kabar terkini mengenai punahnya spesies flora dan fauna. 

Menyeramkan? Mungkin tapi begitulah situasi yang bisa saja terjadi kelak, Bayangkan bagaimana perasaan kita jika Lost Species berdering memberitahu tentang punahnya suatu fauna, lalu tak lama kembali memberitahu kepunahan fauna di bagian bumi yang lain. Bukan khabar yang saya ingin dengar.

Sebagai pemerhati lingkungan hidup, sekali lagi  Jostein Gaarder dengan caranya yang unik mengajak kita ikut berpartisipasi dalam melindungi dan merawat Bumi agar kelak tetap layak dihuni dan bermanfaat bagi keturunan kita. Bahkan orang utan berambut merah dari Kalimantan dan Sumatra juga mendapat perhatian khusus dalam buku ini

Buku ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan bernama Nova yang menemukan surat yang ditulis oleh nenek moyangnya, Anna pada 11.12.12, sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-16. Saat itu adalah 11.12.82, nyaris 70 tahun yang lalu. Kebetulan sekali Nova juga akan merayakan ulang tahun ke-16 pada 12.12.82.  

Surat tersebut menjawab berbagai keresahan yang dialaminya tekait dengan kondisi Bumi saat itu. Laut Arkatik terlihat biru berkilauan terkena sinar matahari, tak ada sedikit pun es di kutub. Sementara di kawasan Samudra Pasifik dan Samudra Hindia sebagian besar pulau karangnya telah tenggelam, seluruh negara di atasnya telah hanyut. Kawasan hutan Amazon menjadi padang rumput terbesar di dunia. 

Ternyata nenek buyut Nova juga sudah menunjukkan rasa khawatirnya akan kondisi Bumi. Berdua mereka ingin mengubah keadaan menjadi lebih baik. Anna ingin membuat Bumi menjadi tempat tinggal yang layak bagi keturunannya, sementara Nova ingin terus menjaga apa yang diwariskan oleh sang nenek buyut dan terus mengibarkan semangat mencintai Bumi. Salah satu caranya adalah memberikan kesempatan kedua bagi umat manusia agar lebih bisa menghargai Bumi. Melalui cincin rubi merah warisan keluarga, diharapkan apa yang mereka impikan menjadi kenyataan. Apalagi konon cincin tersebut bukanlah cincin biasa.

Membaca buku ini membuat saya was-was. Bayangkan bagaimana jika suatu saat kelak keturunan saya bertanya seperti apakah bentuk hewan yang bernama Jerapah, bagaimana rasanya memelihara Hamster. Atau bagaimana caranya mencampur tanah, kompos dan pupuk untuk memanam tanaman dalam pot. Jostein Gaarder membuat saya merasa akan mendapat pertanyaan seperti itu kelak.   

Selain urusan kelestarian lingkungan yang pasti membuat siapa pun yang membaca bakalan merinding  melalui kisah  keresahan Anna dan Nova, tapi kita juga akan mendapat banyak pengetahuan yang diberikan dengan uraian kata yang mudah dipahami. Pelajaran filsafat semesta diberikan dengan lugas. Contohnya mengenai prinsip resiprositas. 

Prinsip resiprositas memerlakukan orang lain sebagaimana engkau ingin diperlakukan. Namun aturan ini tidak hanya menyangkut dimensi horizontal, yaitu kita dan orang lain. Tapi juga dimensi vertikal: Perlakukan generasi selanjutnya sebagaimana engkau telah diperlakukan oleh generasi sebelumnya. 

Penulis juga menggambarkan tentang aneka kemajuan teknologi dalam buku ini. Hal ini menunjukkan bahwa bukan kemajuan teknologi yang harus dimusuhi namun bagaimana kita menggunakan dan memanfaatkan teknologi tersebut. Hal-hal yang dirasa penting dicetak dengan huruf yang berbeda sehingga pembaca bisa menangkap pesan yang ingin disampaikan oleh penulis dengan cepat.

Seperti halnya sebuah kisah, urusan percintaan juga ada dalam buku ini. Porsinya ada hanya sebagai pelengkap saja. Meski begitu percintaan tokoh digambarkan santun. Pada halaman 46 misalnya, "Saat Jones terakhir menginap di situ, mereka terbangun di tengah malam oleh raungan sirene dari sejumlah mobil darurat...."

Bukan! Bukan seperti itu yang terjadi. Penulis sangat santun soal percintaan apalagi mengingat usia keduanya baru menginjak ABG. Simak kalimat selanjutnya sebagai bukti, "Anna dan Jonas tidak perlu saling membangunkan. Mereka malah hampir bertubrukan di lorong sebelum sama-sama turun tangga dan melongok ke luar."  

Tapi hal tersebut justru agak aneh jika dibandingkan dengan kisah yang ada dibagian belakang. Disebutkan bahwa Nova bersahabat dengan salah satu anak dari bangsa Arab yang pernah ditolong keluarganya, bahkan mereka cenderung sudah menjadi sepasang kekasih. Namun jika membaca kalimat berikut  di halaman 196, alis saya terangkat.

"Dia menggandeng tangan anak lelaki Arab yang sekarang sudah menjadi pria dewasa saat berjalan menyusuri kota. Mereka kini telah menjadi semacam kekasih atau mungkin sedang berpura-pura saja demikian."  Urusan pemanasan global memang membuat khawatir dan bisa membuat kehidupan menjadi tidak tenang jika mengingat dampak kerusakannya. Tapi bukan berarti norma-norma yang berlaku bisa bergeser begitu saja. Dari info yang saya peroleh dari para sahabat, kehidupan bangsa Arab sangat santun. Mereka tidak akan begitu mudah menggandeng atau digandeng oleh lawan jenis. Hal ini berlaku dimana pun mereka tinggal. Mungkin penulis memiliki pandangan berbeda.   

Pemanasan gobal atau gobal worming adalah suatu proses meningkatnya suhu rata-rata atmosfer, daratan   laut Bumi. Selama 100 tahun terakhir suhu rata-rata global pada permukaan Bumi telah meningkat.   Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC) menyimpulkan bahwa sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan  abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia melalui efek rumah kaca. 
Jostein Gaarder adalah penulis novel filsafat Sophie’s World,  Dunia Sophie yang diterbitkan oleh  Mizan pada tahun 1996. Buku tersebut  merupakan buku fiksi terlaris di dunia pada 1995. Sophie’s World telah diterjemahkan dalam 50 bahasa dunia.Pada tahun 1997, dia mendirikan Sophie Prize bersama istrinya, Siri Danneviq. Penghargaan internasional ini diberikan kepada perjuangan untuk pembangunan masyarakat dan pelestarian lingkungan, sebesar US$ 100,000, yang diberikan setiap tahun. Penghargaan ini dinamai sesuai dengan novelnya Dunia Sophie.

Menilik kover yang senada dengan buku fenomenal Dunia Sophie, mungkin penerbit mengharapkan buku ini akan menyusul kesuksesan "kakak-nya" Pembaca yang sudah mengenal Dunia Sophie  akan langsung tertarik jika melihat buku ini diantara buku yang lain di toko buku. Apakah penerbit juga akan mengundang penulis bertandang kembali ke tanah air? Semoga.

Ada kalimat yang layak dijadikan renungan pada halaman 77. Mulai sekarang sebaiknya kita mulai melakukan hal kecil tapi bermanfaat guna menjaga agar Bumi tetap layak untuk diwariskan.
" Minyak bumi telah menjadi bencana buat negaraku. Kami menjadi kaya dengan cepat, tapi sekarang kami malah menjadi miskin. Bagaimana bisa tetap kaya kalau kami tidak punya negara yang dapat ditinggali."

Sumber gambar:
http://sainskyu.blogspot.com/p/blog-page_9319.html



Senin, 20 Oktober 2014

Review 2014#57: Dag, Dig, Dugderan, Jegger.......!

 
Judul asli: Dag, Dig, Dugderan
Penulis: Leyla Hana
Editor: Dewi Kartika Teguh Wati
Desain sampul: Gita Juwita
Tata letak isi: Rahayu Lestari
ISBN: 9786020308067 
EAN: 9786020308067
Halaman: 196
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Harga: Rp 43.000



Acong
Joko
Sitorus

Eh maksudnya Sri,  Eileen dan Farah.  Tiga  dara manis yang akan mengikuti lomba Olimpiade Sain Nasional, OSN di Jakarta. Entah kenapa pikiran saya langsung melayang pada tiga nama tokoh pada iklan layanan masyarakat beberapa tahun lampau saat membaca nama-nama tokoh utama dalam kisah ini.

Menilik namanya, sangat jelas bahwa Acong adalah anak seorang keturunan Tionghoa, Joko anak seorang bangsawan Jawa, sementara Sitorus adalah  anak dari suku Batak. Ketiga ibu mereka berteman dan menularkan pertemanan pada ketiga anak mereka. Saat besar, Joko digambarkan menjadi seorang dokter, Acong memiliki usaha alat-alat olah raga, sementara Sitorus jika tidak salah menjadi seorang  pebinis. Iklan layanan tersebut pada dasarnya ingin mengusung tema bersatuan.

Buku ini juga mengusung tema persatuan. Sosok Sri, Eileen dan Farah merupakan contoh dari toleransi dan persatuan yang terjadi di masyarakat kita. Ketiganya memiliki latar belakang kehidupan yang berbeda. Sri merupakan anak seorang TKI dari Jawa yang sangat menyukai pelajaran biologi, Farah merupakan gadis keturunan Arab bertubuh  tinggi ke samping yang jago matematika. Sementara Eileen adalah gadis Tionghoa jago fisika  yang dianggap tidak memiliki kelebihan seperti anak laki oleh keluarga besarnya. Berbedaan mereka disatukan dalam upaya mewakili sekolah mengikuti  OSN di Jakarta.

Isi buku ini kurang lebih mengisahkan bagaimana mereka bertiga berusaha memenangkan lomba demi naik baik sekolah, disamping harus menghadapi berbagai masalah keluarga yang muncul. Setiap individu dikisahkan mengalami berbagai masalah dan hambatan sehingga membuat persiapan mereka mengikuti OSN tidak maksimal. Malah ada yang terancam tidak bisa berangkat.

Sosok ketiga dara tersebut dikisahkan dalam satu bab secara bersama. Tiga Impian misalnya. Bab ini merupakan bab yang mengenalkan kita pada sosok ketiga tokoh utama dalam kisah ini. Siapakah Sri, Farah dan Eileen diutarakan dalam bab ini. Sayangnya kisah perkenalan Sri memiliki porsi tak sebanyak dua sahabatnya menurut saya. 

Tidak adanya daftar isi membuat saya menerka-nerka apakah bab selanjutnya. lalu apakah bab tersebut berhubungan dengan bab sebelumnya atau mengacu pada suatu peristiawa di bab yang lain.

Satu hal yang membuat saya menyukai buku ini adalah penulis membuat kisah ini dengan memperhatikan unsur manusiawi dengan mendalam. Jagoan tidak harus selalu menang. Kisah tidak harus selalu berakhir bahagia. Tidak semua masalah bisa selesai dengan aneka perkataan menghibur, tidak semua jalan keluar ditemukan  semudah membalikan telapak tangan. Banyak pihak yang terlibat banyak proses yang harus mereka lalui. Namun proses tersebut membuat mereka bertiga menjadi sosok yang lebih kuat.

Kepribadian para tokoh yang ada disajikan secara konsisten dari awal hingga akhir kisah. Penulis cukup berhasil membuat setiap tokoh memiliki kepribadian yang mandiri dan berbeda satu dengan lainnya. Penulis  konsisten membangun kepribadian ketiga sosok tanpa terpengaruh satu dengan yang lainnya. Membuat satu tokoh konsisten sudah cukup berat, apa lagi ini tiga tokoh. Sebuah upaya yang patut dihargai.

Penulis juga mencoba memandang beberapa hal yang umum dibicarakan, atau kejadian yang ada disekitar  dari dua sisi.  Ia bersikap netral dengan tidak menyebutkan hal itu salah, tapi tidak juga mendukung. Semuanya diserahkan pada tanggapan tiap individu. Misalnya soal OCD, Obsessive Corbuzier's Diet. Penulis hanya menguraikan tentang OCD serta menyebutkan bahwa OCD mungkin cocok untuk beberapa orang tapi bisa juga tidak cocok bahkan cenderung membahayakan bagi yang lain. Pembaca dipersilahkan untuk menilai sendiri bagaimana OCD itu sebenarnya.

Ada beberapa hal yang masih perlu dikupas lebih panjang, misalnya tentang penyelesaikan beberapa masalah. Memang tidak selalu berujung dengan kebaikan atau keberhasilan tapi tidak harus dibuat menggantung atau dibiarkan begitu saja. Contoh kasus yang dialami oleh keluarga Eileen. Bagaimanakah penyelesaiannya? Apakah para penduduk yang marah cukup bisa diredam dengan tutur kata Eileen yang masih remaja saja. Memang disebutkan mengenai sebuah rencana terkait rumah tapi bagaimana kelanjutannya?

Benang merah ketiga tokoh utama dalam kisah ini adalah OSN, lalu bagaimana proses ketiga mengikuti ujian kurang diuraikan. Bagaimana situasi Sri saat menjawab soal, atau kesulitan apa yang ditemui oleh Farah perlu diuraikan lebih mendalam oleh penulis.

Banyak terdapat ungkapan dalam buku ini. Baik  mempergunakan bahasa Jawa, Tionghoa atau Arab.  Tapi tidak perlu khawatir, sudah tersedia terjemahannya sebagai catatan kaki. Kata kemayu pada halaman 101 sebagai contoh, diartikan sebagai bersikap seperti wanita. Kata Menahnik pada halaman 51 berarti memasukkan kurma yang dilumatkan ke dalam mulut bayi. Apa merupakan sebutan bagi bapak dalam bahasa Tionghoa  menurut catatan kaki di halaman 5

Terdapat  pula aneka istilah-istilah umum. Istilah GTM pada halaman 52 sebagai contoh. Pada catatan kaki sudah diberikan keterangan bahwa GMT adalah kependekan dari Gerakan Tutup Mulut. Suatu kebiasaan yang dilakukan oleh bayi dan balita saat sedang tidak mau makan. Mading merupakan kependekan majalah dinding di halaman 58. 

Memang beberapa istilah sudah sering didengar, namun penulis sepertinya tetap memasukan demi menyamakan persepsi dengan pembaca agar mereka lebih bisa menikmati kisah yang disajikan. Terdapat juga  Beberapa typo dikarenakan settingan juga ditemui dalam buku ini. Anggaplah sebagai pewarna.

Selain mengusung semangat perjuangan, buku ini juga menyisipkan banyak pesan moral. Saudara sepupu Sri yang bandel sebagai contoh. Akibat sang ayah sering menerima suap maka kehidupan keluarganya menjadi kurang baik. Anak-anaknya memiliki aneka gadget canggih yang bisa diganti dengan mudah sehingga mereka tidak tahu bagaimana rasanya berusaha dan menghargai apa yang mereka miliki. Sang anak juga bersikap semaunya dengan anggapan sang ayah yang selalu memiliki uang berlebih akan mampu menyelesaikan semua masalah yang ditimbulkannya.  Perhatian pada keluarga juga sangat berkurang karena sibuk mencari tambahan bagi keluarga.

Aneka pengetahuan tentang kebudayaan serta kehidupan masyarakat di kota Semarang juga bisa kita temui dalam buku ini. Judul kisah ini juga mengusung kebudayaan setempat. Suatu hal yang bisa dikatakan jarang ditemui pada novel remaja.

Dudgeran merupakan sebuah festival yang diselenggarakan guna menyambut Ramadhan. Kata Dugeran mengacu pada suara mercon. Mesjid Agung Jawa Tengah menyambut peserta pawai yang berangkat dari dua mesjid, yaitu Mesjid Kauman serta Baiturrahman. Kirab diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, sekolah, ormas, organisasi masyarakat dan lain-lain. Dalam kirab tersebut juga akan ditemui  Warak Ngendong.

Kata Warak sendiri berasal dari bahasa arab “Wara’I” yang berarti suci. Dan Ngendog (bertelur) disimbolkan sebagai hasil pahala yang didapat seseorang setelah sebelumnya menjalani proses suci. Secara harfiah, Warak Ngendog bisa diartikan sebagai siapa saja yang menjaga kesucian di Bulan Ramadhan, kelak di akhir bulan akan mendapatkan pahala di Hari lebaran (http://id.wikipedia.org/wiki/Warak_ngendok)


Secara singkat kata, buku ini perlu dibaca dan dikoleksi. Karena tidak saja menyajikan kisah padat pesan moral tapi juga memberikan hiburan serta tambahan pengetahuan terutama seputar kota Semarang tanpa berkesan menggurui.


Sumber gambar:
http://id.wikipedia.org/wiki/Warak_ngendok

Sabtu, 18 Oktober 2014

Review 2014#56: Tips Sukses Membangun Toko Online


Penulis: Carolina Ratri
Editor: Herlina P Dewi
Proof reader: Weka swasti
Desain kover: Teguh Santosa
Layout isi: Deeje
ISBN: 978-602-7572-26-39-4
Halaman: 211
Penerbit: Stiletto Book
Harga: Rp 44.000 
 

Suatu pagi di stasiun kereta, tanpa sengaja saya bertemu dengan sahabat lama. Obrolan singkat menyebutkan bahwa ia sebenarnya sangat ingin berhenti kerja untuk mengurus rumah tangga. Lalu kenapa  tidak tanya saya. "Kalau aku berhenti kerja, ngapain di rumah? Mana masih butuh biaya lumayan" Sahabat  saya balik bertanya. 

"Bikin toko online, jadi editor lepas gitulah." Jawab saya seenaknya. "Toko on line sudah bejibun. Ketik saja kata toko online, mbah google pasti menampilkan hasil pencarian dengan cepat." Jawabnya sambil tersenyum dan bergegas berdiri karena kereta yang ditunggu sudah datang.

Kalimat Toko online sudah bejibun membuat saya berpikir.Benar juga, tengok di dunia maya, belakangan makin menjamur toko online. Silahkan dipilih, beragam toko online tersedia.Ada yang khusus berjualan buku, pakaian dan asesorisnya.Ada juga yang khusus pada satu jenis produk saja.Semuanya menawarkan hal indah, kemudahan pembayaran, harga termurah, bahkan hingga pembelian kembali jika terjadi pembatalan pesanan.


Persaingan usaha pasti ada, tapi apa yang harus dilakukan oleh pemilik toko on line agar tokonya yang dipilih. Lalu bagaimana membuat seorang pembeli menjadi loyal?Bukan hal yang mudah. Bahkan mungkin ada yang sama sekali tidak paham bagaimana konsep toko online itu sebenarnya. Bagaimana membuatnya, apa yang harus dipersiapkan, bagaimana mengatur persediaan  dan sebagainya. Jangan-jangan beberapa kali berhasil berjualan melalui media sosial langsung dianggap sebagai sudah memiliki toko online.
 
Buku ini memberikan pencerahan mengenai apa itu toko online, apa perbedaan  dengan toko yang lain, bagaimana cara membuat toko online, desain toko online, mengatur persediaan, pengiriman, masih banyak lagi yang ditawarkan dalam buku.

Apa perbedaan toko online dengan toko offline alias toko yang sering kita jumpai di sekitar kita, apa keuntungan memiliki toko secara online, bagaimana cara memasarkannya merupakan hal yang bisa kita temui dalam pendahulan di buku ini.

Secara singkat toko online tidak membutuhkan biaya sebesar toko offline, area pemasaran lebih luas, biaya operasional lebih terjangkau, serta tidak membutuhkan waktu mengelola sebanyak toko offline. Kita tidak perlu menyewa sebuah ruangan, tidak perlu membayar gaji pegawai jika belum perlu, jam operasonal bisa kapan saja tergantung keinginan kita, serta tidak terbatas ruang dan waktu saat mempromosikan keberadaan toko kita.

Selanjutnya ada delapan bab yang akan mengupas tuntas berbagai hal seputar toko online. Dimulai dai persiapan toko, cara membuat situs, manajemen toko, mempercantik toko, mempromosikan, menganalisa pengunjung, mendapatkan pelanggan hingga kita juga bisa menemui beberapa referensi toko. Terakhir pada bagian penutup kita akan memperoleh  beberapa pengetahuan tambahan. Antara lain tentang manajemen keuangan toko online, manajemen waktu dan lainnya.

Sudah menjadi kodrat perempuan sebagai manajer pembelian. Nyaris seluruh kebutuhan keluarga, disamping kebutuhan  diri sendiri tentunya, pembelian atau pengadaan kebutuhan dilakukan oleh kaum perempuan. Entah itu ibu, istri, anak perempuan bahkan  mereka yang bekerja membantu kita di rumah.

Maka tak heran jika kebanyakan pembeli dari toko online  adalah perempuan.Para pemilik toko juga kebanyakan perempuan.Mereka yang merasa ingin mendapatkan pelayanan atau menemukan toko dengan spesifikasi tertentu berinisatif membuat toko online. Biasanya toko yang begini yang laris manis.

Lalu bagaimana cara membuat  situs? Bagi mereka yang kurang piawai dalam urusan begini jangan kuatir. Dalam buku ini ada  bimbingan bagaimana membuat situs. Langkah-langkah yang harus dikerjakan diajarkan dengan bahasa yang mudah dipahami.Beberapa istilah juga sudah diberikan catatan kaki mengenai arti atau maknanya.

Perihal promosi mendapat porsi yang lumayan dalam buku ini.Setelah toko tersedia, selanjutnya keberadaannya harus sudah dikenal khalayak luas.Promosi bisa dilakukan dengan banyak cara.Secara personal dengan mengirimkan e-mail ke group yang kita ikuti sebagai langkah awal, atau memanfaatkan jejaring sosial seperti BBM, twitter, FB, Instagram dan sejenisnya. Kadang beberapa sahabat mempergunakan foto salah satu produknya sebagai profile di BBM lalu membuat status berisi promosi seputar barang itu serta link toko online.


Perlu diingat, dengan bejibun toko online, maka toko kita harus memiliki sesuatu yang berbeda sehingga orang akan selalu mengingat. Salah seorang ahli pemasaran  Seth Godin menyebutkan bahwa sapi ungu akan lebih menjol dan selalu diingat dibandingkan sapi yang lain. Maka agar toko online kita lebih dikenal dan diingat orang perlu ada sesuatu yang berbeda.Berbeda bisa dalam banyak hal.Misalnya pelayanan berbeda, tampilan web, cara pembayaran bahkan produk yang berbeda.Beberapa contoh toko online juga ada dalam buku ini.

Selanjutnya promosikan kategori bukan merek.Coba perhatikan dua kalimat berikut. Pertama, “Tenang adalah obat sakit perut.” Kedua, “Obat sakit perut adalah Tenang.” Kalimat  pertama menyebutkan sebuah merek merupakan bagian dari kategori. Sementara kalimat kedua mengandung makna bahwa merek itu identik dengan sebuah kategori. Sehingga saat orang mencari obat sakit perut ia akan mencari obat merek Tenang.

Sekarang toko sudah berjalan, pembeli sudah ada, promosi sudah sering dilakukan.Apakah sudah selesai pelajaran kita? Belum. Satu point penting adalah bagaimana membuat pembeli menjadi pelanggan.Membuat seseorang membeli produk kita bukan hal sukar.Tapi membuat seorang pembeli menjadi pelanggan setia adalah hal yang sukar. 

Pendekatan personal sangat dianjurkan dalam penjerat pelanggan.Dengan kemajuan teknologi, cara ini menjadi mudah.Sebagai contoh, salah satu toko buku online   melalui e-mail memberikan ucapan selamat ulang tahun dan potongan pembelian pada anggota komunitas dimana saya bergabung menjadi anggota.Data anggota komunikas merupakan aset sehingga untuk mendapatkannya butuh kesepakatan kedua belah pihak.Sebagian besar mereka yang menerima ucapan merasa dihargai dan segera memanafaatkan potongan harga yang diberikan dengan memenuhi ketentuan yang berlaku. Mereka yang semula menjadi pembeli pun tidak diharapkan akan menjadi pelanggan.

Secara garis besar buku ini memberikan berbagai petunjuk praktis mengenai cara membuat dan mengelola sebuah toko online.Bagai mereka yang memiliki keinginan namun tidak tahu bagaimana caranya, harus memulai dari mana maka bumi ini bisa memberikan jawaban yang dicari.Petunjuk yang diberikan juga disertai gambar sehingga memudahkan mengikuti langkah yang diberikan.

Mungkin karena penerbitan buku ini dikhususkan bagi perempuan, maka banyak yang isinya menyoroti dari sisi perempuan saja.Padahal sebaiknya pengetahuan seperti ini dipandang dari sudut yang netral meski penerbitnya memiliki kebijakan begitu.

Perkembangan zaman sepertinya juga mendukung berjamurnya toko onlinedi tanah air.Salah seorang artis senior kita sempat membuat toko online untuk kebutuhan rumah tangga. Beberapa kali media massa ramai meliput sang artis terjun sendiri mengntar barang pesanan. Namun nasib toko tersebut tidak berjalan lama karena saat itu masyarakat lebih menyukai membeli kebutuhan di toko offline.Sekarang, sepertinya membeli dengan cara online menjadi pilihan utama.