Kamis, 25 April 2013

Posting Bersama HUT BBI: Saya dan Putri

Saat mengikuti acara untuk HUT BBI dan menemukan tugas saya harus mengenal lebih dekat sosok Putri saya sempat bingung. Selain belum pernah bertemu, jalur komunikasi dan kesibukan kantor membuat saya bingung harus bercerita apa.

Pertolongan pertama mengintip pertanyaan yang dikirim oleh Oky untuk saya, ok ada ilham nih. Sebagai pelengkap saya intip rak buku Putri di Goodreads. Hemmmm ada beberapa buku yang sama-sama kita ulas. Mendadak saya menemukan sebuah kesamaan yang unik, perihal salah satu pengarang yang mempengaruhi kebiasaan membaca saat kecil. *joget-joget ceria*

Eyang Enid Blyton sungguh luar biasa!
Bagaimana tidak, nyaris seluruh sahabat-sahabat saya di dunia maya, sesama anggota Blogger Buku Indonesia memulai kecintaan terhadap buku melalui karyanya. Saya menghabiskan masa kecil dengan berhayal berkemah ala Lima Sekawan dan menghadiri rapat rahasia ala Sapta Siaga. Hadiah  ulang tahun terhebat saya adalah tenda! Saya dan sepupu sering mendirikan kemah kagetan di pojok kebun. Impian (yang nyaris) jadi kenyataan.

Putri Utama juga begitu
Sejak SD ia sudah terpesona dengan kisah-kisah Enid Blyton yang bisa dipinjam di perpustakaan sekolah.  Konon di sana buku pelajaran malah lebih sedikit dibanding buku cerita dan ensiklopedia. Saya jadi penasaran bagaimana yah situasi disana. Jika saat SD sekolah saya punya perpustakaan seperti itu mungkin saya murid yang paling rajin berkunjung.

Jika saya sangat terpesona dengan kisah yang memacu adrenalin seperti Lima Sekawan dan Sapta Siaga, maka Putri lebih menyukai kisah ala sekolah, Mallory Towers. Kover buku dengan nuansa biru jelas hal pertama yang membuat saya memutuskan mengoleksi  seri ini. Sosok Darrell Rivers yang meledak-ledak sungguh merupakan saya dikala itu. Walau saya sangat ingin bisa menjadi seperti Alicia Johns yang pandai atau Sally Hope yang belakangan kian dewasa.  Sementara Putri lebih tertarik karena kisahnya bercerita tentang kehidupan di asrama. Cerita itu sungguh berkesan baginya, "Setiap teringat dengan sekolah berasrama khusus perempuan aku langsung teringat Mallory Towers."

Sesama penggila buku, ternyata tips menjaga buku tidak beda jauh. Sampul dan silica gel  merupakan andalan utama. Lucunya belakangan ini kami berdua sama-sama stop menyampul buku. Sejak kerja di Perpustakaan UI saya makin semangat menyampul, awalnya ^_^ Terutama karena bisa nitip-beli sampul plastik import yang ngak bakalan nempel jika ada dua buku berhimpit, harganya jauh lebih murah dari pada saya beli di toko buku. Hanya belakangan waktu juga yang membuat saya tak sempat menyampul. Putri mengakali ujung buku dengan selotip agar lebih keras hingga buku lebih terjaga. Sementara saya sangat musuhan dengan selotip. Saya pergunakan double tape dan hanya pada sisi ujung dimana plastik bertemu plastik. Hingga saat akan diganti tinggal copot.

Sejak tergabung dalam Ordo Buntelan, para pengejar buku gratisan alias buntelan pertimbangan pembelian buku saya lebih selektif lagi. Misalnya adakah kuis berhadiah buku ini, siapa penulisnya atau editornya apakah aku kenal hingga bisa "nodong" gratis. Tentunya setelah melihat kisahnya, rekomen yang sudah  membaca serta kover. Lucunya point tersebut juga yang menjadi pertimbangan Putri saat membeli buku.

Pertimbanganku:

- harga buku -> kalau kelewat mahal ogah juga. Lebih baik nunggu diskon.
- serial buku -> buku yang serial sebelumnya udah punya, biasanya dibeli lanjutannya
- sinopsis dan nama besar penulis -> tapi ini gak selalu karena aku bukan tipe pembaca yang terlalu fanatik pada satu penulis. Kalau menurutku buku barunya kurang bagus, ya gak dibeli juga
- cover dan judul buku -> aku tipe pembaca yang bisa nggak sreg membeli satu buku hanya karena cover atau judulnya. Bisa tiba-tiba nggak mood untuk ngebeli buku

Sungguh menarik!
Ternyata walau ecara fisik kami tidak pernah bertemu eh belum pernah ternyata kecintaan kami terhadap buku membuat banyak persamaan. Terima kasih sangat kepada Blogger Buku yang membuat kita punya SAUDARA diseluruh pelusuk tanah air *hug*

Kejutan masih berlanjut.
Saat kecil, aku sangat ingin bisa menjadi George, tokoh di Lima Sekawan. Cewek tomboi tapi berhati besar. Atau Paman Gober tapi tidak kikir bahkan iri dengan keberuntungan si Untung. Sementara Putri juga angan-anngan. Terpikat oleh peralatan kerja yang keren, Putri ingin  menggantikan posisi Moris, ahli forensik di serial In Death-nya J.D. Robb. Wah kalau  aku sempat kagum dengan kepandaian salah satu pembunuh bayaran wanita. Jangan-jangan kita bisa "perang" di buku ini aku jadi pembunuh bayaran lalu Putri yang melakukan investigasi, halah...!


Kadang aku merasa aku orang yang sableng. Meninggalkan kenyamanan kerja di FK dengan tunjangan yang lumayan hanya agar bisa kerja di perpustakaan dengan gaji yang standar sekali. Meninggalkan semua fasilitas hanya agar bisa mencium bau apek buku-buku tua tanpa perduli sakit asma bisa kumat, menikmati menyentuh debu-debu yang menempel di buku-buku, sensasi menemukan buku yang menawan di rak hingga terenyuh melihat buku yang butuh perbaikan. Perjalananku menuju kantor membuatku bisa memandang kantor dari sisi seberang. Hingga saat ini aku masih bisa merasakan sensasi bahagia bisa bekerja diantara buku-buku walau aku harus berada di bagian yang dulu sangat aku tidak suka, keuangan. Buatku tak masalah, sangat seimbang yang aku dapat dengan pengorbanan yang aku lakukan, lebih malah.

Putri juga sama tulalitnya^_^
Biar bagaimana urusan buku dan membaca ternyata mempengaruhi kehidupan kita tanpa disadari. Simak saja kutipan berikut, " Waktu masih pendidikan tingkat akhir dulu aku pernah memilih tempat pendidikan yang diluar kota berdasarkan keberadaan dan kelengkapan rental buku yang ada dikota itu.Karena tingkat akhir, orangtuaku ngelarang aku buat beli dan minjem buku yang tidak berhubungan dengan kuliah karena takut aku lebih milih baca buku cerita daripada textbook. Dan takut pendidikanku jadi berantakan. Satu-satunya cara supaya tetap bisa membaca buku adalah dengan cara seperti kubilang." 

Jika Putri menyebutkan mamanya sebagai orang yang "bertanggung jawab" membuatnya suka membaca plus perpustakaan sekolah saat SD, saya akan menyebut Ibu Nani guru SD kelas 1 ku. Beliau membuatku kian menyukai membaca. Senang rasanya bisa mengetahui bagaimana "bunyi" tulisan di buku yang selama ini hanya bisa kulihat saja.

Buku terakhir yang ada di blog Putri adalah Perfect Chemistry  karangan Simone Elkeles. Jika Putri membaca versi bahasa asli, maka saya membaca versi terjemahan sekitar 1-2 tahun lalu. Buku yang mengajarkan seseorang untuk mau mengejar impian dan cintanya.

Buku memang luar biasa!
Mempertemukan orang-orang yang berjauhan  secara fisik, belum pernah bertemu namun  merasa dekat di hati. 

Saat berjalan menuju tempat fotocopy, petugas toko buku Books & Beyond memanggil menginfokan program khusus. Tiba-tiba mata melirik ke salah satu buku yang tergeletak di sana. Terbesit pikiran apakah sis Putri berani mencoba sesuatu yang berbeda?

Terbit sekitar bulan Februari buku ini menawarkan sesuatu yang berbeda. Tidak sesuai dengan pakem cerita yang sudah melegenda. 

Tak ada salahnya kan mencoba sis Putri
Buktikan dirimu bernyali he he he
Semoga puas dengan cpretan yang dikebut 1 jam ini ^_^
*HUGGGGG*






Kamis, 18 April 2013

Bukan Kisah Cinderella Biasa


Judul: Confessions of an Ugly Stepsister
Penulis: Gregory Maguire
Penerjemah: Khairi Rumantati
Penyunting: Ida Wajdi
Penyelaras: Nadia Luwis
Pewajah  Isi: Aniza Pujiati
ISBN: 978-979-024-500-6
Halaman: 444

Aku tidak terlalu peduli apakah kau bahagia atau tidak. Tapi, kalau kau sedang keluar, aku merasa lebih  aman berada di dapurku. Semakin dibutuhkan, semakin pribadi. Panggil aku Cinderling-Gadis Abu Kecil.

Panggil aku Gadis Abu, Cinderella, aku tidak perduli. Aku merasa aman di dapur.


Kisah Cinderella, Upik Abu sudah melegenda. Nyaris setiap orang saat kecil pernah mendengar, membaca, menonton  kisah itu. Minimal satu kali dalam kehidupannya.  Ceritanya mengenai seorang anak perempuan cantik yang baik hati bernama Cinderella. Ia tinggal bersama ayah,ibu tiri serta dua saudara tirinya.  Setelah ayahnya berpulang, Cinderella dipaksa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sebelum matahari terbit hingga matahari terbenam. Sementara kedua saudara tirinya justru bermalas-malasan.

Dan seterusnya…
Buku ini justru menawarkan hal yang berlawan dengan kisah itu. Saudara tiri Cinderella terasing karena kecantikannya dan ketenarannya.  Mereka saling menyayangi namun dengan cara yang unik. Tak satu pun diantara kedua saudara tiri itu yang menyiksanya dengan pekerjaan rumah tangga atau minta dilayani. Justru Cinderella sendiri yang melakukan seluruh pekerjaan dan menututi dirinya dengan abu dapur.

Berawal dari keinginan mengunjungi kakeknya Pieter ten Brock , Margareth membawa anak-anaknya Ruth dan Iris mengarungi  samudra menuju Belanda dari Inggris. Kabar  kematian sang suami  Jack Fisher  merupakan salah satu alasan ia harus mengunjungi sang kakek.  Celakanya saat mereka tiba dengan letih dan lapar serta kehabisan uang pastinya,mereka baru tahu sang kakek sudah meninggal beberapa tahun lalu dan rumah itu ditinggali oleh bukan apa-apa mereka. Tak ada kewajiban bagi para penghuni rumah itu untuk membantu orang asing yang kelaparan.

Sebagai seorang ibu, Margareth berusaha mencari cara agar ia dan kedua putrinya bisa mendapat tempat berteduh dan makan.  Bukan hal yang mudah. Berbagai cara ditempuhnya hingga berteriak di setiap pintu rumah penduduk. Keberuntungan kecil membawanya ke rumah seorang pelukis berbakat, The Master. Margareth bertugas menjadi semacam pengurus rumah tangga sementara kedua anaknya juga mendapat tugas selain harus membantu ibu mereka.

Setiap hari Iris harus duduk di kursi yang terkena cahaya utara hingga Master bisa mengawati wajahnya dan membuat lukisan.  Iris memang memiliki wajah menarik dengan kecerdasan yang terpancar di sana. Sementara sang kakak, Ruth yang bisa dikatakan bodoh dan agak terbelakang, mendapat tugas memetik bunga dan rumput liar setiap hari.

Seorang pedagang Bunga Tulip Van Den Meer terpesona akan lukisan wajah Iris. Ia meminta Master melukis wajah anaknya, Clara. Secara fisik Clara merupakan anak yang mempersona hanya saja ia cenderung tertutup. Clara sangat percaya ia adalah Changeling. Sang ibu juga membuat keadaan kian parah dengan berusaha menjaganya seakan porselen mudah pecah.

Sang pedagang juga tertarik dengan Iris. Ia ingin menjadikan iris sebagai teman bagi Clara juga mengajarinya Bahasa Inggris. Margareth dan Ruth juga ikut tinggal disana bersama iris sebagai pengurus rumah tangga. Pada bagian ini kisah mulai menarik.

Margareth yang sejak awal kisah digambarkan sebagai sosok yang tegar, ambisus juga licik  walau saya pribadi cenderung menganggapnya pandai menemukan peluang bagi dirinya, menganggap hal ini sebagai peluang untuk memperbaiki kehidupannya serta kedua putrinya. Salah satu buktinya adalah saat ia “melompat” dari seorang kepala rumah tangga menjadi ibu tiri Clara.

Ia akan menjadi ayah tiri kalian
Karena aku dibutuhkan untuk menjadi ibu tiri Clara

Tak ada yang mengetahui bagaimana caranya ia bisa membuat Van Den Meer mau menikahinya. Atau apakah ia juga berperan dalam kematiang istri Van Den Meer mengingat ucapannya, “  Tuhan merampas satu nyawa baik untuk  menyelamatkan nyawa kita yang menyedihkan.”

Kisah ala Cinderella dimulai dari sini.
Margareth sangat terlihat ingin mengubah  Clara menjadi sosok yang berbeda. Ia memaksa Clara melakukan pekerjaan rumah tangga dengan cara yang berbeda. Misalnya sengaja membiarkan Clara bosan di rumah dan merasuki dirinya bahwa kebosanan akan hilang jika ia melakukan pekerjaan rumah tangga. Tak ada kekerasan ala kisah-kisah klasik yang  ada justru penindasan dengan gaya elegan, perang syaraf.

Sebagai ibu, Margareth akan melakukan apa saja untuk putri-putrinya bahkan dengan segala cara termasuk memaksa Iris agar mau datang ke pesta dansa seorang pangeran sementara Clara yang justru menawan dan paling cantik harus puas dengan rencana dinikahkan dengan seorang tukang jahit! Margareth akan melakukan apa saja agar tidak tinggal di penampungan setelah kebangkrutan suami barunya. Jika perlu ia akan melepas Clara pada penawaran tertinggi, asal tidak melebihi Iris tentunya.

Clara sendiri  justru menemukan rasa nyaman dengan melakukan aneka pekerjaan rumah tangga. Ia bukan lagi gadis dengan kecantikan mempesona, semuanya tersembunyi di balik debu dan asap dapur.  Karakter Clara yang awalnya terlihat lemah belakangan berkembang menjadi sosok yang tegar dan kuat. Bahkan ia tak ragu-ragu menentang Margareth dan berkata pedas di depannya.

Bukan saja karena kisahnya menawarkan versi berbeda dari kisah Cinderella yang sudah umum tapi perkembangan karakter pada tokoh membuat kisah ini memikat. Kita juga diajak mengikuti bagaimana perkembangan kehidupan masyarakat  Belanda di abad tujuh belas. Dimana aneka wabah mematikan mulai menyerang.

Ilustrasi yang disajikan juga memanjakan mata kita. Buku ini terdiri dari lima bagian dimana tiap bagiannya terdiri dari beberapa bab. Pemberian judul pada tiap bab juga mempergunakan kalimat yang mengundang rasa ingin tahu, misalnya pada bagian empat dengan judul Galeri Kekeliruan Tuhan terdapat  delapan bab antara lain berjudul  Changeking, Sihir sederhana dan lainnya.

Cinderella adalah dongeng tradisional dengan versi yang dijumpai di banyak negara, dengan berbagai variasi. Versi paling awal dari cerita ini berawal dari Cina pada 860. Dia tercatat di The Miscellaneous Record of Yu Yang oleh  Tuan Ch'ing-Shih, sebuah buku yang ada sejak Dinasti Tang. Versi paling terkenal ditulis oleh penulis Perancis charles Perrault pada tahun 1697 berdasarkan cerita rakyat ditulis oleh  Giambattista Basile      sebagai La Gatta Cennerentola pada 1634 namun film animasi dari Walt Disney Production    telah menjadi standar versi  kontemporer (http://id.wikipedia.org/wiki/Cinderella)

Kisah ini sudah diangkat ke film oleh sutradara Gavin Millar pada tahun 2002 dengan judul sama dengan buku. 
Kejutan belum berakhir!
Pembaca akan terkejut ketika mengetahui siapa yang menjadi narator kisah ini,

Gambar:

Minggu, 14 April 2013

The Notthing Hill Mistery


Hal 1/4                                                                                           


                                           MEMO


Tanggal  : 13 April  XZ12
Status    : Sangat Rahasia
Kepada   : 1. Blogger Buku Indonesia
               2. Ordo Buntelan
               3. Muthia Esfand, Lulu Fitri  Rahman-visimedia
Dari       :  Kepala  Seksi Kisah Detektif
                Perpustakaan  Federasi
Perihal   :  Buku The Notting Hill Mystery
================================================
Belum lama berselang, terjadi perdebatan antara penggemar cerita misteri perihal buku The Notting Hill Mystery.  Perdebatan tersebut mengacu pada artikel di http://mysteryfile.com/blog/?p=6959. Pihak Seksi Kisah Detektif Perpustakaan Federasi merasa perlu memastikan buku mana yang dimaksud sehingga tidak terjadi kerancuan dalam pembahasan.

Buku tersebut terbit pertama kali pada 29 November 1862 dalam bentuk serial sebanyak delapan bagian di majalah Once A Week yang terbit di Inggris.  Penulisnya menggunakan nama pena Charles Felix.  Tahun 1863  kisah  ini diterbitkan ulang  sebagai novel utuh yang terdiri dari 8 bagian. Selain keberadaan sang penulis yang menggugah rasa ingin tahu, cara bercerita yang tak bisa juga memberi nilai lebih.

Kisahnya  mengenai seorang detektif bernama Ralph Henderson  yang disewa oleh pihak asuransi. Pihak asuransi merasa perlu melakukan penyelidikan di balik polis asuransi berharga ribuan poundsterling yang diklaim kepemilikannya. Diduga ada misteri di balik kematian pemegang polis asuransi yang menguntungkan bagi sang suami. Sang tertuduh  Baron R** merupakan terapis bagi kesembuhan Mrs Andeton, putri Lady Boleton yang sejak kecil memang memiliki gangguan kesehatan. Saudara kembarnya yang diduga diculik sejak kecil oleh Gipsi ternyata merupakan asisten sang Baron. Namun tak ada yang menyadari hubungan keduanya, kecuali sang Baron. Kebetulan yang menguntungan ini dimanfaatkan oleh Baron R** untuk kepentingan pribadinya dengan menggunakan keahliannya dalam hal hipnosis, medis, dan kimia.


Hal 2/4

Jangan khawatir!
Saya bukan hendak mengganggu kenikmatan membaca dengan membeberkan kisahnya. Menariknya buku ini adalah cara bercerita yang tidak biasa digunakan pada kisah misteri. Umumnya kisah misteri memberikan petunjuk secara tersembunyi, pembaca harus jeli mencari petunjuk yang ada, merangkai kejanggalan, memastikan sebuah petunjuk hingga menentukan bagaimana sebenarnya misteri itu berlangsung. Dalam kisah ini, penulis justru perlahan mengungkapkan siapa pelaku kejahatan, siapa korban, siapa yang menjadi saksi. Berbagai fakta kejahatan justru sudah dipaparkan pada awal kisah.

Jika kisah Sherlock Holmes mengisahkan bagaimana Sherlock Holmes dibantu dr Watson mencari petunjuk, membuat kepalanya menelaah sel-sel kelabu  maka dalam kisah ini justru sebaliknya. Sel-sel kelabu justru sudah terlihat sejak awal.  Miss Marple menggunakan cara unik untuk menemukan berbagai fakta, lalu ia hanya tinggal melengkapi untuk mencari pelakunya. Jupiter Jones dari Trio Detektif menguji dugaannya sebelum mengungkapkan peristiwa sesungguhnya.

Kisah ini berbeda.Yang pembaca harus lakukan adalah menelaah bagaimana hubungan antara sel-sel kelabu itu. Pembaca sudah disodori fakta yang sudah teruji kebenarannya dan siapa pelaku, tinggal mencari bagaimana caranya pelaku melakukannya

Pengungkapan fakta-fakta dalam kisah ini juga dilengkapi bukti otentik. Misalnya perihal pernikahan tersangka dengan korban, pembaca bisa membaca Sertifikat Pernikahan keduanya pada halaman 93. Para penggemar kisah misteri bisa  mencoba menghubungkan aneka petunjuk yang menjadi catatan kaki dalam buku ini. Misalnya catatan kaki berbunyi," Bandingkan Bagian II.2 dan 5, serta Bagian III.1" pada halaman 92. Hal tesebutkan  dimaksudkan untuk menjelaskan beberapa fakta dan hubungan  beberapa tokoh.

Ibarat memasak, kita sudah disodori bahan dan masakan jadi sebagai contoh. Tugas kita adalah menemukan bagaimana memasak yang tepat agar bisa sesuai dengan contoh. Cara penyajian buku ini sungguh unik dan menantang. Apalagi mengingat saat penerbitannya yang pertama sekitar 150 tahun lalu.

Bagi mereka yang berkecimpung di dunia keamanan, sangat direkomendasikan membaca buku ini. Kadang pelaku kejahatan sudah terungkap dengan jelas hanya yang sulit adalah bagaimana membuktikannya. Sama juga dengan para petugas yang instingnya langsung tahu siapa pelaku kejahatan tapi kesulitan membuktikan keterlibatannya.  Buku ini mengajari banyak hal termasuk jangan melupakan fakta sekecil apapun. Dalam kisah ini adalah fakta bahwa salah satu tokoh yang dituduh menjadi pelaku adalah sosok kidal. 

Hal 3/4

Hal kecil jika dianggap kekurangan adalah dari pemilihan font. Terlalu kecil hingga sedikit mengganggu kenikmatan. Apalagi jika menilik bagian sinopsis. Huruf dengan font kecil berwarna putih memang kontras dengan latar belakangkover belakang yang gelap, namun juga membuat kurang nyaman mata yang membacanya. Dikhawatirkan banyak calon pembaca yang mundur karena malas membaca sinopsis, bagian penting  dalam pengambilan keputusan untuk membaca sebuah buku. 

Guna memudahkan pemahaman kisah, berikut cuplikan dalam http://privathipnotis.blogspot.com/2012/02/mengenal-hipnosis-hipnotis-hypnotism.html. "Hipnotis adalah cabang ilmu psikologi yang mempelajari pengaruh sugesti terhadap pikiran manusia. Dalam literatur barat, hipnotis disebut "hypnosis" atau "hypnotism" yang berasal kata "hypnos", nama dewa  tidur dalam mitologi Yunani Kuno. Dulu ilmu hipnotis tidak ada namanya, sampai pada tahun 1940-an seorang dokter inggris, James Braid, memberi nama "hypnotism" karena ia mengira kondisi trance itu sama dengan tidur. Namun akhirnya James Braid menyadari bahwa kondisi trance tidak sama dengan tidur. Seorang yang mengalami trance masih sadar dan masih mendengar seperti biasa yang mana hal itu tidak terjadi ketika seseorang tidur. Untuk itu, James Braid mencoba mengganti nama hypnotism menjadi monoideaism yang artinya suatu kondisi dimana seseorang sangat fokus pada suatu ide sehingga mengabaikan sekitarnya. Namun karena nama hypnotism terlanjur populer, maka istilah monoideaism menjadi tidak terkenal. Jadi, sebenarnya hypnosis atau hypnotism adalah nama yang kurang tepat untuk ilmu ini."

Sekedar mengingatkan asuransi  yang dimaksud dalam kisah ini menurut versi wikipedia adalah istilah yang digunakan untuk merujuk pada tindakan, sistem, atau bisnis dimana perlindungan finansial (atau ganti rugi secara finansial) untuk jiwa, properti, kesehatan dan lain sebagainya mendapatkan penggantian dari kejadian-kejadian yang tidak dapat diduga yang dapat terjadi seperti kematian, kehilangan, kerusakan atau sakit, dimana melibatkan pembayaran premi secara teratur dalam jangka waktu tertentu sebagai ganti polis yang menjamin perlindungan tersebut.  Istilah "diasuransikan" biasanya merujuk pada segala sesuatu yang mendapatkan perlindungan.

Buku menjadi koleksi perpustakaan berkat campur tangan Dina Begum, penerjemah yang karyanya bisa dinikmati di berbagai kelas dalam perpustakaan ini.

Hal 4/4        

Untuk bisa memperoleh akses membaca di Perpustakaan harap memasukan data rahasia berupa;

Nama Penulis : Charles Felix
Penerjemah : Lulu Fitri  Rahman
Penyunting : Muthia Esfand
ISBN : 979-065-122-8
Halaman: 252
Penerbit : visimedia
Jumlah point yang harus diserahkan adalah: 42.000 satuan rupiah.

Selamat membaca

Jumat, 12 April 2013

Pemakaman Rumah Bagi Nobody Owens



Judul:The Graveyard Book - 
        Cerita dari Pemakaman
Penulis: Neil Gaiman
Alih bahasa: Lulu Wijaya
Editor: Ariyantri E. Tarman
Desain Sampul: Em Te
ISBN: 978-979-22-9460-6
Halaman: 357
Penerbit: Gramedia Pusaka Utama


Anakku!
Dia mau mencelakai anakku!
Lindungilah anak lelakiku!

Seorang ibu secara naluriah pasti akan meminta perlindungan bagi buah hatinya kepada siapa saja yang dianggap mampu memberikan perlindungan. Dan siapa yang kuasa menolak kehormatan itu? Begitu juga yang terjadi terhadap Mrs Owens saat seorang ibu memohon agar ia berkenan melindungi anak lelakinya.

Sebuah permintaan yang wajar. Begitulah kasih ibu pada anaknya. Masalahnya justru pada yang meminta dan diminta. Mrs Owens adalah hantu berusia beberapa ratus tahun, sang ibu baru saja menjadi korban pembunuhan.  Sementara sang anak yang harus dijaga adalah sosok hidup! 

Lalu bagaimana bisa keluarga hantu mengasuh anak yang hidup? Justru disanakah uniknya kisah ini. Dengan piawai Neil Geiman mengajak kita menikmati suasana kekeluargaan, memahami siapa sesungguhnya keluarga kita, makna keluarga bahkan di lingkungan yang paling tak masuk akal sekalipun, pemakaman.

Nobody Owens alias Bod merupakan satu-satunya sosok yang hidup di pemakaman itu. Wajahnya tidak mirip siapa pun selain dirinya sendiri, karena itu ia diberi nama Nobody. Orang tua dan kakaknya dibunuh secara keji pada suatu malam. Ia selamat karena terbangun dan memutuskan untuk berkeliaran hingga akhirnya berada di bukit tempat pemakaman berada.



Bod secara resmi diasuh oleh keluarga Owens dengan wali Silas sosok yang digambarkan disegani dalam kisah ini. Tak ada masalah yang tak bisa diselesaikannya. Silas bisa berada di perbatasan antara dunia yang sudah ditinggalkan oleh yang lain dan dunia yang mereka jalani saat ini.  Silas membasahi bibirnya dengan air minum tapi tidak meneguknya.Tapi pada kenyataannya seluruh penghuni pemakaman berperan dalam kehidupannya. 

Terpenting Bod mendapat Kebebasan Pemakaman. Pemakaman akan menjaganya dari orang jahat, antara lain orang yang membunuh seluruh keluarganya. Ia bisa berjalan di beberapa jalan yang tidak boleh ditempuh orang hidup, melihat dalam gelap, mata orang hidup bisa dikelahui agar tidak melihatnya.

Kehidupan Bod unik. Tidak saja karena ia diasuh oleh hantu tapi cara belajarnya juga unik. Untuk urusan abjad ia belajar dengan cara meletakkan jarinya di batu-batu nisan. Sebagai latihan menulis, ia menyalin huruf dan angka yang ada di nisan, lalu pada malam hari ia akan meminta walinya, Silas untuk menjelaskan apa yang ditulisnya dan menerjemahkan bahasa latin jika ada.

Sesaat  kehidupan Bod  aman dan nyaman walau terlihat aneh bagi orang lain. Tapi bahaya masih mengancam dirinya. Belakangan sosok yang dulu membunuh keluarganya masih berusaha mencarinya. Ia dianggap merupakan bahaya bagi kelangsungan keberadaan sebuah persekutuan. Keadaan kian kacau bahkan membahayakan keselamatan sahabatnya dari masa kecil, seorang gadis bernama Scarlett.




Salah satu bagian dari kehidupan Bod adalah saat ia berurusan dengan Ghoul. 




Dengan menyebutkan Presiden Amerika ke-33, kaisar Cina serta penulis Victor Hugo adalah Ghoul membuat saya meringis. Dalam http://blogmitologi.blogspot.com disebutkan bahwa Ghoul adalah monster kanibal yang menggali kuburan untuk memakan mayat yang baru dikuburkan dan memakan daging manusia, menculik anak-anak untuk dimakan, menyerang orang yang tidak waspada, dan sering diklasifikasikan sebagai mayat hidup. Makhluk ini biasanya berhabitat di kuburan dan pemakaman. 






Sementara http://uniqpost.com/27753/7-makhluk-mitologi-dari-arab menyebutkan Ghoul adalah makhluk mitologis rakasa dari cerita rakyat Arab kuno yang tinggal di kuburan dan tempat-tempat tak berpenghuni. Kata bahasa Inggris berasal dari nama Arab untuk makhluk: غول ghul, yang secara harfiah berarti “setan”. Ghul adalah jenis jin jahat diyakini menjadi bapak iblis. Mengertikan kenapa saya meringis.




Senyaman apapun Bod tinggal di pemakaman, pada suatu saat ia harus meninggalkannya. Ia harus keluar dan beradaptasi dengan sesama manusia hidup. Tak ada yang menyadari waktunya kian dekat. Beberapa saat saat usianya menginjak akil baliq, banyak yang berubah dalam diri Bod seperti kadang ia tak bisa melihat orang mati lagi, rubah di pekuburan takut padanya. Hal itu merupakan tanda ia harus segera meninggalkan pemakaman.





Buku ini memanjakan kita dengan kisah yang menawan. Pemakaman yang sering digambarkan angker dan menakutkan justru menjadi sangat nyaman dalam kisah ini. Bod seakan memiliki rumah yang sangat luas dimana ia bisa berlindung dengan aman dan nyaman. Saya yang biasanya merinding saat melewati atau memasuki area pemakaman ikut merasakan kenyamanan Bod di sana.





Banyak hal kocak juga yang diakibatkan karena keluguan Bod. Sepanjang hidup ia hanya berurusan dengan hantu, maka saat ia bersahabat dengan Scarleet hingga memasuki sekolah banyak kejadian yang menyentuh. Atau saat ia berurusan dengan orang jahat karena ingin membeli nisan bagi hantu sahabatnya. Bod sama sekali tak tahu ia dalam bahaya, yang ia tahu hanyalah bagaimana mewujudkan keinginan sahabatnya.





Aneka makhuk dan hantu membuat kisah kian menawan. Neil Gaiman membuat mereka menjadi bagian kisah secara wajar jauh dari kesan seram. Jika mereka bertindak menakutkan dan menyeramkan, Ghoul misalnya itu karena mereka memang memiliki peran sebagai sosok yang menakutkan dan menyeramkan. Semua tergambar secara natural.





Kover buku ini jelas tidak menimbulkan kesan menyeramkan, apalagi dibandingkan dengan terbitan  lain. Apalagi pilihan  kover jatuh pada warna biru, warna kesayangan saya.  Hingga kesan yang ditampilkan menjadi meneduhkan. Siluet anak laki-laki yang duduk langsung membuat kita merasa ini adalah kisah tentang seorang anak laki-laki dan pemakaman walau tak membaca sinopsis di bagian belakang









Dalam wikipedia, pemakaman (permakaman) atau pekuburan adalah sebidang tanah yang disediakan untuk kuburan. Pemakaman bisa bersifat umum (semua orang boleh dimakamkan di sana) maupun khusus, misalnya pemakaman menurut  agama, permakaman pribadi milik keluarga, Taman Makam Pahlawan, dan sebagainya.





Pada akhirnya, kita semua akan menjadi penghuni pemakaman. Hanya tinggal menunggu kapan giliran kita tiba. Maka persiapkanlah bekal sebanyak-banyaknya.





Gambar:

http://areapublik.blogspot.com/2012/11/5-mitologi-zombie-terpopule

Senin, 08 April 2013

Kitab Wisata Nusatara Terindah & Terlengkap

Penulis: Hamid Bahari
Editor: Virsya Hany
ISBN: 978-602-978-664-4
Halaman: 316
Penerbit: DIVA Press

Sudah  ke Danau Hoan Kiem? 
Sudah menyusuri Sungai Kwai? 
Berapa yah harga paket wisata ke Tibet?

Sering kali kita mendengar pembicaraan mengenai kisah perjalanan seseorang ke luar negeri. Betapa indahnya pemandangan, keramahan masyarakat, aneka kebudayaan, makanan yang menggugah selera serta tak ketinggalan sekian rupiah yang harus dihabiskan.

Sering kali, warga negara kita  sudah menjelajah seluruh Eropa namun belum pernah merasakan hembusan angin di Sungai Musi saat senja, menikmati belanja di 
Pasar Terapung Muara Kuin atau sekedar mengunjungi Museum Nasional di tengah kota Jakarta. Sungguh sayang, kita bisa bercerita tentang negara lain dengan fasih tapi tidak tahu keindahan tanah air.

Buku ini memberikan panduan mengenai obyek wisata yang bisa dikunjungi di tanah air kita. Ada tiga puluh tiga bagian, yang menandakan tiga puluh tiga profinsi. Tiap bagian terdiri dari beberapa obyek wisata. Jumlahnya tidak merata. Misalnya pada Bagian 13 kalimantan Barat terdapat lima obyek wisaya, yaitu: Pantai Pasir Panjang, Pulsau Sawi, Taman Nasional Danau Senatrum, Taman Wisata Alam Bukit Kelam, serta Tugu Khatulistiwa.

Pada Bagian 24 Papau Barat kita akan menemui obyek wisata sebanyak tiga buah yaitu: Wisata Bawah Laut Perairan Raja Ampat, Pantai Rupat, serta Situs Purbakala Tapurarang. Sementara  Bagian 11 Jawa Tengah menawarkan obyek terbanyak sebanyak 11 obyek, yaitu Air Terjun Curug Sewu, Air Terjun Grojogan Sewu, Pantai Kartini, Pantai Teluk Penyu, Kepulauan Karimunjawa, Dataran Tinggi Dieng, Kawasan Wisata Alam Colo, Gua Jatijajar, Batu Raden, Candi Borobudur dan Museum Purbakala Sangiran.

Pada setiap bagian akan ditemukan peta pada halaman awal. Gunanya agar kita bisa lebih memahami daerah yang akan kita tuju  Pada tiap obyek wisata kita akan menemukan tiga uraian hal utama yaitu: Daya Tarik, Lokasi serta Fasilitas. 

Air Terjun Coban Rondo pada Bagian 12 Jawa Timur misalnya.  Daya tarik utamanya adalah adanya air terjun y
ang  mengalir deras. Pemandangan Pohon Pinus dan Jati serta kicauan burung di sekitar air terjun menambah rasa nyaman.

Konon nama air terjun ini berdasarkan legenda kisah Dewi Anjarwati yang ditinggal mati suaminya Raden Baron Kusuma akibat terbunuh oleh Joko Lelono hingga membuat ia menjadi janda, rondo. Sekitar 4 km dari  Air Terjun Coban Rondo terdapat dua air terjun yang  mengalir deras berjejer layaknya pengantin, Manten.

Lokasi air terjun ini berada di Desa Pandesari, Kecamatan Pujon, kabupaten Malang, Jawa Timur. Jaraknya hanya sekitar 30 km dari kota Malang. Bagi pengguna jasa angkutan umum, dari Terminal Arjosari  pilih jurusan Terminal landungsari disambung bus jurusan kendiri, kemudian turun tepat di depan patung Sapi yang merupakan pintu gerbang menuju kawasan itu.

Fasilitas yang tersedia juga komplit. Selain aneka tempat makan yang menyajikan hidangan lezat, pengunjung juga bisa bermalam. Ada dua alternatif yang bisa dipilih. Pertama menyewa penginapan di lokasi wisata atau daerah Songgoriti dan Batu. Kedua memanfaatkan arena perkemahan.

Museum Sonyine Malige di Maluku Utara menawarkan bagunan museum sekitar 300 meter persegi yang dibangun di atas tanah seluas 800 meter persegi yang bersikan aneka koleksi peninggalan Kesultanan Tidore dan Ternate.

Koleksi yang bisa dijumpai antara lain singgasana kesultanan, peralatan gerabah, rumah adat, cap kesultanan, kerajinan khas Tidore, serta yang paling istimewa mahkota kesultanan yang terbuat dari emas.

Museun ini berada di Kota Soasio, Pulau Tidore, Maluku Utara. Bagi yang ingin berkunjung dari Pelabuhan Bastiong menggunakan kapal cepat atau feri ke Pelabuhan Rum disambung dengan jasa angkutan umum sekitar 24 km.

Di jalan utama pulau, bisa dinikmati aneka panganan khas Tidore. Jika ingin menginap, tersedia aneka penginapan yang sesuai dengan kemampuan kantong pengunjung. 

Saya sedikit terganggu dengan kata "Terlengkap" Karena beberapa tempat wisata yang sering saya kunjungi justru tidak ada dalam buku ini. Dasar pertimbangan pemilihan tempat wisata mana yang layak dicantumkan dan mana yang tidak dalam buku ini tidak saya temukan. 

Kenapa Jakarta hanya disebutkan Taman Mini Indonesia Indah, monumen nasional, Mesjid istiqlal dan Kebun Binatang Ragunan saja? Tempat yang selalu saya kunjungi saat membawa tamu daerah saat masih menjabat menjadi Humas malah tidak ada, yaitu Taman Impian Jaya Ancol terutama sekali Dufan dan Seaword. Monumen Lubang Buaya sepertinya juga layak dipertimbangkan. 

Buku ini memang memberikan nomer telepon biro perjalan dan penginapan, namun sayangnya tidak ada info mengenai kontak pengelola tempat wisata tersebut. Bagaimana saya bisa menghubungi Pengelola Museum Lampung misalnya, atau Pengelola Taman Nasional Teluk Cenderawasih. Bisa saja saya mempergunakan bantuan internet tapi tentunya membutuhkan waktu serta kemungkinan data yang ada bukan terkini. Dan lagi hal tersebut menjadi tidak sesuai dengan judul buku ini yang menggunakan kata "Terlengkap" Mungkin ini bisa jadi masukan saat akan dicetak ulang.

Dengan hadirnya buku ini, minimal banyak yang melek bahwa di sekitar kita pun banyak obyek wisata yang tak kalah indahnya. Walau harus diakui, kadang biaya trasnportasi ke  obyek wisata dalam negeri lebih mahal dari pada biaya melancong ke luar negeri. Semoga hal ini menjadi perhatian pihak-pihak terkait jika memang ingin membangkitkan  industri pariwisata lokal.

Foto dari:
www.merbabu.com