Sabtu, 16 Februari 2013

Goddess Girls, Si Cerdas Athena

Penulis: Joan Holub & Suzanne Williams
Penerjemah: Jia Effendi
Penyunting: Fenty Nadia
Pewajah isi: Aniza Pujiati
ISBN: 978-979-024-505-1
Halaman: 169
Penerbit: Atria

Dengan ini aku menitahkanmu untuk segera menyiapkan perjalananmu ke Gunung Olimpus.
Layanan pengiriman Hermes akan menjemputmu besok.

Segulung perkamen papirus  yang dibawa masuk ke dalam kamarnya oleh angin berkilauan,  segera merubah hidup Athena. Ia bukan remaja biasa, murid Sekolah Menengah Triton. Ia adalah putri Zeus Sang Raja Dewa dan Kepala Sekolah Akademi Gunung Olimpus. Sekarang Athena adalah Dewi dan calon siswa di Akademi Gunung Olimpus

Athena tinggal bersama Pallas sejak bayi.  Walau tidak disebutkan bagaimana bisa Athena menjadi bagian dari keluarga Pallas, namun ia diterima dengan senang hati dan diperlakukan sebagaimana layaknya putri kandung keluarga tersebut.

Sejak kecil memang selalu ada yang berbeda dengan Athena. Misalnya sejak umur relatif muda, tiga tahun  ia sudah belajar merajut dan mengutak-atik matematika,  menciptakan flan terompet pertama di dunia. Belum lagi saat membayangkan bagaimana enaknya terbang seperti burung hantu, mendadak  kakinya sudah melayang dan rambutnya berubah menjadi sayap coklat.

Dengan ayah yang  tinggi lebih dari dua meter dengan otot menonjol dan mata biru yang tajam, ikat pinggang berisi petir. Serta ibu semacam  serangga dari ordo Diptera, Athena memang harus mulai membiasakan diri di tempat barunya. Ia bukan lagi anak tercerdas di sekolah itu.

Sebagaimana yang sering disebutkan dalam prolog kisah-kisah mitologi. Dewa sering kali dianggap bermain-main dengan nasib manusia. Demikian juga dalam buku ini. Para siswa Kelas Ilmu Para Pahlawan. Setiap siswa mendapat patung pahlawan yang merepresentasikan manusia sesungguhnya dan tugas mereka adalah melakukan hal-hal tertentu sehingga mereka layak disebut pahlawan sesungguhnya.

Berbagai rintangan untuk para pahlawan juga disiapkan dan penilaian didasari oleh tiga kemampuan dasar: manipulasi, bencana dan penyelamatan cepat. Athena mendapat Odysseus, Aphrodite mendapatkan Paris, Medusa mendapatkan patung Raja Menalaus. Terbayangkan kira-kira apa yang terjadi di bumi? Kisah tentang Perang Troy yang terkenal terjadi bersumber dari semacam tugas sekolah.

Buku ini memang mengisahkan tentang Dewi Athena, tapi kisah yang diramu dengan apik oleh kedua penulis membuat kisah tentang Dewi Athena dalam buku ini berbeda dibandingkan buku-buku sejenis. Selain perihal Perang Troy, kita juga bisa menemukan kisah asal mula pertempuran antara Poseidon dengan Athena dituturkan dengan cara yang berbeda dari biasanya.

Manusia memang masih dijadikan sebagai obyek penderita dalam buku ini. Kisah tragis manusia diceritakan dengan gaya berbeda sehingga tidak berkesan suram, namun justru mendidik dan menghibur. Penulis membuat mitologi menjadi sesuatu yang unik serta menempatkannya dalam kehidupan moderen hingga mudah dinikmati oleh pembaca, terutama usia remaja..

Baca dan temukan sendiri keunikan cara bercerita duo penulis ini.
Kocak dan menghibur juga memberikan tambahan ilmu

Banyak kisah mengenai Athena atau dikenal juga dengan nama Minerva. Dalam Mitologi Yunani karangan Edith Hamilton, Athena disebutkan sebagai satu-satunya putri Zeus yang tidak mempunyai ibu. Ia keluar dari kepala Zeus yang dibelah akibat sakit kepala yang tak tertahankan. Ia merupakan putri kesayangan Zeus sehingga mendapat kepercayaan untuk membawa ikat pinggang dan halilintar milik Zeus.

Selain dikenal sebagai Dewi Perang, ia juga merupakan Dewi Kerajinan Tangan, Kebijaksanaan dan Pertanian. Manusia mempelajari bagaimana menjinakan kuda liar untuk pertama kali juga dari Athena.

Sejauh ini sudah ada dua belas kisah dalam seri Goddess Girl
1 Athena the Brain

2 Persephone the Phony

3 Aphrodite the Beauty

4 Artemis the Brave

5 Athena the Wise

6 Aphrodite the Diva

7 Artemis the Loyal

8 Medusa the Mean

9 The Girl Games [Super Special]

10 Pandora the Curious

11 Pheme the Gossip

12 Persephone the Daring

Mari berharap buku lucu dan menghibur ini diterbitkan seluruhnya oleh Atria.

Gambar dari:
http://id.wikipedia.org/wiki/Athena_%28mitologi%29

Rabu, 13 Februari 2013

Wu Chao Sang Putri Langit

Penulis : Nigel Cawthorne
Penerjemah: Fahmi  Yamani 
ISBN 13: 9789790243972

Halaman: 378
Harga: Rp 59.000



Intrik
Kekuasan
Sex

Tiga hal yang menjadi topik utama dalam buku ini. Sepertinya ketiganya juga merupakan komponen  yang bisa kita temui dalam buku-buku bertema sejenis.

Intrik dipergunakan untuk mendapatkan kekuasan, demikian juga dengan urusan arus bawah alias sex. Urusan sex dalam buku ini diungkap dengan gamblang. Para wanita di sekitar kaisar diwajibkan memahami ilmu seputar sex karena Yin mereka adalah asupan bagi kesehatan jiwa dan panjang umur kaisar. Banyak  selir dan istri kaisar bahkan permaisuri yang memanfaatkan keahlian itu  untuk memperoleh kekuasaan. Salah satunya Wu Chao

Wu Chao merupakan catatan kelam dalam sejarah kekaisaran di China, ia merupakan satu-satunya Putri Langit. Masyarakat China menganggap kaisar adalah Putra langit yang menjadi perantara langit dan manusia. Mereka disebut Putra Langit, karena biasanya kaisar adalah seorang pria. Khusus untuk kasus Wu Chao maka ia disebut Putri Langit.

Memasuki harem istana pada usia tiga belas tahun pada tahun 3275 sebagai selir membuat keluarga Wu Chao mendapat kehormatan  besar. Ia terpilih karena keluarganya merupakan keluarga terhormat dan rekomendasi salah satu sepupunya yang merupakan  selir kesayangan kaisar. Tak butuh lama baginya untuk segera menjadi selir kesayangan kaisar.

Angin sepertinya mempermainkan nasib Wu Chao, sang kaisar mangkat. Sesuai tradisi ia dan selir yang lain harus mengunduli rambut dan hidup di biara. Tak lama kemudian, angin berhembus membawa Wu Chao kembali ke istana menjadi selir Kaisar Kao-tsung yang sebenarnya adalah anak kaisar terdahulu! Kesempatan kedua ini tidak disia-siakan Wu Chao, ia berusama sekeras mungkin untuk bisa menjadi Permaisuri. Bagaimana pun caranya, bahkan membunuh putrinya yang baru saja lahir.

Karena kaisar tak mampu bekerja maka pada tahun 600, tahun kelima Hsien ch'ing, Permaisuri Wu mengambil alih tugas kerajaannya dan membuktikan diri sebagai seorang administrator yang handal. Namun  dalam ajaran Kong Hu Cu kaum wanita tidak boleh memerintah dengan alasan tidak cakap, maka apa yang dilakukan oleh Wu Chao dianggap sebagai usaha makar.

Guna menjamin kekuasaannya bertahan lama, Wu Chao bahkan membuat divisi polisi rahasia. Markas Polisi Rahasia terletak di dalam Li Ching-me atau Gerbang Pemandangan Indah. Siapapun  yang masuk ke dalamnya, mustahil bisa keluar dengan selamat.

Dalam sejarah, memang  ada Permaisuri yang mendapat kekuasaan sebesar Wu Chao, tetapi mereka selalu mendapatkannya berkat campur tangan keluarga yang berkuasa. Sementara Wu Chao mendapatkannya karena usahanya sendiri, kalaupun ada dukungan hanya dari ibunya saja.

Buku ini mengupas tidak saja perihal intrik-intrik perebutan kekuasan di istana, dimana sang putra mahkota bisa saja menghukum ibu kandungnya, menggulingkan ayahanda sang raja serta membunuh saudara kandungnya. Ada sisi lain seputar sejarah, kehidupan sosial pada masa itu yang dikemas dengan apik oleh sang penulis. 

Pada abad pertengahan di China daging manusia bahkan direkomendasikan untuk di makan karena baik bagi kesehatan. Dr T'ang salah satu dokter yang terkenal pada saat itu bahkan menganjurkan para anak yang berbakti untuk mengiris potongan daging mereka untuk mengobati orang tua yang sakit.

Ada juga perihal hirarki di antara para selir. Pada level tertinggi ada Permaisuri atau Maharani yang biasanya berasal dari keluarga bangsawan sehingga hanya anak-anak mereka yang boleh menjadi pengganti kaisar. Selanjutnya empat Istri Kerajaan dari kelas satu, walau sangat jarang salah satu putra mereka memungkinkan menggantikan kaisar,  Rani atau fu ren  dikenal sebagai Mulia, Murni, Berbudi Luhur, dan baik. Seterusnya ada sembilan istri kelas dua atau pin dengan sembilan gelar yang berbeda.  Sembilan jie yu, Anggun dan Pilihan merupakan herarki kelas tiga. Kelas empat ada sembilan cantik atau mei ren, diikuti dengan sembilan istri kelas lima bernama cal ren atau istri berbakat. Selanjutnya ada dua puluh tujuh bao lin di kelas enam, dua puluh tujuh yu nu di kelas tujuh dab terakhir 27 cai nu di kelas delapan. Kalau tidak salah hitung ada 126 orang!  

Mengingat kaisar membutuhkan yin mereka yang diperoleh saat “Tongkat Giok" dan "Gerbang Permata" berpadu maka tak heran jika ada yang  tidak memiliki gelar namun dipekerjakan karena keahliannya. Tujuannya  adalah menyerap energi sebanyak-banyaknya dari selir kelas rendah dan mengeluarkannya hanya dengan istri kelas tinggi, khususnya Permaisuri.

Perihal  "Tongkat Giok" dan "Gerbang Permata" yang diulas apa adanya. Lembar-lembar awal buku ini malah menguraikan berbagai hal yang wajib diketahui oleh para selir. Tugas utama mereka sangat jelas, memberikan yin sebanyaknya bagi kaisar, agar mampu mengeluarkan sebanyak mungkin maka diperlukan pengetahuan khusus.

Selain urusan  "Tongkat Giok" dan "Gerbang Permata" yang cukup mengkhawatirkan jika dibaca para remaja dengan sejuta rasa ingin tahu, buku ini juga menggambarkan kekejaman Wu Chao dengan gambling sehingga berkesan sadis.

Misalnya kisah  saat Wu Chao  cemburu. Ia mengirim tukang jagal untuk memukuli Mantan Permaisuri Wang dan Selir Suci. Masing-masing mendapat seratus pukulan. Selanjutnay tangan dan kaki mereka dipotong dan ditenggelamkan ke dalam tong anggur.  Keduanya mati kehabisan darah. jangan kira siksaan terhenti setelah mereka meninggal, selanjutnya kepala mereka dipenggal dan tubuh mereka dipotong-potong.

Ada juga kisah bagaimana Wu Chao mempermalukan mereka yang menentangnya. Tak ketinggalan adegan penyiksaan yang dilakukan oleh para polisi rahasia dengan segala alat siksanya.

Walau dikenal kejam, dari sisi sastra diyakini ada empat puluh enam puisi yang ditulis oleh Wu Chao. Asal muasal jenis music unik, tai ko yang berkembang dari  konser di depan kamar tidurnya. Konon untuk menutupi suara “Delapan Kuda Berguling di Lumpur Basah” diadakan konser di depan kamar tidur  Sang Putri Langit. Wu Chao di masa pemerintahannya  terkenal  mendukung kegiatan keagamaan serta mengeluarkan rencana reformasi dua belas point.

Bagi penggemar Buku  The Last Emperor: Kisah Tragis Kaisar Terakhir China, buku autobiografi mengenai Henry Pu Yi besutan Paul Kramer, tentunya juga menikmati kisha dalam buku ini.

Jika ingin mengenal penulis dengan lebih baik, silahkan menyambangi http://www.nigel-cawthorne.com/



Sumber gambar:

http://indonesian.cri.cn/1/2006/04/28/1@42402.htm
http://www.ternyata.info/2010/02/tzu-hsi-kaisar-wanita-dari-cina.html
http://unik-go.blogspot.com/2012/05/wu-zetian-kaisar-wanita-sadis-dari-cina.html

Selasa, 12 Februari 2013

Surat Dahlan Untuk Belahan Jiwaku


Sejuta pelukan tak kan pernah cukup
Satu manyunan sudah menghempaskan diriku ke dalam duka lara yang sangat mendalam 
Ketika sedikit saja ada kesal  di hatimu, sangat aku rasakan sesak di dada
Dan satu senyumanmu sudah dapat melambungkan kebahagiaan yang tak terhingga
Saat aku bisa mengusap rambut dan pipimu, berjuta kedamaian luruh mengisi hatiku wahai belahan jiwaku


Cintaku
Belahan jiwaku

Sepenggal kalimat singkat melalui jalur komunikasi kita membuatku tertegun, menyadarkan diriku betapa aku sudah membuat hatimu gundah tanpa sengaja. Kadang sifat egoisku meraih kemenangan saat bertarung dengan logikaku. Semoga cintaku, belahan jiwaku sudi terus bersabar membimbingku untuk bisa lebih membuatnya bahagia.

Bagaimana kabarmu  belahan jiwaku?
Jarak diantara kita tak akan terasa jauh jika dibandingkan dengan apa yang kita raih.
Rasa rindu di dada akan terbayar dengan tercapainya cita-cita kita

Mengisi hari tanpa dirimu, membuatku kembali menekuni kegiatan yang nyaris tak sempat kulakukan sejak belahan jiwaku jauh. Menghadiri launching buku dan membuat review. Tentunya beda maknaya saat aku sendiri  melakukan kegiatan yang biasa kita lakukan bersama, walau aku berada diantara sahabat. Membuatku kian merindukanmu ^_^

Salah satu buku yang baru selesai aku baca adalah Surat Dahlan hasil karya Daeng Khrisna Pabichara. Malu juga aku saat launching mengetahui bahwa seorang Dahlan Iskan mewajibkan dirinya membaca 1 novel bermutu setiap bulannya. Rasanya aku harus mulai lebih disiplin lagi untuk urusan membaca dan mereview buku.

Buku ini mengisahkan bagaimana tokoh kita, Dahlan Iskan, mengisi masa remaja hingga menemukan pelabuhan hati. Tak ketinggalan mengenai asal muasal pekerjaannya. Kisah yang dibuka dengan suasana saat operasi pencangkokan ginjal membawa kita seakan melihat kilas balik sosok yang bersahaja dan alam kehidupan  di  Kota Samarinda.

Dahlan kecil sekarang sudah menjadi remaja yang sedang mencari jati diri. Ia hijrah ke Samarinda dengan modal nekat guna menuntut ilmu. Untuk urusan tempat tinggal, ia menumpang di rumah Mbak Atun. Selain diisi dengan urusan kuliah, Dahlan muda juga disibukan dengan beragam kegiatan seputar Pelajar Islam Indonesia, PII dimana ia bergabung.

Semasa bergabung dalam PII, Dahlan muda bersahabat erat dengan Syaiful, latif dan Syarifuddin, serta seorang gadis manis namun perkasa bernama Nafsiah, putri seorang tentara. Layaknya pemuda yang penuh idealis, mereka berusaha membuat negeri ini menjadi lebih baik berdasarkan harapan mereka.

Sosok-sosok idealisme muda tersebut  tak kenal lelah dalam memperjuangkan nasib rakyat. Saat yang lain terpuruk, pasti ada sosok  tegar yang  memompa semangat teman-teman seperjuangannya.  Nafsiah misalnya. Sosok  tegar tak kenal takut kecuali terhadap serangga, mampu menggugah semangat teman-temannya saat mulai surut dengan kata-kata santun namun penuh makna. " Kita sedang menanam pohon kebaikan. Tak perduli apa kelak kita atau bukan yang memetik buahnya. Tapi ingat, kita baru menanam. Bukan memetik, apa lagi menikmati buah."

Dengan bergabung dalam PPI, Dahlan juga  lebih memahami bagaimana  makna pertemanan. Tengok kisah saat Syaiful dan Syarifuddin ditangkap karena melakukan demonstrasi.Dalam keadaan kacau, secara spontan setiap individu sibuk mengamankan dirinya. Secara naluri, Dahlan berlari menyelamatkan dirinya tanpa bermaksud meninggalkan teman-teman seperjuangannya. Rasa sesalnya  luluh mendengar ucapan syaiful, " Kita senasib-seperuntungan. Jika di antara kita ada yang berbuat salah, cepat dan tuluslah memaafkan. Bila rebah kita harus saling menegakkan. Bila lupa, kita wajib saling mengingatkan."

Siapa yang mengira, demonstrasi tersebut membuat Dahlan bertemu dengan Sayid, yang mengajaknya untuk bergabung menjadi wartawan. Menurutnya banyak cara untuk melawan, dengan menjadi wartawan salah satunya. Dengan menjadi wartawan Dahlan bisa mempertahankan idealisme tanpa takut dikejar-kejar tentara. Kelak  hal ini membawa Dahlan menjadi petinggi di salah satu koran besar di Jawa Timur.

Masih banyak kisah yang menarik dalam buku ini. Antara lain kisah  romantis antara Dahlan Iskan dan sang istri, asal mula nama Dahlan Iskan serta bagaimana kehidupan dunia jurnalistik. Segera aku kirimkan buku ini begitu selesai kuulas.

Kekuatan utama dari buku ini justru dari kesederhanaan tokoh serta rangkaian kalimat sederhana yang diracik oleh sang penulis. Sosok Dahlan tertuang sebagai manusia yang utuh dengan emosi, kelebihan  dan kekurangannya. Kisah yang disajikan juga apa adanya tanpa berkesan membuat seseorang menjadi sosok super hero atau membuat pembaca merasa kasihan yang berlebihan pada nasib kurang beruntung sang tokoh saat muda.

Pembaca diajak mengikuti sebuah rangkaian proses pembelajaran tanpa merasa dipaksa untuk menjadikannya sebagai contoh. Penulis hanya menyajikan sebuah fakta, bagaimana menyikapinya tergantung setiap individu yang membaca dan mengambil hikmat dari buku ini.

Beberapa hal yang mengusik rasa penasaranku juga ada dalam buku ini, contohnya pada bagian mereka pulang bersama dari rumah Nenek Saripa. Kenapa justru  Dahlan yang digonceng oleh Nafsiah? Untuk sosok yang santun pada wanita sepertinya aneh saja mengetahui seorang Dahlan malah duduk manis sementara seorang perempuan yang harus mengeluarkan tenaga untuk mengayuh sepeda.

Selanjutnya mengapa dari awal sudah disebutkan nama istri Dahlan Iskan. Memang sudah banyak yang tahu, tapi jika tidak dicantumkan akan membuat rasa penasaran pembaca, terutama bagi yang belum mengetahui sosok sang istri. Sungguh sosok yang sangat santun saat kutemui di Acara launching yang lalu. Sangat berbeda dengan kesan perkasa yang ditampilkan dalam buku ini, Waktu tentunya membuat seseorang berubah.

Seorang Dahlan Iskan selalu merawat tiga hal dalam kehidupan ini. Kepercayaan, rasa hormat dan cinta. Aku mempercayakan seluruh hidupku pada belahan jiwaku, ia yang menentukan kemana aku harus melangkah dan melakukan apa. Aku menghormatinya dengan segala kekurangan yang ada tanpa melihat kelebihanku. Sudah pasti aku mencintai belahan jiwaku.

Jika Nafsiah mendapatkan  janji kesetian seorang Dahlan, aku mendapat kesetian, rasa nyaman dari pusat kehidupanku, dirimu.

Kalimat yang layak kita kutip adalah
Kita hidup dari apa yang kita dapatkan dan kita bahagia dari apa yang kita berikan
Berita seputar Acara Launching Surat Dahlan bisa disimak antara lain di
http://noura.mizan.com/index.php?fuseaction=news_det&id=211
http://bisnis.liputan6.com/read/508467/sambut-imlek-dahlan-luncurkan-novel-surat-dahlan
http://www.antaranews.com/berita/357582/novel-surat-dahlan-diluncurkan

Aku sertakan beberapa foto agar belahan jiwaku mengetahui kondisiku sungguh baik-baik saja walau merindukanmu yang jauh di sana.
Saat merindukanku, tataplah langit gelap di malam hari, ada aku di sana

Yang menjadikanmu sebagai pusat kehidupan

TR



--------------------

Terinspirasi dari buku

Penulis : Khrisna Pabicara
Penyunting: Suhindrati Shinta, Rina Wulandari
Penyelaras Aksara: Putri Rosdina, Novi Khansa, A. Fathoni
Desain Isi: elcreative
Ilustrasi Isi: Sweta Kartika
Desain Sampul:Tyo/RAI Studio
ISBN: 978-602-7816-25-1
Halaman: 396
Penerbit: Noura Books

Banyak Adegan yang mengisahkan seorang Dahlan Iskan menulis catatan harian. Ternyata menulis bisa dijadikan terapi. Bagi yang tak bisa menyampaikan keluh kesah secara lisan, mungkin cara ini bisa dipilih.Launching yang seru!

Rabu, 06 Februari 2013

Miracle Journey: Kisah Perjalanan Penuh Keajaiban Kitta Kafadaru


Penulis: Yudhi Herwibowo
ISBN: 978-602-02-0379-9
Halaman: 174
Penerbit: Elex Media Komputindo
Harga: Rp 32.800

Tiga
Hanya tiga kebaikan
Tidak lebih
Lalu  aku akan melanjutkan hidupku sebagai manusia biasa

Sering kali kita merasakan sesuatu yang tidak kita inginkan justru menurut orang adalah anugrah. Tapi sejauh apapun kita mengingkari,  pada akhirnya kita harus berkompromi dengan "Anugrah" yang kita peroleh. Begitu juga dengan sosok  Kitta Kafadaru yang memiliki kemampuan menyembuhkan.

Kitta Kafadaru lahir dengan kondisi fisik yang kurang sempurna. Ada semacam punuk di bahunya, mirip tokoh  sejenis dalam kisah Si Cantik dari Notre Dame. Beberapa bagian kisah dalam buku ini akan menyeret kita pada kenangan akan para tokoh fantasi saat kecil dahulu.

Kisahnya dimulai dengan cerita seputar kelahiran tokoh utama kita, Kitta Kafadaru.  Dimulai dengan saat kelahiran Kitta Kafadaru berbarengan dengan awal hujan debu. Banyak kejadian aneh lainnya, tapi yang paling menakjubkan adalah adanya empat danau yang tedapat di empat penjuru desa. Ia merupakan anak pertama yang sangat didambakan oleh pasangan Todatius & Tipaina Kafadaru. 

Semula tidak ada yang memperhatikan mengenai kondisi tubuhnya yang berbeda. Walau bagaimana kondisi tubuhnya, kehadirannya merupakan anugrah bagi keluarga yang sudah sekian lama mendambakan suara tangis bayi.

Sebaga pemuda, Kitta Kafadaru juga mengalami jatuh cita. Saat menyembuhkan seorang gadis yang wajahnya mengalami luka bakar, ia mulai merasakan jatuh cinta. Pernyataan  cintanya mengalami penolakan. Saya sempat berempati dengan situasi ini, namun dengan cerdiknya Mas Yudhi membuat penolakan itu justru menjadi menarik dan manusia.

Pertemuan dengan Seorang Ame Tua membuat arti baru dalam kehidupan Kitta Kafadaru. Ia memutuskan untuk hanya melakukan tiga kebaikan lalu kembali menjalani kehidupan layaknya manusia normal. Hanya tidak tidak lebih.

Tiga kebaikan tersebut diuraikan dengan manis dan penuh makna kehidupan dalam buku ini.
Untuk mengetahui peristiwa apa saya yang terkait dengan tiga kebaikan tersebut silahkan disimak kisahnya  dalam buku ini. Dibeli dan dibaca yahhhhhh^_^

Secara garis besar. buku ini menarik. Untaian kalimat sastra perpadu dengan plot ala fantasi sunggguh memukai.  Latar belakang daerah NTT membuat buku ini mengusung sesuatu yang unik. Belum lagi beberapa ungkapan misteri menjadi bumbu penyedap, misalnya mengnai sosok Amer Tua yang tidak memiliki bayangan.


Pembaca jangan tersinggung jika ada beberapa kisah yang menyentil kehidupan kita sehari-hari. Sentilan untuk Ordo Buntelan ada di halaman 102.  
Bila engkau sudah selesai membacanya, tinggalkan saja buku itu di tempat terakhir kau menyelesaikannya
Berapa banyak kita mau membagi buku yang tidak kita baca?
Berapa banyak koleksi timbunan kita?
Sementara di sekitar masih banyak yang haus akan bacaan.
Kondisi itu juga yang membuat BBI melakukan kegiatan BBI Berbagi. *tetap promosi*

Saya dan beberapa sahabat sepertinya sependapat mengenai kalimat yang sangat bermakna dalam buku ini, kalimat di halaman 41, "Semua yang diciptakan tentu selalu ada tujuannya....." Segala sesuatu penciptaan atau peristiwa pasti memiliki sisi baik di baliknya. Misteri kehidupan yang harus dijalani dengan legowo.

Kisah dalam buku ini bisa dikatakan sebagai suatu penulisan ulang dari enam kisah yang pernah ditulis Mas Yudhi, yaitu; Kofa; Lelaki dengan Elang yang Melayang di Atas kepalanya; Perempuan yang Bersenandung Aneh di Hutan Mati; Anak Iblis; Perempuan yang Merindukan Air Bah; serta Sang Penabur Pasir, Sang Pemanggil Hujan.

Tergelitik dengan kalimat di halaman 53. "Sambil bicara begitu, Pak Ma menyalakan lampu mintak yang masih diletakan di tempat yang sama sejak dulu...." Hemm walau itu rumah saudaranya tapi bagaimana Pak Ma bisa yakin bahwa dari dahulu bahkan sebelum sang pemilik meninggal, lampu minytak itu sudah diletakan di sana? *Pertanyaan ngak penting nih*

Selain pemilihan huruf yang cukup membuat mata  saya meringis, akan lebih menyenangkan jika Mas Yudhi juga memberikan semacam catatan kaki atau glosarium mengenai beberapa istilah yang dipergunakan dalam buku ini. Memang sudah ada seperti misalnya mengenai  jagung titi di halaman 5. Tapi sapaan seperti  Papae, Mamae dan Ama juga harus disebutkan, mengingat pembaca mungkin saja ada yang tidak memahami artinya walau bisa dipahami dengan mengira-ngira.

Pada awal kisah disebutkan bagaimana sang ayah Kitta Kafadaru membawa istri yang sedang hamil dengan menggunakan mobil pinjaman. Sepanjang kisah, Mas Yudhi membawa kita ke alam liar dimana kendaraan merupakan hal yang langka. Meski ada juga kisah mengenai kapal laut. Sepertinya penulis ingin mengisahkan keindahan alam NTT yang masih alami. 

Konon sudah ada 28 buku fiksi yang ditulis Mas Yudhi, tapi yang disebutkan hanya 21. Hemmm selain ini, apa yang  6 lagi yah, penasaran.

Dari dua buku yang akan segera terbit, Sakura Telawang dan Enigma, saya sangat penasaran dengan Sakura Telawang. Setelah mendapat kehormatan mengintip draf awal kisah, tentunya setelah mengalami revisi kisahnya kian menawan. Minimal mengurangi kata "Pada" di awal kalimat ^_^

Buku yang merupakan hadiah bagi kelahiran keponakan tercinta sungguh layak masuk dalam koleksi pribadi penyayang buku.  Sungguh  beruntung sang ponakan yang mendapatkan hadiah karya sang maestro. Jadi ngiri hikssss.